Headline

Dua Buronan KPK Nurhadi dan Menantu Disebut Tiap Pekan Tukar Uang Miliaran Rupiah

Nasionalpos.com, Jakarta – Buronan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mantan Sekjen Mahkamah Agung (MA) Nurhadi, dan menantunya Rezky Herbiyono kabarnya rutin menukarkan uang miliarian rupiah di money changer daerah Cikini dan Mampang, Jakarta.

“Awal minggu ini saya mendapat informasi teranyar yang diterima terkait jejak-jejak keberadaan Nurhadi berupa tempat menukarkan uang asing ke rupiah,” kata Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman dalam keterangan pers, Sabtu (9/5/2020).

Menurutnya, ada dua tempat money changer di Jakarta yang biasa digunakan oleh Nurhadi untuk menukarkan uang dolar miliknya, yaitu di daerah Cikini dan Mampang. “Inisial money changer adalah V di Cikini dan M di Mampang.” Tuturnya.

Masih menurut Boyamin, Nurhadi tiap pekan menukarkan uang dua kali. Pertama Rp 1 miliar untuk kebutuhan sehari-hari, dan akhir pekan lebih banyak sekitar Rp 1,5 miliar untuk gaji buruh bangunan dan gaji pengawal.

Untuk menukar uang tersebut, Nurhadi kerap menyuruh dua orang, yakni menantu dan karyawannya. “Yang melakukan penukaran bukan Nurhadi, biasanya menantunya Rezky Herbiyono atau karyawan kepercayaannya,” ungkapnya.

Untuk membantu aparat menangkap Nurhadi dan Rezky, Boyamin mengaku telah menyampaikan informasi ini kepada KPK secara detil termasuk nama money changer dan lokasinya.

Untuk diketahui, Nurhadi dan menantunya Rezky  Herbyono ditetapkan KPK sebagai tersangka suap dan gratifikasi dengan total Rp 46 miliar terkait pengurusan perkara di MA tahun 2011-2016.

Mertua dan menantu itu diduga menerima uang dari dua pengurusan perkara perdata di MA.

Nurhadi dan menantunya, Rezky (istimewa)

Pertama, melibatkan PT Multicon Indrajaya Terminal melawan PT Kawasan Berikat Nusantara (Persero). Kedua, terkait pengurusan perkara perdata sengketa saham di PT MIT dengan menerima Rp 33,1 miliar.

Untuk perkara gratifikasi, tersangka Nurhadi melalui menantunya Rezky dalam rentang Oktober 2014–Agustus 2016 diduga menerima sejumlah uang dengan total sekitar Rp 12,9 miliar.

Hal itu terkait dengan penanganan perkara sengketa tanah di tingkat kasasi dan PK di MA dan permohonan perwalian.

Pada awal 2015, Rezky diduga menerima sembilan lembar cek atas nama PT MIT dari Hiendra untuk mengurus perkara Peninjauan Kembali (PK) atas putusan Kasasi No: 2570 K/Pdt/2012 antara PT MIT dan PT KBN (Persero).

Untuk membiayai pengurusan perkara tersebut tersangka Rezky menjaminkan 8 lembar cek dari PT MIT dan 3 lembar cek milik Rezky untuk mendapatkan uang dengan nilai Rp 14 miliar.

Nurhadi dan Resky selaku penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b subsider Pasal 5 ayat (2) lebih subsider Pasal 11 dan/atau Pasal 12B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sedangkan Hiendra, disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b subsider Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terkini

To Top