Nasional

NEGERI INI MILIK SIAPA ?

Kisah Ahmad Dhani, Nenek Asyani, Ali Wardi dan Tuan (yang merasa) Besar

Oleh : Ali Wardi

Bagaimana dan dimana lagi kita menaruh harap akan keadilan bila ia sudah menjadi mainan kekuasaan. Usah menanyakan keadilan kepada Nenek Asyani, orang kecil nan renta penebang kayu bakar untuk sekedar menanak nasi untuk perut kecilnya. Atau Nenek Ompu Linda 92 tahun yang menebang pohon durian untuk merapikan kuburan leluhurnya.

Bagaimana kita menumpang harap di negeri sendiri, sedang orang beken sekelas Ahmad Dhani pun mengalami diskriminasi. Tanpa basa-basi, tanpa jelas siapa sesungguhnyakorban ujaran tindakannya, lelaki pemberani ini langsung dibui. Jangan pula berharap Ia akan mendapat perlakuan Istimewah sebagaimana orang-orang yang “terpaksa” mendapat sanksi hukum yang ketika itu terlebih dahulu terpojok dan tersudut oleh aksi super damai belasan juta orang di jantung negri ini.

Usahlah berharap keadilan di negeri ini, dibawah sistem hukum yang rapuh sementara ia kini di tangan rezim yang sedang kalap dan “emoh” turun tahta pula, sedang seorang dengan kaliber Wakil Ketua DPR RI bidang polhukam sudah 8 (delapan) kali membuat laporan ketidakadilan tak sekalipun digubris.

Lalu, sekelas Ali Wardi, tentu juga kawannya Ridwan Umar yang ikut merasakan dan menyaksikan kebrutalan itu,dengan segala kondisi dan keterbatasannya pula melaporkan perkara kezaliman berupa pengeroyokan oleh sekelompok orang yang merasa terusik karena Tuan Besarnya dikritik melalui media sosial. Laporannya ke Polres Jakarta Selatan tentu sampai hari ini dan entah sampai kapan akan menggantung dan bisa jadi akan hilang seiring bertumpuknya laporan demi laporan yang percuma.

Ali Wardi tentu tidak akan berharap sedikitpun sepanjang rezim ini masih duduk di kursi kekuasaannya. Sedang Ali Wardi dikeroyok oleh lebih kurang 25 orang itu justeru karena gigih dan tidak pernah rela lahir dan batin rezim ini terus berkuasa, sejak munculnya seorang Walikota dengan dusta mobil eSeMKa nya. Dusta yang bertingkat dan berlipat seiring lamanya waktu berkuasa.

Tuan besar ini dihadapan rezim sebenarnya adalah orang asing, yg sedang coba merapat dengan harapan bisa bersama dengan “segenggam kekuasaan” yang dulu dibenci dan kini bermesraan dengannya. Ia menggantungkan harap agar meraih kursi di parlemen setelah dua periode berpuasa. 4% saja cukup untuk sementara, yang dijamin oleh petahana. Entah bagaimana jalan dan alur logikanya. Pokoke dapat 4%, tak peduli bagaimanapun caranya, termasuk mungkin dengan tipu-tipu atau entah bagaimana.

Tuan (yg merasa) Besar ini kini sudah melawan ucapan dan akal sehatnya sendiri. Keluar dari pusaran besar orang-orang yang dulu dibelanya bahkan mengemis dukungan dan suaranya. Kini karena begitu (merasa) dekatnya dengan “segenggam kekuasaan” itu, ia rela berpisah, berseberangan, mencaci, bahkan mengusir dan menantang orang yang dahulu adalah kawan seiringnya. Salah satu yang menjadi korban ketidak kesetiakawanan ini adalah Habib Novel Bamukmin, karena seperti Ali Wardi, beliau juga vokal menentang ketidakberesan di partai tempat ia menitip asa untuk berjuang menegakkan keadilan bagi semua, dengan menjadi caleg.

Lantas mungkinkah keadilan itu akan bersama dengan Ketidaksetiaan, lalu bila itu bisa dan mungkin, bersumber dari ajaran dan agama apakah asal ajaran itu ??

Lalu siapa sesungguhnya orang ini, yang begitu tega berpisah jalan dengan kawan seiring ?

Kalau bukan pengkhianatan lalu adakah lagi kata yang pantas untuk perilaku serupa itu ?

Penulis adalah Aktifis Islam

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terkini

To Top