Headline

Ada Apa Dengan DIY?

DR. Harjono Padmono Putro

Oleh :

DR. Harjono Padmono Putro *

Nasionalpos.com, Jakarta – Luas Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) itu hanya kurang lebih 3.6 juta meter persegi atau hanya sekitar 0.17 dari seluruh wilayah Indonesia, Sementara jumlah penduduknya juga hanya sekitar 3 juta orang dari 220 juta seluruh Indonesia.

DIY memang bukan sebuah kota yang kaya dengan kandungan emas dan minyak, juga tidak kaya dengan hasil perikanan. Bahkan disalahsatu kabupaten, yakni Kab. Gunung Kidul merupakan daerah yang minus karena sulitnya mendapatkan air. DIY juga daerah yang saat ini sering terjadi bencana karena memiliki Gunung Merapi yang masih aktif.

Predikat sebagai Kota Pelajar merupakan sebuah predikat yang melekat, karena bukan hanya masalah jumlah sekolah dan perguruan tinggi yang cukup besar sehingga jumlah pelajar dan mahasiswanya juga besar, tetapi sejarah telah mencatat peranan besar sumbangan dunia pendidikan DIY terhadap perjalanan bangsa ini.

Kebanggaan lain yang melekat pada DIY adalah sebutan sebagai Kota Budaya. Karena peninggalan budaya yang cukup banyak ada disini. Diantaranya Keraton Ngayogyakarta sebagai salah satu kerajaan yang ada di Nusantara ini, bukan hanya menjadi simbol bagi budaya DIY, tapi  juga  dapat memperlihatkan simbol-simbol bagaimana tingginya budaya Bangsa Indonesia.

Namun, segudang keistimewaan yang dimiliki dan melakat pada DIY itu kembali ‘terusik’ dengan munculnya kembali masalah Keistimewaan Yogyakarta yang digugat, meskipun ini  bukanlah suatu hal yang baru dilakukan.  Pada 2016 lalu, masalah larangan etnis Cina memiliki tanah di DIY digugat ke Mahkamah Konstitusi (MK). Namun, gugatan itu ditolak karena MK menganggap DIY memiliki keistimewaan dibandingkan daerah lain untuk menyelenggarakan pemerintahannnya.

Kini, seorang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada (UGM), Felix Juanardo Winata, mengajukan permohonan pengujian Pasal 7 ayat (2) Huruf d Undang-undang (UU) Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY ke MK. Lagi-lagi, soal larangan etnis Cina memiliki tanah di DIY yang dipersoalkan. Diketahui, Pasal 7 ayat (2) huruf d UU Keistimewaan DIY berbunyi, “Kewenangan dalam urusan Keistimewaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: d. pertanahan”.

Kita tunggu saja hasilnya, apakah tetap ditolak seperti sebelumnya? Mengingat, DIY memiliki keistimewaan dibandingkan daerah lainnya.

Tetapi gugatan kali ini sepertinya memiliki tensi yang berbeda dengan gugatan yang pernah terjadi waktu lalu. Ada isu hegemoni Cina di Asia Tenggara termasuk di Indonesia yang menguatkan tensi sengketa ini.

Sebab, soal penguasan tanah memang menjadi masalah fundamental untuk dapat merubah sejarah. Mengingat DIY merupakan sebuah kota yang menjadi bukti perjalanan sejarah bagi Bangsa Indonesia. Sehingga, bukan hanya penguasan tanah yang menjadi persoalan, tetapi patut dicermati dan diwaspadai kemungkinan adanya agenda besar dibalik itu, yakni upaya mengubah bahkan menghapus jejak perjuangan bangsa ini menjadi bangsa merdeka.

Ingat, DIY adalah salah satu simbol Bangsa Indonesia, jika  simbol dirubah dan dihapuskan, maka akan mudah untuk memasukan ideologi baru ke Indonesia. (***)

*Penulis adalah pemerhati Budaya DIY

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terkini

To Top