Home » Headline » Kisah Kelam PPP Pasca Reformasi

Kisah Kelam PPP Pasca Reformasi

Dhio Justice Law 28 Sep 2025 499

Oleh:

Assoc, Prof, Dr. TB Massa Djafar

NasionalPos.com, Jakarta – (Pembina Garda Bumiputera dan Ketua Program Doktor Universitas Nasional)

Partai Persatuan Pembangunan (PPP) merupakan salah satu partai politik berbasis massa Islam yang lahir di era Orde Baru, tepatnya pada tanggal 5 Januari 1973. Partai ini dibentuk dari hasil Fusi atau gabungan empat partai Islam yakni Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), mewakili Masyumi, Partai Nahdlatul Ulama, Partai Pergerakan Tarbiah Islam (Perti) dan Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII).

Fusi partai-partai Islam menjadi PPP tak lepas dari keinginan Presiden Suharto untuk memudahkan kontrol dan demi stabilitas politik saat itu.

Karena itu, tak hanya partai-partai Islam yang digabungkan tapi juga golongan partai nasionalis, seperti Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Musyawarah Rakyat Banyak (Murba), Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI) serta Partai Kristen Indonesia (Parkindo) dan Partai Katolik. Mereka bergabung menjadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

Sementara, pemerintah sendiri membentuk Golongan Karya (Golkar) yang diklaim bukan partai politik meski menjalankan fungsi dan peran layaknya partai politik. Golkar menjadi mesin utama rezim Orba yang kerap berperan sebagai bandul menjaga keseimbangan kelompok nasionalis dan Islamis.

Di era Orba, PPP yang awalnya dipelopori oleh KH Idham Chalid (Ketua Umum PB NU), H. Mohammad Syafaat Mintaredja, SH (Ketua Umum Parmusi), Haji Anwar Tjokroaminoto (Ketua Umum PSII), Haji Rusli Halil (Ketua Umum Perti), dan Haji Mayskur (Ketua Kelompok Persatuan Pembangunan di DPR), kerap menempati posisi kedua dibawah Golkar disetiap gelaran Pemilu.

Baca Juga :  Komunitas Dari Burik Dua Sttruk Bali Hadiri Anniversari 11Tahun RX King Klub di Lapangan Desa Dadapan

Sejak dilahirkan, PPP banyak melahirkan tokoh besar, diantaranya Jailani Naro, Ismail Hasan Metareum, Hamsah Haz hingga tokoh wanita Aisyah Aminy.

Nasib PPP Pasca Reformasi

Pada Mei 1998, rezim Suharto didera tekanan kuat hingga akhirnya Suharto memilih mengundurkan diri yang digantikan BJ Habibie selaku Presiden RI.

Kala itu, PPP dipimpin Hamsah Haz (1998-2007) dan di era Presiden Habibie, Hamsah Haz sempat menjabat Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan menjadi Menko Kesra dan Taskin di era pemerintahan Gus Dur.

Eksistensi Hamsah Haz di kancah politik menjadi gambar wajah PPP pasca reformasi, dimana karier puncak Hamzah Haz digapai saat menjadi Wakil Presiden mendampingi Megawati Soekarnoputri pada 2001-2004.

Sementara suara PPP pada Pemilu 1999 tercatat menjadi suara terbanyak yang diperoleh partai Ka’bah pasca reformasi, yakni 11,33 juta atau 10,71% dan terus merosot hingga menjadi 6,32 juta atau 4,52% pada pemilu 2019.

Namun, pada pemilu terakhir pada 2024 lalu, PPP yang dikomando Mardiono selaku Plt setelah ‘menjegal’ Suharso Monoarfa, suara PPP hanya 5.878.777 atau 3,8% sehingga tak lolos ke Senayan.

Merosotnya suara PPP pasca reformasi, tak lepas dari konflik internal saat di bawah kepemimpinan Suryadharma Ali dan Romahurmuziy alias Romy. Selain konflik, kedua pimpinan partai berlambang Ka’bah tersebut terlibat korupsi dan masuk penjara.

Citra buruk akibat ulah elit PPP itu, bukan satu-satunya faktor terpuruknya partai Ka’bah. Hal lain yang menjadi penyebab adalah cawe-cawe Jokowi saat menjadi Presiden.

Publik tentu paham, bagaimana Mardiono yang dikenal dekat Jokowi berhasil menjatuhkan Suharso Monoarfa melalui Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) pada 5 September 2022.

Baca Juga :  Kemnaker Apresiasi AKSESKU 3.0, Harap Inovasi KPK Mampu Putus Mata Rantai Korupsi

Kecurigaan publik soal misi khusus Mardiono yang diutus Jokowi, terendus saat diketahui Suharso lebih condong dukung Anies Baswedan pada Pilpres 2024. Karena itu, Suharso disingkirkan dan PPP dibawah Mardiono merapat ke PDIP dukung Ganjar-Mahfud sebagai capres, namun Jokowi yang tadinya kader PDIP justru lompat ke kubu yang mengusung Prabowo-Gibran.

Dukungan PPP ke PDIP pada Pilpres 2024 lalu, semakin menguatkan dugaan jika Mardiono memang utusan Jokowi. Lantaran, PPP yang berideologi Islam malah bergabung ke PDIP yang berbeda ideologi.

Sikap PPP yang mengangkangi ideologinya itu, mengingatkan publik pada gelaran Pilkada DKI Jakarta pada 2017 lalu, dimana PPP mendukung duet Ahok-Djarot yang diusung PDIP. Tak pelak putusan PPP itu membuat kecewa akar rumput, sehingga membuat PPP makin terpuruk.

Tampaknya, upaya untuk ‘menghabisi’ PPP terus berjalan dengan majunya Mardiono dan Agus Suparmanto sebagai calon Ketua Umum pada Muktamar PPP ke-10 tahun 2025 yang digelar di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara. Bahkan, keduanya nekad mengklaim sebagai Ketum terpilih secara aklamasi.

Rekam jejak Mardiono sebagai orang Jokowi dan Agus Suparmanto yang merupakan kader PKB dan sempat terseret kasus dugaan penipuan yang diback up Romy yang tak lain eks napi koruptor, memunculkan dugaan publik jika Agus dan Mardiono adalah dua sosok yang sama-sama dimodali oligarki dan kelompok tertentu diluar partai yang bertujuan ‘menghabisi’ PPP dari dalam.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Kabinet Gagal, Reshuffle Menjadi Keharusan

Dhio Justice Law

24 Agu 2026

Oleh: Ridwan Umar Direktur Lentera Keadilan Indonesia (LAKI) NasionalPos.com, Jakarta – Seiring perjalanan, masalah besar dan sulit diabaikan dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto: semangat perubahan yang dijanjikan belum sepenuhnya tercermin dalam kinerja kabinetnya. Publik mencatat, Prabowo datang dengan agenda besar  pemberantasan korupsi, kedaulatan ekonomi, efisiensi, penguasaan sumber daya alam, dan keberpihakan kepada rakyat. Namun visi …

Ojol jadi UMKM, ganti Istilah bukan Ganti nasib, Perpres no 27 tahun 2026 Rentan Di gugat Di batalkan

dito

23 Agu 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Ojol bakal resmi menyandang status UMKM. Pemerintah bilang ini kabar baik. Tapi coba tanya: apa yang benar-benar berubah buat pengemudi di jalan?     Selama bertahun-tahun, status ojol ada di zona abu-abu, bukan buruh, bukan juga pengusaha. Sekarang lewat Perpres 27/2026, status itu “diselesaikan.” Jutaan pengemudi otomatis jadi pelaku usaha mikro. Tanpa daftar. …

TB Massa: Prabowo Pimpin Revolusi Atau Melanjutkan Pola Rezim Lama?

Dhio Justice Law

23 Agu 2026

NasionalPos.com, Jakarta – Saatnya Presiden Prabowo Subianto memimpin revolusi untuk menjawab keraguan rakyat. Saat ini, ada sebagian masyarakat yang menilai Pemerintahan Prabowo hanya kelanjutan dari rezim Jokowi. Pengamat politik sekaligus Ketua Program Studi Doktor Ilmu Politik Universitas Nasional (Unas) Jakarta, Assoc. Prof. Dr. TB Massa Djafar, mengatakan keresahan masyarakat terhadap berbagai persoalan nasional semakin meningkat. …

Menkumham Di desak Andi Darwin R Rangreng SH MH, Segera Tutup Celah Hukum Pembentukan Organisasi Advokat Lewat Jalur ORMAS

dito

22 Agu 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Terkait dengan semakin menjamurnya organisasi advokat baru yang terbentuk di duga adanya celah hukum selama ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab untuk membentuk organisasi advokat melalui jalur pendaftaran Organisasi Kemasyarakatan (ORMAS) berbasis perkumpulan. Maka kepada wartawan, Sabtu, 22/8/2026 di Jakarta, Praktisi hukum Andi Darwin R Rangreng SH MH, ia mengatakan bahwa dirinya …

Mukerda III MUI Provinsi Jakarta Sudah Sukses di Laksanakan, MUI Siap Siaga Menyongsong Lima Abad Jakarta

dito

21 Agu 2026

NasionalPos.com, Jakarta – Pada tanggal, 18-19 Agustus 2026 bertempat di Hotel Santika Premiere Hayam Wuruk Jakarta Barat, telah terselenggara Musyawarah Kerja Daerah ke 3 ( Mukerda III) MUI Provinsi DKI Jakarta dengan Mengusung tema “Khidmah Keumatan Menyongsong Lima Abad Jakarta”, acara ini menjadi agenda strategis untuk merumuskan program kerja dan memperkuat sinergi keumatan yang berada …

Dana USD 26 Juta Adalah Amanah Kemanusiaan Secara Hukum Terpisah dari Kasus Febrie Adrianyah,Harus di Kembalikan

dito

21 Agu 2026

NasionalPos.com, Jakarta – Terkait dengan keberadaan dana sebesar USD 26.000.000 yang saat ini ikut menjadi barang bukti dalam penyidikan, kepada wartawan, Jumat , 21 Agustus 2026 di Masjid Almusyawaoroh Klapa Gading Jakarta Utara, Andi Darwin R. Ranreng, S.H. selaku kuasa hukum Agustino Boer, menjelaskan bahwa dana tersebut adalah dana amanah kemanusiaan murni yang secara hukum …

x
x