Home » Headline » Blunder Politik Gibran Buah Konspirasi Ketum Partai

Blunder Politik Gibran Buah Konspirasi Ketum Partai

Dhio Justice Law 15 Okt 2026 2

NasionalPos. com – Jakarta — Pengamat kebijakan publik Chazali H. Situmorang (CHS) menilai desakan pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka harus diarahkan kepada para ketua umum partai politik, bukan semata-mata kepada fraksi-fraksi di DPR RI. Menurutnya, para ketua umum memiliki pengaruh besar dalam menentukan sikap politik partai sehingga harus bertanggung jawab atas keputusan maupun sikap diam yang diambil.

Dalam opininya bertajuk “Pemakzulan Gibran dan Tanggung Jawab Ketua Umum Partai”, 14 Oktober 2026, CHS menegaskan bahwa masyarakat sipil perlu mengubah strategi perjuangan dengan mendatangi langsung pimpinan partai untuk menuntut sikap dan keputusan yang jelas.

Menurut CHS, penerimaan delegasi masyarakat, penyerahan dokumen, dan janji menampung aspirasi oleh fraksi DPR tidak cukup apabila tidak disertai tindak lanjut konkret.

“Para ketua umum partai harus menjelaskan sikapnya secara terbuka. Jika mendukung pemeriksaan, tunjukkan langkah konkretnya. Jika menolak, sampaikan alasan hukum dan politiknya kepada masyarakat,” demikian substansi pandangan CHS.

Ia menegaskan, secara konstitusional, proses pemakzulan tetap harus melalui DPR, Mahkamah Konstitusi (MK), dan MPR sebagaimana diatur dalam Pasal 7A dan 7B UUD 1945. Ketua umum partai tidak memiliki kewenangan langsung untuk memberhentikan wakil presiden, tetapi pengaruh politik mereka terhadap sikap fraksi harus disertai pertanggungjawaban kepada publik.

CHS juga menekankan bahwa tuntutan pemakzulan harus didasarkan pada bukti dan argumentasi konstitusional yang dapat diuji, bukan semata-mata ketidaksukaan politik terhadap seseorang.

TB. Massa Djafar: Partai Dikuasai Oligarki

Merespons pandangan CHS tersebut, Assoc. Prof. TB. Massa Djafar, Ph.D., pengamat politik sekaligus Ketua Program Doktor Ilmu Politik Universitas Nasional, menilai persoalan Gibran berkaitan erat dengan perubahan mendasar dalam sistem kepartaian Indonesia.

TB. Massa melihat adanya pergeseran serius dalam tata kelola partai politik, ketika keputusan strategis tidak lagi bertumpu pada kedaulatan anggota, melainkan terkonsentrasi pada ketua umum dan elite partai.

Baca Juga :  JSC Forum Dorong Jakarta sebagai Kota Cerdas Berskala Global

Menurutnya, partai politik saat ini semakin menyerupai korporasi yang dikendalikan oleh para oligarki. Elite yang membangun dan mengembangkan partai dengan modal politik maupun finansial cenderung menempatkan kepentingan kekuasaan sebagai pertimbangan utama dalam mengambil keputusan.

“Partai layaknya sebuah korporasi. Dikelola dan dimiliki oleh para oligarki partai. Kalkulasi politik lebih didasarkan pada untung-rugi kepentingan. Politik transaksional menjadi kultur baru di lingkungan partai,” demikian pandangan TB. Massa, Kamis (15/10/2026).

Ia menilai, dalam model kepartaian seperti ini, keputusan politik berisiko semakin jauh dari pertimbangan ideologis dan aspirasi rakyat yang seharusnya diperjuangkan partai.

TB. Massa juga mengkritik sikap elite politik yang dinilainya terlalu percaya diri dalam mengejar ambisi kekuasaan, bahkan ketika ambisi tersebut berhadapan dengan akal sehat, moral, dan etika politik.

“Para elite politik terlalu percaya diri. Untuk meraih ambisi kekuasaannya, mereka melawan akal sehat, mengabaikan moral dan etika politik, serta melawan asas kepatutan dan norma-norma hukum, konstitusi maupun perundang-undangan. Pelanggaran politik yang dilakukan tetap akan menjadi soal di kemudian hari, ketika turun takhta,” tegas TB. Massa.

Menurutnya, pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa kekuasaan tidak memberikan kekebalan politik maupun moral kepada siapa pun. Keputusan yang diambil demi kepentingan sesaat dapat meninggalkan persoalan panjang yang harus dipertanggungjawabkan ketika kekuasaan berakhir.

Dominasi elite tersebut juga dinilai menghambat tumbuhnya oposisi yang kuat sebagai mekanisme check and balances. Padahal, oposisi diperlukan untuk mencegah pemusatan kekuasaan dan menjaga agar demokrasi berjalan secara sehat.

Gibran dan Blunder Politik Elite Partai

TB. Massa menilai lolosnya Gibran menjadi wakil presiden, yang kini terus dipersoalkan, merupakan cermin buruknya kultur politik kepartaian di Indonesia.

Ia memandang, persoalan tersebut tidak cukup dilihat sebagai kontroversi seorang individu, tetapi harus ditempatkan dalam konteks keputusan dan kalkulasi politik para elite partai yang berperan dalam proses pencalonannya.

Baca Juga :  Karo Rena Polda NTB Buka Kegiatan Penyusunan Pagu Minus Belanja Pegawai Satker Polda NTB

Dalam pandangannya, keputusan yang lahir dari kompromi elite dan kepentingan pragmatis dapat berubah menjadi blunder politik berkepanjangan. Ketika ambisi kekuasaan mengalahkan pertimbangan etika, kepatutan, dan prinsip konstitusional, konsekuensinya tidak berhenti pada individu yang menduduki jabatan publik, tetapi juga dapat merusak kepercayaan masyarakat terhadap partai dan sistem demokrasi.

Karena itu, TB. Massa sependapat dengan substansi pandangan CHS bahwa tanggung jawab politik harus ditagih kepada para ketua umum partai.

Jika pimpinan partai memiliki kendali besar terhadap arah keputusan politik, mereka juga harus bersedia mempertanggungjawabkan keputusan tersebut kepada publik. Persoalan tidak semestinya dibebankan hanya kepada anggota DPR atau fraksi, sementara elite yang menentukan arah politik berada di luar sorotan.

Pembenahan Partai Menjadi Agenda Mendesak

Lebih jauh, TB. Massa menilai persoalan ini menunjukkan pentingnya pembenahan demokrasi internal partai. Kedaulatan anggota harus diperkuat agar partai tidak menjadi instrumen kepentingan segelintir elite.

Sementara itu, desakan terhadap ketua umum terkait polemik Gibran harus tetap ditempatkan dalam koridor hukum dan konstitusi. Proses pemakzulan merupakan kewenangan lembaga negara sesuai mekanisme UUD 1945, bukan keputusan sepihak pimpinan partai.

Pandangan CHS dan respons TB. Massa pada akhirnya bertemu pada satu kesimpulan: persoalan Gibran bukan semata-mata persoalan individu, melainkan juga ujian terhadap tanggung jawab elite dan kualitas demokrasi internal partai politik Indonesia.

Bagi para elite politik, kekuasaan mungkin dapat diraih melalui kompromi dan kalkulasi politik. Namun, kekuasaan tidak menghapus pertanggungjawaban atas keputusan yang diambil. Ketika jabatan berakhir, keputusan yang dahulu dianggap menguntungkan bisa berubah menjadi beban politik dan sejarah. (X)

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Di Momentum Hari Musium Nasional, H. Waspada SAg MM Wakil Ketua KPAD Kabupaten Bogor, Himbau Musium Bisa Jadi Ajang Edukasi Anak

dito

13 Okt 2026

NasionalPos.com, Bogor- Pada setiap tanggal 12 Oktober, di peringati sebagai peringatan Hari Musium kemarin, oleh karena itu, terkait dengan hal tersebut, kepada wartawan, H. Waspada MK, S.Ag, MM Wakil Ketua KPAD Kabupaten Bogor dan Dosen PG PAUD UNUSIA Jakarta., Selasa, 13/10/2026 di Bogor, ia mengatakan bahwa tentu musium sangat bermanfaat dan sangat penting bagi anak …

Makan Anggaran Rp1,4 Miliar, Proyek Jalan di Pesisir Barat Malah Diduga Caplok Lahan Mantan Bupati

Taufik Hidayat

12 Okt 2026

Pesisir Barat — Pembangunan proyek jalan menuju rumah sakit di Kabupaten Pesisir Barat yang menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2026 senilai Rp1,4 miliar tengah menjadi sorotan publik. Proyek tersebut diduga dibangun di atas lahan pribadi milik mantan Bupati Pesisir Barat, H. Agus Istiqlal, tanpa izin. Protes Langsung di Lokasi Proyek Pemilik lahan, H. …

Pernikahan RINI ANGGRAENI dan AZHAR DZULFIQAR di BANDUNG Berlangsung Megah, Karangan Bunga Tokoh Publik Curi Perhatian

- Banyuwangi

11 Okt 2026

BANDUNG, NASIONALPOS.COM — Suasana penuh kebahagiaan dan kemeriahan menyelimuti pernikahan Rini Anggraeni, S.Tr.Kes., dan Azhar Dzulfiqar, S.T., yang berlangsung pada Minggu (11/10/2026) di Maison Grande, Bandung, Jawa Barat. Perhelatan istimewa ini menjadi momentum bersejarah bagi kedua mempelai untuk memulai perjalanan baru dalam membangun rumah tangga. Pernikahan tersebut berlangsung dengan nuansa elegan, memadukan kesakralan prosesi dengan …

Dugaan Penarikan Kendaraan oleh Debt Collector di Banyuwangi, WOM Finance Diminta Buka Dasar Hukumnya

- Banyuwangi

11 Okt 2026

BANYUWANGI, NASIONALPOS. COM – Penarikan satu unit mobil Toyota Avanza tahun 2009 bernomor polisi DK 1156 IS di wilayah Desa Kedayunan, Kecamatan Kabat, Banyuwangi, tepatnya di depan Masjid Arohman, menuai keberatan dari pemilik kendaraan, (RR). Mobil yang disebut dibeli melalui pembiayaan WOM Finance tersebut diduga telah ditarik paksa oleh pihak ketiga yang disebut sebagai debt …

Karhula TNBBS Pesisir BARAT Disorot : 2 Hektare Terbakar, Kapolres Turun Langsung – Pembakar Hutan Jangan Berharap LOLOS!!!

- Banyuwangi

08 Okt 2026

PESISIR BARAT, NASIONALPOS.COM  — Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Pekon Rata Agung, Kecamatan Lemong, Kabupaten Pesisir Barat, menjadi peringatan keras bahwa ancaman terhadap kawasan hutan tidak boleh dianggap sepele. Sekitar ±2 hektare kawasan hutan terdampak kebakaran, sementara dampak lingkungan masih dalam pendataan. Peristiwa tersebut diketahui pada Rabu, …

3 Hektare TNBBS Terbakar, Kapolres Pesisir Barat Turun Langsung: Jangan Main Api, Pembakar Hutan Bakal Diburu!!!

- Banyuwangi

07 Okt 2026

PESISIR BARAT, NASIONALPOS.COM  — Kebakaran yang melanda kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) di wilayah Pekon Rata Agung, Kecamatan Lemong, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, menjadi perhatian serius aparat penegak hukum. Sedikitnya ±3 hektare kawasan hutan dilaporkan terdampak, sehingga pengawasan dan pencegahan kebakaran susulan terus diperketat. Kapolres Pesisir Barat AKBP Rinto Haivan Simbolon, S.E., S.I.K., …

x
x