Home » Headline » Prabowo Pahamilah Filosofi Siri’ Na Pacce

Prabowo Pahamilah Filosofi Siri’ Na Pacce

Dhio Justice Law 12 Nov 2025 481

Oleh: Ridwan Umar

(Sekjen Gerakan Daulat Bumiputera dan Direktur Lentera Keadilan Indonesia-LAKI)

 

NasionalPos.com, Jakarta – Himbauan Presiden Prabowo Subianto kepada rakyat untuk menghormati pemimpin dan mantan pemimpin dengan cara mengangkat setinggi-tingginya kebaikannya dan memendam kekurangannya, masih menjadi bahan perdebatan di tengah masyarakat.

Bagi publik, pernyataan Prabowo saat peresmian Pabrik Lotte Chemical Indonesia di Cilegon, Banten, Kamis (6/11/2025) tersebut, tentu memiliki makna atau pesan mendalam mengingat posisinya sebagai kepala negara.

Terlebih, himbauan Prabowo itu dibalut dalam kalimat filosofi Jawa, yakni mikul duwur mendem jero atau kurang lebih diartikan memikul (menjunjung) tinggi kehormatan (leluhur, orangtua, guru atau pemimpin) dan mengubur (menyembunyikan atau menutup dalam) aib, kekurangan, kesalahan leluhur, orangtua, guru atau pemimpin. Sampai disitu, tentu publik bisa menerima makna luhur dan mulia dibalik kalimat tersebut.

Namun, kalimat berikutnya yang dilontarkan Prabowo menyinggung kedekatannya dengan mantan Presiden Jokowi yang sedang dikritik keras publik terkait sejumlah dugaan skandal korupsi, kolusi, nepotisme (KKN), tak pelak membuat geram publik.

Prabowo pun menyebut Jokowi sebagai hopeng (dialek hokkian, Tionghoa yang berarti teman baik). Disisi lain, Prabowo juga menyatakan bertanggungjawab penuh atas kisruh pembayaran hutang proyek kereta cepat Woosh yang diduga ada mark-up dan ditengarai menyeret Jokowi, Luhut dan Erick Thohir.

Prabowo menyatakan akan menggunakan uang rakyat melalui pajak untuk melunasi hutang Indonesia kepada China terkait proyek kereta cepat Woosh.

Pernyataan itupun dimaknai publik sebagai upaya Prabowo untuk ‘pasang badan’ melindungi Jokowi, keluarganya dan kroninya yang diduga terseret sejumlah kasus KKN dan dugaan kebohongan publik serta pelanggaran konsitusi terkait ijazah Presiden Jokowi dan sang anak Gibran Rakabuming Raka yang kini menjabat wapres. Kini, kasus ijazah Jokowi telah menjadikan Rismon Cs sebagai tersangka fitnah dan sebelumnya Gus Nur dan Bambang Tri telah dibui.

 

Raja Majapahit Tak Anti Kritik

Baca Juga :  Pangdam Kasuari Hadiri Perayaan 14 Tahun Berdirinya Kabupaten Maybrat

Jika kritik rakyat yang dilontarkan kepada pemimpinnya dimaknai sebagai sikap tidak sopan atau tidak menghormati pemimpin dan dianggap bertentangan dengan filosofi mikul duwur mendem jero, maka mari kita coba bercermin pada kisah legendaris Raja Majapahit Hayam Wuruk.

Dikisahkan, seorang pejabat tinggi keagamaan Buddha bernama Mpu Prapanca mengkritik sang Raja Hayam Wuruk penganut agama Hindu Siwa karena diangap tak adil pada rakyatnya.

Raja Hayam Wuruk yang beragama Hindu Siwa lebih mementingkan pembangunan dan pemeliharaan tempat ibadah Umat Hindu Siwa. Lalu, Mpu Prapanca mewakili umat Buddha mengirim surat kepada Raja Hayam Wuruk sebagai bentuk ‘protes’ atau kritik. Menerima kritik dari bawahannya yang mewakili sebagian rakyatnya itu, Raja Hayam Wuruk tidak tersinggung apalagi marah. Dengan bijak, Raja Hayam Wuruk bukan hanya menerima kritik itu, tapi langsung menindaklanjuti dengan bersikap adil soal pembangunan dan pemeliharaan tempat ibadah semua agama yang dianut rakyatnya.

Di sisi lain, dalam budaya Jawa juga dikenal tapa pepe atau ritual mengadu kepada raja. Tradisi tapa pepe di Kraton Yogyakarta Hadiningrat merupakan perwujudan dari sikap jiwa besar dari sang raja yang mau mendengar keluhan rakyatnya.

Rakyat atau abdi dalem berhak menyampaikan keluhan atau aspirasi langsung kepada sang raja dengan menggelar tapa pepe, caranya duduk berjemur di bawah terik matahari di Alun-alun Kraton.

Ritual tapa pepe ini, tampaknya ada kemiripan dengan cara mahasiswa atau masyarakat yang menggelar aksi protes di depan gedung parlemen atau kantor pemerintahan.

Maka sepatutnya, pemimpin negeri ini bisa mencontoh para leluhur yang bijak dalam memimpin. Pemimpin sejati tak boleh marah apalagi represif juga tak boleh sekedar mendengar tapi menindaklanjuti keinginan rakyatnya dengan penuh tanggungjawab.

 

Filosofi Siri’ Na Pacce

Sebenarnya, setiap leluhur suku-suku di negeri tercinta ini telah mewariskan nilai-nilai luhur nan mulia bagi penerusnya. Tak satupun nilai buruk yang diajarkan, bukan hanya untuk kemaslahatan suku atau golongan tapi juga dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Baca Juga :  Ketua KNPI Sijunjung & Istrinya Memakai Sabu di Ruko Milik Orangtuanya.

Akan halnya suku Bugis – Makassar yang memegang teguh falsafah hidup siri’ na pacce. Dalam lontara La Toa yang berisi petuah-petuah (paseng), makna siri’ adalah harga diri atau kehormatan atau bisa bermakna pernyataan sikap yang tidak serakah terhadap kehidupan duniawi. Sedangkan makna pacce adalah rasa empati atau soliditas terhadap sesama anggota komunitas yang dalam konsep bernegara bisa dimaknai soliditas sesama anak bangsa.

Dalam kehidupan sosial bermasyarakat, suku Bugis- Makassar dituntut memiliki keberanian, pantang menyerah sehingga memiliki orientasi yang sanggup menghadapi semua tantangan hidup.

Karena itu, suku Bugis – Makassar berpedoman pada paseng leluhur yakni senantiasa berkata benar (ada’ tongeng), jujur atau bersikap lurus (lempu), memiliki sikap, keyakinan dan pendirian (getteng), saling menghormati (sipakatuo), pasrah/tawakkal pada kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa (mappesona ri dewata seuwae).

Itulah wujud dari filosofi siri’ na pace yang dipegang teguh suku Bugis – Makassar untuk menjaga kehormatan dan soliditas antarsesama. Seorang keturunan Bugis – Makassar harus berani mengatakan kebenaran dihadapan pemimpin. Sebaliknya, pemimpin harus berani menanggung resiko dari kesalahan yang telah dilakukan, misalnya dengan meminta maaf atau mengundurkan diri dan menanggung dampak hukum atas perbuatannya. Pemimpin tak boleh larut dan haus pujian.

Bercermin dari hal di atas, maka pemimpin sejati itu tidak anti kritik dan pantang berlindung dibalik filosofi mulia leluhur demi mempertahankan kekuasaan. Demi harga diri, seorang pemimpin sejati harus mengutamakan kemaslahatan bangsa diatas kepentingan hopeng, kelompok dan keluarga.

Maka, selayaknya Presiden Prabowo lebih memahami filosofi dari berbagai suku di negeri ini, termasuk siri’ na pacce dari Bugis – Makassar.

 

Wallahu a’lam bishawab

(Tulisan ini disari dari beragam sumber)

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
PRJ 2026 Tak Berpihak ke Warga Jakarta, Poros Rawamangun Desak Pemprov DKJ Evaluasi PRJ 2026

dito

15 Jun 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Jakarta Fair 2026 atau Pekan Raya Jakarta sudah di buka oleh Gubernur Pramono Anung pada tgl 12 Juni 2026 merupakan Event yang sudah dilaksanakan sejak tahun 1968 silam, dan untuk tahun 2026 ini, merupakan pelaksanaannya ke 57 kalinya.   Adapun untuk tahun ini, harga tiket masuk ajang pameran tahunan ini dibanderol mulai dari …

PPM – LVRI Gandeng Pemerintah Turki Jalin Kerjasama Bidang Pendidikan, Kebudayaan dan Dunia Usaha

dito

14 Jun 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Pimpinan Pusat Pemuda Panca Marga (PP PPM – LVRI) menggandeng pemerintah Turki dalam rangka menjalin kerjasama di bidang Pendidikan dan kebudayaan antar kedua negara sebagai bagian dari upaya PPM – LVRI menjawab peluang dan kebutuhan dalam masyarakat.   Jalinan kerjasama tersebut ditandai dengan pertemuan silaturahmi yang dihadiri oleh Ketua Umum PP PPM – …

Jelang Muktamar NU: Sebaiknya Cak Imin Fokus Besarkan PKB, Daripada Bertarung di NU

dito

12 Jun 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Di tengah semakin semarak nya situasi menjelang penyelenggaraan Muktamar NU yang rencananya di laksanakan pada tahun 2026 ini,   Tersiar info, mengenai para kandidat calon Ketum PBNU, salah satunya, dikabarkan Gus Imin ketua umum PKB akan maju di muktamar NU, demikian di sampaikan Damuri Fikri pengamat politik kepada wartawan, Jumat, 12/6/2026 di Jakarta. …

‘Mas Bahlil Ganteng’ dan Transformasi Politik Golkar

Dhio Justice Law

12 Jun 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia-LAKI) NasionalPos.com, Jakarta – Indonesia saat ini, seorang politikus tidak harus terlihat negarawan untuk menjadi populer. Cukup viral. Fenomena lagu “Mas Bahlil Ganteng” memperlihatkan bagaimana politik perlahan bergeser dari arena gagasan menuju arena hiburan digital. Yang bekerja bukan lagi kedalaman visi, melainkan kekuatan algoritma. Bukan seberapa kuat argumentasi seorang …

MBG dan Pesta Babi Kekuasaan

Dhio Justice Law

11 Jun 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia – LAKI)  NasionalPos.com, Jakarta – Program makan bergizi gratis (MBG) awalnya dijual sebagai wajah belas kasih negara. Sebuah janji tentang kepedulian terhadap rakyat kecil, tentang anak-anak yang harus diselamatkan dari lapar dan ketimpangan. Tetapi di tengah munculnya dugaan keterlibatan keluarga sejumlah pejabat tinggi dalam pusaran proyek MBG, publik …

H. Bagus Machdiantoro Kembali Terpilih Secara Aklamasi sebagai Ketua Umum BBC Periode 2026-2031

Suryana Korwil Jabar

07 Jun 2026

Bandung, NasionalPos.com – H. Bagus Machdiantoro kembali dipercaya memimpin organisasi BBC untuk periode 2026-2031. Ia terpilih secara aklamasi dalam forum pertanggungjawaban dan pemilihan kepengurusan yang digelar di Hotel Horison, Jalan Pelajar Pejuang, Kota Bandung, Minggu (7/6/2026). Terpilihnya kembali H. Bagus menjadi momentum penting bagi organisasi yang telah berdiri sejak tahun 1956 tersebut. Dalam wawancara usai …

x
x