- HeadlineHari Sumpah Pemuda ke 98 Harapkan Pemuda Berjiwa Patriotik, Gigih, Berempati dan Berakhlak Mulya.
- HeadlinePoros Rawamangun Ingatkan Kadis Pendidikan DKI Jakarta, Jangan Main-Main Soal Dana Revitalisasi SDN 05 Baru PS Rebo”
- daerahFoto Disebar dan Dituduh Berutang, Anggun Anesya Seret Pelaku ke Jalur Hukum
- daerahTak Terima Pohon Damar Dicuri : Warga Pekon Way Sindi Hanuan Tempuh Jalur Hukum
- HeadlineTutup Kejuaraan Taekwondo Piala Dansat Siber TNI: Ini Pesan Ketum PPM-LVRI Berto

Saat Akademisi Tak Berjarak dengan Kekuasaan
Oleh: Ridwan Umar
(Direktur Lentera Keadilan Indonesia – laki)
NasionalPos.com, Jakarta – Dulu, kampus adalah tempat yang paling sering digunakan untuk mempertanyakan kekuasaan.
Di ruang dan forum akademik, kebijakan penguasa dibedah, angka diuji, narasi resmi dicurigai, dan keputusan politik diperdebatkan dan ditantang dengan argumen ilmiah
Ironis, kini kampus justru semakin sering diminta berjalan searah dengan negara. Perguruan tinggi harus mendukung agenda strategis nasional. Riset harus berdampak. Inovasi harus dihilirkan.
Akademisi didorong menjadi bagian dari solusi atas persoalan pangan, energi, kemiskinan, kesehatan, teknologi, dan pembangunan.
Semua terdengar masuk akal.
Tetapi ada satu pertanyaan yang tak boleh hilang: Seberapa dekat akademisi boleh berdiri dengan kekuasaan tanpa kehilangan nyali untuk mengatakan bahwa kekuasaan bisa salah?
Negara membutuhkan ilmu pengetahuan. Pemerintah membutuhkan para ahli. Pembangunan memang memerlukan kolaborasi kampus, pemerintah, industri, dan masyarakat.
Masalahnya bukan kedekatan.
Masalahnya adalah ketika kolaborasi berubah menjadi ketergantungan.
Ketika hibah pemerintah menjadi sumber utama penelitian, akses kepada pejabat menjadi modal karier, dan jabatan publik menjadi ukuran pengaruh akademik, independensi mulai memiliki harga.
Di titik itu, riset bisa bergeser secara halus. Pertanyaan yang dipilih menjadi pertanyaan yang aman. Kesimpulan dilunakkan. Kritik berubah menjadi rekomendasi. Penelitian yang semestinya menguji kebijakan justru berakhir sebagai dokumen pembenar kebijakan.
Lalu, kampus pun berisiko berubah menjadi laboratorium pembenaran. Padahal ilmu pengetahuan tidak selalu lahir dari pertanyaan yang disukai penguasa.
Mengapa kemiskinan tidak turun meskipun anggaran meningkat?
Mengapa program yang dinilai berhasil secara statistik gagal dirasakan sebagian masyarakat?
Mengapa pembangunan menghasilkan pertumbuhan sekaligus memperlebar ketimpangan?
Mengapa kebijakan atas nama kepentingan publik justru menyingkirkan sebagian warga?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin mengganggu pemerintah. Tetapi justru karena itulah ia penting.
Akademisi bukan oposisi dan juga bukan humas pemerintah
Tugas akademisi bukan mengatakan pemerintah selalu salah, melainkan memastikan bahwa pemerintah tidak selalu dianggap benar.
Jika kebijakan berhasil, katakan berhasil. Jika gagal, katakan gagal. Jika datanya kurang, katakan kurang.
Kebenaran ilmiah tidak boleh berubah mengikuti siapa yang sedang berkuasa.
Karena itu, independensi akademik bukan berarti kampus harus menjauh dari negara. Kampus boleh duduk satu meja dengan pemerintah. Akademisi boleh menjadi penasihat, anggota tim kebijakan, bahkan masuk ke dalam pemerintahan.
Tetapi ada jarak yang tidak boleh hilang: jarak intelektual.
Jarak itulah yang memungkinkan seorang akademisi bekerja sama dengan kekuasaan sekaligus mengkritiknya.
Maka solusinya bukan memisahkan kampus dari pemerintah dengan tembok tinggi. Yang dibutuhkan adalah pagar institusional yang tegas.
Pertama, pendanaan penelitian harus transparan. Publik perlu tahu siapa yang membiayai penelitian dan apakah ada kepentingan yang melekat di baliknya.
Kedua, konflik kepentingan wajib dibuka. Jabatan, hubungan kelembagaan, dan sumber pendanaan tidak boleh disembunyikan ketika seorang akademisi memberikan pendapat publik.
Ketiga, peneliti harus dilindungi ketika hasil penelitian bertentangan dengan kepentingan pemberi dana. Penelitian yang hanya boleh menghasilkan kesimpulan yang menyenangkan bukanlah penelitian, melainkan pesanan.
Keempat, kampus harus memberi penghargaan lebih besar kepada keberanian intelektual, bukan sekadar kedekatan dengan pusat kekuasaan.
Dan yang paling penting: jangan biarkan seluruh ekosistem penelitian bergantung pada satu sumber kekuasaan.
Semakin beragam sumber pendanaan, semakin besar ruang bagi akademisi untuk berkata tidak.
Negara kuat butuh kampus Independen
Negara yang kuat membutuhkan kampus yang mampu menunjukkan kesalahannya sebelum kesalahan itu menjadi bencana.
Sebab kritik akademik bukan ancaman bagi pembangunan. Ia adalah mekanisme koreksi pembangunan.
Maka pertanyaannya bukan apakah akademisi boleh dekat dengan kekuasaan.
Boleh. Bahkan kadang perlu.
Tetapi setiap kali akademisi mendekati kekuasaan, ia harus membawa satu hal yang tidak boleh ditinggalkan di pintu kekuasaan: jarak kritis.
Sebab ketika kampus berhenti menguji kekuasaan dan mulai sibuk membenarkannya, yang runtuh bukan hanya independensi akademik.
Yang runtuh adalah salah satu benteng terakhir masyarakat untuk bertanya: apakah kekuasaan sedang melakukan hal yang benar? (X)
dito
28 Okt 2026
NasionalPos.com, Jakarta- 98 tahun yang lalu para pemuda Indonesia mengikrarkan janji yang menyatukan perbedaan, menguatkan perjuangan, dan melahirkan tekad untuk berdiri sebagai satu bangsa. Semangat tersebut dinilai harus tetap hidup dan mewujud dalam pembangunan manusia, begitu pula yang di sampaikan Oleh Dr KH Yusuf Aman MA Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Propinsi DKI …
dito
28 Okt 2026
NasionalPos.com, Jakarta- Revitalisasi gedung SDN Baru 05 Pagi di Pasar Rebo, Jakarta Timur, yang kondisi gedungnya sangat memprihatinkan itu, ditargetkan oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di mulai September 2026 ini, setelah proses perencanaannya berjalan sejak 2023, Akan tetapi hingga saat ini, revitalisasi yang sudah di siapkan dananya Rp 101 Milyar tersebut, belumlah berjalan pembangunan …
dito
27 Okt 2026
NasionalPos.com, Binjai- Tim Taekwondo Tiger Sumatra Binjai meraih juara umum Kejuaraan Taekwondo Piala Dansat Siber TNI yang ditutup Ketua Umum Pemuda Panca Marga (PPM), Berto Izak Deko, di Gedung Olahraga (GOR) Kota Binjai, Jalan Jambi, Minggu (25 Oktober 2026). Kejuaraan perdana yang digelar Tiger Sumatra Binjai itu diikuti atlet, pelatih, dan penonton dengan antusias. …
dito
27 Okt 2026
NasionalPos. com, Jakarta- Tekad Pemprov DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Pramono, untuk membersihkan di kalangan Pemprov DKI Jakarta dari tindak pidana korupsi, ternyata masih terganjal dengan adanya temuan dua kasus yang hingga saat ini belum ada penetapan tersangka nya, yakni Dua proyek pengadaan di lingkungan Pemprov DKI Jakarta yang di temukan oleh BPK. …
dito
24 Okt 2026
NasionalPos.com, Jakarta- Terkait dengan adanya temuan dugaan adanya dana Rp 50 Milyar bersumber dari APBD Tahun Anggaran 2026 Pemprov DKI Jakarta, yang semestinya peruntukkannya membangun Rumah Sakit Daerah Cakung, yang total membutuhkan biaya Rp 400 milyar, namun hingga saat ini pembangunan fisiknya belum ada, Maka kepada wartawan, Rudy Darmawanto SH Ketua Umum Poros Rawamangun, …
dito
21 Okt 2026
NasionalPos.com, Jakarta- Gagasan awal mengenai Hari Santri diusulkan oleh kalangan pesantren, yang kemudian diperkuat usulannya oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), yang kemudian di resmikan oleh Presiden Jokowi, bahwa tanggal 22 Oktober di tetapkan sebagai Hari Santri Nasional melalui Keppres Nomor 22 Tahun 2015 guna mengenang jasa para ulama dan santri. Terkait dengan situasi …
21 Nov 2024 2.540 views
NASIONALPOS.com II Banyuwangi, 20 November 2024 – Kasus penipuan dan pemerasan yang mengatasnamakan media Tribunnews kembali terjadi. Kali ini, pelaku yang diduga bernama Noviar Arya Putra, bersama dengan kontak bernama Tiara, berhasil menipu korban melalui aplikasi WhatsApp. Modus yang digunakan kali ini mengarah pada ancaman penyebaran video asusila yang direkam secara video call (VC). …
19 Sep 2025 1.942 views
Pesisir Selatan, Nasionalpos.com — Musyawarah Kabupaten (Muskab) Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), sukses digelar di Aula Kantor Camat Lengayang pada Kamis (18/9) siang. Acara tersebut dimulai pukul 13.30 WIB dan berlangsung hingga selesai dengan lancar dan penuh semangat kebersamaan antar sesama insan pencak silat. Muskab kali ini …
28 Jul 2025 1.693 views
NasionalPos.com, Jakarta- Koperasi Merah Putih, sebuah gerakan ekonomi berbasis desa yang diinisiasi oleh pemerintah, mendapatkan sambutan positif dari masyarakat. Koperasi ini sungguh sungguh sebagai solusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama yang bertinggal di wilayah pedesaan, dan bahkan bisa mengurangi ketergantungan pada tengkulak serta rentenir, demikian di sampaikan Faris Galuh Pratama Koordinator Gerakan Masyarakat Berdikari …
17 Mei 2022 1.684 views
NasionalPos.com, Depok– Diperoleh informasi yang menyebutkan bahwa Pangdivif 1 Kostrad yang baru, Brigjen TNI Bobby Rinal Makmun sebelumnya menjabat sebagai Kepala Staf Kodam (Kasdam) Jaya menggantikan Mayjen TNI Dedy Kusmayadi akan masuki masa Pensiun, secara resmi di lantik langsung oleh Panglima Kostrad (Pangkostrad) Letjen TNI Maruli Simanjuntak, M.Sc., dalam suatu upacara serah terima jabatan (Sertijab) …
23 Jul 2025 1.594 views
NasionaPos.com, Jakarta- Diperoleh informasi yang menyebutkan adanya indikasi oknum Kementerian Perhubungan RI yang di duga menciptakan suasana tidak kondusif untuk menyelesaikan permasalahan di kalangan ojol, Sinyalemen itu nampak ketika bakal di gelar nya FGD yang di laksanakan oleh Kementerian Perhubungan RI yang nampak nya mengundang para pihak yang selama ini berkaitan erat dengan permasalahan …
09 Jul 2025 1.539 views
NasionalPos.com, Jakarta- Totok Ketua Forum Mahasiswa Jakarta Peduli Perumahan Rakyat, kepada wartawan, ia mengatakan bahwa dirinya mendapatkan informasi telah terjadi kekerasan itu terjadi bukan hanya sekali, namun berulang kali dialami warga pemilik dan penghuni Rusunami Gading Nias Residence, Kelapa Gading (hanya sekitar 10% warga sesuai klaim dari Pengurus PPPSRS), dan nampaknya kejadian itu sudah berlangsung …
31 Okt 2024 1.347 views
Banyuwangi – Nasionalpos.com ll Gerah terhadap pemberitaan yang menyudutkan Muhammad Murni (35) warga Kelurahan Klatak Kecamatan Kalipuro Kab Banyuwangi dengan judul berita ” Aksi Koboy Warga Todong Menggunakan Senpi Ke Jukir” menggelar jumpa pers dengan beberapa awak media di Banyuwangi . Jumpa pers itu di geber , Kamis (31/10/2024) siang di warung Mbok Judges …



Comments are not available at the moment.