Home » Headline » Pembangunan Fisik Harus Sejalan dengan Penguatan Vegetasi, Hasil Diskusi Infrastruktur Mitigasi Pantai Padang

Pembangunan Fisik Harus Sejalan dengan Penguatan Vegetasi, Hasil Diskusi Infrastruktur Mitigasi Pantai Padang

dito 08 Feb 2023 123

NasionalPos.com, Padang; Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama dengan Pemerintah Kota Padang menggelar diskusi bertajuk “Rancangan Infrastruktur Abrasi Pesisir Pantai Padang Berbasis Mitigasi Bencana” di pelataran Masjid Al-Hakim, Kota Padang, pada Selasa, 7/2/2023 kemaren

Kota Padang memiliki garis pantai sepanjang 68,13 Km. Pembangun infrastruktur pelindung Pantai Padang menjadi penting mengingat 25,7% perekonomian Provinsi Sumatra Barat berada di Kota Padang. Aktivitas perekonomian yang bertumpu pada kegiatan perdagangan, transportasi, dan industri mayoritas berada pada zona merah.

“Apabila kita membangun infrastruktur pelindung Pantai Padang, maka kita sudah menyelamatkan 25% dari ekonomi Provinsi Sumatra Barat,” kata Kepala Bappeda Provinsi Sumatera Barat, Medi Iswandi.

Di pesisir pantai sendiri, terdapat dua jenis bencana yang berpotensi terjadi yaitu tsunami yang bersifat _rapid on set_ dan abrasi yang bersifat _slow on set_.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB mengatakan, pada prinsipnya setiap pantai memiliki sirkulasinya masing-masing. Pada waktu musim barat dan timur misalnya, gelombang dominan membawa sedimen pasir dalam arah tegak lurus pantai. Sedangkan pada musim peralihan, gelombang membentuk arus sejajar pantai yang akan membawa sedimen dalam arah sejajar pantai, baik dalam arah utara-selatan, maupun sebaliknya.

Karakteristik abrasi yang terjadi di sepanjang Pantai Padang juga berbeda-beda. Misalnya di sekitar Monumen Merpati Perdamaian hingga kawasan Muaro, karakteristik abrasi dominan dalam arah tegak lurus pantai. Berbeda dengan kawasan di bagian utara di sekitar Bandara Internasional Minangkabau (BIM), gelombang dan arus masih dominan bergerak sejajar pantai.

Pola arus atau karakteristik ini juga dapat berubah-ubah seiring berjalannya waktu dan pertambahan bangunan pelindung pantai.

“Prinsip dan krakteristik ini yang harus kita petakan satu-persatu untuk menentukan pelindung pantai seperti apa agar efektif untuk mencegah abrasi,” jelasnya.

Adapun menurut Abdul, salah satu pilihan infrastruktur untuk memitigasi adanya abrasi di Pantai Padang saat ini adalah dengan membangun _offshore breakwater_  yang sejajar pantai, di laut sejauh 50 – 100 meter dari bibir pantai.

“Secara alami, dengan adanya pemecah gelombang _offshore_ yang sejajar pantai, akan terbentuk _Tombolo_ atau sedimen pasir yang terbawa arus yang tegak lurus dengan pantai,” tambahnya.

Adanya infrastruktur lepas pantai teraebut akan mendorong munculnya sedimen di belakang struktur hingga garus pantai, sehingga sedimen pasir ini nantinya dapat dimanfaatkan untuk menanam vegetasi, seperti mangrove, cemara udang dan beragam vegetasi lain yang dapat menahan abrasi sekaligus mengurangi dampak risiko jika terjadi tsunami. Pembangunan infrastruktur fisik harus pararel dengan upaya mitigasi berbasis vegetasi.

Baca Juga :  BEM Nusantara Gelar Demonstrasi Sikapi Putusan MK soal Batas Usia Capres-Cawapres

 

“Pembangunan fisik ini untuk jangka “pendek” 50 – 70 tahun, karena infrastruktur fisik semakin lama semakin berkurang kekuatannya. Sedangkan tsunami memiliki periode ulang 50 hingga ratusan tahun. Sementara kalau vegetasi, semakin lama ditanam akan semakin kuat menahan gelombang,” tambahnya.

Sementara itu, pada tahun 2023 Kementerian Pembangunan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR) akan memprioritaskan pengamanan pantai di sekitar Masjid Al-Hakim. Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Sumber Daya Air PUPR, Jarot Widyoko.

“Yang akan kita bangun berbentuk revetmen sepanjang 500 meter di sepanjang Pantai Padang. Selain pantai, kami juga akan melakukan normalisasi sungai di Batang Kandis,” kata Jarot.

Walikota Padang, Hendri Septa mengatakan masyarakat Kota Padang sangat membutuhkan perhatian dari pemerintah pusat untuk mengantisipasi abrasi dan tsunami di sepanjang Pantai Padang.

“Kita tidak pernah berharap datangnga bencana, tapi kita tetap harus waspada. Sekali lagi terima kasih, semoga dengan adanya diskusi ini segala hal yang telah direncanakan untuk melindungi pesisir Pantai Padang dapat terlaksana secepatnya,” tutupnya. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama dengan Pemerintah Kota Padang menggelar diskusi bertajuk “Rancangan Infrastruktur Abrasi Pesisir Pantai Padang Berbasis Mitigasi Bencana” di pelataran Masjid Al-Hakim, Kota Padang, pada Selasa 7/2/2023kemaren

Kota Padang memiliki garis pantai sepanjang 68,13 Km. Pembangun infrastruktur pelindung Pantai Padang menjadi penting mengingat 25,7% perekonomian Provinsi Sumatra Barat berada di Kota Padang. Aktivitas perekonomian yang bertumpu pada kegiatan perdagangan, transportasi, dan industri mayoritas berada pada zona merah.

“Apabila kita membangun infrastruktur pelindung Pantai Padang, maka kita sudah menyelamatkan 25% dari ekonomi Provinsi Sumatra Barat,” kata Kepala Bappeda Provinsi Sumatera Barat, Medi Iswandi.

Di pesisir pantai sendiri, terdapat dua jenis bencana yang berpotensi terjadi yaitu tsunami yang bersifat _rapid on set_ dan abrasi yang bersifat _slow on set_.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB mengatakan, pada prinsipnya setiap pantai memiliki sirkulasinya masing-masing. Pada waktu musim barat dan timur misalnya, gelombang dominan membawa sedimen pasir dalam arah tegak lurus pantai. Sedangkan pada musim peralihan, gelombang membentuk arus sejajar pantai yang akan membawa sedimen dalam arah sejajar pantai, baik dalam arah utara-selatan, maupun sebaliknya.

Baca Juga :  RUU 8 Provinsi Sepakat Dibahas Komisi II dan Pemerintah

Karakteristik abrasi yang terjadi di sepanjang Pantai Padang juga berbeda-beda. Misalnya di sekitar Monumen Merpati Perdamaian hingga kawasan Muaro, karakteristik abrasi dominan dalam arah tegak lurus pantai. Berbeda dengan kawasan di bagian utara di sekitar Bandara Internasional Minangkabau (BIM), gelombang dan arus masih dominan bergerak sejajar pantai.

 

Pola arus atau karakteristik ini juga dapat berubah-ubah seiring berjalannya waktu dan pertambahan bangunan pelindung pantai.

“Prinsip dan krakteristik ini yang harus kita petakan satu-persatu untuk menentukan pelindung pantai seperti apa agar efektif untuk mencegah abrasi,” jelasnya.

Adapun menurut Abdul, salah satu pilihan infrastruktur untuk memitigasi adanya abrasi di Pantai Padang saat ini adalah dengan membangun _offshore breakwater_  yang sejajar pantai, di laut sejauh 50 – 100 meter dari bibir pantai.

“Secara alami, dengan adanya pemecah gelombang _offshore_ yang sejajar pantai, akan terbentuk _Tombolo_ atau sedimen pasir yang terbawa arus yang tegak lurus dengan pantai,” tambahnya.

Adanya infrastruktur lepas pantai teraebut akan mendorong munculnya sedimen di belakang struktur hingga garus pantai, sehingga sedimen pasir ini nantinya dapat dimanfaatkan untuk menanam vegetasi, seperti mangrove, cemara udang dan beragam vegetasi lain yang dapat menahan abrasi sekaligus mengurangi dampak risiko jika terjadi tsunami. Pembangunan infrastruktur fisik harus pararel dengan upaya mitigasi berbasis vegetasi.

“Pembangunan fisik ini untuk jangka “pendek” 50 – 70 tahun, karena infrastruktur fisik semakin lama semakin berkurang kekuatannya. Sedangkan tsunami memiliki periode ulang 50 hingga ratusan tahun. Sementara kalau vegetasi, semakin lama ditanam akan semakin kuat menahan gelombang,” tambahnya.

Sementara itu, pada tahun 2023 Kementerian Pembangunan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR) akan memprioritaskan pengamanan pantai di sekitar Masjid Al-Hakim. Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Sumber Daya Air PUPR, Jarot Widyoko.

“Yang akan kita bangun berbentuk revetmen sepanjang 500 meter di sepanjang Pantai Padang. Selain pantai, kami juga akan melakukan normalisasi sungai di Batang Kandis,” kata Jarot.

Walikota Padang, Hendri Septa mengatakan masyarakat Kota Padang sangat membutuhkan perhatian dari pemerintah pusat untuk mengantisipasi abrasi dan tsunami di sepanjang Pantai Padang.

“Kita tidak pernah berharap datangnga bencana, tapi kita tetap harus waspada. Sekali lagi terima kasih, semoga dengan adanya diskusi ini segala hal yang telah direncanakan untuk melindungi pesisir Pantai Padang dapat terlaksana secepatnya,” tutupnya. (*dit)

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
PUTUSAN MK: PRAJURIT TNI PIDANA UMUM WAJIB DIADILI DI PENGADILAN UMUM,Langkah Bersejarah Menuju Kesetaraan di Hadapan Hukum ,

dito

17 Okt 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Putusan Mahkamah Konstitusi yang mewajibkan revisi UndangUndang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer menjadi sorotan penting dalam peta reformasi hukum nasional.   Putusan yang menyatakan bahwa prajurit TNI yang melakukan tindak pidana umum harus diadili di peradilan umum ini dinilai sebagai tonggak konstitusional yang menegaskan prinsip negara hukum: tidak ada satu pun …

Blunder Politik Gibran Buah Konspirasi Ketum Partai

Dhio Justice Law

15 Okt 2026

NasionalPos. com – Jakarta — Pengamat kebijakan publik Chazali H. Situmorang (CHS) menilai desakan pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka harus diarahkan kepada para ketua umum partai politik, bukan semata-mata kepada fraksi-fraksi di DPR RI. Menurutnya, para ketua umum memiliki pengaruh besar dalam menentukan sikap politik partai sehingga harus bertanggung jawab atas keputusan maupun sikap …

Di Momentum Hari Musium Nasional, H. Waspada SAg MM Wakil Ketua KPAD Kabupaten Bogor, Himbau Musium Bisa Jadi Ajang Edukasi Anak

dito

13 Okt 2026

NasionalPos.com, Bogor- Pada setiap tanggal 12 Oktober, di peringati sebagai peringatan Hari Musium kemarin, oleh karena itu, terkait dengan hal tersebut, kepada wartawan, H. Waspada MK, S.Ag, MM Wakil Ketua KPAD Kabupaten Bogor dan Dosen PG PAUD UNUSIA Jakarta., Selasa, 13/10/2026 di Bogor, ia mengatakan bahwa tentu musium sangat bermanfaat dan sangat penting bagi anak …

Makan Anggaran Rp1,4 Miliar, Proyek Jalan di Pesisir Barat Malah Diduga Caplok Lahan Mantan Bupati

Taufik Hidayat

12 Okt 2026

Pesisir Barat — Pembangunan proyek jalan menuju rumah sakit di Kabupaten Pesisir Barat yang menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2026 senilai Rp1,4 miliar tengah menjadi sorotan publik. Proyek tersebut diduga dibangun di atas lahan pribadi milik mantan Bupati Pesisir Barat, H. Agus Istiqlal, tanpa izin. Protes Langsung di Lokasi Proyek Pemilik lahan, H. …

Pernikahan RINI ANGGRAENI dan AZHAR DZULFIQAR di BANDUNG Berlangsung Megah, Karangan Bunga Tokoh Publik Curi Perhatian

- Banyuwangi

11 Okt 2026

BANDUNG, NASIONALPOS.COM — Suasana penuh kebahagiaan dan kemeriahan menyelimuti pernikahan Rini Anggraeni, S.Tr.Kes., dan Azhar Dzulfiqar, S.T., yang berlangsung pada Minggu (11/10/2026) di Maison Grande, Bandung, Jawa Barat. Perhelatan istimewa ini menjadi momentum bersejarah bagi kedua mempelai untuk memulai perjalanan baru dalam membangun rumah tangga. Pernikahan tersebut berlangsung dengan nuansa elegan, memadukan kesakralan prosesi dengan …

Dugaan Penarikan Kendaraan oleh Debt Collector di Banyuwangi, WOM Finance Diminta Buka Dasar Hukumnya

- Banyuwangi

11 Okt 2026

BANYUWANGI, NASIONALPOS. COM – Penarikan satu unit mobil Toyota Avanza tahun 2009 bernomor polisi DK 1156 IS di wilayah Desa Kedayunan, Kecamatan Kabat, Banyuwangi, tepatnya di depan Masjid Arohman, menuai keberatan dari pemilik kendaraan, (RR). Mobil yang disebut dibeli melalui pembiayaan WOM Finance tersebut diduga telah ditarik paksa oleh pihak ketiga yang disebut sebagai debt …

x
x