Headline

Konglomerat Samin Tan Jadi DPO KPK

Samin Tan

Nasionalpos.com, Jakarta – Konglomerat Samin Tan masuk ke dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Samin Tan dimaskkan DPO  karena dua kali mangkir panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai tersangka.

Samin Tan pemilik PT Borneo Lumbung Energy & Metal pernah masuk dalam daftar 40 orang terkaya di Indonesia versi Forbes.

“KPK memasukkan nama tersangka SMT [Samin Tan], pemilik perusahaan PT BLEM, ke dalam DPO,” ungkap Pelaksana Tugas Juru Bicara Penindakan KPK, Ali Fikri kepada wartawan Rabu (6/5/2020).

Menurut Ali, sesuai dengan Pasal 12 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua atas Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002, KPK berwenang meminta bantuan kepolisian atau instansi lain yang terkait untuk melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan dalam perkara tindak pidana korupsi yang sedang ditangani.

“KPK memasukkan SMT ke dalam DPO sejak 17 April 2020. KPK juga telah mengirimkan surat kepada Kepala Kepolisian Republik Indonesia Up. Kabareskrim Polri tertanggal 17 April 2020 perihal DPO atas nama SMT,” lanjut Ali.

Untuk diketahui, Samin Tan ditetapkan sebagai tersangka pada 15 Februari 2019. Ia diduga memberi uang Rp5 miliar kepada mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Eni Maulani Saragih untuk kepentingan proses pengurusan terminasi kontrak Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B) PT Asmin Koalindo Tuhup (AKT).

Tujuan suap agar Eni menyelesaikan masalah terminasi perjanjian PT AKT, anak usaha PT Borneo Lumbung Energy & Metal di Kalimantan Tengah.

Atas perbuatannya, Samin Tan dijerat Pasal 5 Ayat (1) huruf a atau Pasal 13 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Ali membeberkan Samin Tan mangkir panggilan KPK untuk dipemeriksa pada tanggal 2 Maret 2020. Meskipun KPK telah mengirimkan surat panggilan pada tanggal 28 Februari 2020.

Panggilan kedua KPK pada 2 Maret 2020 untuk pemeriksaan pada 5 Maret 2020, Samin Tan tak juga menampakkan batang hidungnya.

Ali mengatakan, Samin Tan cuma mengirimkan surat dengan alasan sakit disertai surat keterangan dokter.

“Dalam surat tersebut, tersangka SMT menyatakan akan hadir pada 9 Maret 2020,” terangnya.

Namun, pada 9 Maret 2020 Samin Tan kembali meminta penundaan pemeriksaan dengan dalih sakit dan butuh istirahat selama 14 hari, serta melampirkan surat keterangan dokter.

Pada 10 Maret 2020, KPK menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap Samin Tan.

Penyidik pun langsung melakukan pencarian terhadap Samin Tan ke sejumlah tempat, di antaranya dua rumah sakit di Jakarta, apartemen milik tersangka di kawasan Jakarta Selatan, dan beberapa hotel di Jakarta Selatan. Namun, hingga saat ini keberadaan SMT belum diketahui.

“Sampai saat ini, tersangka SMT belum ditemukan,” jelas Ali. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terkini

To Top