Home » Top News » Indonesia, Gugun Gumilar, dan Secangkir Kopi

Indonesia, Gugun Gumilar, dan Secangkir Kopi

dito 07 Apr 2026 51

Di tulis dan di sampaikan oleh Arianto Zany Namang  (Anggota Presidium Pusat PMKRI 2018-2020)

Barangkali kita terlalu sering mengira toleransi sebagai kata besar—sejenis slogan yang dipasang di baliho, diulang di mimbar, lalu selesai. Padahal ia sering lahir dari hal-hal kecil: sapaan, duduk bersama, dan menyeruput secangkir kopi tanpa terburu-buru. Dalam kopi darat dan saling sapa itu, manusia menjadi benar-benar manusia, jauh dari kata beringas dan keji yang banal.

Dulu, kita mengenal Abdurrahman Wahid—Gus Dur—yang tak lelah mengingatkan bahwa Indonesia bukan milik satu golongan. Ia pernah berkata, “Tidak penting apa pun agama atau sukumu… kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.” Kalimat itu sederhana, tapi seperti menembus tembok-tembok primordialisme yang kita bangun sendiri.

Hari ini, dalam skala yang lebih kecil—atau mungkin justru lebih dekat—kita melihat seorang anak muda: Gugun Gumilar. Ia bukan presiden, bukan pula kiai besar. Tapi mungkin justru karena itu, ia bergerak dengan cara yang lain: lincah memasuki ruang-ruang yang sering dihindari, duduk di antara mereka yang berbeda, dan—yang paling penting—tidak merasa perlu menjelaskan dirinya terlalu banyak.

Ia bergerak sebagai “manusia” bukan sebagai pribadi dengan suku dan agama tertentu. Itu makanya, ia kerasan berada di dalam gereja bersama dengan umat Kristiani, atau di Pura dengan saudara-saudaranya yang Hindu.

 

Indonesia, kita tahu, bukan negeri yang lahir dari keseragaman, tetapi keragaman. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa negeri ini dihuni lebih dari 270 juta jiwa dengan ratusan etnis dan bahasa. Sementara laporan tahunan Setara Institute masih mencatat peristiwa pelanggaran kebebasan beragama—angka yang naik turun, tapi tak pernah benar-benar nol. Di sela statistik itu, selalu ada cerita: gereja yang dipersoalkan IMB-nya, rumah ibadah dan jemaat yang di persekusi, atau seseorang yang merasa asing di tanahnya sendiri.

Baca Juga :  Polres Sumenep Gelar Anev Kamtibmas Bulan Juli-Agustus 2024 di Pantai Lombang

Di situlah kehadiran negara sering diuji—dan kadang diragukan.

Gugun, dalam beberapa peristiwa, memilih jalan yang nyaris tidak populer: hadir! Ia datang ketika ada gesekan, seperti dalam kasus Gereja POUK Tesalonika di Teluk Naga. Ia tidak membawa pidato panjang. Ia mengajak “ngopi-ngopi”. Mungkin terdengar remeh. Tapi bukankah banyak konflik lahir justru karena tak ada lagi ruang untuk duduk bersama?

Dalam filsafat klasik, Thomas Aquinas menyebut martabat manusia sebagai sesuatu yang melekat—bonum per se, kebaikan pada dirinya sendiri. Manusia bukan alat. Ia bukan angka dalam statistik, bukan pula sekadar identitas agama. Ia adalah tujuan pada dirinya sendiri dan tidak boleh direduksi menjadi alat demi kepentingan yang lain.

Di Indonesia, gagasan itu menemukan gema yang khas dalam pemikiran guru saya di STF Driyarkara Romo Franz Magnis-Suseno. Romo Magnis-Suseno berkali-kali menegaskan bahwa demokrasi tanpa toleransi hanyalah prosedur kosong. Dalam pandangannya, toleransi bukan berarti semua orang harus setuju, melainkan kesediaan untuk hidup bersama secara damai meskipun berbeda secara mendasar.

Demokrasi, katanya, menuntut “pengakuan terhadap martabat setiap orang sebagai warga yang setara”—bukan sekadar mayoritas yang menang suara.

Baca Juga :  Minds Behind the Machines: Personal Stories of Gadget Innovators

Mungkin itu sebabnya toleransi tidak pernah selesai sebagai proyek. Ia selalu rapuh-ringkih, selalu bisa retak oleh kecurigaan kecil. Tapi ia juga selalu bisa diperbaiki—oleh tindakan kecil yang sederhana.

Gugun tampaknya memahami itu. Ia bisa masuk ke gereja tanpa merasa imannya berkurang satu mili. Ia bisa berdialog tanpa merasa harus menang. Dalam dunia yang sering memaksa kita memilih: ini atau itu, dia memilih “dan”. Muslim “dan” sahabat bagi yang lain. Pejabat “dan” pendengar. Negara “dan” masyarakat.

Kita sering membayangkan perubahan sebagai sesuatu yang besar dan serentak. Padahal mungkin ia bekerja seperti air: pelan, meresap, tak selalu harus terlihat. Gus Dur melakukannya dengan humor dan keberanian. Gugun, dengan cara yang lebih sunyi—dan mungkin lebih sesuai dengan zaman yang gaduh ini.

Di ujungnya, pertanyaannya sederhana, tapi tak pernah mudah: bagaimana kita bisa mengaku mencintai Tuhan yang tak terlihat, jika kita gagal menghormati manusia yang ada di depan kita?

“Jikalau seorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya” (1 Yohanes 4:20)

Mungkin jawabannya tidak ada di buku tebal atau pidato panjang. Mungkin ia ada di meja kecil, dua atau tiga orang, dan secangkir kopi yang dibiarkan hangat lebih lama dari biasanya dan saat kita memandang yang lain sebagai sesama bukan hama

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Asisten I Hadiri Pelantikan Pengurus PKK Kecamatan Lubuk Linggau Utara II

Admin Redaksi

04 Mei 2026

NASIONALPOS.COM/LUBUKLINGGAU-Wali Kota Lubuk Linggau, H Rachmat Hidayat diwakili Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra, H Heri Zulianta bersama Ketua TP PKK Lubuk Linggau, Hj Risca Priba Ayu dan Staf Ahli PKK, Hj Mifta Hulummi menghadiri pelantikan pengurus PKK Kecamatan Lubuk Linggau Utara II, Senin (4/5/2026). ‎ ‎Selain itu juga dilaksanakan pelantikan ketua PKK Kelurahan, Bunda …

KON Berharap Presiden Prabowo Tinjau Ulang Perpres no 27 tahun 2026

dito

03 Mei 2026

NasionalPos com, Jakarta- Koalisi Ojol Nasional (KON) sangat mengapresiasi Presiden RI dan Pemerintah dalam upaya melindungi para Mitra driver dari Exploitasi modern era digital yang di tuangkan dalam Perpres No. 27 tahun 2026 tentang Perlindungan Pekerja Transportasi Online yang di tanda tangani pada tanggal 1 Mei 2026 yang bertepatan pada perayaan Hari Buruh International, demikian …

Peringati Hari Pers Sedunia Ketum PWDPI Wartawan Harus Profesional dan Jadi Penggerak Ekonomi

Admin Redaksi

03 Mei 2026

Jakarta, Nasional Pos.com JAKARTA – Tanggal 3 Mei diperingati sebagai Hari Kebebasan Pers Sedunia atau World Press Freedom Day. Momentum ini menjadi pengingat pentingnya peran pers sebagai pilar demokrasi dan penjaga kebenaran di tengah masyarakat. Ketua Umum DPP Persatuan Wartawan Duta Pena Indonesia (PWDPI), M. Nurullah RS, menyampaikan apresiasi dan salam hangat kepada seluruh insan …

‎Wako Pimpin Upacara Hardiknas di SMP 12 Lubuklinggau

Admin Redaksi

02 Mei 2026

Nasionalpos.com/‎LUBUKLINGGAU-Wali Kota Lubuklinggau H Rachmat Hidayat pimpin upacara peringatan hari pendidikan nasional tahun 2026 yang dilaksanakan di SMP 12 kota Lubuklinggau. Sabtu (2/5/2026). ‎ ‎Dalam kegiatan ini, wako membacakan langsung sambutan menteri pendidikan dasar dan menengah, Abdul Mu’ti. ‎ ‎Peringatan Hari Pendidikan Nasional adalah momentum untuk kita melakukan ‎refleksi, meneguhkan, dan menghidupkan spirit pendidikan nasional. …

ASKLIGI dan Keprihatinan Kesehatan Gigi Indonesia

dito

02 Mei 2026

NasionalPos.com, Jakarta – ASKLIGI (Asosiasi Klinik dan Laboratorium Gigi Indonesia) dalam program prioritasnya mengupayakan turut mengatasi permasalahan kesehatan gigi yang memprihatinkan. Data Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan menunjukkan, pada 2025 dari sekitar 36 juta orang yang diperiksa ternyata masalah terbanyak adalah penyakit gigi. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 ternyata 56,9% …

Komisi IV DPR RI Terima Audensi Siap Perjuangkan Nasib Pembudidaya Benih Lobster

Admin Redaksi

29 Apr 2026

  Jakarta,Nasionalpis.com JAKARTA – Anggota Komisi IV DPR RI, Melati, mengusulkan pembentukan Panitia Kerja (Panja) khusus pengelolaan Benih Bening Lobster (BBL). Langkah ini diambil sebagai respons konkret terhadap berbagai persoalan di sektor kelautan yang berdampak langsung pada kesejahteraan nelayan dan pembudidaya. Melati menegaskan, pembentukan Panja merupakan bentuk keseriusan Komisi IV dalam menampung serta menindaklanjuti aspirasi …

x
x