Home » Headline » Kisah Kelam PPP Pasca Reformasi

Kisah Kelam PPP Pasca Reformasi

Dhio Justice Law 28 Sep 2025 434

Oleh:

Assoc, Prof, Dr. TB Massa Djafar

NasionalPos.com, Jakarta – (Pembina Garda Bumiputera dan Ketua Program Doktor Universitas Nasional)

Partai Persatuan Pembangunan (PPP) merupakan salah satu partai politik berbasis massa Islam yang lahir di era Orde Baru, tepatnya pada tanggal 5 Januari 1973. Partai ini dibentuk dari hasil Fusi atau gabungan empat partai Islam yakni Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), mewakili Masyumi, Partai Nahdlatul Ulama, Partai Pergerakan Tarbiah Islam (Perti) dan Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII).

Fusi partai-partai Islam menjadi PPP tak lepas dari keinginan Presiden Suharto untuk memudahkan kontrol dan demi stabilitas politik saat itu.

Karena itu, tak hanya partai-partai Islam yang digabungkan tapi juga golongan partai nasionalis, seperti Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Musyawarah Rakyat Banyak (Murba), Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI) serta Partai Kristen Indonesia (Parkindo) dan Partai Katolik. Mereka bergabung menjadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

Sementara, pemerintah sendiri membentuk Golongan Karya (Golkar) yang diklaim bukan partai politik meski menjalankan fungsi dan peran layaknya partai politik. Golkar menjadi mesin utama rezim Orba yang kerap berperan sebagai bandul menjaga keseimbangan kelompok nasionalis dan Islamis.

Di era Orba, PPP yang awalnya dipelopori oleh KH Idham Chalid (Ketua Umum PB NU), H. Mohammad Syafaat Mintaredja, SH (Ketua Umum Parmusi), Haji Anwar Tjokroaminoto (Ketua Umum PSII), Haji Rusli Halil (Ketua Umum Perti), dan Haji Mayskur (Ketua Kelompok Persatuan Pembangunan di DPR), kerap menempati posisi kedua dibawah Golkar disetiap gelaran Pemilu.

Baca Juga :  FPMMU Akan Geruduk Kejagung Desak Copot Kajati Sulteng

Sejak dilahirkan, PPP banyak melahirkan tokoh besar, diantaranya Jailani Naro, Ismail Hasan Metareum, Hamsah Haz hingga tokoh wanita Aisyah Aminy.

Nasib PPP Pasca Reformasi

Pada Mei 1998, rezim Suharto didera tekanan kuat hingga akhirnya Suharto memilih mengundurkan diri yang digantikan BJ Habibie selaku Presiden RI.

Kala itu, PPP dipimpin Hamsah Haz (1998-2007) dan di era Presiden Habibie, Hamsah Haz sempat menjabat Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan menjadi Menko Kesra dan Taskin di era pemerintahan Gus Dur.

Eksistensi Hamsah Haz di kancah politik menjadi gambar wajah PPP pasca reformasi, dimana karier puncak Hamzah Haz digapai saat menjadi Wakil Presiden mendampingi Megawati Soekarnoputri pada 2001-2004.

Sementara suara PPP pada Pemilu 1999 tercatat menjadi suara terbanyak yang diperoleh partai Ka’bah pasca reformasi, yakni 11,33 juta atau 10,71% dan terus merosot hingga menjadi 6,32 juta atau 4,52% pada pemilu 2019.

Namun, pada pemilu terakhir pada 2024 lalu, PPP yang dikomando Mardiono selaku Plt setelah ‘menjegal’ Suharso Monoarfa, suara PPP hanya 5.878.777 atau 3,8% sehingga tak lolos ke Senayan.

Merosotnya suara PPP pasca reformasi, tak lepas dari konflik internal saat di bawah kepemimpinan Suryadharma Ali dan Romahurmuziy alias Romy. Selain konflik, kedua pimpinan partai berlambang Ka’bah tersebut terlibat korupsi dan masuk penjara.

Citra buruk akibat ulah elit PPP itu, bukan satu-satunya faktor terpuruknya partai Ka’bah. Hal lain yang menjadi penyebab adalah cawe-cawe Jokowi saat menjadi Presiden.

Publik tentu paham, bagaimana Mardiono yang dikenal dekat Jokowi berhasil menjatuhkan Suharso Monoarfa melalui Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) pada 5 September 2022.

Baca Juga :  Kwarda Pramuka DKI Bantu KPA Cegah Penyebaran HIV/AIDS di Jakarta

Kecurigaan publik soal misi khusus Mardiono yang diutus Jokowi, terendus saat diketahui Suharso lebih condong dukung Anies Baswedan pada Pilpres 2024. Karena itu, Suharso disingkirkan dan PPP dibawah Mardiono merapat ke PDIP dukung Ganjar-Mahfud sebagai capres, namun Jokowi yang tadinya kader PDIP justru lompat ke kubu yang mengusung Prabowo-Gibran.

Dukungan PPP ke PDIP pada Pilpres 2024 lalu, semakin menguatkan dugaan jika Mardiono memang utusan Jokowi. Lantaran, PPP yang berideologi Islam malah bergabung ke PDIP yang berbeda ideologi.

Sikap PPP yang mengangkangi ideologinya itu, mengingatkan publik pada gelaran Pilkada DKI Jakarta pada 2017 lalu, dimana PPP mendukung duet Ahok-Djarot yang diusung PDIP. Tak pelak putusan PPP itu membuat kecewa akar rumput, sehingga membuat PPP makin terpuruk.

Tampaknya, upaya untuk ‘menghabisi’ PPP terus berjalan dengan majunya Mardiono dan Agus Suparmanto sebagai calon Ketua Umum pada Muktamar PPP ke-10 tahun 2025 yang digelar di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara. Bahkan, keduanya nekad mengklaim sebagai Ketum terpilih secara aklamasi.

Rekam jejak Mardiono sebagai orang Jokowi dan Agus Suparmanto yang merupakan kader PKB dan sempat terseret kasus dugaan penipuan yang diback up Romy yang tak lain eks napi koruptor, memunculkan dugaan publik jika Agus dan Mardiono adalah dua sosok yang sama-sama dimodali oligarki dan kelompok tertentu diluar partai yang bertujuan ‘menghabisi’ PPP dari dalam.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
PRJ 2026 Tak Berpihak ke Warga Jakarta, Poros Rawamangun Desak Pemprov DKJ Evaluasi PRJ 2026

dito

15 Jun 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Jakarta Fair 2026 atau Pekan Raya Jakarta sudah di buka oleh Gubernur Pramono Anung pada tgl 12 Juni 2026 merupakan Event yang sudah dilaksanakan sejak tahun 1968 silam, dan untuk tahun 2026 ini, merupakan pelaksanaannya ke 57 kalinya.   Adapun untuk tahun ini, harga tiket masuk ajang pameran tahunan ini dibanderol mulai dari …

PPM – LVRI Gandeng Pemerintah Turki Jalin Kerjasama Bidang Pendidikan, Kebudayaan dan Dunia Usaha

dito

14 Jun 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Pimpinan Pusat Pemuda Panca Marga (PP PPM – LVRI) menggandeng pemerintah Turki dalam rangka menjalin kerjasama di bidang Pendidikan dan kebudayaan antar kedua negara sebagai bagian dari upaya PPM – LVRI menjawab peluang dan kebutuhan dalam masyarakat.   Jalinan kerjasama tersebut ditandai dengan pertemuan silaturahmi yang dihadiri oleh Ketua Umum PP PPM – …

Jelang Muktamar NU: Sebaiknya Cak Imin Fokus Besarkan PKB, Daripada Bertarung di NU

dito

12 Jun 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Di tengah semakin semarak nya situasi menjelang penyelenggaraan Muktamar NU yang rencananya di laksanakan pada tahun 2026 ini,   Tersiar info, mengenai para kandidat calon Ketum PBNU, salah satunya, dikabarkan Gus Imin ketua umum PKB akan maju di muktamar NU, demikian di sampaikan Damuri Fikri pengamat politik kepada wartawan, Jumat, 12/6/2026 di Jakarta. …

‘Mas Bahlil Ganteng’ dan Transformasi Politik Golkar

Dhio Justice Law

12 Jun 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia-LAKI) NasionalPos.com, Jakarta – Indonesia saat ini, seorang politikus tidak harus terlihat negarawan untuk menjadi populer. Cukup viral. Fenomena lagu “Mas Bahlil Ganteng” memperlihatkan bagaimana politik perlahan bergeser dari arena gagasan menuju arena hiburan digital. Yang bekerja bukan lagi kedalaman visi, melainkan kekuatan algoritma. Bukan seberapa kuat argumentasi seorang …

MBG dan Pesta Babi Kekuasaan

Dhio Justice Law

11 Jun 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia – LAKI)  NasionalPos.com, Jakarta – Program makan bergizi gratis (MBG) awalnya dijual sebagai wajah belas kasih negara. Sebuah janji tentang kepedulian terhadap rakyat kecil, tentang anak-anak yang harus diselamatkan dari lapar dan ketimpangan. Tetapi di tengah munculnya dugaan keterlibatan keluarga sejumlah pejabat tinggi dalam pusaran proyek MBG, publik …

H. Bagus Machdiantoro Kembali Terpilih Secara Aklamasi sebagai Ketua Umum BBC Periode 2026-2031

Suryana Korwil Jabar

07 Jun 2026

Bandung, NasionalPos.com – H. Bagus Machdiantoro kembali dipercaya memimpin organisasi BBC untuk periode 2026-2031. Ia terpilih secara aklamasi dalam forum pertanggungjawaban dan pemilihan kepengurusan yang digelar di Hotel Horison, Jalan Pelajar Pejuang, Kota Bandung, Minggu (7/6/2026). Terpilihnya kembali H. Bagus menjadi momentum penting bagi organisasi yang telah berdiri sejak tahun 1956 tersebut. Dalam wawancara usai …

x
x