Home / Internasional / Top News

Selasa, 24 Januari 2017 - 09:39 WIB

Dolar AS ambruk gara-gara omongan Donald Trump

New York, NasionalPos – Nilai kurs dolar AS ambruk ke level terendah dalam tujuh pekan terhadap sejumlah mata uang dunia, Senin waktu AS atatu Selasa dini hari WIB, dihantam keperihatinan terhadap awal pemerintahan Presiden Donald Trump yang sejauh ini diguncang gelombang demonstrasi, pidato yang proteksionis dan rangkaian murka di Twitter ,Selasa (24/1/2017), seperti dilansir Antara.

Portofolio modal beralih mengalir ke Yen akibat ketidakmenentuan dalam politik AS itu sehingga mata uang Jepang ini menguat dua sesi berturut-turut terhadap dolar AS. Sejak awal tahun ini Yen telah menguat tiga persen.

Pesan “Amerika yang utama” dari Trump telah diikuti oleh demonstrasi terkoordinasi di kota-kota AS, perang kata-kata antara anggota kabinetnya dengan media massa, dan konfirmasi sejumlah pakta dagang utama menuju keambrukkan.

Semua faktor yang menghadirkan ketidakmenentuan dalam arah kebijakan Trump ini akan menciptakan gelombang dalam beberapa bulan ke depan terhadap presiden baru AS itu.

Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia anjlok 0,6 persen pada 100,16, dipimpin oleh amblasnya dolar AS sebesar 1,4 persen terhadap yen Jepang pada 113,01 yen per dolar AS. Anjloknya dolar AS terhadap yen ini adalah yang terbesar dalam sekitar dua pekan terakhir.

“Ada kegelisahan besar setelah pidato Trump yang sangat agresif, merkantilis yang kebanyakan fokus kepada proteksionis,” kata John Hardy, kepala strategi valuta asing Saxo Bank di Copenhagen.

Ekonomi merkantilis adalah kebalikan dari liberalisme di mana pemerintahan melakukan campur tangan besar dalam pasar dengan menerapkan aturan-aturan. Juga disebut nasionalisme ekonomi yang populer di Eropa Barat pada abad 16 sampai 18.

“Yang ditakutkan adalah ketika sejumlah gagasan dan inisiatif memang akan mendukung dolar AS, pendekatan merkantilis dan pernyataan Trump belakangan ini bahwa kebijakan mata uang dan kebijakan mata uang China terlalu lemah, dapat memicu dugaan bahwa Trump akan menggunakan kebijakan ini untuk mem-bully negara lain ke arah dolar AS yang lemah.”

Indeks dolar AS telah melesat 4,2 persen antara sejak Trump dipilih November silam sampai akhir tahun lalu, sejak itu balik tersungkur sampai 2,5 persen.

Saat itu dolar AS menguat karena kemenangan Trump menimbulkan asumsi dari pasar bahwa pemerintahan baru AS akan fokus kepada stimulus fiskal yang pro pertumbuhan, pengurangan pajak, dan reformasi aturan yang dapat memicu inflasi sehingga memaksa bank sentral AS Federal Reserve menaikkan suku bunga tahun ini yang lebih cepat dari perkiraan.

Baca Juga  PUPR Ungkap Strategi Pembangunan Infrastruktur 2020-2024

Poundsterling menyentuh level tertinggi dalam enam pekan terakhir, setelah investor memperkirakan hari ini Mahkamah Agung Inggris akan mengeluarkan ketentuan yang mengharuskan pemerintah memerlukan pesertujuan parlemen sebelum memformalkan Brexit.

Baca Juga  JPM Desak Kejagung Tuntaskan Dugaan Korupsi Dinas Lingkungan DKI di Era Ahok

Mata uang Inggris sempat menyentuh level tertinggi sejak 16 Desember pada 1,2506 dolar AS. Poundsterling juga menguat terhadap euro pada level terkuat dalam dua pekan terakhir.

Euro sendiri menguat 0,5 persen terhadap dolar AS yang merupakan ketujuh kalinya dalam sembilan kali perdagangan terakhir, pada 1,0751 dolar AS, demikian Reuters.(den’s)

Share :

Baca Juga

Headline

Jepang Tuding China, Korut dan Rusia Ancaman Keamanan Siber

Headline

Update Data Corona (1/10/2020) Korban Jumlah Pasien Positif 278.722 Orang dan Meninggal 10.473 Orang

Headline

Rakyat Iran Teriakkan “Matilah Amerika”

Headline

Menkumham Bantah Jaksa Agung Soal Soal Keberadaan Joko Tjandra di Indonesia

Megapolitan

Parkir Gate di RPTRA Kalijodo Resmi Dioperasionalkan

Headline

Muhammadiyah Nyatakan Waktu Subuh Diundur 8 Menit

Ekonomi

Wapres : Proyek Biaya Besar Ditunda Pengerjaannya Hingga 2022

Headline

Update Corona (29/4/2020) Jumlah Pasien Positif 9.771 Orang Dan Meninggal Menjadi 784 Orang