Headline

Mantan Komisioner KPU, Wahyu Kembali Didakwa Suap Rp500 Juta dari Gubernur Papua Barat

NasionalPos.com, Jakarta – Mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU), Wahyu Setiawan terdakwa kasus suap kasus penetapan anggota DPR terpilih periode 2019-2024, kini kembali didakwa menerima suap sejumlah Rp500 juta dari Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan.

Dakwaan itu dibacakan Jaksa KPK Takdir Suhan di PN Tipikor Jakarta, Jakarta, Kamis (28/5/2020). Uang itu diserahkan melalui perantara Sekretaris KPU Provinsi Papua Barat Rosa Muhammad Thamrin Payapo.

“Terdakwa selaku anggota Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia periode tahun 2017-2022, yang menerima hadiah atau janji, berupa uang sebesar Rp 500 juta dari Rosa Muhammad Thamrin Payapo yang diterima terdakwa I melalui transfer pada rekening bank, padahal diketahui atau patut diduga, bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan karena kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya,” beber jaksa Takdir.

Adapun maksud dari pemberian uang itu adalah supaya Wahyu bisa mengupayakan Calon Anggota KPU Daerah Provinsi Papua Barat periode tahun 2020-2025 diisi oleh putra daerah asli Papua.

Menurut jaksa, pada tanggal 3 Januari 2020, Rosa Muhammad Thamrin Payapo diserahkan titipan uang sebesar Rp500 juta dari Dominggus Mandacan.

Setelah menerima titipan uang tersebut, Rosa menyetorkannya ke rekening miliknya pada Bank Mandiri nomor 1600099999126 di Bank Mandiri Cabang Manokwari untuk nantinya ditransfer ke rekening Terdakwa I.

Permintaan uang bermula ketika Rosa menyambangi Jakarta untuk menghadiri pelantikan Panitia Seleksi yang dilantik KPU RI sekitar akhir November 2019.

Saat itu, Rosa bertemu dengan Wahyu di ruang kerjanya. Disitulah Wahyu mengajukan permintaan uang. “Bagaimana kesiapan, pak Gubernur? Ah, cari-cari uang dulu.”

“Setelah kembali dari Jakarta, Rosa melaporkan kepada Dominggus selaku Gubernur Papua Barat bahwa Terdakwa I diyakini dapat membantu memperjuangkan Calon Anggota KPU Provinsi Papua Barat terpilih dengan imbalan berupa uang,” ujar Jaksa.

“Dominggus merespons dengan mengatakan: ‘Nanti kita lihat perkembangan,’” imbuh jaksa.

Akhirnya, proses seleksi hanya diikuti 70 peserta, termasuk di dalamnya 33 peserta merupakan Orang Asli Papua (OAP). Pada tahap memasuki proses wawancara dan tes kesehatan, ternyata hanya menyisakan delapan peserta seleksi, di mana di antaranya tiga peserta merupakan putra daerah Papua. Mereka adalah Amus Atkana, Onesimus Kambu dan Paskalis Semunya.

“Hal ini menyebabkan warga masyarakat asli Papua melakukan aksi protes di Kantor KPU Daerah Provinsi Papua Barat dengan tuntutan agar peserta seleksi yang nanti terpilih menjadi anggota KPU Provinsi Papua Barat harus ada yang berasal dari putra daerah Papua,” jelasnya.

Rosa pun melaporkan situasi tersebut kepada Dominggus sehingga membuat yang bersangkutan bakal mengupayakan sejumlah uang.

Pada tanggal 20 Desember 2019, Rosa menghubungi Wahyu untuk membicarakan situasi seleksi calon anggota KPU daerah. Rosa pun meminta bantuan Wahyu supaya tiga putra daerah yang tersisa dapat terpilih menjadi anggota KPU Papua Barat.

Tak lupa Rosa menyetorkan uang sejumlah Rp500 juta. Untuk itu, Wahyu meminta tolong kepada istri sepupunya yang bernama Ika Indrayani untuk meminjamkan rekening dengan dalih keperluan bisnis.

“Pada tanggal 7 Januari 2020 bertempat Bank BCA Manokwari, Rosa melakukan pemindahan dana sebesar Rp500 juta dari rekening Bank Mandiri miliknya dengan cara menarik uang secara tunai dan selanjutnya melalui bantuan Patrisius Hitong disetorkan tunai ke rekening Bank BCA Cabang Purwokerto Nomor 0461132391 atas nama Ika Indrayani sebagaimana arahan dari Terdakwa I,” ungkap jaksa.

Atas dasar ini, Wahyu didakwa melanggar Pasal 11 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terkini

To Top