- HeadlineMembaca Motif Politik di Balik Satgas Dasco
- NasionalPengurus DPD Gebu Minang Jawa Barat Periode 2026–2031 Dikukuhkan, Perkuat Sinergi Rantau dan Ranah
- daerahPelepasan Siswa Kelas VI SDN 17 Simaung Cumateh Berlangsung Meriah, Ditutup dengan Tradisi Makan Bajamba
- daerahDi duga Sampah sebagai Bancakan Anggaran: Poros Rawamangun Kritik Keras Arah Kebijakan Pemprov DKI
- Top NewsHarapan orang tua Agar Mulyana 40 tahun yang Hilang Cepat Kembali

Indonesia, Gugun Gumilar, dan Secangkir Kopi
Di tulis dan di sampaikan oleh Arianto Zany Namang (Anggota Presidium Pusat PMKRI 2018-2020)
Barangkali kita terlalu sering mengira toleransi sebagai kata besar—sejenis slogan yang dipasang di baliho, diulang di mimbar, lalu selesai. Padahal ia sering lahir dari hal-hal kecil: sapaan, duduk bersama, dan menyeruput secangkir kopi tanpa terburu-buru. Dalam kopi darat dan saling sapa itu, manusia menjadi benar-benar manusia, jauh dari kata beringas dan keji yang banal.
Dulu, kita mengenal Abdurrahman Wahid—Gus Dur—yang tak lelah mengingatkan bahwa Indonesia bukan milik satu golongan. Ia pernah berkata, “Tidak penting apa pun agama atau sukumu… kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.” Kalimat itu sederhana, tapi seperti menembus tembok-tembok primordialisme yang kita bangun sendiri.
Hari ini, dalam skala yang lebih kecil—atau mungkin justru lebih dekat—kita melihat seorang anak muda: Gugun Gumilar. Ia bukan presiden, bukan pula kiai besar. Tapi mungkin justru karena itu, ia bergerak dengan cara yang lain: lincah memasuki ruang-ruang yang sering dihindari, duduk di antara mereka yang berbeda, dan—yang paling penting—tidak merasa perlu menjelaskan dirinya terlalu banyak.
Ia bergerak sebagai “manusia” bukan sebagai pribadi dengan suku dan agama tertentu. Itu makanya, ia kerasan berada di dalam gereja bersama dengan umat Kristiani, atau di Pura dengan saudara-saudaranya yang Hindu.
Indonesia, kita tahu, bukan negeri yang lahir dari keseragaman, tetapi keragaman. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa negeri ini dihuni lebih dari 270 juta jiwa dengan ratusan etnis dan bahasa. Sementara laporan tahunan Setara Institute masih mencatat peristiwa pelanggaran kebebasan beragama—angka yang naik turun, tapi tak pernah benar-benar nol. Di sela statistik itu, selalu ada cerita: gereja yang dipersoalkan IMB-nya, rumah ibadah dan jemaat yang di persekusi, atau seseorang yang merasa asing di tanahnya sendiri.
Di situlah kehadiran negara sering diuji—dan kadang diragukan.
Gugun, dalam beberapa peristiwa, memilih jalan yang nyaris tidak populer: hadir! Ia datang ketika ada gesekan, seperti dalam kasus Gereja POUK Tesalonika di Teluk Naga. Ia tidak membawa pidato panjang. Ia mengajak “ngopi-ngopi”. Mungkin terdengar remeh. Tapi bukankah banyak konflik lahir justru karena tak ada lagi ruang untuk duduk bersama?
Dalam filsafat klasik, Thomas Aquinas menyebut martabat manusia sebagai sesuatu yang melekat—bonum per se, kebaikan pada dirinya sendiri. Manusia bukan alat. Ia bukan angka dalam statistik, bukan pula sekadar identitas agama. Ia adalah tujuan pada dirinya sendiri dan tidak boleh direduksi menjadi alat demi kepentingan yang lain.
Di Indonesia, gagasan itu menemukan gema yang khas dalam pemikiran guru saya di STF Driyarkara Romo Franz Magnis-Suseno. Romo Magnis-Suseno berkali-kali menegaskan bahwa demokrasi tanpa toleransi hanyalah prosedur kosong. Dalam pandangannya, toleransi bukan berarti semua orang harus setuju, melainkan kesediaan untuk hidup bersama secara damai meskipun berbeda secara mendasar.
Demokrasi, katanya, menuntut “pengakuan terhadap martabat setiap orang sebagai warga yang setara”—bukan sekadar mayoritas yang menang suara.
Mungkin itu sebabnya toleransi tidak pernah selesai sebagai proyek. Ia selalu rapuh-ringkih, selalu bisa retak oleh kecurigaan kecil. Tapi ia juga selalu bisa diperbaiki—oleh tindakan kecil yang sederhana.
Gugun tampaknya memahami itu. Ia bisa masuk ke gereja tanpa merasa imannya berkurang satu mili. Ia bisa berdialog tanpa merasa harus menang. Dalam dunia yang sering memaksa kita memilih: ini atau itu, dia memilih “dan”. Muslim “dan” sahabat bagi yang lain. Pejabat “dan” pendengar. Negara “dan” masyarakat.
Kita sering membayangkan perubahan sebagai sesuatu yang besar dan serentak. Padahal mungkin ia bekerja seperti air: pelan, meresap, tak selalu harus terlihat. Gus Dur melakukannya dengan humor dan keberanian. Gugun, dengan cara yang lebih sunyi—dan mungkin lebih sesuai dengan zaman yang gaduh ini.
Di ujungnya, pertanyaannya sederhana, tapi tak pernah mudah: bagaimana kita bisa mengaku mencintai Tuhan yang tak terlihat, jika kita gagal menghormati manusia yang ada di depan kita?
“Jikalau seorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya” (1 Yohanes 4:20)
Mungkin jawabannya tidak ada di buku tebal atau pidato panjang. Mungkin ia ada di meja kecil, dua atau tiga orang, dan secangkir kopi yang dibiarkan hangat lebih lama dari biasanya dan saat kita memandang yang lain sebagai sesama bukan hama
Dhio Justice Law
30 Mei 2026
Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia – LAKI) NasionalPos.com, Jakarta – Posisi Sufmi Dasco Ahmad sebagai Ketua Satgas Pemulihan Pasca Bencana DPR RI sulit dibaca semata sebagai langkah teknokratis. Dalam politik, terutama pada lingkar kekuasaan inti, hampir tidak ada penempatan strategis yang benar-benar netral dari kepentingan politik. Apalagi Dasco bukan hanya pimpinan DPR. Ia …
dito
29 Mei 2026
NasionalPos.com, Jakarta- Kritik keras terhadap arah kebijakan pengelolaan sampah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali mencuat. Ketua Umum organisasi masyarakat Poros Rawamangun, Rudy Darmawanto, SH kepada wartawan, yang menghubungi nya, ia menilai kebijakan pemilahan sampah yang saat ini digencarkan Pemprov DKI Jakarta belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan pengelolaan sampah di ibu kota. “Kebijakan tersebut berpotensi hanya …
Admin Redaksi
29 Mei 2026
Garut, JejakKasus45.Com Sebuah keluarga kecil yang sederhana dengan jumlah keluarga lima orang di kampung Galumpit RT 02, RW 25, Kelurahan Marga Wati, Kecamatan Garut kota, Kabupaten Garut, Keluarga Bendi(65) dan Iwok(55). diliputi kesedihan yang mendalm, pasalnya Anak Sulung nya Mulyana (40) yang merupakan tulang punggung keluarga, meniggalkan rumah sejak hari Minggu 10 Mai 2026, hingga …
Admin Redaksi
29 Mei 2026
Sebuah Keluarga Kecil yang sederhana, keluarga Bendi (65) dan Iwok (55) di Kampung Galumpit RT/RW 02/25, Kelurahan Margawati, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Selalu berharap Anak sulungnya Mulyana (40), yang merupakan tulang punggung keluarga bisa kembali secepatnya kerumah. Dihari Minggu 10 Mai 2026 Mulyana, seperti biasanya melakukan pekerjaan sehari hari Mencari Rumput, serta membawa alat-alat …
dito
28 Mei 2026
NasionalPos.com, Jakarta- Merawat kebhinekaan dengan sikap toleran terhadap keberagaman menjadi suatu keharusan sebagai upaya menjaga keutuhan kedaulatan Bangsa Indonesia. Kebhinekaan merupakan perilaku saling menghargai dan menghormati perbedaan berbagai ragam suku, ras, agama yang bertujuan untuk dapat saling mengenal baik disisi keyakinan maupun tradisi. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Kaderisasi dan Keanggotaan (KK) Pimpinan …
Admin Redaksi
25 Mei 2026
Nasionalpos.com/LUBUK LINGGAU – Wali Kota Lubuk Linggau, H. Rachmat Hidayat diwakili Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Lubuk Linggau, H Trisko Defriyansa menerima audiensi manajemen Linggau Pos di ruang kerjanya, Senin (25/5/2026). Audiensi tersebut membahas rencana pelaksanaan lomba cerdas cermat dan penyuluhan tentang bahaya narkoba dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara serta Hari Anti …
21 Nov 2024 1.897 views
NASIONALPOS.com II Banyuwangi, 20 November 2024 – Kasus penipuan dan pemerasan yang mengatasnamakan media Tribunnews kembali terjadi. Kali ini, pelaku yang diduga bernama Noviar Arya Putra, bersama dengan kontak bernama Tiara, berhasil menipu korban melalui aplikasi WhatsApp. Modus yang digunakan kali ini mengarah pada ancaman penyebaran video asusila yang direkam secara video call (VC). …
19 Sep 2025 1.522 views
Pesisir Selatan, Nasionalpos.com — Musyawarah Kabupaten (Muskab) Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), sukses digelar di Aula Kantor Camat Lengayang pada Kamis (18/9) siang. Acara tersebut dimulai pukul 13.30 WIB dan berlangsung hingga selesai dengan lancar dan penuh semangat kebersamaan antar sesama insan pencak silat. Muskab kali ini …
17 Mei 2022 1.371 views
NasionalPos.com, Depok– Diperoleh informasi yang menyebutkan bahwa Pangdivif 1 Kostrad yang baru, Brigjen TNI Bobby Rinal Makmun sebelumnya menjabat sebagai Kepala Staf Kodam (Kasdam) Jaya menggantikan Mayjen TNI Dedy Kusmayadi akan masuki masa Pensiun, secara resmi di lantik langsung oleh Panglima Kostrad (Pangkostrad) Letjen TNI Maruli Simanjuntak, M.Sc., dalam suatu upacara serah terima jabatan (Sertijab) …
28 Jul 2025 1.313 views
NasionalPos.com, Jakarta- Koperasi Merah Putih, sebuah gerakan ekonomi berbasis desa yang diinisiasi oleh pemerintah, mendapatkan sambutan positif dari masyarakat. Koperasi ini sungguh sungguh sebagai solusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama yang bertinggal di wilayah pedesaan, dan bahkan bisa mengurangi ketergantungan pada tengkulak serta rentenir, demikian di sampaikan Faris Galuh Pratama Koordinator Gerakan Masyarakat Berdikari …
23 Jul 2025 1.288 views
NasionaPos.com, Jakarta- Diperoleh informasi yang menyebutkan adanya indikasi oknum Kementerian Perhubungan RI yang di duga menciptakan suasana tidak kondusif untuk menyelesaikan permasalahan di kalangan ojol, Sinyalemen itu nampak ketika bakal di gelar nya FGD yang di laksanakan oleh Kementerian Perhubungan RI yang nampak nya mengundang para pihak yang selama ini berkaitan erat dengan permasalahan …
09 Jul 2025 1.253 views
NasionalPos.com, Jakarta- Totok Ketua Forum Mahasiswa Jakarta Peduli Perumahan Rakyat, kepada wartawan, ia mengatakan bahwa dirinya mendapatkan informasi telah terjadi kekerasan itu terjadi bukan hanya sekali, namun berulang kali dialami warga pemilik dan penghuni Rusunami Gading Nias Residence, Kelapa Gading (hanya sekitar 10% warga sesuai klaim dari Pengurus PPPSRS), dan nampaknya kejadian itu sudah berlangsung …
31 Okt 2024 1.156 views
Banyuwangi – Nasionalpos.com ll Gerah terhadap pemberitaan yang menyudutkan Muhammad Murni (35) warga Kelurahan Klatak Kecamatan Kalipuro Kab Banyuwangi dengan judul berita ” Aksi Koboy Warga Todong Menggunakan Senpi Ke Jukir” menggelar jumpa pers dengan beberapa awak media di Banyuwangi . Jumpa pers itu di geber , Kamis (31/10/2024) siang di warung Mbok Judges …



Comments are not available at the moment.