Home » Headline » Negara di Era Perang Narasi: Disinformasi: Senjata Tak Kasat Mata Yang Melumpuhkan (2)

Negara di Era Perang Narasi: Disinformasi: Senjata Tak Kasat Mata Yang Melumpuhkan (2)

Dhio Justice Law 28 Apr 2026 145

Oleh: Ridwan Umar

(Direktur Lentera Keadilan Indonesia – LAKI)

NasionalPos.com, Jakarta – Perang modern tidak selalu dimulai dengan serangan fisik.
Ia sering kali dimulai dari sesuatu yang tampak sepele: informasi yang dipelintir.

Di era digital, peluru pertama bukanlah rudal—melainkan narasi.
Dan yang ditembak bukan tubuh, tetapi persepsi.

Disinformasi bekerja tanpa suara, tanpa jejak yang kasat mata, namun dengan daya rusak yang sistematis. Ia tidak merobohkan gedung, tetapi menghancurkan fondasi yang jauh lebih vital: kepercayaan. Ketika kepercayaan runtuh, negara tidak perlu diserang—ia akan melemah dari dalam.

Polanya sederhana, tetapi efektif. Fakta dipotong. Konteks digeser. Emosi disuntikkan.
Hasilnya bukan sekadar kesalahan informasi, melainkan konstruksi realitas baru yang terasa benar bagi mereka yang ingin mempercayainya.

Dalam hitungan jam, sebuah peristiwa bisa kehilangan makna aslinya.
Yang semula informasi berubah menjadi provokasi.
Yang semula fakta menjadi bahan bakar mobilisasi.
Dan yang semula perbedaan pendapat menjelma konflik terbuka.

Disinformasi tidak membutuhkan kebenaran untuk bekerja.
Ia hanya membutuhkan kredibilitas semu dan momentum psikologis.

Baca Juga :  Terima Delegasi Jepang, Gobel Ajak Berinvestasi dengan Konsep Berwawasan Lingkungan

Lebih jauh lagi, ia memanfaatkan kelemahan paling manusiawi: kecenderungan untuk mempercayai apa yang selaras dengan keyakinan sendiri. Di titik ini, disinformasi tidak lagi sekadar alat eksternal, tetapi menjadi bagian dari mekanisme internal masyarakat itu sendiri. Orang tidak hanya menerima informasi yang salah—mereka ikut menyebarkannya dengan keyakinan penuh.

Inilah yang membuat disinformasi jauh lebih berbahaya dibanding propaganda konvensional. Ia tidak terasa sebagai ancaman, karena sering kali datang dalam bentuk yang familiar: unggahan teman, potongan video, atau narasi yang “terasa benar”.

Dalam masyarakat yang terpolarisasi, dampaknya berlipat ganda.
Kebenaran tidak lagi diuji melalui fakta, tetapi melalui afiliasi.
Apa yang benar ditentukan oleh siapa yang berbicara, bukan oleh apa yang disampaikan.

Di titik ini, ruang publik berubah fungsi.
Ia bukan lagi tempat pertukaran gagasan, tetapi arena pertarungan persepsi.

Dan ketika persepsi menjadi medan perang, batas antara kebenaran dan kebohongan menjadi kabur. Negara yang gagal menjaga kejernihan ruang informasi akan menghadapi ancaman yang tidak bisa dihadapi dengan kekuatan militer semata.

Baca Juga :  Forum Evaluasi Indeks Pembangunan Kebudayaan Dibuka Deputi Gubernur Bidang Kebudayaan & Pariwisata Prov.DKI Jakarta

Lebih berbahaya lagi, disinformasi menciptakan ilusi partisipasi.
Masyarakat merasa sedang terlibat dalam proses demokrasi, padahal yang terjadi adalah manipulasi opini secara massal. Diskursus publik tampak hidup, tetapi sesungguhnya digerakkan oleh arus yang tidak terlihat.

Di sinilah letak paradoksnya: semakin terbuka sebuah masyarakat, semakin rentan ia terhadap infiltrasi narasi. Keterbukaan tanpa ketahanan informasi hanya akan mempercepat penyebaran distorsi.

Negara yang tidak menganggap disinformasi sebagai ancaman strategis akan selalu tertinggal.
Bukan karena kekurangan sumber daya, tetapi karena salah membaca medan tempur.

Sebab ini bukan lagi soal siapa yang memiliki senjata paling kuat,
melainkan siapa yang mampu mengendalikan makna.

Dan dalam perang seperti ini, waktu menjadi faktor yang menentukan.
Satu narasi yang dibiarkan tanpa koreksi selama beberapa jam bisa berkembang menjadi keyakinan kolektif.
Satu langkah keterlambatan bisa berubah menjadi kehilangan kendali.

Pada akhirnya, disinformasi bukan sekadar masalah komunikasi.
Ia adalah persoalan kedaulatan.

Negara yang kehilangan kendali atas narasi, pada dasarnya telah kehilangan sebagian dari dirinya sendiri. (X)

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
40 Perusahaan China Jangan Ditutupi Pergantian Menteri

Dhio Justice Law

19 Sep 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia – LAKI) NasionalPos.com, Jakarta – isu 40 perusahaan asal China diduga tidak mematuhii kewajiban pajak tidak boleh berakhir sebagai pernyataan pejabat yang kemudian tenggelam dalam pergantian kekuasaan.Pemerintah tidak boleh diam. Jika dugaan tersebut memiliki dasar pemeriksaan dan data yang dapat dipertanggungjawabkan, maka pemerintah wajib menjelaskan kepada publik. Bukan …

Akademisi dan Aktivis Ajak Bersatu Lawan Impunitas Di Acara Aksi Kamisan ke 925

dito

18 Sep 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Pada aksi massa kamisan ke 925 , di depan istana Negara Jakarta, Kamis, 17 September 2026 kemarin. Selain di hadiri oleh ratusan orang dari kalangan aktivis Hak Azasi Manusia, mahasiswa, akademisi, para pencari keadilan Hak Azasi Manusia, hadir juga seorang dosen senior Paulus Januar, yang menyampaikan kuliah jalanan. Dalam orasinya, Paulus Januar menyampaikan …

Sekda Pimpin Rapat Persiapan HUT ke-25 Kota Lubuk Linggau

Andi Ledi Lubuk Linggau

17 Sep 2026

NASIONALPOS.COM-LUBUK LINGGAU-Wali Kota Lubuk Linggau, H Rachmat Hidayat diwakili Sekretaris Daerah, H Trisko Defriyansa memimpin rapat persiapan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 Kota Lubuk Linggau Tahun 2026, di Op Room Dayang Torek, Pemkot Lubuk Linggau, Kamis (17/9/2026). Rapat tersebut digelar sebagai langkah awal untuk mematangkan berbagai persiapan rangkaian kegiatan HUT ke-25 Kota Lubuk Linggau …

KPK Didesak Klarifikasi Status Hukum Jaksa Syahrul

Dhio Justice Law

15 Sep 2026

NasionalPos.com, Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) didesak untuk terbuka soal status hukum Jaksa Syahrul dalam perkara korupsi yang menjerat Bupati Hulu Sungai Utara (HSU), Abdul Wahid. “Kami baru saja menyerahkan surat perihal Permintaan Klarifikasi dan Tindak Lanjut Hukum dalam Putusan Nomor 17/Pid.Sus-TPK/2022/PN.Bjm. Surat ini juga kami tembuskan kepada Jaksa Agung dan Jaksa Agung Muda …

PERISTIWA POLITIK DAN PENGARUH GEOPOLITIK GLOBAL.

dito

14 Sep 2026

Di tulis dan di sampaikan oleh Dr Kristiya Kartika        Salah satu Pengamat Politik dan Mantan Pejabat Pemerintah Moch. Said Didu menganalisis secara terbuka bahwa dalam gejolak politik akhir-akhir ini, peran tokoh politik dan mantan Penguasa yang didukung Oligarki domestik dan asing cukup strategis.   Jaringan aktivitas pergerakan regional dan domestik menurutnya juga …

Saat Akademisi Tak Berjarak dengan Kekuasaan

Dhio Justice Law

13 Sep 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia – laki)   NasionalPos.com, Jakarta – Dulu, kampus adalah tempat yang paling sering digunakan untuk mempertanyakan kekuasaan. Di ruang dan forum akademik, kebijakan penguasa dibedah, angka diuji, narasi resmi dicurigai, dan keputusan politik diperdebatkan dan ditantang dengan argumen ilmiah Ironis, kini kampus justru semakin sering diminta berjalan searah …

x
x