Headline

Iran Dikabarkan Akan Tingkatkan Produksi Uranium Di Atas Ambang Batas

NasionalPos.com, Jakarta – Iran berencana meningkatkan produksi uranium hingga 20 persen. Mereka telah memberitahu rencana tersebut kepada Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Kabar itu disampaikan oleh pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada, Jumat (1/1/2021).

Jumlah tersebut jauh melampaui ambang batas yang ditetapkan oleh kesepakatan Wina 2015.

“Iran memberi tahu tentang rencana memperkaya uranium hingga 20 persen di pabrik bawah tanah Fordow, untuk mematuhi undang-undang yang baru-baru ini disahkan oleh parlemen Iran,” kata juru bicara IAEA kepada AFP.

Namun surat tertanggal 31 Desember tidak menyebutkan secara pasti kapan pengayaan ini akan dimulai.

“Ini merupakan pukulan tambahan,” kata seorang diplomat yang bermarkas di Wina.

Menurut laporan terbaru dari badan PBB yang diterbitkan pada November, Teheran telah memperkaya uranium ke tingkat yang lebih besar dari batas yang ditentukan dalam perjanjian Wina yakni 3,67 persen, tapi tidak melebihi ambang batas 4,5 persen dan masih mematuhi inspeksi IAEA yang sangat ketat.

Tapi sejak pembunuhan ilmuwan nuklir Iran Mohsen Fakhrizadeh pada akhir November, telah terjadi kekacauan.

Setelah pembunuhan itu, kelompok garis keras di Teheran berjanji akan memberikan tanggapan.

Parlemen lalu mengeluarkan undang-undang kontroversial yang menyerukan produksi dan penyimpanan “setidaknya 120 kilogram per tahun dari 20 persen uranium yang diperkaya” dan untuk “mengakhiri” inspeksi IAEA atas pemeriksaan agar Iran tidak mengembangkan bom atom.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat terpilih Joe Biden yang akan menjabat pada 20 Januari, telah mengisyaratkan bahwa AS akan bergabung kembali dengan Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) untuk membatasi program nuklir Iran.

Selain AS, lima negara lain termasuk China, Prancis, Jerman, Rusia, dan Inggris turut menandatangani kesepakatan tersebut.

Sebelumnya, Presiden Donald Trump secara sepihak menarik diri dari JCPOA pada Mei 2018 dan memberlakukan sanksi ekonomi yang melumpuhkan Teheran.

Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas mengatakan pergantian pemerintahan di AS menandakan ada “jendela terakhir” untuk kemajuan yang “tidak boleh disia-siakan”. (CNN Indonesia)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terkini

To Top