Politik

Hindari Narasi Konflik Pasca Pilpres 2019

Nasionalpos. com,Jakarta —  Dari sekian banyak problem mendasar dan menjadi kegelisahan Nasional kini menyangkut komitmen dan implementasi ideologi bangsa Indonesia, terutama dalam penyelenggaraan Pilpres 2019 & pasca Pilpres 2019,demikian disampaikan Kristiya Kartika alumni Presidium Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional (GMNI) saat membuka diskusi terbatas  bertajuk “Antisipasi Kondisi Pasca Pemilu 17 April 2019: Perspektif Kepentingan Rakyat”  di The Founding Fathers House, Jl. Prapanca No. 101, Jakarta Selatan, (6 /2/2019).

“Ada indikasi lahirnya konflik Kepentingan antar pendukung Capres-Cawapres,yang dipicu bukan hanya politis tapi juga ada di inspirasi konflik ideologis, “ungkap Kristiya Kartika yang juga Ketua Lembaga Pengkajian dan Pendidikan Swadaya Nasional (LPPSN)

Diskusi di pandu oleh Suryo Susilo ini dihadiri sekitar 30-an orang ini, juga menghadirkan narasumber yakni Ibong, yang juga cucu Pahlawan Nasional H.Agus Salim dan beberapa penanggap.

Dalam paparan nya, Ibong menyampaikan bahwa Indonesia sudah Merdeka selama 73 tahun, namun demikian kenyataan nya belum sepenuhnya berdaulat,realitas ini memunculkan indikasi bahwa kemartabatan bangsa terkoyak ada nya dugaan Intervensi asing, sehingga akibatnya seperti yg terjadi pada Pilpres 2019 ini, adanya polarisasi dalam kehidupan Bangsa dan di kehidupan Masyarakat.

” Saya heran dan prihatin kaum intelektual ikut ikutan terpolarisasi, alumni Perguruan Tinggi ini mendukung capres 01 Sedangkan yang lain dukung Capres 02,mestinya itu tidak perlu terjadi”tutur Ibong.

Pernyataan itu di tanggapi peserta diskusi, Prasetyo mengemukakan bahwa pasca Pilpres 2019 Perlunya membangun Gerakan Indonesia Bersatu sebagai suatu suatu aktivitas untuk memperteguh nilai nilai Persatuan dan Nasionalisme yang berlandaskan pada Pancasila,serta juga menghadirkan kembali semacam Garis Garis Besar Haluan Negara (GBHN), sehingga dengan adanya GBHN Sebagai landasan operasional Pembangunan yang baku sehingga tidak mudah di Intervensi asing atau pihak lain yang bisa menghambat kemajuan Negara.

Sementara itu, Reza alumni GMNI yang hadir di acara diskusi ini, mengatakan bahwa dalam Pilpres 2019 ini, di sinyalir ada permainan bipolarisasi yang di duga di kondisi kan oleh pihak pihak menghendaki NKRI pecah, narasi menakuti nakuti, narasi konflik senantiasa di tebarkan agar rakyat tidak berdaulat dalam menentukan pilihannya.

“Kita jangan terjebak dengan narasi bi polarisasi, namun kita narasikan hal mencerdaskan agar suara rakyat berdaulat atas pilihan politik,” tandas Reza.

Diskusi berlangsung dinamis ini, di akhiri dengan persamaan persepsi adanya memperteguh komitmen Menyelamatkan masa depan kedaulatan bangsa dari narasi konflik yang bisa menegasikan kemartabatan bangsa Indonesia.(*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terkini

To Top