Home » Headline » Taubatan Nasuha Usai Tangis Presiden Prabowo

Taubatan Nasuha Usai Tangis Presiden Prabowo

Dhio Justice Law 12 Des 2025 166

Oleh: Ridwan Umar

(Direktur Lentera Keadilan Indonesia-LAKI)

                       

NasionalPos.com, Jakarta – Bencana dan longsor yang melanda Provinsi Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Utara menyebabkan jatuhnya ribuan korban jiwa baik yang meninggal maupun luka-luka dan hilangnya harta  serta rusaknya infrastruktur dan fasilitas umum.

Pasca bencana, ada pekerjaan berat yang menanti, yakni pemulihan psikologis dari trauma yang dialami dan pemulihan ekonomi para korban selamat. Bencana yang sudah menjadi sorotan dunia itu, telah menghentikan denyut perekonomian sehingga dipastikan berdampak buruk pada stabilitas keuangan di tiga provinsi tersebut.

Bantuan penanganan saat bencana dan pasca bencana dipastikan membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Negara harus menyelesaian semua itu ditengah ketidakstabilan ekonomi akibat maraknya korupsi 10 tahun terakhir yang ditandai tingginya angka pengangguran dan kemiskinan hingga memaksa pemerintah harus berhemat, Inilah ujian berat bagi negeri tercinta ditahun awal era kepemimpinan Presiden Prabowo.

 

Tangis Pemimpin ditengah Bencana

Penderitaan yang menimpa jutaan warga di tiga provinsi tersebut akibat banjir dan longsor, membuat hati terenyuh. Air mata tak terbendung meyaksikan penderitaan dan upaya bertahan hidup saudara-saudara kita melalui tayangan dan pemberitaan di media-media konvensional serta video klip di sosial media.

Betapa tidak, para korban harus kelaparan dan menahan dahaga saat kehilangan keluarga serta harta benda dalam sekejap. Beberapa warga harus berjalan puluhan kilometer untuk mencari keluarganya yang hilang.

Tak sedikit warga terisolasi lantaran akses jalan yang tertutup longsor dan kayu-kayu gelondongan. Tak ada penerangan listrik dan komunikasi putus sehingga harus melewati gelap dan dinginnya malam. Mereka harus berjibaku untuk mempertahankan hidup sambil menahan pedihnya hati kehilangan orang-orang yang dicintai.

Tak tahan menyaksikan penderitaan rakyatnya, Presiden Prabowo akhirnya menangis. Sang Jendral yang akrab disapa 08 itu terlihat tak mampu menahan pilu hingga suara serak dan menahan tangis. Peristiwa itu disaksikan publik saat 08 menutup rapat terbatas dengan sejumlah pejabat teras sipil dan militer di Posko Pusat bencana pada Minggu (7/12/2025) malam di Aceh.

Pemandangan serupa juga disaksikan publik saat Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau akrab disapa Mualem berlinangan air mata hingga tak mampu berkata-kata saat diwawancara jurnalis Najwa Shihab.

Tangis kedua sosok pemimpin itu menunjukkan betapa dalam rasa sakit yang dirasakan. Publik mengetahui 08 adalah seorang mantan militer bahkan sempat menjabat Komandan Kopassus dan Pangkostrad sedangkan Gubernur Aceh pun mantan Panglima GAM (Gerakan Aceh Merdeka).

Baca Juga :  Semangat Positif Membangun Jakarta, Harus DiMiliki Insan Pers

Keduanya pernah berhadap-hadapan bertaruh nyawa di medan tempur yang sama, sehingga tak dipungkiri jika keduanya memiliki mental yang kuat menghadapi situasi berat. Nyatanya, bencana banjir dan longsor yang menelan korban jiwa rakyatnya, tak mampu membendung air matanya. ‘Pertahanan’ keduanya jebol setelah menyaksikan sendiri penderitaan rakyatnya.

Ya, baik Prabowo dan Gubernur Aceh hanya manusia biasa yang memiliki nurani, Saat menyaksikan penderitaan saudaranya, maka air mata pasti tak terbendung.

Meski air mata pemimpin telah tumpah, namun jika para pembantunya abai dan tak ada langkah tegas dan nyata, maka semua jadi sia-sia.

 

Buruknya Komunikasi Pejabat

Bencana banjir dan longsor di tiga provinsi tersebut membuat sebagian rakyat negeri ini diluar wilayah bencana tergerak untuk mengulurkan bantuan. Mereka tak hanya bisa menangis, tapi langsung turun ke lokasi bencana sebagai relawan dan membuka donasi.

Rakyat yang empati atas musibah yang menimpa saudara sebangsa pun langsung merespon dengan memberi donasi melalui para relawan. Bagi para donatur, jika tak mampu terjun ke lokasi bencana, maka semoga bantuan dana seberapapun besarnya bisa membantu meringankan beban para korban.

Itulah watak asli rakyat negeri ini yang tak tega jika menyaksikan ada saudaranya yang menderita. Rasa persaudaraan bukan hikayat, tapi nyata melekat pada diri setiap anak negeri.

Ironisnya, langkah mulia yang diawali niat baik itu bukannya diapresiasi justru dinilai negatif dimata pejabat. Anggota DPRRI, Endipat Wijaya dari Fraksi Gerindra menganggap gerakan relawan dengan mengumpulkan donasi bermotif untuk menjatuhkan citra pemerintah. Pernyataan Endipat itu dilontarkan saat Raker bersama Kementerian Komdigi, Senin (8/12/2025). Niat baik rakyat untuk membantu para korban, malah dipolitisasi.

Padahal, publik sudah menyaksikan betapa konyolnya perilaku sejumlah pejabat eksekutif dan legislatif dalam merespon bencana di tiga provinsi tersebut. Seperti Menko Pangan, Zulkifli Hasan yang memanggul beras dan anggota DPR dari Fraksi PAN, Verrel Bramasta yang dinilai publik sebagai pencitraan memuakkan di tengah bencana.

Belum lagi, pernyataan-pernyataan para pembantu Presiden lainnya, seperti Menteri BUMN Bahlil Lahadalia yang menyatakan PLN telah siap 93 persen di Aceh, nyatanya justru sebaliknya.

Baca Juga :  Menanti Realisasi RDF Skala Perkotaan

Komunikasi publik yang buruk para pejabat di tengah bencana ini seolah menjadi pelengkap penderitaan bagi rakyat. Para pejabat tak sadar, jika mereka bukan selebriti yang butuh sensasi dan bukan raja yang tak boleh salah, melainkan pelayan rakyat yang wajib hadir dan berbuat nyata di tengah bencana. Tak ada yang istimewa dengan kehadiran pejabat di tengah bencana, karena mereka digaji dan diberi fasilitas dari uang rakyat, sehingga wajib melayani semua kepentingan rakyat yang merupakan majikannya.

 

Saatnya Bertaubat dan Tindakan Nyata   

Bagi publik, bencana banjir dan longsor tersebut tak lepas dari ulah para perusak lingkungan. Data perusahaan-perusahaan tambang dan perkebunan yang selama ini merampas hak tanah adat dan perusak ekosistem sudah terpampang jelas di mata publik.

Para pengusaha hitam bersama sejumlah pejabat korup berkomplot merusak lingkungan. Hukum dijadikan alat untuk melegalkan perusakan lingkungan.

Allah SWT memberi berkah negeri ini dengan kekayaan alam yang berlimpah untuk dijaga dan dimanfaatkan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, bukan untuk memperkaya segelintir orang dengan merusak ekosistem.

Ingat, hutan itu adalah rumah dan tempat tumbuh kembang jutaan tumbuhan dan hewan. Manusia sebagai Khalifah di muka bumi ini memiliki kewajiban untuk menjaganya, bukan merusak dan merampas hak hidup makhluk lain.

Bencana dan longsor ini adalah peringatan keras dari Allah SWT bagi negeri ini untuk segera sadar dan memperbaiki diri atas kerusakan yang sudah terjadi. Jika bencana ini tak dijadikan peringatan dari Allah Yang Maha Kuasa, maka tunggulah kehancurannya.

Untuk itu, para pejabat khususnya yang punya andil dalam merusak lingkungan penyebab bencana banjir dan longsor di tiga provinsi tersebut agar segera bertaubat. Mohon ampun kepada Allah SWT dengan sungguh-sungguh (Taubatan Nasuha), selanjutnya pemerintah harus mengambil langkah-langkah tegas dan konkrit. Bertobatlah dan benahi negeri sekarang juga atau hancur tak tersisa.

Allah SWT Berfirman:

“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya, dan Allah Maha Megetahui lagi Maha Bijaksana” (QS An-Nisa: 17)

 

Wallahu a’lam bishawab

(Tulisan ini dsari dari beragam sumber)

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Negara di Era Perang Narasi: Disinformasi: Senjata Tak Kasat Mata Yang Melumpuhkan (2)

Dhio Justice Law

28 Apr 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia – LAKI) NasionalPos.com, Jakarta – Perang modern tidak selalu dimulai dengan serangan fisik. Ia sering kali dimulai dari sesuatu yang tampak sepele: informasi yang dipelintir. Di era digital, peluru pertama bukanlah rudal—melainkan narasi. Dan yang ditembak bukan tubuh, tetapi persepsi. Disinformasi bekerja tanpa suara, tanpa jejak yang kasat …

DPD Partai Hanura Jabar Gelar Musda 2026 di Bandung

Suryana Korwil Jabar

28 Apr 2026

Kota Bandung, NasionalPos – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Provinsi Jawa Barat menggelar Musyawarah Daerah (Musda) tahun 2026 di Hotel Horizon, Jalan Lingkar Selatan No. 121, Kota Bandung, Selasa (28/4/2026). Kegiatan lima tahunan ini di hadiri Wakil Gubernur Jawa Barat H. Erwan Setiawan, S.E., perwakilan pengurus pusat Partai Hanura, Ketua DPD …

Partai Hanura Gelar Musda 2026 di Bandung, Fokus pada Regenerasi Kepemimpinan

Suryana Korwil Jabar

28 Apr 2026

Kota Bandung, NasionalPos – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Provinsi Jawa Barat menggelar Musyawarah Daerah (Musda) tahun 2026. Yang berlangsung di sebuah hotel Horizon, Jalan Lingkar Selatan, no. 121, Kota Bandung, Selasa (28/4/2026). Kegiatan lima tahunan ini di hadiri oleh Wakil Gubernur Jawa Barat H. Erwan Setiawan, S.E., perwakilan pengurus pusat …

Negara di Era Perang Narasi: Negara Kalah karena Kehilangan Narasi (1)

Dhio Justice Law

26 Apr 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia- LAKI)   NasionalPos. Com, Jakarta – Negara jarang runtuh karena kekurangan kekuatan. Ia runtuh ketika kehilangan kendali atas makna. Hari ini, kekuasaan tidak lagi semata ditentukan oleh siapa yang menguasai wilayah, sumber daya, atau aparat keamanan. Kekuasaan semakin ditentukan oleh siapa yang mampu mengendalikan persepsi publik—siapa yang dipercaya, …

Unjuk Rasa Terbesar? 5.000 Massa Siap Padati Kantor Bupati Banyuwangi

- Banyuwangi

25 Apr 2026

Banyuwangi, Nasionalpos.com – Sekitar 5000 massa direncanakan akan turun ke jalan dalam sebuah aksi unjuk rasa besar yang dijadwalkan berlangsung pada tanggal 6 Mei 2026 di Depan Kantor Bupati Banyuwangi. Aksi ini digelar sebagai bentuk tuntutan masyarakat yang mendesak agar Bupati dan Wakil Bupati Banyuwangi segera mengundurkan diri dari jabatannya. Koordinator aksi,Mohamad Amrullah,S.H.M.Hum. menyampaikan bahwa …

Serah Terima Kunci Rumah Parahyangan Garden City di Margaasih: Wujudkan Impian Hunian Nyaman dan Strategis

Suryana Korwil Jabar

25 Apr 2026

Bandung, 25 April 2026, ARMEDIA.NEWS – Momen yang dinanti-nantikan akhirnya tiba! Perumahan Parahyangan Garden City yang berlokasi di Jl. Nanjung, Desa Lagadar, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, mengadakan acara serah terima kunci rumah bagi para pembeli unit huniannya. Acara ini menjadi bukti komitmen pengembang dalam menyelesaikan proyek lebih cepat dari waktu yang dijanjikan dan memberikan hunian …

x
x