Ekonomi

Dampak Corona, 80 Persen Perusahaan Pembiayaan Berhenti Salurkan Kredit

Nasionalpos.com, Jakarta – Khawatir Virus Corona, sekitar 80 persen perusahaan pembiayaan kini sudah berhenti menyalurkan kredit pinjaman kepada nasabah. Akibatnya, jumlah nasabah yang mengajukan relaksasi signifikan bertambah banyak.

Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno mengungkapkan likuiditas perusahaan rentan terganggu jika seluruh debitur mengajukan pelonggaran. Sebab, pendapatan perusahaan pembiayaan hanya berasal dari pembayaran bunga dan arus kas dari pembayaran pokok utang.

“Sekitar 80 persen perusahaan pembiayaan sekarang berhenti memberikan pinjaman. Takut ada penambahan klaim yang macet,” ujar Suwandi dalam video conference, Selasa (28/4/2020).

Kondisi itu diperpaah dengan adanya sejumlah perbankan yang mulai berhenti menyalurkan pinjaman ke perusahaan pembiayaan. Padahal, perusahaan pembiayaan masih memiliki plafon untuk menarik kredit dari perbankan.

Suwandi menyebut saat ini ada 183 perusahaan pembiayaan yang sudah menyetop memberikan pinjaman baru ke nasabah. Sayangnya, tidak disebut nama persuhaan yang sudah menyetop penyaluran kredit pinjaman.

Adapun jumlah piutang pembiayaan saat ini mencapai RPp452 triliun. Sementara, jumlah karyawannya sebanyak 224,61 ribu orang.

Menurutnya, saat iniperusahaan pembiayaan membutuhkan fasilitas restrukturisasi dari perbankan. Jika tidak, perusahaan akan mengalami masalah likuiditas karena memberikan banyak memberikan keringanan pembayaran cicilan kepada nasabah.

Sementara, perusahaan pembiayaan harus tetap membayar utangnya, baik pokok dan bunga kepada perbankan. Jika dibiarkan, maka keuangan perusahaan bisa makin memburuk.

Pihaknya memprediksi, perusahaan di sektor pembiayaan berpotensi merugi hingga Rp87,64 triliun jika seluruh debitur pembiayaan motor dan mobil mengajukan restrukturisasi di tengah penyebaran virus corona.

“Mayoritas kerugian berasal dari pembiayaan mobil. Jika dirinci, potensi kerugian dari pembiayaan mobil sebesar Rp45,58 triliun dan motor Rp42,06 triliun,” pungkasnya. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terkini

To Top