Headline

Mantan Komsioner KY Nilai Sidang Kasus Novel Mirip Kasus Tanjung Priok Yang Didesain Gagal

Suparman Marzuki

NasionalPos.com, Jakarta – Mantan Ketua Komisi Yudisial atau KY Suparman Marzuki menilai ada kesamaan sidang kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan dengan sidang kasus pelanggaran HAM di Tanjung Priok dan pelanggaran HAM Timor Timur. Yakni, sidang yang didesain untuk gagal.

Penialian Suparman itu mengutip ungkapan itu dari ucapan David Cohen, seorang profesor hukum dari Universitas Stanford, mengenai “Saya membayangkan pengadilan ini akan berujung seperti sidang kasus pelanggaran HAM Tanjung Priok dan pelanggaran HAM di Timor Timur yang oleh David Cohen disebut sebagai pengadilan yang disiapkan untuk gagal,” kata Marzuki dalam diskusi daring Pusat Kajian Antikorupsi Universitas Gadjah Mada, Rabu (17/6/2020).

Lebih lanjut, Suparman menyatakan persidangan kasus penyiraman air keras terhadap Novel ini hanya dilakukan untuk mengakhiri desakan publik.

Pasalnya, semua analisis yang telah dikemukakan Novel Baswedan maupun tim advokasi, mengenai bukti dan saksi yang tidak dihadirkan menunjukkan tidak ada keseriusan untuk mengungkap perkara ini. “Ada kesan kuat bahwa persidangan ini bukan persidangan sesungguhnya untuk mengadili pelaku,” katanya.

Sebelumnya, Direktur Kantor Hukum Lokataru Haris Azhar menilai ada dugaan rekayasa atas tuntutan setahun penjara yang diberikan Jaksa terhadap dua terdakwa kasus penyerangan penyidik KPK Novel Baswedan, Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis.

“Nuasa rekayasa sangat kental. Sebagaimana ciri pengadilan rekayasa, banyak keanehan dalam persidangan,” kata Haris Azhar dalam keterangannya, Jumat (12/6/2020).

Menurutnya, ada konflik kepentingan dalam perkara tersebut, misalnya kedua terdakwa yang merupakan anggota Polri yang didamping pengacara yang juga polisi.

Begitupun keterangan dokter bahwa Novel Baswedan diserang air keras tidak digunakan. Jaksa memakai dalil penggunaan air aki seperti pengakuan kedua terdakwa tanpa didukung bukti forensik.

Selain itu, rekaman CCTV pun tidak dimunculkan sebagai bukti dalam persidangan. Padahal, sejak awal penanganan polisi mengklam sudah mendapati rekaman CCTV sekitar tempat kejadian dekat kediaman Novel Baswedan.

Bertolak dari fakta itu, Haris menilai tuntutan rendah bagi kedua terdakwa kasus Novel Baswedan aneh tapi wajar.

“Aneh karena kejahatan kejam hanya dituntut rendah. Namun wajar sebab kedua tersangka sekedar boneka,” ujarnya.

Apalagi, berdasarkan hasil investigasi Tim Advokasi Novel Baswedan, Rahmat dan Ronny tak sesuai dengan ciri-ciri pelaku.

“Keduanya dipasang untuk mengakhiri polemik kasus Novel yang tidak kunjung jelas,” pungkasnya. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terkini

To Top