Home / Ekonomi / Top News

Selasa, 30 Januari 2018 - 18:17 WIB

Ini Alasan Mengapa Merger PGN dan Pertamina Gas Harus Ditolak

Nasionalpos.com, Jakarta – Jajang Nurjaman, Koordinator Investigasi Center for Budget Analysis (CBA) menengarai ada kepentingan kelompok tertentu dibalik kebijakan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno untuk melakukan merger Perusahaan Gas Negara (PGN) dengan Pertamina Gas. Karena itu, rencana tersebut harus ditolak.

Hal itu dungkapkan Jajang dalam keterangan persnya yang diterima Nasionalpos.com, Selasa (30/1/2018).

“Penggabungan PGN dengan Pertamina Gas, jelas harus ditolak. Karena selain sarat akan kepentingan,  masih banyak sekali kelemahan. Seperti dari segi regulasi, hingga saat ini RUU migas yang sudah diajukan DPR sejak 3 tahun lalu belum juga jadi, padahal setiap tahunnya selalu dijadikan RUU prioritas,” tegas Jajang.

Menurutnya, dari sisi pengelolaan keuangan, dengan dijadikannya PGN sebagai bagian dari Pertamina (anak usaha) publik bahkan pemerintah dalam hal ini (DPR, BPK, atau KPK) tidak lagi leluasa mengawasi PGN.

Baca Juga  Moeldoko Kembali Ultimatum ICW Untuk Minta Maaf

Perusahaan ini akan sama halnya dengan anak-anak usaha BUMN lainnya seperti Pertagas yang tertutup, banyak masalah, dan ladang subur bagi mafia minyak.

“Ambisi menteri Rini Soemarno yang begitu menggebu-gebu untuk menggabungkan kedua perusahaan, terselip udang di balik batu. Sebagai catatan dengan dilakukannya penggabungan atau merger dua perusahaan Gas juga bisa menimbulkan monopoli usaha karena tidak ada lagi persaingan usaha dan pengguna dalam hal ini masyarakat tidak ada pilihan harga gas yang berbeda lagi. Jika seperti ini sudah jelas, kebijakan marger PGN dengan Pertagas hanya menguntungkan kelompok tertentu dan bisa menyengsarakan rakyat, oleh karena itu publik harus tegas menolak,” tandas Jajang.

Dijelaskan Jajang, hingga september 2017 total aset Perusahaan Gas Negara (PGN) mencapai USD6.307.676.412 atau setara Rp83.892.096.279.600 (Kurs Rupiah Rp 13.300). Bahkan PGN Setiap tahunnya bisa mengukuhkan pendapatan rata-rata sebesar USD2.164.763.461 atau setara Rp28.791.354.031.300 (Kurs Rupiah Rp 13.300).

Baca Juga  Mobil Diderek, Pemilik kesal Bakar Mobilnya Sendiri

Meskipun sama-sama berada di sektor bisnis transmisi dan distribusi atau niaga Gas, dari segi pendapatan antara PGN dan Pertamina Gas bak langit dan bumi.

Ini dapat dilihat dari pendapatan masing-masing di tahun 2016, PGN bisa memperoleh pendapatan sebesar USD2.934.778.710 atau setara Rp38.152.123.230.000. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pendapatan Pertamina Gas yang hanya USD668.680.000. Atau setara Rp8.692.840.000.000. (Kurs Rupiah 13.000)

Bahkan untuk Pertamina selaku induk usaha Pertagas hingga Per Desember 2017 memiliki tanggungan utang sebesar Rp 153,7 triliun. Dari kondisi ini, dapat terlihat secara keuangan PGN cukup stabil dan sehat, sedangkan Pertamina dalam kondisi yang kritis.  ( )

 

 

Share :

Baca Juga

Headline

Update Data Corona (26/8/2020) Korban Jumlah Pasien Positif 160.165 Orang dan Meninggal 6.944 Orang

Headline

Koalisi Untuk Keadilan Hukum Muak Dengan Diskon Hukuman Koruptor

Nasional

KPK akan Buka Rekaman Pemeriksaan Miryam Jika Diminta Pengadilan

Nasional

Riza Patria: Gerindra beri Catatan Merah 3 Tahun Jokowi

Headline

KNPI Dukung Koruptor Dimiskinkan

Headline

Akibat Corona di AS, Sebanyak 1.480 Orang Meninggal Dalam Sehari

Nasional

Komite Nasional Gerakan Budaya dan Jatidiri Bangsa Pertahankan Pancasila

Megapolitan

Masalah Pungli, Plt Soni: Pemecatan PNS Beda Dengan Pabrik Bata