Home » Headline » Saat Akademisi Tak Berjarak dengan Kekuasaan

Saat Akademisi Tak Berjarak dengan Kekuasaan

Dhio Justice Law 13 Sep 2026 103

Oleh: Ridwan Umar

(Direktur Lentera Keadilan Indonesia – laki)

 

NasionalPos.com, Jakarta – Dulu, kampus adalah tempat yang paling sering digunakan untuk mempertanyakan kekuasaan.

Di ruang dan forum akademik, kebijakan penguasa dibedah, angka diuji, narasi resmi dicurigai, dan keputusan politik diperdebatkan dan ditantang dengan argumen ilmiah

Ironis, kini kampus justru semakin sering diminta berjalan searah dengan negara. Perguruan tinggi harus mendukung agenda strategis nasional. Riset harus berdampak. Inovasi harus dihilirkan.

Akademisi didorong menjadi bagian dari solusi atas persoalan pangan, energi, kemiskinan, kesehatan, teknologi, dan pembangunan.

Semua terdengar masuk akal.

Tetapi ada satu pertanyaan yang tak boleh hilang: Seberapa dekat akademisi boleh berdiri dengan kekuasaan tanpa kehilangan nyali untuk mengatakan bahwa kekuasaan bisa salah?

Negara membutuhkan ilmu pengetahuan. Pemerintah membutuhkan para ahli. Pembangunan memang memerlukan kolaborasi kampus, pemerintah, industri, dan masyarakat.

Masalahnya bukan kedekatan.

Masalahnya adalah ketika kolaborasi berubah menjadi ketergantungan.

Ketika hibah pemerintah menjadi sumber utama penelitian, akses kepada pejabat menjadi modal karier, dan jabatan publik menjadi ukuran pengaruh akademik, independensi mulai memiliki harga.

Di titik itu, riset bisa bergeser secara halus. Pertanyaan yang dipilih menjadi pertanyaan yang aman. Kesimpulan dilunakkan. Kritik berubah menjadi rekomendasi. Penelitian yang semestinya menguji kebijakan justru berakhir sebagai dokumen pembenar kebijakan.

Baca Juga :  Menteri Perdagangan Apresiasi Polres Pelabuhan Tanjungperak Ungkap Barang Impor Ilegal Senilai 9,8 M

Lalu, kampus pun berisiko berubah menjadi laboratorium pembenaran. Padahal ilmu pengetahuan tidak selalu lahir dari pertanyaan yang disukai penguasa.

Mengapa kemiskinan tidak turun meskipun anggaran meningkat?

Mengapa program yang dinilai berhasil secara statistik gagal dirasakan sebagian masyarakat?

Mengapa pembangunan menghasilkan pertumbuhan sekaligus memperlebar ketimpangan?

Mengapa kebijakan atas nama kepentingan publik justru menyingkirkan sebagian warga?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin mengganggu pemerintah. Tetapi justru karena itulah ia penting.

 

Akademisi bukan oposisi dan juga bukan humas pemerintah

Tugas akademisi bukan mengatakan pemerintah selalu salah, melainkan memastikan bahwa pemerintah tidak selalu dianggap benar.

Jika kebijakan berhasil, katakan berhasil. Jika gagal, katakan gagal. Jika datanya kurang, katakan kurang.

Kebenaran ilmiah tidak boleh berubah mengikuti siapa yang sedang berkuasa.

Karena itu, independensi akademik bukan berarti kampus harus menjauh dari negara. Kampus boleh duduk satu meja dengan pemerintah. Akademisi boleh menjadi penasihat, anggota tim kebijakan, bahkan masuk ke dalam pemerintahan.

Tetapi ada jarak yang tidak boleh hilang: jarak intelektual.

Jarak itulah yang memungkinkan seorang akademisi bekerja sama dengan kekuasaan sekaligus mengkritiknya.

Maka solusinya bukan memisahkan kampus dari pemerintah dengan tembok tinggi. Yang dibutuhkan adalah pagar institusional yang tegas.

Pertama, pendanaan penelitian harus transparan. Publik perlu tahu siapa yang membiayai penelitian dan apakah ada kepentingan yang melekat di baliknya.

Baca Juga :  Firli Bahuri Memang Mantul, Digoyang Malah Tangkap Koruptor

Kedua, konflik kepentingan wajib dibuka. Jabatan, hubungan kelembagaan, dan sumber pendanaan tidak boleh disembunyikan ketika seorang akademisi memberikan pendapat publik.

Ketiga, peneliti harus dilindungi ketika hasil penelitian bertentangan dengan kepentingan pemberi dana. Penelitian yang hanya boleh menghasilkan kesimpulan yang menyenangkan bukanlah penelitian, melainkan pesanan.

Keempat, kampus harus memberi penghargaan lebih besar kepada keberanian intelektual, bukan sekadar kedekatan dengan pusat kekuasaan.

Dan yang paling penting: jangan biarkan seluruh ekosistem penelitian bergantung pada satu sumber kekuasaan.

Semakin beragam sumber pendanaan, semakin besar ruang bagi akademisi untuk berkata tidak.

 

Negara kuat butuh kampus Independen

Negara yang kuat membutuhkan kampus yang mampu menunjukkan kesalahannya sebelum kesalahan itu menjadi bencana.

Sebab kritik akademik bukan ancaman bagi pembangunan. Ia adalah mekanisme koreksi pembangunan.

Maka pertanyaannya bukan apakah akademisi boleh dekat dengan kekuasaan.

Boleh. Bahkan kadang perlu.

Tetapi setiap kali akademisi mendekati kekuasaan, ia harus membawa satu hal yang tidak boleh ditinggalkan di pintu kekuasaan: jarak kritis.

Sebab ketika kampus berhenti menguji kekuasaan dan mulai sibuk membenarkannya, yang runtuh bukan hanya independensi akademik.

Yang runtuh adalah salah satu benteng terakhir masyarakat untuk bertanya: apakah kekuasaan sedang melakukan hal yang benar? (X)

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Hari Sumpah Pemuda ke 98 Harapkan Pemuda Berjiwa Patriotik, Gigih, Berempati dan Berakhlak Mulya.

dito

28 Okt 2026

NasionalPos.com, Jakarta- 98 tahun yang lalu para pemuda Indonesia mengikrarkan janji yang menyatukan perbedaan, menguatkan perjuangan, dan melahirkan tekad untuk berdiri sebagai satu bangsa.   Semangat tersebut dinilai harus tetap hidup dan mewujud dalam pembangunan manusia, begitu pula yang di sampaikan Oleh Dr KH Yusuf Aman MA Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Propinsi DKI …

Poros Rawamangun Ingatkan Kadis Pendidikan DKI Jakarta, Jangan Main-Main Soal Dana Revitalisasi SDN 05 Baru PS Rebo”

dito

28 Okt 2026

NasionalPos.com, Jakarta-  Revitalisasi gedung SDN Baru 05 Pagi di Pasar Rebo, Jakarta Timur, yang kondisi gedungnya sangat memprihatinkan itu, ditargetkan oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di mulai September 2026 ini, setelah proses perencanaannya berjalan sejak 2023, Akan tetapi hingga saat ini, revitalisasi yang sudah di siapkan dananya Rp 101 Milyar tersebut, belumlah berjalan pembangunan …

Tutup Kejuaraan Taekwondo Piala Dansat Siber TNI: Ini Pesan Ketum PPM-LVRI Berto

dito

27 Okt 2026

NasionalPos.com, Binjai- Tim Taekwondo Tiger Sumatra Binjai meraih juara umum Kejuaraan Taekwondo Piala Dansat Siber TNI yang ditutup Ketua Umum Pemuda Panca Marga (PPM), Berto Izak Deko, di Gedung Olahraga (GOR) Kota Binjai, Jalan Jambi, Minggu (25 Oktober 2026).   Kejuaraan perdana yang digelar Tiger Sumatra Binjai itu diikuti atlet, pelatih, dan penonton dengan antusias. …

Poros Rawamangun Sorot Kualitas Kinerja Inspektorat Pemprov DKI Jakarta Terhadap Dua Proyek Pengadaan di DKI Jakarta

dito

27 Okt 2026

NasionalPos. com, Jakarta-  Tekad Pemprov DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Pramono, untuk membersihkan di kalangan Pemprov DKI Jakarta dari tindak pidana korupsi, ternyata masih terganjal dengan adanya temuan dua kasus yang hingga saat ini belum ada penetapan tersangka nya, yakni Dua proyek pengadaan di lingkungan Pemprov DKI Jakarta yang di temukan oleh BPK.   …

Poros Rawamangun Desak Aparat Hukum, Usut Rp 50 Milyar APBD 2026 Pemprov DKI Jakarta, Untuk Pembangunan RSUD Cakung

dito

24 Okt 2026

NasionalPos.com, Jakarta-  Terkait dengan adanya temuan dugaan adanya dana Rp 50 Milyar bersumber dari APBD Tahun Anggaran 2026 Pemprov DKI Jakarta, yang semestinya peruntukkannya membangun Rumah Sakit Daerah Cakung, yang total membutuhkan biaya Rp 400 milyar, namun hingga saat ini pembangunan fisiknya belum ada,   Maka kepada wartawan, Rudy Darmawanto SH Ketua Umum Poros Rawamangun, …

Momentum Peringatan Hari Santri Nasional, Jadikan Santri Berani dan punya Kemampuan Hadapi Tantangan Zaman

dito

21 Okt 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Gagasan awal mengenai Hari Santri diusulkan oleh kalangan pesantren, yang kemudian diperkuat usulannya oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), yang kemudian di resmikan oleh Presiden Jokowi, bahwa tanggal 22 Oktober di tetapkan sebagai Hari Santri Nasional  melalui Keppres Nomor 22 Tahun 2015 guna mengenang jasa para ulama dan santri.   Terkait dengan situasi …

x
x