Headline

Era Peradaban Baru Dalam Perspektif Abdul Mannan

(In Memoriam – Ustad  Dr. Abdul Mannan, MM, Majelis Syuro Partai Masyumi)

 

Oleh : Dr.TB.Massa Djafar

Sekretaris Jenderal Partai Masyumi.

Dosen Ilmu Politik Sekolah Pascasarjana UNAS

 

NasionalPos.com, Jakarta – Menerima berita kepulangan Ustad Dr. Abdul Mannan, MM kepangkuan Sang Khalik untuk selamanya, membuat saya terkejut. Sembari mengucapkan Innalillahi waiinilaihi rojiun, semoga beliau husnul khotimah. Mendapat tempat terbaik disisiNya, Jannatul Naim. Yaitu surga bagi hambaNya yang menghabiskan seluruh aktivitas hidupnya mengemban misi fisabilillah.

Rasa haru dan sedih berkecamuk dalam diri saya. Perkenalan saya dengan beliau terbilang singkat seumur jagung. Meski singkat, namun berkesan dalam. Dalam padangan saya, beliau sosok yang sangat tawadhu, ramah, bersahabat dan cerdas. Perjumpaan pertama dengan beliau, sekira Desember 2020 lalu saat saya berkunjung ke kantor Hidayatullah, di Jakarta Timur. Perjumpaan kedua dan ketiga, di Dewan Dakwah, Kramat Raya, Jakarta Pusat saat rapat Majelis Syuro Partai Masyumi.

Tak mengira, perjumpaan ketiga dengan beliau sekira beberapa bulan lalu merupakan perjumpaan terakhir secara fisik. Setelah itu, beberapa kali saya berkomunikasi melalui hand phone, diskusi singkat soal isi buku beliau dan  prospek Partai Masyumi ke depan. Saya terkenang kembali, saat buku berjudul Era Peradaban Baru, saya terima langsung dari tangan beliau, sembari  membubuhkan tandatangannya disampul dalam buku. Beliau adalah tokoh Ormas Islam Hidayatullah, juga sebagai anggota Majelis Syuro Partai Masyumi.

Pandangan Kritis

Buku Era Peradaban Baru, beliau memulai dengan mendiskusikan terminologi peradaban. Mengutip beberapa sarjana barat, beliau meredefinisi arti dan makna peradaban bertitik tolak pada aspek material semata, tetapi mencakup peradaban sejatinya lahir dari visi yang bersifat spiritual. Kritik Mannan, diperkuat oleh sebagaian sarjana Barat dan cendekiawan muslim. Mulai dari pendapat Christhoper Dawson, Ibnu Mansur, Anne-Robert-Jacques Turgot.

Sintesa pemikiran sarjana Barat dan Islam, Mannan mengkritisi pendapat Samuel Huntington bahwa peradaban adalah entitas kultural, juga tidak dapat mencakup seluruh fakta peradaban. Pendapat kritis Mannan, Islam merupakan sebuah peradaban. Pertanyaanya, apakah Islam hadir dari suatu hal sifatnya kultural? Bagi Mannan, Islam jelas merupakan entitas relegius yang mengkreasi kultur, bukan entitas kultural yang menciptakan budaya relegius.

Dengan mengutip argumen Dawson bahwa kesadaran relegius yang melembaga dalam bentuk agama adalah pondasi bagi keberadaan peradaban. Ketika agama ada, masyarakat mendapatkan peradabannya, dan ketika agama tidak ada, masyarakat kehilangan peradabannya.  Diperkuat oleh Jamaluddin Al-Afghani bahwa kesadaran religius tidak dapat dipungkiri merupakan hal yang menggerakkan bangsa-bangsa di seluruh dunia untuk dapat sampai pada peradaban. Yaitu, peradaban yang lebih maju.

Basis filosofi dan teoritikal tentang peradaban yang dikonstruksi oleh Mannan telah mematahkan para sajana barat sekuler, Alexis, Durkheim,Taylor, Feurbach, Frued, Nietzsche, Marx definisi perdaban lebih kepada aspek material, menegasikan dimensi spiritual dan Ketuhanan. Para ilmuan, cendekiawan, ulama Islam, dengan mengutip pendapat Ibnu Khaldun, Al Afghani, Al-Maududi, Abduh, Sayyid Quthb, Ibnu Mansur dan sejumlah ilmuan Islam lainnya telah memperkuat tesis Mannan. Era peradaban baru kembali pada sumbernya yaitu Tauhid merupakan buah dari kesadaran relegius, sedangkan akhlaq merupakan buah kesadaran moral yang dibawa dalam misi kenabian Muhammad Rasulullah SAW diutus kemuka bumi, sebagai pangkal memperbaiki dan membangun peradaban baru umat manusia hingga kini.

Titik Relevansi Kebangkitan Masyumi

Pemikiran dan gagasan Mannan tentang peradaban baru, tak lain sebuah representasi, fungsi dan tugas para ulul albab, ulama, cendekiawan muslim sebagai pelanjut misi kenabian. Pemikiran Mannan bukan intelektual exercise semata, tapi gerakan pemikiran praxis, implementatif. Sebuah transformasi kedalam dimensi politik dan kenegaraan. Bagaimana mengatur kehidupan masyarakat dalam seluruh aspek kehidupan umat manusia sebagai proses membangun peradaban.

Pemikiran Mannan, yang juga tokoh Hidayatullah, menjawab gagasan para inisiator Masyumi untuk “melahirkan” atau melanjutkan perjuangan Masyumi. Sebagaimana para pendahulu Masyumi, Kiyai Haji Hasyim Asy’ari, Kiyai Haji Wahid Hasyim, Soekiman, Wirjosanjoyo, Prawoto Mangkusasmito, Mohammad Nasir, Safruddin Prawiranegara, Mohammad Roem dan sederet tokoh lainnya.

Kehadiran Mannan sebagai salah satu tokoh Majelis Syuro Partai Masyumi adalah sebuah argumen dan jawaban melanjutkan perjuangan Masyumi, tidak ada hubungannya dengan eforia, apalagi romantisme sejarah. Tetapi ini sebagai upaya mendudukkan kembali kepemimpinan umat Islam pada kaum ulama, ulul albab, cendekiawaan.

Tentu kehadiran Mannan sebagai tokoh Majelis Syuro Partai Masyumi, memberikan warna perjuangan Masyumi, yaitu bukan pada kepemimpinan politisi dan target politik semata. Sebagaimana juga pemikiran Dr.Abdullah Hehamahua, Ketua Majelis Syuro Partai Masyumi, Prof.Dr. Fuad Amsyari anggota Majelis Syuro yang berulangkali menyampaikan gagasan barunya. Tetapi ada misi peradaban, misi besar bagaimana meningkatkan kualitas kehidupan bangsa sebagai cita-cita peradaban.

Oleh karenanya, kepemimpinan politik Masyumi diletakkan ditangan para ulul albab, ulama, atau cendikiawan yang dilembagakan pada Majelis Syuro sebagai penentu arah kebijakan perjuangan partai.

Selain itu, pertimbangan fundamental lainnya adalah upaya menyambung kembali mata rantai sejarah peran politik umat islam di Indonesia yang mulai kabur dan dikaburkan. Masyumi adalah tonggak sejarah kepartaian modern Indonesia dan pendiri Republik Indonesia, yang membidani kelahiran Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Inspirasi dan aspirasi mengembalikan peran Masyumi merupakan keharusan sejarah dan masa depan representasi umat Islam dalam sistem politik nasional. Kini, Partai Masyumi hadir kembali di tengah kemerosotan peradaban politik yang berorientasi pada hedonisme kekuasan, liberaistik-materialistik, politik transaksional, korupsi, keserakahan dan ketimpangan sosial ekonomi diluar nalar dan akal sehat.

Ilustrasi karya Mannan, seorang ulama, cendikiawan adalah warisan pemikiran, nilai-nilai ideologis, arah peradaban baru merupakan warisan yang sangat beharga bagi perjuangan Masyumi sebagai partai kader, partai Umat, partai yang mengusung gagasan baru guna memperbaiki kehidupan politik kebangsaan yang beradab. Sebagaimana sila kedua Pancasila, Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang bersumber pada spirit sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, pondasi peradaban Indonesia.

Selamat jalan Ustad Dr. Abdul Mannan, MM, goresan tinta emasmu telah menyambung antar generasi dalam misi perjuangan politik, misi membangun  peradaban baru. Semoga Allah memberi tempat yang terbaik. Tempat yang sangat mulia, Jannatul Naim, sebagaimana para syuhada, para ulama, para pejuang yang istiqomah menegakkan kalimah Tauhid dimuka bumiMu. Aamiin…Aamiin Yarabbal Alamin. (*)

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terkini

To Top