Home / Headline / Internasional / Top News

Jumat, 23 Juli 2021 - 18:41 WIB

Akses Vaksin Berbeda Antara Negara Kaya dan Miskin Hambatan Akhiri Covid-19

NasionalPos.com, Jakarta – Ketidaksetaraan akses vaksin adalah hambatan terbesar bagi dunia untuk mengakhiri pandemi Covid-19. Kesenjangan besar terhadap vaksin sangat terlihat di antara negara kaya dan negara miskin.

Begitu yang dikatakan oleh Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers di Jenewa pada Kamis (22/7/2021).

Berdasarkan data yang dirilis UNDP dan Universitas Oxford, ketidaksetaraan vaksin akan memiliki dampak yang langgeng dalam pemulihan sosial ekonomi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah. Apalagi jika tidak ada upaya untuk memastikan akses yang adil untuk setiap negara melalui pembagian dosis.

Baca Juga  Pertarungan Kandidat Pro-China Vs Anti-China Bersaing di Pilpres Taiwan

“Ketidaksetaraan vaksin adalah hambatan terbesar dunia untuk mengakhiri pandemi ini dan pulih dari Covid-19,” kata Tedros.

“Secara ekonomi, epidemiologis dan moral, adalah kepentingan terbaik semua negara untuk menggunakan data terbaru yang tersedia untuk membuat vaksin yang menyelamatkan jiwa tersedia untuk semua.” lanjutnya.

Jika negara-negara berpenghasilan rendah mampu memvaksinasi dengan tingkat yang sama dengan negara-negara berpenghasilan tinggi, mereka akan memiliki 38 miliar dolar AS untuk PDB tahun 2021.

“Di beberapa negara berpenghasilan rendah dan menengah, kurang dari 1 persen populasi divaksinasi, ini berkontribusi pada pemulihan dua jalur dari pandemi Covid-19,” kata Administrator UNDP Achim Steiner.

Baca Juga  Mahfud Sebut Kasus BLBI Bisa Diselesaikan Secara Pidana

Untuk itu, ia mendorong tindakan kolektif agar hambatan akses vaksin pada negara-negara berpenghasilan rendah segera dihilangkan.

Data terbaru dari IMF, Bank Dunia, UNICEF, dan Gavi, menunjukkan negara-negara kaya diproyeksikan untuk memvaksinasi lebih cepat dan pulih secara ekonomi lebih cepat dari Covid-19.

Pada saat yang sama, negara-negara yang lebih miskin belum dapat memvaksinasi petugas kesehatan mereka dan populasi yang paling berisiko. Mereka kemungkinan tidak dapat mencapai tingkat pertumbuhan sebelum Covid-19 hingga tahun 2024.

Laporan dari UNDP dan Universitas Oxford menggambarkan mengapa percepatan pemerataan vaksin sangat penting. (RMOL)

Share :

Baca Juga

Headline

Mega Minta Nadiem Agar Buku Sukarno Diajarkan di Sekolah

Politik

DPR Menilai Kasus Verifikasi PBB Adalah Kesalahan KPUD Manokwari Selatan

Headline

Setelah Dinyatakan Sembuh, Ratusan Pasien di Korsel Kembali Dinyatakan Terjangkit Corona

Internasional

PBB Minta Pangeran Salman Diperiksa Terkait Pembunuhan Khashoggi

Headline

Update Data Corona (16/7/2020) Korban Jumlah Pasien Positif 81.668 Orang dan Meninggal 3.873 Orang

Megapolitan

Insiden Pembakaran Bendera Tauhid dilaporkan ke Bareskrim

Politik

Koarmada I Siap Amankan & Sukseskan Pemilu Serentak 2019

Politik

Djan Faridz Tak Diakui KPU, Kini Siap Gabung ke PBB