Home » Top News » Indonesia, Gugun Gumilar, dan Secangkir Kopi

Indonesia, Gugun Gumilar, dan Secangkir Kopi

dito 07 Apr 2026 127

Di tulis dan di sampaikan oleh Arianto Zany Namang  (Anggota Presidium Pusat PMKRI 2018-2020)

Barangkali kita terlalu sering mengira toleransi sebagai kata besar—sejenis slogan yang dipasang di baliho, diulang di mimbar, lalu selesai. Padahal ia sering lahir dari hal-hal kecil: sapaan, duduk bersama, dan menyeruput secangkir kopi tanpa terburu-buru. Dalam kopi darat dan saling sapa itu, manusia menjadi benar-benar manusia, jauh dari kata beringas dan keji yang banal.

Dulu, kita mengenal Abdurrahman Wahid—Gus Dur—yang tak lelah mengingatkan bahwa Indonesia bukan milik satu golongan. Ia pernah berkata, “Tidak penting apa pun agama atau sukumu… kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.” Kalimat itu sederhana, tapi seperti menembus tembok-tembok primordialisme yang kita bangun sendiri.

Hari ini, dalam skala yang lebih kecil—atau mungkin justru lebih dekat—kita melihat seorang anak muda: Gugun Gumilar. Ia bukan presiden, bukan pula kiai besar. Tapi mungkin justru karena itu, ia bergerak dengan cara yang lain: lincah memasuki ruang-ruang yang sering dihindari, duduk di antara mereka yang berbeda, dan—yang paling penting—tidak merasa perlu menjelaskan dirinya terlalu banyak.

Ia bergerak sebagai “manusia” bukan sebagai pribadi dengan suku dan agama tertentu. Itu makanya, ia kerasan berada di dalam gereja bersama dengan umat Kristiani, atau di Pura dengan saudara-saudaranya yang Hindu.

 

Indonesia, kita tahu, bukan negeri yang lahir dari keseragaman, tetapi keragaman. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa negeri ini dihuni lebih dari 270 juta jiwa dengan ratusan etnis dan bahasa. Sementara laporan tahunan Setara Institute masih mencatat peristiwa pelanggaran kebebasan beragama—angka yang naik turun, tapi tak pernah benar-benar nol. Di sela statistik itu, selalu ada cerita: gereja yang dipersoalkan IMB-nya, rumah ibadah dan jemaat yang di persekusi, atau seseorang yang merasa asing di tanahnya sendiri.

Baca Juga :  Wawako Rustam Effendi Hadiri Apel Tahunan Pondok Pesantren Al Madani

Di situlah kehadiran negara sering diuji—dan kadang diragukan.

Gugun, dalam beberapa peristiwa, memilih jalan yang nyaris tidak populer: hadir! Ia datang ketika ada gesekan, seperti dalam kasus Gereja POUK Tesalonika di Teluk Naga. Ia tidak membawa pidato panjang. Ia mengajak “ngopi-ngopi”. Mungkin terdengar remeh. Tapi bukankah banyak konflik lahir justru karena tak ada lagi ruang untuk duduk bersama?

Dalam filsafat klasik, Thomas Aquinas menyebut martabat manusia sebagai sesuatu yang melekat—bonum per se, kebaikan pada dirinya sendiri. Manusia bukan alat. Ia bukan angka dalam statistik, bukan pula sekadar identitas agama. Ia adalah tujuan pada dirinya sendiri dan tidak boleh direduksi menjadi alat demi kepentingan yang lain.

Di Indonesia, gagasan itu menemukan gema yang khas dalam pemikiran guru saya di STF Driyarkara Romo Franz Magnis-Suseno. Romo Magnis-Suseno berkali-kali menegaskan bahwa demokrasi tanpa toleransi hanyalah prosedur kosong. Dalam pandangannya, toleransi bukan berarti semua orang harus setuju, melainkan kesediaan untuk hidup bersama secara damai meskipun berbeda secara mendasar.

Demokrasi, katanya, menuntut “pengakuan terhadap martabat setiap orang sebagai warga yang setara”—bukan sekadar mayoritas yang menang suara.

Baca Juga :  Polsek Ranah Pesisir dan Pemerintah Nagari Sungai Tunu Gelar Gerakan Pangan Murah di Pasar Sungai Tunu

Mungkin itu sebabnya toleransi tidak pernah selesai sebagai proyek. Ia selalu rapuh-ringkih, selalu bisa retak oleh kecurigaan kecil. Tapi ia juga selalu bisa diperbaiki—oleh tindakan kecil yang sederhana.

Gugun tampaknya memahami itu. Ia bisa masuk ke gereja tanpa merasa imannya berkurang satu mili. Ia bisa berdialog tanpa merasa harus menang. Dalam dunia yang sering memaksa kita memilih: ini atau itu, dia memilih “dan”. Muslim “dan” sahabat bagi yang lain. Pejabat “dan” pendengar. Negara “dan” masyarakat.

Kita sering membayangkan perubahan sebagai sesuatu yang besar dan serentak. Padahal mungkin ia bekerja seperti air: pelan, meresap, tak selalu harus terlihat. Gus Dur melakukannya dengan humor dan keberanian. Gugun, dengan cara yang lebih sunyi—dan mungkin lebih sesuai dengan zaman yang gaduh ini.

Di ujungnya, pertanyaannya sederhana, tapi tak pernah mudah: bagaimana kita bisa mengaku mencintai Tuhan yang tak terlihat, jika kita gagal menghormati manusia yang ada di depan kita?

“Jikalau seorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya” (1 Yohanes 4:20)

Mungkin jawabannya tidak ada di buku tebal atau pidato panjang. Mungkin ia ada di meja kecil, dua atau tiga orang, dan secangkir kopi yang dibiarkan hangat lebih lama dari biasanya dan saat kita memandang yang lain sebagai sesama bukan hama

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
KNPI Kota Padang Sukses Gelar RAPIMPURDA XVI, Matangkan Persiapan Musda

Zulwandi

18 Okt 2026

Padang, Nasionalpos.com — Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar) sukses menyelenggarakan Rapat Pimpinan Paripurna Daerah (RAPIMPURDA) XVI pada Minggu (18/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di Hotel Padang tersebut berjalan lancar dan dihadiri oleh pengurus KNPI Kota Padang, perwakilan KNPI Sumatera Barat, serta sejumlah organisasi kepemudaan lainnya. RAPIMPURDA XVI …

Kadispora Buka Event Tournamen Mobile Legend Bang Bang Silampari Wali Kota Cup

Andi Ledi Lubuk Linggau

16 Okt 2026

NASIONALPOS.COM-LUBUK LINGGAU-Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Kota Lubuk Linggau, H Resta Irwan Putra membuka Event Tournamen Mobile Legend Bang Bang (MLBB) Silampari Wali Kota Cup I Tahun 2026 di Cinema Hall Lt.5 Pemkot Kota Lubuk Linggau Jalan Garuda Kelurahan Kayu Ara Kecamatan Lubuk Linggau Barat I, Jum’at(16/10/2026). Kadispora, H Resta Irawan Putra dalam sambutannya …

Laporkan Dugaan Pelecehan di Kantor Lurah Pasie Nan Tigo, YM Minta Wali Kota Padang Turun Tangan

Zulwandi

15 Okt 2026

Padang, Nasionalpos. Com — Seorang perempuan berinisial YM, yang berprofesi sebagai YouTuber, affiliate marketer, content creator, dan edupreneur di Sumatera Barat, mengaku mengalami dugaan pelecehan verbal dan penghinaan saat berada di Kantor Lurah Pasie Nan Tigo, Kota Padang, pada 28 Agustus 2026 sekitar pukul 09.45 WIB. YM meminta pemerintah daerah menindaklanjuti pengaduannya secara objektif dan …

Plt Asisten I Lepas Paskibraka Lubuk Linggau Ikuti Wawasan Kebangsaan ke IPDN Sumbar

Andi Ledi Lubuk Linggau

12 Okt 2026

NASIONALPOS.COM/LUBUK LINGGAU-Wali Kota Lubuk Linggau, H Rachmat Hidayat, diwakili Plt Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra, Erwin Armeidi, melepas anggota Paskibraka Kota Lubuk Linggau Tahun 2026 untuk mengikuti kegiatan wawasan kebangsaan ke IPDN Kampus Sumatera Barat di Kompleks Pemerintah Kota Lubuk Linggau, Senin (12/10/2026). Dalam sambutannya, Erwin Armeidi menyampaikan bahwa kunjungan wawasan kebangsaan ke IPDN …

Semakin humanis satpas sim tegal hadir layani masyarakat dengan ramah dan profesionalisme,membuat rakyat merasa terlayani dan di hargai

Indri Kalteng

11 Okt 2026

  Tegal- Nasionalpos.comPelayanan penerbitan Surat Izin Mengemudi (SIM) di jajaran Polres Tegal terus mengedepankan pendekatan humanis kepada masyarakat. Petugas memberikan pelayanan dengan ramah, santun, serta membantu pemohon memahami setiap tahapan proses penerbitan SIM agar berjalan tertib, mudah, dan transparan. Dalam pelaksanaannya, masyarakat yang datang untuk mengurus SIM mendapatkan arahan dari petugas mulai dari proses pendaftaran, …

Unbrah Jadi Tuan Rumah Rakernas APTFI 2026, Diikuti 880 Peserta dari Berbagai Perguruan Tinggi Farmasi

Zulwandi

10 Okt 2026

Padang, Nasionalpos. Com — Universitas Baiturrahmah (Unbrah) dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Seminar Nasional Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI) 2026. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis hingga Sabtu (8–10 Oktober 2026) di ZHM Grendzuri Hotel Padang, Sumatera Barat (Sumbar) diikuti sekitar 880 peserta dari berbagai perguruan tinggi farmasi di Indonesia. …

x
x