Headline

Serangan Gelombang Kedua Covid-19, Beijing Tutup Pusat Kebugaran

Nasionalpos.com, Jakarta – Otoritas Beijing kembali melarang pusat kebugaran dibuka untuk umum selama akhir pekan. Kebijakan itu dilakukan setelah kasus baru virus corona yang menyebabkan SARS-CoV-2 (Covid-19) di Beijing, China, meningkat sejak pekan lalu.

Pusat kebugaran di Ibu Kota China itu sejatinya telah ditutup sejak tiga bulan lalu atau saat Covid-19 mewabah di Wuhan dan sejumlah kawasan di China. Namun, kasus Covid-19 mulai melambat pada awal Maret dan memungkinkan beberapa pusat kebugaran itu beroperasi kembali.

Melansir CNBC, data menunjukkan industri kebugaran di China sangat terpukul oleh Covid-19. Sebelumnya, pada 17 April 2020, tercatat 955 ribu perusahaan kebugaran beroperasi di seluruh China.

Sebanyak 6.969 bisnis pusat kebugaran gulung tikar atau menunda operasi dalam tiga bulan pertama tahun ini, jauh lebih banyak dari 4.632 bisnis yang tutup sepanjang 2015. Di Beijing, lebih dari 200 bisnis kebugaran tutup di Beijing pada kuartal pertama.

Di tengah situasi ini, pemilik pusat kebugaran mulai mencari cara untuk tetap bertahan. Salah satu cara yang dilakukan adalah menegosiasi ulang sewa dengan pemilik lahan dan beralih ke kelas online.

“Sangat sulit bagi kami karena kami adalah penyedia offline. Kami masih menyelidiki opsi pendapatan online,” kata Ankit Nayal, seorang direktur di B Active 24 Hour Fitness yang berpusat di Beijing.

Nayal mengaku bisnisnya hanya beroperasi selama 12 jam sehari ketika kembali dibuka bulan ini. Dalam satu jam, dia menyebut hanya ada 10 orang yang datang. Jumlah itu, kata dia telah memangkas pendapatan hingga 30 persen dari biasanya. B Active 24 Hour Fitness memiliki sekitar 18 ribu anggota di 8 klub di Cina, empat di antaranya di Beijing.

Melansir Daily Mail, penutupan gym dan kolam renang di Beijing sebagai antisipasi gelombang kedua pandemi Covid-19 di China. China diketahui baru saja mengkarantina provinsi Shaanxi, kota dengan 10 juta penduduk karena menemukan tujuh kasus baru Covid-19 yang diimpor, semuanya dari warga yang pulang dari Rusia.

Gelombang dua epidemi Covid-19 dinilai akan menjadi masalah di tengah upaya Presiden Xi Jinping memulihkan perekonomian China yang terpukul akibat Covid-19.

Otoritas terkait mengklaim bahwa jumlah total kasus Covid-19 yang dikonfirmasi di China, tempat virus pertama kali muncul pada akhir Desember sebanyak 82.816 kasus. Jumlah korban tetap sama di 4.632, tanpa ada kematian baru yang dilaporkan pada 24 April.

Sejumlah tokoh di dunia tidak percaya dengan laporan itu dan menuduh China membiarkan virus corona baru menyebar ke seluruh dunia. Bahkan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuduh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berkolusi dengan China untuk menurunkan angka kasus di negeri tirai bambu. (CNN Indonesia)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terkini

To Top