Politik

Pengusaha: Badan Ekonomi Kreatif Kok Jadi Event Organizer

Nasionalpos.com,Jakarta– Produser dan Pengusaha Industri Kreatif, Kawendra Lukistian mengatakan, Badan Ekonomi Kreatif seharusnya ikut mendorong pengembangan ekonomi masyarakat dengan memanfaatkan peluang-peluang yang ada.

“Tetapi sayangnya, saat ini diempat  tahun terakhir, industri kreatif  hanya seperti  event organizer sebuah acara. Kepala Badan Ekonomi Kreatif idealnya dipegang oleh figur yang memahami potensi ekonomi yang ada di dalam masyarakat Indonesia,” tambah Kawendra dalam acara diskusi “Rabu Biru”  dengan thema “Ekonomi Kreatif Apa Sudah Efektif ?” yang dipandu oleh Jurnalis Senior Arief Gunawan, di Sriwijaya Center, Jakarta, Rabu (6/3/2019).

Menurut dia, Kepala Badan Ekonomi Kreatif harus mampu memotivasi masyarakat jadi kreatif, bukan menjadikan lembaga yang dipimpinnya seperti event organizer kekuasaan.

Kawendra mengaku sangat prihatin dengan kondisi yang  terjadi saat ini, karena masih banyak kanal-kanal yang tidak tersentuh. “Visi, strategi, dan implementasinya tidak jelas dan tidak dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,”imbuhnya.

“Dia harus bisa mendorong ekosistem kreatif terbentuk. Bahkan jika perlu di setiap Gang di negara Indonesia ini harus ada pendorongnya,”ucap Jurkamnas Prabowo-Sandi ini.

Apalagi, jelas dia, Indonesia memiliki 17.000 pulau, punya 700 lebih bahasa, dan punya 1.000 lebih etnis budaya. Nah, ini bisa dijadikan sumber konten kreatif yang tidak ada habisnya.

Untuk urusan  ekonomi kreatif, Ia mengaku sangat respek kepada paslon presiden Prabowo – Sandi yang memiliki strategi ke depan, karena  industri kreatif akan didorong ke ekosistemnya.

Kawendra mengaku selalu berdikusi dengan Prabowo – Sandi  terkait industri kreatif.

“Kalau saat ini ada Ok Oce. Nanti ke lebih besar lagi, yakni ada penggerak ekonomi kreatif namanya gerakan kreatif (gekraf). Bisa diartikan gerakan industri kreatif  nasional Ok Oce,” ujarnya.

Gerakan Kreatif (Gekraf), ke arah lebih besar lagi dari Oke Oce. Bisa dinamakan Ok Oce to Point yang ada disemua kabupaten, dan Kota. Atau bisa disebut One Creative Ekosistem.

“Jadi ekosistemnya yang akan didorong. Tidak seperti sekarang ini malah menurunkan bantuan anggaran,” katanya.

Di tempat yang sama  Tokoh Perempuan dan Entrepreneur, Poppy Dharsono menegaskan, bahwa industri kreatif atau ekonomi kerakyatan jika di bawah satu wadah, diyakininya bisa maju. Karena lebih terfokus.

“Saat ini yang terjadi saat ini produk hasil industri kreatif sudah disebar ke mana-mana, tapi tidak pernah tersentuh oleh masyarakat,”ucapnya.

“Saya menyebutnya Industri kreatif sekarang ada peningkatan, tapi tidak tersentuh. Belum ada keberpihakan. Kelihatannya dari luar bagus, karena dibalut dengan nota pembagian. Mestinya semua pelaku industri kreatif di backup penuh,” katanya.

Di contohkannya, sekarang ini (2019),  RAPBN ekonomi kreatif itu turun sekitar 130 miliar dibandingkan dengan tahun lalu, yaitu  hampir 764 miliar. Lalu, keberpihakannya di mana ?

Dirinya berharap, semoga kedepannya, ekonomi kreatif dikelola di bawah satu wadah, dan semua pelaku Industri kreatif diperhatikan. Mulai dari Provinsi, kota, kabupaten sampai kepada tingkat bawahnya.

“Pemimpin ke depan harus memperhatikan semua. Tak boleh hanya memikirkan satu kelompok atau kelompok-kelompok tertentu aja. Pemimpin itu harus ingat harus berada dikepentingan ekonomi kerakyatan. Jangan mikirin politik terus,”tegasnya Poppy.(red)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terkini

To Top