Nasional

Soal Tenaga Kerja Asing : Cawapres 01 Maupun Cawapres 02, Belum Konkrit Gagasan Kebijakannya

Nasionalpos.com,Jakarta–Debat pemilihan presiden putaran ketiga yang berlangsung pada Minggu (17/3) menampilkan hanya kedua cawapres yang membahas soal tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan serta sosial dan kebudayaan. Dalam debat kali ini,  menjadi sorotan di kalangan masyarakat, bukan hanya menyoroti soal istilah mengemuka di ajang debat cawapres tersebut, tapi juga gagasan konsep yang di lontarkan baik cawapres 01 Ma’ruf Amin maupun cawapres 02 Sandiaga Salahuddin Uno, diantara jutaan mata yang melihat ajang debat cawapres Pilpres 2019 disiarkan langsung oleh Stasiun TV Indosiar, TransTv dsb, terdapat sosok pria, sebut saja Jatmiko (20), lulusan salah satu Sekolah Menengah Kejuruan di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Menurutnya, pihak cawapres 01 maupun pihak cawapres 02 yang saling melontarkan janjinya di arena Debat, Minggu, 17/3/2019 semalam, nampaknya belum ada yang konkrit bicara soal tenaga kerja, misalnya masalah tenaga kerja asing, masing-masing pihak melontarkan gagasan kebijakan normative, dan terkesan retorika.
“Mestinya, debat semalam, mereka yang berdebat,  bicara tenaga kerja asing, sudah sepatutnya Pemerintah harus membatasinya, dan harus melindungi Tenaga Kerja Pribumi,  harus ada prosentase pembatasan keberadaan Tenaga Kerja Asing di Indonesia,”ucap Jatmiko saat di temui awak media, Senin, 18/3/2019.

Harus ada pembatasan donk, imbuh Jamiko, misalnya pemerintah menetapkan kebijakan, Tenaga Kerja Asing yang bekerja di perusahaan beroperasi di Indonesia, misalnya dibuat kebijakan pembatasan tenaga kerja asing harus sebanyak 5% atau 10% dari jumlah tenaga kerja pribumi, jika tidak ada pembatasan dengan menetapkan jumlah prosentasenya, maka tenaga kerja pribumi akan tersingkir dan pengangguran akan membengkak jumlahnya, realitasnya hari ini di karenakan tidak adanya prosentase pembatasan tenaga kerja asing, sehingga kehadiran mereka membludak, menguasai lapangan kerja yang mestinya untuk warga negara Indonesia, tapi malahan untuk mereka.
“Saya sendiri setelah tamat dua tahun lalu dari SMK, sekarang masih nganggur,mas, skill saya ada, dari sisi jumlah, saya kalah bersaing dengan tenaga kerja asing, mereka banyak banget tanpa batas prosentase jumlah,mas, akibatnya kami bersama ratusan ribu lulusan SMK lainnya, banyak yang masih menganggur,mas”tutur Jatmiko.

Hal senada juga disampaikan Lenny (25) seorang wanita lajang lulusan sebuah Perguruan Tinggi Swasta, juga mengeluhkan pandangan cawapres yang berada di ajang debat cawapres, semalam, tidak tegas dalam penanganan indikasi membanjirnya Tenaga Kerja Asing di Pemerintah sekarang.
Ia mengatakan bahwa soal kualitas, para pencari kerja di negeri ini, tidak kalah dengan tenaga kerja asing,tapi kebijakan pemerintah yang tidak mengutamakan keberadaan anak bangsanya sendiri butuh pekerjaan, sehingga peluang masuknya tenaga kerja asing semakin besar.
“Di Indonesia ini, sudah banyak banget Perguruan Tinggi Negeri maupun Swasta yang menghasilkan lulusan berkualitas, tapi karena nggak pede aje, atau ada kepentingan investasi, sehingga pemerintah memberi peluang membanjirnya tenaga kerja asing, saya setuju harus ada pembatasanlah, agar lapangan tenaga kerja kita nggak di caplok asing,”pungkas Lenny (25) kepada pers, Senin, 18/3/2019 di kawasan Grogol, Jakarta Barat.(*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terkini

To Top