Megapolitan

Gereja Jangan di Jadikan Alat Politik Praktis

Nasionalpos.com, Jakarta,–Gereja Katolik melihat politik sebagai sesuatu yang pada hakekatnya adalah baik, mutlak perlu bagi manusia, berpijak pada kemanusiaan untuk kebaikan umum (bonum commune). Untuk itu Gereja Katolik memperjuangkan pembaharuan politik dengan menekankan Kemanusiaan, Iman (ajaran, peraturan dan hukum Gereja), dan Kenegaraan (peraturan, undang-undang dan hukum negara), itulah kemudian sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga Era Reformasi, Gereja Katolik di Indonesia, selalu berperan strategis membela kepentingan Negara, bukan kepentingan kekuasaan.

Namun demikian di masa menjelang pemilu legislative dan pilpres 2019 ini, nampak adanya indikasi oknum-oknum  baik dari kalangan umat maupun dari kalangan klerus ( rohaniwan/rohaniwati Katolik) ingin menyeret Gereja dalam kubangan politik praktis untuk kepentingan politik perseorangan ataupun golongan, demikian di sampaikan Inggard Yoshua tokoh umat Katolik, saat di temui di kantornya di kawasan Jakarta Pusat, Kamis, 21/3/2019.

“Saya sangat prihatin dengan situasi adanya suatu gerakan dari suatu kelompok yang memanfaatkan gereja untuk kepentingan politik dukung mendukung, ini jelas sikap yang tidak patut dan dapat memicu terjadinya polarisasi di kalangan umat”tutur Inggard Yoshua.

Menurutnya, para klerus ( rohaniawan/rohaniwati Katolik) atau bahkan para awam yang ada di Komisi Hubungan Antar Agama dan Kemanusiaan ( HAAK) memang boleh ikut berperan dalam bidang politik dan pemerintahan, namun bukan sebagai politisi atau penguasa eksekutif, tetapi sebagai pembina, pengarah dan pengontrol. Misalnya memberi pendidikan politik, memberi pencerahan dan arahan kepada umat dan masyarakat untuk memilih calon legislative ataupun Calon Presiden-Calon Wakil Presiden dengan melihat rekam jejak, punya kompetensi, integritas dan moralitas/ kepribadian yang baik dsb, tapi realitasnya yang terjadi  saat ini, ada sinyalemen oknum pastor maupun oknum pengurus Komisi HAAK ataupun sie HAAK di paroki, di duga menjadi team sukses peserta pemilu, baik itu calon legislative maupun  mungkin juga di duga menjadi team sukses salah satu  pasangan Capres-Cawapres.

Bahkan, imbuh Inggard, ia pernah melihat langsung, seorang Romo Benny Susetyo, Pr  menyampaikan berita hoaks di kalangan umat, dengan menyebutkan bahwa ajang pilpres 2019 merupakan pertarungan pasangan Capres-cawapres 01 pendukung NKRI Vs pasangan Capres-Cawapres 02 pendukung Khilafah.

“Omongan Romo Benny itu menyesatkan umat, dia menyampaikan ujaran kebohongan dan kebencian, ini  tidak benar, dia bisa di tangkap atas tindakannya  tersebut, pasangan capres-cawapres yang tampil di pilpres 2019 ini adalah putra terbaik bangsa Indonesia, dan mereka sama-sama punya tekad NKRI harga mati, ngawur tuh romo Benny”tandas Inggard Yoshua.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terkini

To Top