MENDALAMI NASIB BANGSA KEDEPAN (Sebuah Perenungan Obyektif).

- Editor

Selasa, 9 Juli 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

NasionalPos.com, Jakarta- Merenung dikedalaman malam seraya berserah diri  kepadaNya, adalah pilihan langkah yang perlu dan tepat  dilakukan  kader bangsa, guna mengarungi, memahami dan mendalami kisah dramatik yg sedang berkecamuk di negeri bumi pertiwi ini. Perenungan yg jernih membantu lahirnya pikiran dan gagasan strategis kedepan yang obyektif, demikian di sampaikan Kristiya Kartika kepada wartawan, Selasa, 9/7/2024 di Jakarta

“ Terkait dengan kondisi saat ini, saya mencermatinya, sesungguhnya Substansi apa dibalik peristiwa di sekitar Pemilu dan Pilpres 2024 dan mungkin juga akan terjadi lagi saat Pilkada nanti, yg bisa dimanfaatkan untuk tetap dipertahankannya persatuan, kesatuan dan kemajuan bangsa ? Langkah apa yg paling sesuai dan tepat untuk dilakukan sebagai antisipasi positif-obyektif yg bermanfaat bagi kepentingan mayoritas massa rakyat ?” ucap Dr Kristiya Kartika.

Itulah lanjutnya, beberapa pertanyaan utama yang kini terus menggoda nurani kader bangsa, dibalik bergejolaknya berbagai tindakan reaktif yang makin kritis, ditambah tuntutan sederhana, sehingga situasi tersebut, dapat di gambarkan dengan apa yang di tuturkan melalui bahasa populer serta kongkrit dari seorang seniman Iwan Fals melalui lagu lamanya yang kini digelorakan lagi oleh Seniman Jogja asal Baturaja, Sumsel, Tri Suaka “manusia setengah dewa”. Lagu tersebut kini kembali banyak disuarakan lagi oleh kalangan seniman/ kaum muda dan aktivis kampus.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Mengapa itu kembali di suarakan kembali, tentunya ada kegelisahan dan bahkan harapan terhadap lahirnya seorang Presiden yang perkasa tapi tegas dan konsisten berpihak pada kepentingan rakyat yg hampir selalu menjadi obyek penderita di berbagai babakan perjalanan negeri ini.” Tutur Dr Kristiya Kartika mantan Ketua Umum Presidium GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) dua periode

Dr Kartika lebih lanjut mengungkapkan bahwa dirinya mencermati situasi saat ini, yang nampaknya memunculkan fenomena betapa sulitnya Seseorang berpikir obyektif, padahal salah satu metode untuk membuahkan pemikiran yg benar, tepat serta terbukti  berguna secara riil, harus diawali oleh sikap sang pemikir yang berani keluar dari lingkup yg sedang mendominasi keadaan secara maksimum.

Sikap obyektif bisa dikelompokkan sebagai sikap yang mandiri, meskipun mungkin kerap dianggap kurang populer. Dan berbeda dengan kriteria orang yang tidak bersikap, atau ikut yg menguntungkan nanti, adapun Berpikir mandiri, bisa dilukiskan seseorang yang sudah punya pilihan sikap sebelum terjadi sesuatu yang memancing dan melahirkan beberapa pilihan group yang mendukung atau menolak.

“Seseorang yg mandiri, berpikir keras apa yang diperkirakan akan terjadi lagi di masa depan yang “lebih strategis” atau “lebih menentukan”, setelah terjadi suatu peristiwa yang melahirkan kemungkinan “pembelahan” sikap tersebut, “ungkap Dr Kristiya Kartika.

Fenemona tersebut, sambungnya, terjadi Pada peristiwa yang mayoritas masyarakat bersikap menyayangkan atau mengecam lantaran banyak sikap dan kebijakan yg tidak wajar dan tidak jujur disekitar Pemilu dan Pilpres 2024, masih ada kalangan tertentu dari mereka yang   menyayangkan atau mengecam situas Pilpres maupun Pileg 2024 lalu, namun menjadi kelompok minoritas atau sedikit sekali seseorang untuk mencoba berpikir lebih jauh kedepan demi kepentingan yang  lebih mendasar yakni tidak ada perpecahan atas NKRI, dan mereka tersebut lebih berpikir untuk Kepentingan di masa mendatang, yang sesungguhnya merupakan kepentingan mayoritas massa-rakyat, yakni kepentingan tetap utuhnya NKRI merupakan muara darI segala kepentingan insan di Nusantara ini.

Baca Juga :   Dibalik Bencana Kebakaran Depo Plumpang, Antara Kepentingan Bisnis, Politik & Kemanusiaan?

“Namun realitasnya, tidak semua orang berpikir untuk kepentingan negara, bahkan lebih banyak kuantitasnya cenderung berpikir untuk kepentingan suatu kelompok, kepentingan kekuasaan yang oligarkis atau bahkan kepentingan corporasi yang mengabaikan kepentingan bangsa dan negara, ini sungguh memprihatinkan.”tukas Dr Kristiya Kartika.

Padahal, imbuh Dr Kritiya Kartika,  Ada berbagai latar belakang yg menjadi pertimbangan agar keutuhan NKRI tetap terwujud. Nilai perjuangan yg dirumuskan, digelorakan dan dipertahankan oleh perintis kemerdekaan hingga para pahlawan adalah warisan nilai  -nilai dasar idiologi Pancasila yg mutlak dilestarikan, Nilai-nilai budaya, tata-krama, sikap rela berkorban demi kepentingan Negara dll, yang semestinya menjadi motto perjuangan ditengah-tengah bergeraknya masyarakat global kearah yang semakin sulit diprediksi kepastiannya.

“Karena unsur-unsur terpenting eksistensi sebuah negara adalah Wilayah, Pemerintahan dan Rakyat, maka kader bangsa yg sportif dengan argumentasi apapun harus menolak perpecahan wilayah NKRI, perpecahan pemerintahan NKRI dan perpecahan rakyat diseluruh nusantara.”tukas Dr Kristiya

Dr Kristiya Kajian juga menjelaskan bahwa  kajian strategis atas posisi pentingnya peran “Negara” dan disisi lain diperlukannya iklim “demokratisasi” kedepan, telah mencapai semacam kesimpulan bahwa keduanya sesungguhnya memiliki saling keterkaitan untuk kepentingan sebuah Negara dan rakyatnya.  Ada kelebihan sekaIigus kelemahan jika suatu negara memerankan posisi strategisnya dalam mengelola dan melaksanakan pembangunan kepada Pemerintah atau Negara saja.

Demikian juga sebaliknya jika peran strategis tersebut dilaksanakan dengan mengandalkan kekuatan utamanya kepada demokrasi/kebebasan yg substansinya diwarnai liberalisasi-kapitalisasi serta peran swasta semata, nah, menurutnya, dengan berakhirnya era kepemimpinan Presiden/wakil presiden saat ini pada 20 Oktober yang akan datang, bersamaan dengan momentum lahirnya era kepemimpinan baru.

Sebagai penyelenggara Pemilihan Umum, KPU sudah menetapkan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka sebagai Presiden/Wakil Presiden baru. Pertanyaan yg segera mencuat, setelah MPR melantik kepemimpinan baru, apakah diprediksi NKRI makin maju, biasa-biasa saja, atau malah mundur  ??!!

“Dalam menganalisis kepemimpinan seseorang  kedepan, kita perlu menggunakan pendekatan dalam banyak perspektif yang obyektif,  seperti aspek kultural-peradaban diri dan keluarganya, latar belakang pendidikan, pengalaman hidup, komunitas pergaulan dan lingkungan hidup serta lainnya. “ kata Dr Kristiya Kartika.

Lebih lanjut Dr Kristiya mengatakan dengan memahami beberapa latar belakang dan pengalaman hidup seseorang secara relatif lengkap, kita akan bisa memprediksi bagaimana  sikap seseorang jika suatu saat nanti suatu keadaan kritis menjadi tanggungjawabnya.  Sikap dan dukungan kepada capres/ cawapres dalam pemilu yang adil dan jujur, pertama-tama harus memperhatikan hal-hak diatas selain juga mempertimbangkan aspek Partai atau koalisi pendukungnya.

Baca Juga :   Yonmarhanlan IV Resmi Menduduki Kota Batam

Begitu juga jika setelah diputuskan pasangan yg terpilih, perspektif realitas sikap harus didasarkan pada kepentingan yg paling dibutuhkan komunitas luas bangsa, yakni tetap terpeliharanya persatuan bangsa. Bukan perpecahan Indonesia !!!

Menurutnya, berdasarkan kriteria-kriteria obyektif diatas, kita harus berani berpraduga bahwa seorang Prabowo dengan segala latar belakangnya, masih bisa menjadi Presiden yang menomorsatukan terpeliharanya persatuan Indonesia yg didalamnya meliputi pemerintah, wilayah, dan rakyat. Sementara untuk memajukan bangsa Indonesia terutama dalam dimensi pembangunan ekonomi-industri,  masih tetap diperlukan dukungan, kreasi serta partisipasi elemen-elemen strategis lainnya.

Dengan demikian, saat ini setelah kita mengalami konflik kepentingan yg luas melalui forum pemilu dan pilpres 2024, kemarin, tantangan terbesarnya adalah terhindarnya perpecahan kesatuan dan persatuan bangsa. Kemajuan ekonomi-industri yang didukung oleh pembangunan pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak mungkin diwujudkan jika perpecahan bangsa dan negara terjadi. Sebaliknya dengan modal utama persatuan bangsa dan negara, kemajuan ekonomi-industri serta penguasaan ilmu dan teknologi memungkinkan untuk diraih.

“Seorang Prabowo dengan latar belakang kultural keluarga yg tidak monolitik, seperti antara lain agama, suku bangsa dan didukung pendidikan kemiliteran dengan mengutamakan metode berpikir cinta bangsa, disiplin-tegas dan disiplin instruksional atasan, masih bisa dijadikan harapan menjaga Indonesia dari perpecahan, “tandas Dr Kristiya Kartika

Dia juga mengatakan bahwa Dalam psikologi politik berlaku asas : “sebab-sebab didalam lebih menentukan dari pada pengaruh2 dari luar”. Karenanya pengaruh lingkungan dari luar dimasa setelah dewasa, termasuk lingkungan terdekatnya, atas diri seseorang Prabowo masih bisa terkalahkan oleh bibit-bibit sikap / sifat yg mengalir deras dalam darahnya sejak awal dan melekat dalam dirinya sejak kecil/muda.

Namun yang juga menentukan kondisi Indonesia dimasa pasca Jokowi adalah penataan ketatanegaraan dan kemasyarakatan serta penegakan hukum melalui pemberlakuan secara effektif budaya tata krama manusia berdasarkan nilai-nilai dasar Pancasila, yang perlu segera di tata ulang dalam konstitusi melalui kembalinya UUD 1945 ke  bentuk asli yang disertai sedikit penyempurnaan.

Selain masalah tata kenegaraan tersebut, jika di cermati dari dimensi kaderisasi bangsa, ada pengalaman yg harus dijadikan “aksioma politik”. Latar belakang kala muda dari seorang kader bangsa dibidang keprajuritan “lebih menjanjikan” untuk mengutamakan kepentingan rakyat saat kader itu menjabat Presiden, dari pada pengalaman masa muda seseorang dibidang lainnya, termasuk kader bisnis semata, yang  tanpa sentuhan politik kebangsaan dalam aktivitas sebelumnya,

“Sehingga dengan demikian apa yang kami kemukakan ini merupakan sebuah permenungan yang diharapkan dapat menjadi bahan untuk mendalami nasib bangsa ke depan, menjadi bangsa yang maju kah, atau malah mengalami kemunduruan, apakah menjadi Indonesia Emas atau Cemas? Ya, mari kita renungkan bersama-sama, jangan tanyakan pada rumput yang bergoyang, tapi tanyakan ke masing-masing pribadi setiap anak bangsa pemilik negeri Indonesia yang pada tahun 2045 mendatang berusia 100 Tahun”pungkas Dr Kristiya Kartika yang Kini aktif dalam Forum Urun Rembuk Aliansi Kebangsaan

Loading

Berita Terkait

492 Catar Akpol Gladi Bersih Tes Akademik dan Asesmen Mental Ideologi
Dua Narapidana dari Lapas kelas IIA Jember di pindahkan ke Lapas Kelas IIA Banyuwangi.
Diduga Kepengurusan Yayasan Trisakti Bikinan Pemerintah, Melakukan Pembohongan Publik”
TNI AL Memanggil Putra Putri Terbaik Bangsa Untuk Bergabung
Komisi VIII Desak Pemerintah Tertibkan Penggunaan Visa Non-Haji untuk Ibadah Haji
Kebakaran Kilang Minyak Unit Balikpapan Diselidiki Labfor Mabes Polri
Di Usianya ke 21, Diharapkan FSAB Semakin Berinovasi Tebarkan Benih Perdamaian
Erupsi Gunungapi Ruang: Kepala BNPB Tinjau Lokasi Pengungsian Warga di Pulau Siau

Berita Terkait

Minggu, 14 Juli 2024 - 14:07 WIB

492 Catar Akpol Gladi Bersih Tes Akademik dan Asesmen Mental Ideologi

Selasa, 9 Juli 2024 - 21:52 WIB

MENDALAMI NASIB BANGSA KEDEPAN (Sebuah Perenungan Obyektif).

Sabtu, 6 Juli 2024 - 06:28 WIB

Dua Narapidana dari Lapas kelas IIA Jember di pindahkan ke Lapas Kelas IIA Banyuwangi.

Minggu, 30 Juni 2024 - 13:41 WIB

Diduga Kepengurusan Yayasan Trisakti Bikinan Pemerintah, Melakukan Pembohongan Publik”

Jumat, 14 Juni 2024 - 17:52 WIB

TNI AL Memanggil Putra Putri Terbaik Bangsa Untuk Bergabung

Kamis, 6 Juni 2024 - 20:20 WIB

Komisi VIII Desak Pemerintah Tertibkan Penggunaan Visa Non-Haji untuk Ibadah Haji

Sabtu, 1 Juni 2024 - 16:27 WIB

Kebakaran Kilang Minyak Unit Balikpapan Diselidiki Labfor Mabes Polri

Minggu, 26 Mei 2024 - 00:42 WIB

Di Usianya ke 21, Diharapkan FSAB Semakin Berinovasi Tebarkan Benih Perdamaian

Berita Terbaru