Home » Headline » Kisah Kelam PPP Pasca Reformasi

Kisah Kelam PPP Pasca Reformasi

Dhio Justice Law 28 Sep 2025 540

Oleh:

Assoc, Prof, Dr. TB Massa Djafar

NasionalPos.com, Jakarta – (Pembina Garda Bumiputera dan Ketua Program Doktor Universitas Nasional)

Partai Persatuan Pembangunan (PPP) merupakan salah satu partai politik berbasis massa Islam yang lahir di era Orde Baru, tepatnya pada tanggal 5 Januari 1973. Partai ini dibentuk dari hasil Fusi atau gabungan empat partai Islam yakni Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), mewakili Masyumi, Partai Nahdlatul Ulama, Partai Pergerakan Tarbiah Islam (Perti) dan Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII).

Fusi partai-partai Islam menjadi PPP tak lepas dari keinginan Presiden Suharto untuk memudahkan kontrol dan demi stabilitas politik saat itu.

Karena itu, tak hanya partai-partai Islam yang digabungkan tapi juga golongan partai nasionalis, seperti Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Musyawarah Rakyat Banyak (Murba), Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI) serta Partai Kristen Indonesia (Parkindo) dan Partai Katolik. Mereka bergabung menjadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

Sementara, pemerintah sendiri membentuk Golongan Karya (Golkar) yang diklaim bukan partai politik meski menjalankan fungsi dan peran layaknya partai politik. Golkar menjadi mesin utama rezim Orba yang kerap berperan sebagai bandul menjaga keseimbangan kelompok nasionalis dan Islamis.

Di era Orba, PPP yang awalnya dipelopori oleh KH Idham Chalid (Ketua Umum PB NU), H. Mohammad Syafaat Mintaredja, SH (Ketua Umum Parmusi), Haji Anwar Tjokroaminoto (Ketua Umum PSII), Haji Rusli Halil (Ketua Umum Perti), dan Haji Mayskur (Ketua Kelompok Persatuan Pembangunan di DPR), kerap menempati posisi kedua dibawah Golkar disetiap gelaran Pemilu.

Baca Juga :  Ketua Dewan Pimpinan Nasional Bapermen Cakra Nusantara Serahkan Laporan Tahunan ke Dinas Perdagangan Provinsi Sumbar 

Sejak dilahirkan, PPP banyak melahirkan tokoh besar, diantaranya Jailani Naro, Ismail Hasan Metareum, Hamsah Haz hingga tokoh wanita Aisyah Aminy.

Nasib PPP Pasca Reformasi

Pada Mei 1998, rezim Suharto didera tekanan kuat hingga akhirnya Suharto memilih mengundurkan diri yang digantikan BJ Habibie selaku Presiden RI.

Kala itu, PPP dipimpin Hamsah Haz (1998-2007) dan di era Presiden Habibie, Hamsah Haz sempat menjabat Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan menjadi Menko Kesra dan Taskin di era pemerintahan Gus Dur.

Eksistensi Hamsah Haz di kancah politik menjadi gambar wajah PPP pasca reformasi, dimana karier puncak Hamzah Haz digapai saat menjadi Wakil Presiden mendampingi Megawati Soekarnoputri pada 2001-2004.

Sementara suara PPP pada Pemilu 1999 tercatat menjadi suara terbanyak yang diperoleh partai Ka’bah pasca reformasi, yakni 11,33 juta atau 10,71% dan terus merosot hingga menjadi 6,32 juta atau 4,52% pada pemilu 2019.

Namun, pada pemilu terakhir pada 2024 lalu, PPP yang dikomando Mardiono selaku Plt setelah ‘menjegal’ Suharso Monoarfa, suara PPP hanya 5.878.777 atau 3,8% sehingga tak lolos ke Senayan.

Merosotnya suara PPP pasca reformasi, tak lepas dari konflik internal saat di bawah kepemimpinan Suryadharma Ali dan Romahurmuziy alias Romy. Selain konflik, kedua pimpinan partai berlambang Ka’bah tersebut terlibat korupsi dan masuk penjara.

Citra buruk akibat ulah elit PPP itu, bukan satu-satunya faktor terpuruknya partai Ka’bah. Hal lain yang menjadi penyebab adalah cawe-cawe Jokowi saat menjadi Presiden.

Publik tentu paham, bagaimana Mardiono yang dikenal dekat Jokowi berhasil menjatuhkan Suharso Monoarfa melalui Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) pada 5 September 2022.

Baca Juga :  Buka Data Distribusi Beras ke Publik Secara Transparan

Kecurigaan publik soal misi khusus Mardiono yang diutus Jokowi, terendus saat diketahui Suharso lebih condong dukung Anies Baswedan pada Pilpres 2024. Karena itu, Suharso disingkirkan dan PPP dibawah Mardiono merapat ke PDIP dukung Ganjar-Mahfud sebagai capres, namun Jokowi yang tadinya kader PDIP justru lompat ke kubu yang mengusung Prabowo-Gibran.

Dukungan PPP ke PDIP pada Pilpres 2024 lalu, semakin menguatkan dugaan jika Mardiono memang utusan Jokowi. Lantaran, PPP yang berideologi Islam malah bergabung ke PDIP yang berbeda ideologi.

Sikap PPP yang mengangkangi ideologinya itu, mengingatkan publik pada gelaran Pilkada DKI Jakarta pada 2017 lalu, dimana PPP mendukung duet Ahok-Djarot yang diusung PDIP. Tak pelak putusan PPP itu membuat kecewa akar rumput, sehingga membuat PPP makin terpuruk.

Tampaknya, upaya untuk ‘menghabisi’ PPP terus berjalan dengan majunya Mardiono dan Agus Suparmanto sebagai calon Ketua Umum pada Muktamar PPP ke-10 tahun 2025 yang digelar di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara. Bahkan, keduanya nekad mengklaim sebagai Ketum terpilih secara aklamasi.

Rekam jejak Mardiono sebagai orang Jokowi dan Agus Suparmanto yang merupakan kader PKB dan sempat terseret kasus dugaan penipuan yang diback up Romy yang tak lain eks napi koruptor, memunculkan dugaan publik jika Agus dan Mardiono adalah dua sosok yang sama-sama dimodali oligarki dan kelompok tertentu diluar partai yang bertujuan ‘menghabisi’ PPP dari dalam.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
PUTUSAN MK: PRAJURIT TNI PIDANA UMUM WAJIB DIADILI DI PENGADILAN UMUM,Langkah Bersejarah Menuju Kesetaraan di Hadapan Hukum ,

dito

17 Okt 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Putusan Mahkamah Konstitusi yang mewajibkan revisi UndangUndang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer menjadi sorotan penting dalam peta reformasi hukum nasional.   Putusan yang menyatakan bahwa prajurit TNI yang melakukan tindak pidana umum harus diadili di peradilan umum ini dinilai sebagai tonggak konstitusional yang menegaskan prinsip negara hukum: tidak ada satu pun …

Blunder Politik Gibran Buah Konspirasi Ketum Partai

Dhio Justice Law

15 Okt 2026

NasionalPos. com – Jakarta — Pengamat kebijakan publik Chazali H. Situmorang (CHS) menilai desakan pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka harus diarahkan kepada para ketua umum partai politik, bukan semata-mata kepada fraksi-fraksi di DPR RI. Menurutnya, para ketua umum memiliki pengaruh besar dalam menentukan sikap politik partai sehingga harus bertanggung jawab atas keputusan maupun sikap …

Di Momentum Hari Musium Nasional, H. Waspada SAg MM Wakil Ketua KPAD Kabupaten Bogor, Himbau Musium Bisa Jadi Ajang Edukasi Anak

dito

13 Okt 2026

NasionalPos.com, Bogor- Pada setiap tanggal 12 Oktober, di peringati sebagai peringatan Hari Musium kemarin, oleh karena itu, terkait dengan hal tersebut, kepada wartawan, H. Waspada MK, S.Ag, MM Wakil Ketua KPAD Kabupaten Bogor dan Dosen PG PAUD UNUSIA Jakarta., Selasa, 13/10/2026 di Bogor, ia mengatakan bahwa tentu musium sangat bermanfaat dan sangat penting bagi anak …

Makan Anggaran Rp1,4 Miliar, Proyek Jalan di Pesisir Barat Malah Diduga Caplok Lahan Mantan Bupati

Taufik Hidayat

12 Okt 2026

Pesisir Barat — Pembangunan proyek jalan menuju rumah sakit di Kabupaten Pesisir Barat yang menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2026 senilai Rp1,4 miliar tengah menjadi sorotan publik. Proyek tersebut diduga dibangun di atas lahan pribadi milik mantan Bupati Pesisir Barat, H. Agus Istiqlal, tanpa izin. Protes Langsung di Lokasi Proyek Pemilik lahan, H. …

Pernikahan RINI ANGGRAENI dan AZHAR DZULFIQAR di BANDUNG Berlangsung Megah, Karangan Bunga Tokoh Publik Curi Perhatian

- Banyuwangi

11 Okt 2026

BANDUNG, NASIONALPOS.COM — Suasana penuh kebahagiaan dan kemeriahan menyelimuti pernikahan Rini Anggraeni, S.Tr.Kes., dan Azhar Dzulfiqar, S.T., yang berlangsung pada Minggu (11/10/2026) di Maison Grande, Bandung, Jawa Barat. Perhelatan istimewa ini menjadi momentum bersejarah bagi kedua mempelai untuk memulai perjalanan baru dalam membangun rumah tangga. Pernikahan tersebut berlangsung dengan nuansa elegan, memadukan kesakralan prosesi dengan …

Dugaan Penarikan Kendaraan oleh Debt Collector di Banyuwangi, WOM Finance Diminta Buka Dasar Hukumnya

- Banyuwangi

11 Okt 2026

BANYUWANGI, NASIONALPOS. COM – Penarikan satu unit mobil Toyota Avanza tahun 2009 bernomor polisi DK 1156 IS di wilayah Desa Kedayunan, Kecamatan Kabat, Banyuwangi, tepatnya di depan Masjid Arohman, menuai keberatan dari pemilik kendaraan, (RR). Mobil yang disebut dibeli melalui pembiayaan WOM Finance tersebut diduga telah ditarik paksa oleh pihak ketiga yang disebut sebagai debt …

x
x