Headline

Gubernur Jatim Tetap Izinkan Sholat Idul Fitri di Masjid

NasionalPos.com, Jakarta – Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa berkeras mengizinkan Masjid Nasional Al Akbar menggelar salat berjemaah, termasuk salat Idulfitri 1441 Hijriah. Sebab, ketentuan itu sesuai aturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) Pemprov Jatim.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Kamarudin Amin meminta Pemprov Jatim mempertimbangkan ulang izin salat berjemaah saat Ramadan dan Idul Fitri di masjid saat pandemi virus corona.

Menurut Amin, sejak awal imbauan pemerintah sudah jelas terkait pelaksanaan ibadah di rumah selama pandemi virus corona. Selama kasus positif virus corona belum melandai, imbauan untuk tidak salat berjemaah di masjid harus ditaati.

Namun, Khofifah menyatakan sholat Idul fitri di Masjid sesuai aturan PSBB yang diterapkan Pemprov Jatim.

“Pada posisi seperti ini kembali ke pada peraturan gubernur sesungguhnya pada saat PSBB, ada proses pembatasan, saya ingin menyampaikan pembatasan, bukan pelarangan, bukan penghentian,” kata Khofifah, melalui konferensi pers live streaming, Sabtu (16/5/2020) malam.

Dalam Pergub Jatim Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pedoman PSBB dalam Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19 ) di Provinsi Jatim, tertulis kegiatan keagamaan di rumah ibadah hanya dibatasi, bukan dihentikan atau dilarang.

“Pengecualian pembatasan kegiatan keagamaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan, dan fatwa atau pandangan lembaga keagamaan resmi yang diakui oleh pemerintah,” bunyi Pasal 12 Pergub 21/2020.

Karena itu, tegas Khofifah, pihak rumah ibadah bisa menggelar kegiatan seperti salat berjemaah atau salat Id, dengan berpedoman pada aturan atau fatwa lembaga keagamaan resmi.

“Jadi di dalam pergub, kita juga ada exit clausul, adalah mengikuti Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes), di Permenkes diberikan exit clausul, dalam klausul tertentu silakan mempertimbangkan pendapat atau para tokoh agama,” jelasnya.

Khofifah pun menegaskan telah mengantongi pendapat dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim, Muhammadiyah dan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim, untuk menggelar salat Id secara berjemaah di masjid.

Khofifah juga mengatakan pihaknya telah melakukan pemetaan wilayah yang berisiko terjadi penularan virus corona.

“Nah dari proses pembatasan ini, mari kita melihat titik-titik yang berisiko tinggi, dan titik yang mana yang masih hijau. Peta ini yang tahu juga adalah daerah, kita punya peta, kalau diminta men-display perhari ini kita bisa,” pungkasnya. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terkini

To Top