Home » Headline » Di Momentum Hari Udara Bersih International, Biru Voice Desak Pemerintah Menjaga Udara Bersih Yang Sudah Semakin Polutif

Di Momentum Hari Udara Bersih International, Biru Voice Desak Pemerintah Menjaga Udara Bersih Yang Sudah Semakin Polutif

dito 07 Sep 2026 92

National pos.com. Jakarta-

Mengingat sifat polusi udara yang lintas batas, semua pemangku kepentingan memiliki tanggung jawab untuk melindungi atmosfer bumi dan memastikan udara yang sehat bagi semua orang.

 

 

Bekerja bersama, melintasi batas dan batas, antar sektor dan melampaui silo, akan membantu mengurangi polusi udara, meningkatkan keuangan dan investasi untuk langkah-langkah dan solusi kualitas udara, dan memberikan banyak manfaat. Demikian di sampaikan oleh Suryo Susilo Ketua Umum Biru Voice kepada wartawan, Senin, 7 September 2026 di Jakarta .

 

” Setiap makhluk hidup berhak mendapatkan udara yang segar dan aman untuk dihirup. Polusi udara memicu berbagai penyakit berbahaya seperti stroke, penyakit jantung, ISPA, paru-paru, hingga kanker.” Ungkap Suryo Susilo Ketua Biru Voice

 

Menurut Suryo, Indonesia menyandang predikat yang kurang menguntungkan: negara paling tercemar di Asia Tenggara, dengan tingkat PM2.5 mencapai 34,3, jauh di atas ambang batas yang dianggap sehat.

 

Meskipun sering menyalahkan kemacetan lalu lintas dan asap pabrik, sebuah studi ilmiah baru mengungkapkan sesuatu yang mengejutkan: udara yang Anda hirup sangat bergantung pada angin, kelembapan, dan bahkan provinsi tetangga, misalnya kebakaran hutan di Kalimantan, jelas sekali suatu peristiwa yang sangat memicu pengotoran udara atau polusi udara.

 

“Bayangkan polusi udara seperti asap dari barbekyu tetangga. Jika angin bertiup ke arah Anda, Anda akan mencium baunya tidak peduli seberapa bersih halaman Anda sendiri. Itulah yang terjadi di 34 provinsi di Indonesia. Studi ini memetakan Indeks Kualitas Udara (AQI) di seluruh kepulauan dan menemukan pola yang jelas: provinsi yang berbatasan juga berbagi udara. DKI Jakarta, misalnya, berada di kategori “sedang” dengan nilai PM2.5 sebesar 39,2.” Tutur nya

Baca Juga :  Pemilu Langsung dan Nasib Jenazah Koruptor

 

 

Sementara itu, lanjutnya, sebagian besar provinsi lain menikmati udara “baik” atau bahkan “sangat baik”. Mengapa ada perbedaan? Geografi berperan penting.

 

Para peneliti menggunakan regresi spasial—istilah keren untuk mengatakan “lokasi itu penting dan menemukan bahwa dua faktor alami memainkan peran yang sangat besar. Pertama, kelembapan udara rata-rata: ketika kelembapan meningkat sebesar 1%, AQI meningkat hampir 0,2%.

 

Udara lembab bertindak seperti spons lembut, menangkap partikel polutan kecil dan menariknya ke tanah.

 

Kedua, kecepatan angin rata-rata: peningkatan kecepatan angin sebesar 1% meningkatkan kualitas udara hampir 1%. Angin menyapu gas berbahaya seperti SO2, mencegahnya bertahan di atas kota.

 

Jadi, hari yang berangin dan lembab bukan hanya menyenangkan, tetapi juga merupakan layanan pembersihan alami.

 

“Polusi udara kini bertransformasi menjadi ancaman nyata yang mendesak bagi kesehatan publik, dan harus di selesaikan dengan kebijakan yang sangat bijaksana dan kolaboratif” ucap Suryo Susilo

Baca Juga :  Tepat, Prof. KH Husnan Somasi SK Menkum Sahkan Duet Mardiono dan Agus Pimpin PPP

 

 

Untuk itu, sambung Suryo, pihaknya mendesak agar pemerintah Merespons urgensi tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) harus bersinergi dengan Jaringan Pemantauan Asam di Asia Timur (Network Center for the Eanet) Melalui forum startegis yang melibatkan 13 negara anggota inisiatif regional EANET ini.

 

Selain itu, imbuh Suryo, di kesempatan ini, dia juga mengkritik kinerja kementerian kehutanan dan lembaga terkait dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla),

 

dirinya menilai penanganan karhutla di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan seharusnya lebih mengutamakan mitigasi dan deteksi dini, tidak hanya itu karhutla merupakan persoalan yang memiliki pola berulang setiap tahun, terutama ketika memasuki musim kemarau dan fenomena El Nino.

 

Karena itu, mesti nya, ucap Suryo Susilo, pemerintah dinilai seharusnya dapat mengantisipasi potensi kebakaran sejak munculnya titik panas.

 

Menurut Suryo Susilo, kemajuan teknologi dan pemantauan satelit memungkinkan titik api dideteksi lebih awal. Dengan demikian, penanganan tidak semestinya menunggu kebakaran membesar dan meluas hingga menimbulkan dampak terhadap kesehatan, lingkungan dan perekonomian.

 

” Oleh karena itu kami mendesak pemerintah agar terintegrasi riset, teknologi, dan kebijakan dapat berjalan selaras untuk menghadirkan tata kelola udara yang presisi, menyehatkan masyarakat, serta berkelanjutan bagi generasi mendatang.” Pungkas Suryo Susilo

 

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
PUTUSAN MK: PRAJURIT TNI PIDANA UMUM WAJIB DIADILI DI PENGADILAN UMUM,Langkah Bersejarah Menuju Kesetaraan di Hadapan Hukum ,

dito

17 Okt 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Putusan Mahkamah Konstitusi yang mewajibkan revisi UndangUndang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer menjadi sorotan penting dalam peta reformasi hukum nasional.   Putusan yang menyatakan bahwa prajurit TNI yang melakukan tindak pidana umum harus diadili di peradilan umum ini dinilai sebagai tonggak konstitusional yang menegaskan prinsip negara hukum: tidak ada satu pun …

Blunder Politik Gibran Buah Konspirasi Ketum Partai

Dhio Justice Law

15 Okt 2026

NasionalPos. com – Jakarta — Pengamat kebijakan publik Chazali H. Situmorang (CHS) menilai desakan pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka harus diarahkan kepada para ketua umum partai politik, bukan semata-mata kepada fraksi-fraksi di DPR RI. Menurutnya, para ketua umum memiliki pengaruh besar dalam menentukan sikap politik partai sehingga harus bertanggung jawab atas keputusan maupun sikap …

Di Momentum Hari Musium Nasional, H. Waspada SAg MM Wakil Ketua KPAD Kabupaten Bogor, Himbau Musium Bisa Jadi Ajang Edukasi Anak

dito

13 Okt 2026

NasionalPos.com, Bogor- Pada setiap tanggal 12 Oktober, di peringati sebagai peringatan Hari Musium kemarin, oleh karena itu, terkait dengan hal tersebut, kepada wartawan, H. Waspada MK, S.Ag, MM Wakil Ketua KPAD Kabupaten Bogor dan Dosen PG PAUD UNUSIA Jakarta., Selasa, 13/10/2026 di Bogor, ia mengatakan bahwa tentu musium sangat bermanfaat dan sangat penting bagi anak …

Makan Anggaran Rp1,4 Miliar, Proyek Jalan di Pesisir Barat Malah Diduga Caplok Lahan Mantan Bupati

Taufik Hidayat

12 Okt 2026

Pesisir Barat — Pembangunan proyek jalan menuju rumah sakit di Kabupaten Pesisir Barat yang menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2026 senilai Rp1,4 miliar tengah menjadi sorotan publik. Proyek tersebut diduga dibangun di atas lahan pribadi milik mantan Bupati Pesisir Barat, H. Agus Istiqlal, tanpa izin. Protes Langsung di Lokasi Proyek Pemilik lahan, H. …

Pernikahan RINI ANGGRAENI dan AZHAR DZULFIQAR di BANDUNG Berlangsung Megah, Karangan Bunga Tokoh Publik Curi Perhatian

- Banyuwangi

11 Okt 2026

BANDUNG, NASIONALPOS.COM — Suasana penuh kebahagiaan dan kemeriahan menyelimuti pernikahan Rini Anggraeni, S.Tr.Kes., dan Azhar Dzulfiqar, S.T., yang berlangsung pada Minggu (11/10/2026) di Maison Grande, Bandung, Jawa Barat. Perhelatan istimewa ini menjadi momentum bersejarah bagi kedua mempelai untuk memulai perjalanan baru dalam membangun rumah tangga. Pernikahan tersebut berlangsung dengan nuansa elegan, memadukan kesakralan prosesi dengan …

Dugaan Penarikan Kendaraan oleh Debt Collector di Banyuwangi, WOM Finance Diminta Buka Dasar Hukumnya

- Banyuwangi

11 Okt 2026

BANYUWANGI, NASIONALPOS. COM – Penarikan satu unit mobil Toyota Avanza tahun 2009 bernomor polisi DK 1156 IS di wilayah Desa Kedayunan, Kecamatan Kabat, Banyuwangi, tepatnya di depan Masjid Arohman, menuai keberatan dari pemilik kendaraan, (RR). Mobil yang disebut dibeli melalui pembiayaan WOM Finance tersebut diduga telah ditarik paksa oleh pihak ketiga yang disebut sebagai debt …

x
x