Headline

Dianggap Abaikan Lingkungan, Pabrik Toyota Sunter Digeruduk Masyarakat

Masyarakat Ring I (sekitar wilayah Toyota Motor Manufacturing Indonesia) menduga pihak perusahaan merusak lingkungan.

Nasionalpos.com, Jakata –  Ratusan warga yang bermukim sekitar pabrik- pabrik raksasa di Jakarta Utara menggelar aksi unjuk rasa menuntut kepedulian perusahaan terhadap lingkungan sekitarnya. Para pengunjuk rasa yang tergabung dalam Masyarakat Ring I (sekitar wilayah Toyota Motor Manufacturing Indonesia) menilai selama ini pihak perusahaan yang berlokasi di kawasan Sunter, Tanjung Priok, Jakarta Utara itu mengabaikan bahkan diduga merusak lingkungan.

Warga yang unjuk rasa melakukan orasi dan menggelar sejumlah spanduk bertuliskan protes atas sikap perusahaan yang dianggap tidak peka atau mengabaikan lingkungan. Meski, jumlah massa mencapai ratusan dan memacetkan Jalan raya Yos Sudarso dan Sunter, namun aksi berjalan lancar dan damai.

“Kami telah menemukan sejumlah masalah di lapangan. Untuk itu, kami datang kesini (perusahaan) untuk menyampaikan dan meminta pertanggungjawabannya,” tandas Aji Nurohman, Sekretaris Masyarakat Ring I kepada wartawan disela-sela unjuk rasa, Selasa (19/11/2019).

Aji mengungkapkan, ada sejumlah temuan di lapangan yang sangat merugikan masyarakat dan jelas menunjukkan ketidakpedulian pihak perusahaan. Temuan tersebut, diantaranya :

  1. Rekruitmen (ketenagakerjaan) bahwa beberapa tahun terakhir tak pernah merekrut tenaga kerja sekitar perusahaan. Akibatnya, jumlah pengangguran terus bertambah sehingga menimbulkan kesenjangan sosial yang cukup lebar.
  2. Limbah beracun (B3) yang mencemari lingkungan. Diduga, pihak Toyota Motor Manufacturing Indonesia membuang limbah ke wilayah Masyarakat Ring I (sekitar wilayah Toyota Motor Manufacturing Indonesia) yang akan berdampak pada kesehatan masyarakat.
  3. Sosial kemasyarakatan atau kemitraan. Pihak perusahaan tidak transparan soal Tanggung jawab Sosial Perusahaan atau program CSR (Corporate Social Responsibility), sehingga  masyarakat kurang merasakan programnya.

“Ini ironis, yang bekerja di perusahaan itu dari daerah lain, sementara masyarakat sini banyak yang nganggur. Perlu dicatat bahwa kami bukan pengemis, kami hanya menuntut komitmen dan tanggungjawab pihak perusahaan. Jangan sampai ini diabaikan, karena akan merugikan pihak perusahaan sendiri. Kami datang untuk dialog dan cari solusi bersama. pihak perusahaan tadi janji mau dialog pekan depan., kami tunggu ,” jelas Aji. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terkini

To Top