Home » Headline » Mematahkan Belenggu”Independen” Produk Orba

Mematahkan Belenggu”Independen” Produk Orba

dito 11 Jun 2023 114

NasionalPos.com, Jakarta-Bung Karno mengatakan bahwa untuk mewujudkan negara Indonesia yang mampu mendatangkan kesejahteraan sosial, maka kita perlu bergotong royong. Gotong royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Ho- lopis-kuntul baris buat kepentingan bersama, demikian disampaikan Yulianto Widirahardjo Presidium GMNI periode 1996 – 1999 kepada pers, Minggu, 11 Juni 2023 di Jakarta.

“Itulah gotong royong. Ucapan Bung Karno sangat relevan bagi kita yang mengaku murid sekaligus pengikut Bung Karno menghadapi kondisi bangsa saat ini yang akan melaksanakan hajatan pemilihan umum di tahun 2024.”ucap Yulianto.

Pemilu itu lanjut Yulianto, bukan sekedar ritual demokrasi untuk memilih pemimpin politik, namun juga ruangan untuk memperjuangkan, menanamkan dan mengamalkan seluruh gagasan bernegara dan seluruh gagasan ideologis Bung Karno kepada seluruh rakyat Indonesia. Sehingga sepatutnya seluruh anak ideologis yang tersebar diberbagai organisasi kemasyarakatan bersatu padu dan bergotong royong memenangkan dan mewujudkannya. Ruslan Abdulgani, salah satu murid/pengikut Bung Karno yang pernah jadi jubir usman usdek (Urusan Manifestasi Politik, UUD, Sosial, Demokrasi) mengatakan bahwa organisasi itu perlu kader atau dalam bahasa perancis disebut cadre yang artinya frame atau bingkai.

Menurut Yulianto, agar organisasi kuat, kader itu harus punya militansi dan rasa semangat bersama (spirit de corps), senasib, solidaritas dan saling membantu. Organisasi-organisasi Front Marhaenis (GMNI, PEMUDA DEMOKRAT/GPM, KESATUAN BURUH MARHAENIS, LEMBÀGA KEBUDAYAAN NASIONAL, PETANI, IKATAN SARJANA REPUBLIK INDONESIA, PERWANAS) pada jamannya dikenal sebagai organisasi yang mempunyai kader kader militan dan mempunyai semangat korsa yang tinggi.

Terbukti ditindas regim Soeharto/ORBA dengan desoekarnoisasinya selama 32 tahun lebih, organisasi-organisasi front marhaenis tetap eksis sampai sekarang, Untuk mengontrol massa dari organisasi-organisasi yang kritis, kemudian regim ORBA menerbitkan paket UU politik yang sàlahsatunya adàlah UU nomor 8 tahun 1985 tentang organisasi kemasyarakatan.

“Didalam UU tersebut ada klausul independensi organisasi yang tujuannya memisahkan anggota ormas dari partai politik. Anggota organisasi “dipaksa” menjadi massa mengambang. Tujuan dari UU nomor 8/1985 itu berhasil. Bahkan sampai sekarang masih hidup di alam bawah sadar dari para anggota dan pimpinan ormas-ormas tidak terkecuali ormas dari Front Marhaenis.”ungkap Yulianto

Lebih Lanjut Yulianto mengungkapkan, bahwa dalam teori organisasi, dua orang atau lebih membentuk atau masuk ke dalam suatu organisasi karena adanya kesamaan keyakinan batin (Value/norma/nilai) dan atau kesamaan kepentingan pragmatis. Oleh karèna adanya kesamaan idiologis dan kesamaan kepentingan yang harus terwujud maka seluruh anggota punya kewajiban untuk berjuang bersama sama.

Baca Juga :  PPDB, Perlu Evaluasi Kuota dan Jangkauan Jalur Zonasi

Sehat dan tidaknya suatu organisasi dapat terlihat dari keaktifan dan kesolidan anggota organisasi tersebut. Organisasi sebagai entitas “hidup” yang didalamnya ada idiologi sebagai “jiwa”nya tentunya mempunyai sikap yang menunjukkan elan vitale guna menghadapi tantangan hidup organisasi tersebut.

Organisasi sebagai “entitas” hidup punya makna bahwa organisasi itu seperti mahluk hidup, ia (organisasi) bisa berkembang secara fisik dengan jumlah anggota yang makin besar dan juga berkembang secara psikis dengan makin dewasa menyikapi perkembangan sosial politik yang ada guna memperjuangkan kepentingan organisasi—utamanya kepentingan anggota.

“Maka semua organisasi pada hari ini pasti menyikapi fenomena sosial politik yang ada, apalagi di era dimana dunia global dan ekonomi sedang tidak baik baik saja. Semua organisasi hari ini juga sedang memaksimalkan energi semangat hidupnya (elan vitale) agar bisa tetap hidup ditengah ketidakpastian politik dan ekonomi. “tukas Yulianto.

Maka menjadi aneh, sambung Yulianto, ketika organisasi Front Marhaenis yang tertindas pada era ORBA, ketika menghadapi pertempuran idiologis yang secara nyata terlihat di konstetasi pemilu 2024 mengartikan diksi “indepedent” sebagai sikap netral terhadap perkembangan dan dinamika politik dengan alasan anggotanya ada diberbagai partai politik. Nampaknya ada beberapa pimpinan organisasi Front Marhaenis yang tidak memahami organisasi sebagai “entitas” hidup sehingga seharusnya mempunyai sikap —yang merupakan perwujudan sikap mayoritas anggota—. Sikap organisasi itu berbeda dengan sikap individu anggota.

Yulianto juga menyampaikan seharusnya para pemimpin organisasi organisasi marhaenis berani lepas dari bayang-bayang regulasi organisasi kemasyarakatan produk Orba soal independensi. Apalagi sekarang regulasi tersebut telah diganti dengan UU nomor 17 tahun 2013.

Maka wacana independensi sudah kurang relevan dibandingkan wacana organisasi memperjuangkan kepentingan idiologi dan kepentingan sosial politiknya yang ujungnya adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat. Apalagi pada konstetasi Pemilihan Presiden 2024, dimana salah satu calon Presiden yang akan berkonstetasi adalah kader marhaenis yakni Bung Ganjar Pranowo yang telah merasàkan pahit getirnya perjuangan di era ORBA. Perjalanan kepemimpinan politik bung Ganjar Pranowo sangat bervariasi dari lembaga legislatif hingga eksekutif — Gubernur Jawa Tengah dua periode.

“Hal yang perlu diperhatikan, Bung Ganjar dijadikan bacapres oleh PDIP bukan semata mata keinginan ketua umum PDIP, tetapi lebih dari keinginan rakyat banyak yang tergambar dari hasil survey/polling beberapa lembaga survey dan konsultan politik yang memotret elektabilitas Ganjar di kisaran 32%.”tandas Yulianto.

Baca Juga :  Kebangkitan Nasional Diwujudkan Dengan Pemberdayaan Wanita

Sehingga, imbuh Yulianto, pilihan PDIP untuk mencapreskan Bung Ganjar adalah pilihan politik yang sangat rasional secara idiologis maupun politis. Keinginan rakyat dipimpin Presiden Ganjar Pranowo didasarkan oleh sikap, empati dan komitmennya ketika memimpin provinsi Jawa Tengah.

Hal tersebut dibuktikannya dengan berbagai program yang mengangkat ekonomi, harkat dan martabat kaum marhaen, komitmen kuat untuk menjaga NKRI dari rongrongan teroris, radikalisasi dan intoleransi, serta pelaksanaan berbagai program yang terinspirasi ajaran marhaenisme. Keinginan rakyat inilah yang akhirnya mewujud dalam bentuk beraneka organisasi relawan pendukung dan pemenangan Ganjar Presiden di berbagai daerah di seluruh nusantara.

Membanjirnya dukungan rakyat kepada Bung Ganjar merupakan momentum yang belum tentu dua puluh atau tiga puluh tahun lagi terjadi. Ini momentum yang sangat berharga bagi organisasi organisasi Front Marhaenis untuk revival (hidup kembali) dari kondisi mati segan, hiduppun tak mau. Momentum yang berharga untuk mengkonsolidasikan barisan dan menyatukan yang tercerai berai. Momentum yang sangamarhaenist bernilai untuk menerapkan ajaran marhaenisme pada program pembangunan nasional.

“Tetapi semuanya itu akan dapat terjadi bila para pimpinan organisasi organisasi Front Marhaneis punya kesadaran mendorong organisasi front marhaenis bersikap jelas mendukung bung Ganjar Jadi Presiden, bersikap jelas solidaritasnya terhadap perjuangan sesama kader , bersikap jelas semangat jiwa korsa (spirit de’corps).Tanpa kejelasan sikap, solidaritas dan spirit de’corps kepada sesama pejuang marhaenis, maka ruang ruang potensi kekuasaan di sekitar bung Ganjar akan terisi oleh kekuatan kekuatan sosial politik lainnya.”tegas Yulianto.

Diakhir perbincangannya dengan wartawan, Yulianto juga menyampaikan bahwa dirinya melakukan kritik oto kritik terhadap organisasi organisasi Front Marhaenis dimana dirinya menjadi anggota salah satu organisasi berazaskan marhaenisme. yang sedang berusaha bangkit kembali. Maka baginya diksi “independen” yang masih sering diutarakan pada wacana gerakan, merupakan belenggu yang harus dipatahkan.

“Dalam konstelasi politik hari ini, organisasi organisasi Front Marhaenis normalnya sudah semestinya menunjukkan sikap keberpihakannya kepada kader marhaenis yang sedang berjuang menjadi Presiden guna mewujudkan cita cita Bapak Marhaenisme, yakni mewujudkan negara yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur, karena itu mari kita beersatu, karena BERSATU KITA KUAT – KUAT KARENA BERSATU.”pungkas Yulianto.

 

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
PRJ 2026 Tak Berpihak ke Warga Jakarta, Poros Rawamangun Desak Pemprov DKJ Evaluasi PRJ 2026

dito

15 Jun 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Jakarta Fair 2026 atau Pekan Raya Jakarta sudah di buka oleh Gubernur Pramono Anung pada tgl 12 Juni 2026 merupakan Event yang sudah dilaksanakan sejak tahun 1968 silam, dan untuk tahun 2026 ini, merupakan pelaksanaannya ke 57 kalinya.   Adapun untuk tahun ini, harga tiket masuk ajang pameran tahunan ini dibanderol mulai dari …

PPM – LVRI Gandeng Pemerintah Turki Jalin Kerjasama Bidang Pendidikan, Kebudayaan dan Dunia Usaha

dito

14 Jun 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Pimpinan Pusat Pemuda Panca Marga (PP PPM – LVRI) menggandeng pemerintah Turki dalam rangka menjalin kerjasama di bidang Pendidikan dan kebudayaan antar kedua negara sebagai bagian dari upaya PPM – LVRI menjawab peluang dan kebutuhan dalam masyarakat.   Jalinan kerjasama tersebut ditandai dengan pertemuan silaturahmi yang dihadiri oleh Ketua Umum PP PPM – …

Jelang Muktamar NU: Sebaiknya Cak Imin Fokus Besarkan PKB, Daripada Bertarung di NU

dito

12 Jun 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Di tengah semakin semarak nya situasi menjelang penyelenggaraan Muktamar NU yang rencananya di laksanakan pada tahun 2026 ini,   Tersiar info, mengenai para kandidat calon Ketum PBNU, salah satunya, dikabarkan Gus Imin ketua umum PKB akan maju di muktamar NU, demikian di sampaikan Damuri Fikri pengamat politik kepada wartawan, Jumat, 12/6/2026 di Jakarta. …

‘Mas Bahlil Ganteng’ dan Transformasi Politik Golkar

Dhio Justice Law

12 Jun 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia-LAKI) NasionalPos.com, Jakarta – Indonesia saat ini, seorang politikus tidak harus terlihat negarawan untuk menjadi populer. Cukup viral. Fenomena lagu “Mas Bahlil Ganteng” memperlihatkan bagaimana politik perlahan bergeser dari arena gagasan menuju arena hiburan digital. Yang bekerja bukan lagi kedalaman visi, melainkan kekuatan algoritma. Bukan seberapa kuat argumentasi seorang …

MBG dan Pesta Babi Kekuasaan

Dhio Justice Law

11 Jun 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia – LAKI)  NasionalPos.com, Jakarta – Program makan bergizi gratis (MBG) awalnya dijual sebagai wajah belas kasih negara. Sebuah janji tentang kepedulian terhadap rakyat kecil, tentang anak-anak yang harus diselamatkan dari lapar dan ketimpangan. Tetapi di tengah munculnya dugaan keterlibatan keluarga sejumlah pejabat tinggi dalam pusaran proyek MBG, publik …

H. Bagus Machdiantoro Kembali Terpilih Secara Aklamasi sebagai Ketua Umum BBC Periode 2026-2031

Suryana Korwil Jabar

07 Jun 2026

Bandung, NasionalPos.com – H. Bagus Machdiantoro kembali dipercaya memimpin organisasi BBC untuk periode 2026-2031. Ia terpilih secara aklamasi dalam forum pertanggungjawaban dan pemilihan kepengurusan yang digelar di Hotel Horison, Jalan Pelajar Pejuang, Kota Bandung, Minggu (7/6/2026). Terpilihnya kembali H. Bagus menjadi momentum penting bagi organisasi yang telah berdiri sejak tahun 1956 tersebut. Dalam wawancara usai …

x
x