Home » Nasional » daerah » Jejak Panjang H. Amran Sidi : Dari Padang Panjang Ke Kota Padang, Perjuangan Cinta Hj Jusma Hingga Yayasan Baiturahmah

Jejak Panjang H. Amran Sidi : Dari Padang Panjang Ke Kota Padang, Perjuangan Cinta Hj Jusma Hingga Yayasan Baiturahmah

Primadoni,SH 11 Jan 2026 168

Padang, Nasionalpos .com — H. Amran Sidi lahir pada 20 September 1929 di Padang Panjang, Kota Padang Panjang, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) sebuah kota kecil yang kelak menjadi saksi awal perjalanan hidupnya. Ia tumbuh dalam kesederhanaan, menjalani masa muda dengan tekad kuat untuk bekerja keras dan bertanggung jawab atas hidup serta keluarganya.

Pada tahun 1952, H. Amran Sidi menikah dengan seorang putri Padang Panjang bernama Rusma. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai empat orang anak.

Kehidupan keluarga kecil itu berjalan sebagaimana keluarga pada umumnya, hingga takdir berkata lain. Pada tahun 1958, Rusma meninggal dunia, meninggalkan duka mendalam bagi H. Amran Sidi dan keempat anaknya yang masih kecil.

Di akhir tahun yang sama, 1958, H. Amran Sidi kembali menikah. Pilihannya jatuh kepada Jusma, seorang putri Rambatan, Batusangkar, yang dikenalnya ketika Jusma sering melintas di Padang Panjang, tempat ia menuntut ilmu. Pernikahan ini menjadi awal kisah panjang kebersamaan yang sarat perjuangan.

H. Amran Sidi dan Jusma menetap di Padang Panjang, hidup bersama empat anak dari pernikahan sebelumnya. Jusma menerima mereka dengan sepenuh hati. Ia dikenal sangat dekat dan penuh kasih kepada keempat anak sambungnya, merawat mereka seolah anak kandung sendiri.

Tiga tahun pernikahan berlalu. Pada tahun 1961, kebahagiaan keluarga bertambah dengan lahirnya seorang putri cantik yang diberi nama Retno Yulvi. Namun, kebahagiaan itu berjalan beriringan dengan kenyataan hidup yang tidak mudah.

Kondisi ekonomi di Padang Panjang saat itu tidak stabil. Dengan lima orang anak yang harus dinafkahi, H. Amran Sidi bekerja apa saja—mulai dari servis jam hingga pekerjaan serabutan.

Akhirnya, dengan sisa uang yang ada dan tekad untuk mengubah nasib, H. Amran Sidi dan Jusma memutuskan merantau ke Kota Padang. Mereka mengontrak rumah sederhana di Los Baro, Padang. Saat itu, Retno Yelvi masih bayi, baru berusia hitungan bulan.

Di Kota Padang inilah kehidupan mulai menunjukkan secercah cahaya. Perlahan namun pasti, apa pun yang dikerjakan H. Amran Sidi seakan diberi keberkahan.

Dari kerja keras tanpa lelah, ia berkembang menjadi distributor garam di Sumatera Barat, bahkan merambah ke Jambi, Riau, hingga Medan. Ia bermukim dan berusaha di Jalan M. Yamin, Padang.

Baca Juga :  Penegakan Hukum di Bidang Keimigrasian Bisa Tekan Pengaruh Negatif

Usaha yang dirintis dari nol itu terus berkembang. Selain berdagang, H. Amran Sidi juga menekuni dunia kontraktor. Banyak pertokoan di Jalan Pemuda, Jalan M. Yamin, serta Pasar Raya Padang yang dibangun melalui tangan dan tanggung jawabnya.

Di balik keberhasilan itu, Jusma memainkan peran penting dengan tangan dinginnya, kejelian melihat peluang, dan aktivitasnya sebagai aktivis perempuan, ia menjadi pendamping sejati dalam setiap langkah.

Pada tahun 1973, H. Amran Sidi dan Jusma menunaikan Rukun Islam kelima, berangkat ibadah haji bersama. Perjalanan spiritual ini semakin menguatkan tekad mereka untuk berbuat lebih banyak bagi umat dan pendidikan.

Dalam perjalanan hidupnya, H. Amran Sidi kemudian menikah lagi dengan Zairat, seorang pegawai gudang garamnya yang juga bertugas sebagai sekretaris. Dari pernikahan ini lahir dua anak, Rika Amran dan Sari Amran. Seiring waktu, Zairat memilih menjadi ibu rumah tangga dan posisinya di gudang digantikan oleh Maimunah.

Tahun 1975 menjadi titik penting lainnya. Muktamar Aisyiyah digelar di Surabaya. Hj. Jusma, bersama Hj. Nurma Tajab dan Hj. Asma Malin, berangkat mewakili Sumatera Barat. Sebelum ke Surabaya, tiga srikandi ini singgah di kediaman Mohammad Natsir, tokoh nasional dan mantan Perdana Menteri Republik Indonesia. Di sana, mereka menyerap banyak pemikiran dan gagasan demi kemajuan pendidikan dan agama di Sumatera Barat.

Mereka juga bertemu tokoh-tokoh perempuan Sumbar lainnya yang hadir di kediaman M. Natsir.

Sepulang dari Surabaya, Hj. Jusma menyampaikan hasil pertemuan tersebut kepada H. Amran Sidi, termasuk usulan M. Natsir untuk mendirikan sebuah yayasan pendidikan di Sumatera Barat.

” Gayung bersambut. H. Amran Sidi langsung menyatakan persetujuannya.

Maka pada 20 September 1979, bertepatan dengan hari kelahiran H. Amran Sidi, berdirilah Yayasan Pendidikan Baiturahmah, di bawah Akta Notaris Abdul Kadir Usman Nomor 60, beralamat di Jalan Damar, Padang.

Susunan pengurusnya adalah:

Ketua: H. Amran Sidi Sutan Sulaiman

Sekretaris: Hj. Jusma

Bendahara: Retno Yelvi

Baca Juga :  Puluhan Pelaku UMKM Ikuti Sosialisasi Pemasaran Produk Via Online

Yayasan ini berkembang pesat:

SD (1981), SMP (1983), SMA (1984), STIE (1986), Sekolah Ilmu Kedokteran Gigi (1987), Akper Baiturahmah (1996), hingga pengembangan rumah sakit.

Pada 1982, seorang bernama Maizarnis mendaftar sebagai guru di Yayasan Baiturahmah. Setelah evaluasi, ia dinilai tidak layak menjadi pendidik dan dipindahkan sebagai pegawai yayasan.

H. Amran Sidi dan Hj. Jusma juga menawarkan tempat tinggal bagi guru atau pegawai yang masih lajang. Dari beberapa nama, hanya Maizarnis yang menerima tawaran tersebut.

Seiring waktu, Maizarnis kerap mendampingi H. Amran Sidi dalam berbagai kegiatan, termasuk perjalanan dinas ke luar kota hingga Jakarta.

Pada 1984, H. Amran Sidi menikahi Maizarnis. Pernikahan ini mengejutkan banyak pihak, termasuk Retno Yelvi, dan mereka sempat tinggal serumah dengan Hj. Jusma. Dari pernikahan ini lahir tiga anak: Wahyu Amran, Fadli Amran, dan Ikhsan Amran.

Ketegangan dalam rumah tangga tidak terhindarkan. Hj. Jusma akhirnya meminta Maizarnis pindah ke rumah di Jalan Pattimura No. 16 Padang, rumah milik Hj. Jusma dan H. Amran.

Meski tidak lagi tidur di rumah Hj. Jusma, setiap pagi H. Amran Sidi selalu singgah untuk menikmati secangkir kopi buatan Hj. Jusma, dan sore hari kembali melakukan hal yang sama—sebuah kebiasaan kecil yang menyimpan makna besar.

Demi pengembangan yayasan dan rumah sakit, Hj. Jusma menjual sejumlah aset dan tanah, lalu membeli lahan di Air Pacah. Dari pengorbanan itulah berdiri Rumah Sakit Siti Rahmah dan Kampus Baiturahmah yang kini tampak megah.

Namun, tragedi besar terjadi pada 27 Januari 1996. Kota Padang digemparkan oleh meninggalnya pendiri Yayasan Baiturahmah bersama pembantunya. Peristiwa itu hingga kini disebut belum terungkap sepenuhnya, meninggalkan luka dan tanda tanya mendalam, terutama bagi Retno Yelvi.

Pada tahun yang sama, 1996, Maizarnis dan keluarganya mendirikan Yayasan Baiturahmah 1, 2, 3, dan 4 dengan akta yang berada di bawah Yayasan Baiturahmah. Hingga H. Amran Sidi wafat pada tahun 2021, pengelolaan Yayasan Baiturahmah disebut berada di bawah kendali Maizarnis dan keluarganya.

Penulis : drg. Retno Yelvi (Pendiri Yayasan Baiturahmah Padang)

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Aktifitas Lapangan Padel Dianggap Mengganggu, Jalan Sutami Mengadu Ke Komisi I

Suryana Korwil Jabar

30 Apr 2026

Kota Bandung, NasionalPos.com – Komisi I DPRD Kota Bandung menerima dua audiensi dari perwakilan warga, di Ruang Rapat Komisi I DPRD Kota Bandung, Rabu, 29 April 2026. Penerimaan audiensi itu dipimpin Ketua Komisi I DPRD Kota Bandung, Radea Respati Paramudhita, dan dihadiri Anggota Komisi I DPRD Kota Bandung, Ahmad Rahmat Purnama, A.Md., Ir. H. Kurnia …

Negara di Era Perang Narasi; Polarisasi Agama: Retak yang Dipelihara (3 – End)

Dhio Justice Law

29 Apr 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia – LAKI) NasionalPos.com, Jakarta – Polarisasi tidak selalu terjadi dengan sendirinya. Sering kali, ia dibentuk—lalu dipelihara. Dalam lanskap politik kontemporer, konflik jarang lahir dari ruang hampa. Ia dirancang melalui narasi, diperkuat oleh repetisi, lalu dilegitimasi oleh emosi kolektif. Di titik inilah agama menjadi variabel yang paling sensitif sekaligus …

Lomba Baca Puisi Tingkat SD dan Talk show Sastra Di Gelar Jaker Kudus

dito

29 Apr 2026

NasionalPos.com, Kudus- Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER) Kabupaten Kudus menggelar diskusi/talkshow sastra bertajuk “Sastra Untuk Negeri” dalam rangka memperingati Bulan Puisi 2026, Sabtu (25/4/2026), di Sidji Coffee, Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus.   Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB ini mengangkat Tema Sastra (Puisi) Untuk Negeri Sub tema “Menemukan Makna Dalam Setiap Karya”   Serta …

Komisi IV DPR RI Terima Audensi Siap Perjuangkan Nasib Pembudidaya Benih Lobster

Admin Redaksi

29 Apr 2026

  Jakarta,Nasionalpis.com JAKARTA – Anggota Komisi IV DPR RI, Melati, mengusulkan pembentukan Panitia Kerja (Panja) khusus pengelolaan Benih Bening Lobster (BBL). Langkah ini diambil sebagai respons konkret terhadap berbagai persoalan di sektor kelautan yang berdampak langsung pada kesejahteraan nelayan dan pembudidaya. Melati menegaskan, pembentukan Panja merupakan bentuk keseriusan Komisi IV dalam menampung serta menindaklanjuti aspirasi …

Negara di Era Perang Narasi: Disinformasi: Senjata Tak Kasat Mata Yang Melumpuhkan (2)

Dhio Justice Law

28 Apr 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia – LAKI) NasionalPos.com, Jakarta – Perang modern tidak selalu dimulai dengan serangan fisik. Ia sering kali dimulai dari sesuatu yang tampak sepele: informasi yang dipelintir. Di era digital, peluru pertama bukanlah rudal—melainkan narasi. Dan yang ditembak bukan tubuh, tetapi persepsi. Disinformasi bekerja tanpa suara, tanpa jejak yang kasat …

Kapolres Sumenep Perbaiki Jembatan Demi Kelancaran Aktivitas Warga

Kabiro Madura, Bambang Riyadi, S.H

27 Apr 2026

NASIONALPOS.com | Sumenep, Jatim – Senin, 27 April 2026, wujud nyata kepedulian terhadap masyarakat kembali ditunjukkan oleh Kapolres Sumenep dengan menginisiasi sekaligus memimpin langsung kegiatan perbaikan jembatan di Desa Babbalan, Kecamatan Batuan, Kabupaten Sumenep. Jembatan yang selama ini menjadi akses vital warga diketahui mengalami kerusakan yang cukup parah, sehingga menghambat aktivitas masyarakat, baik dalam kegiatan …

x
x