Home » Headline » Taubatan Nasuha Usai Tangis Presiden Prabowo

Taubatan Nasuha Usai Tangis Presiden Prabowo

Dhio Justice Law 12 Des 2025 219

Oleh: Ridwan Umar

(Direktur Lentera Keadilan Indonesia-LAKI)

                       

NasionalPos.com, Jakarta – Bencana dan longsor yang melanda Provinsi Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Utara menyebabkan jatuhnya ribuan korban jiwa baik yang meninggal maupun luka-luka dan hilangnya harta  serta rusaknya infrastruktur dan fasilitas umum.

Pasca bencana, ada pekerjaan berat yang menanti, yakni pemulihan psikologis dari trauma yang dialami dan pemulihan ekonomi para korban selamat. Bencana yang sudah menjadi sorotan dunia itu, telah menghentikan denyut perekonomian sehingga dipastikan berdampak buruk pada stabilitas keuangan di tiga provinsi tersebut.

Bantuan penanganan saat bencana dan pasca bencana dipastikan membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Negara harus menyelesaian semua itu ditengah ketidakstabilan ekonomi akibat maraknya korupsi 10 tahun terakhir yang ditandai tingginya angka pengangguran dan kemiskinan hingga memaksa pemerintah harus berhemat, Inilah ujian berat bagi negeri tercinta ditahun awal era kepemimpinan Presiden Prabowo.

 

Tangis Pemimpin ditengah Bencana

Penderitaan yang menimpa jutaan warga di tiga provinsi tersebut akibat banjir dan longsor, membuat hati terenyuh. Air mata tak terbendung meyaksikan penderitaan dan upaya bertahan hidup saudara-saudara kita melalui tayangan dan pemberitaan di media-media konvensional serta video klip di sosial media.

Betapa tidak, para korban harus kelaparan dan menahan dahaga saat kehilangan keluarga serta harta benda dalam sekejap. Beberapa warga harus berjalan puluhan kilometer untuk mencari keluarganya yang hilang.

Tak sedikit warga terisolasi lantaran akses jalan yang tertutup longsor dan kayu-kayu gelondongan. Tak ada penerangan listrik dan komunikasi putus sehingga harus melewati gelap dan dinginnya malam. Mereka harus berjibaku untuk mempertahankan hidup sambil menahan pedihnya hati kehilangan orang-orang yang dicintai.

Tak tahan menyaksikan penderitaan rakyatnya, Presiden Prabowo akhirnya menangis. Sang Jendral yang akrab disapa 08 itu terlihat tak mampu menahan pilu hingga suara serak dan menahan tangis. Peristiwa itu disaksikan publik saat 08 menutup rapat terbatas dengan sejumlah pejabat teras sipil dan militer di Posko Pusat bencana pada Minggu (7/12/2025) malam di Aceh.

Pemandangan serupa juga disaksikan publik saat Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau akrab disapa Mualem berlinangan air mata hingga tak mampu berkata-kata saat diwawancara jurnalis Najwa Shihab.

Tangis kedua sosok pemimpin itu menunjukkan betapa dalam rasa sakit yang dirasakan. Publik mengetahui 08 adalah seorang mantan militer bahkan sempat menjabat Komandan Kopassus dan Pangkostrad sedangkan Gubernur Aceh pun mantan Panglima GAM (Gerakan Aceh Merdeka).

Baca Juga :  Serah Terima Kunci Rumah Parahyangan Garden City di Margaasih: Wujudkan Impian Hunian Nyaman dan Strategis

Keduanya pernah berhadap-hadapan bertaruh nyawa di medan tempur yang sama, sehingga tak dipungkiri jika keduanya memiliki mental yang kuat menghadapi situasi berat. Nyatanya, bencana banjir dan longsor yang menelan korban jiwa rakyatnya, tak mampu membendung air matanya. ‘Pertahanan’ keduanya jebol setelah menyaksikan sendiri penderitaan rakyatnya.

Ya, baik Prabowo dan Gubernur Aceh hanya manusia biasa yang memiliki nurani, Saat menyaksikan penderitaan saudaranya, maka air mata pasti tak terbendung.

Meski air mata pemimpin telah tumpah, namun jika para pembantunya abai dan tak ada langkah tegas dan nyata, maka semua jadi sia-sia.

 

Buruknya Komunikasi Pejabat

Bencana banjir dan longsor di tiga provinsi tersebut membuat sebagian rakyat negeri ini diluar wilayah bencana tergerak untuk mengulurkan bantuan. Mereka tak hanya bisa menangis, tapi langsung turun ke lokasi bencana sebagai relawan dan membuka donasi.

Rakyat yang empati atas musibah yang menimpa saudara sebangsa pun langsung merespon dengan memberi donasi melalui para relawan. Bagi para donatur, jika tak mampu terjun ke lokasi bencana, maka semoga bantuan dana seberapapun besarnya bisa membantu meringankan beban para korban.

Itulah watak asli rakyat negeri ini yang tak tega jika menyaksikan ada saudaranya yang menderita. Rasa persaudaraan bukan hikayat, tapi nyata melekat pada diri setiap anak negeri.

Ironisnya, langkah mulia yang diawali niat baik itu bukannya diapresiasi justru dinilai negatif dimata pejabat. Anggota DPRRI, Endipat Wijaya dari Fraksi Gerindra menganggap gerakan relawan dengan mengumpulkan donasi bermotif untuk menjatuhkan citra pemerintah. Pernyataan Endipat itu dilontarkan saat Raker bersama Kementerian Komdigi, Senin (8/12/2025). Niat baik rakyat untuk membantu para korban, malah dipolitisasi.

Padahal, publik sudah menyaksikan betapa konyolnya perilaku sejumlah pejabat eksekutif dan legislatif dalam merespon bencana di tiga provinsi tersebut. Seperti Menko Pangan, Zulkifli Hasan yang memanggul beras dan anggota DPR dari Fraksi PAN, Verrel Bramasta yang dinilai publik sebagai pencitraan memuakkan di tengah bencana.

Belum lagi, pernyataan-pernyataan para pembantu Presiden lainnya, seperti Menteri BUMN Bahlil Lahadalia yang menyatakan PLN telah siap 93 persen di Aceh, nyatanya justru sebaliknya.

Baca Juga :  107 Juta Orang Diprediksi Lakukan Perjalanan di masa Liburan Nataru

Komunikasi publik yang buruk para pejabat di tengah bencana ini seolah menjadi pelengkap penderitaan bagi rakyat. Para pejabat tak sadar, jika mereka bukan selebriti yang butuh sensasi dan bukan raja yang tak boleh salah, melainkan pelayan rakyat yang wajib hadir dan berbuat nyata di tengah bencana. Tak ada yang istimewa dengan kehadiran pejabat di tengah bencana, karena mereka digaji dan diberi fasilitas dari uang rakyat, sehingga wajib melayani semua kepentingan rakyat yang merupakan majikannya.

 

Saatnya Bertaubat dan Tindakan Nyata   

Bagi publik, bencana banjir dan longsor tersebut tak lepas dari ulah para perusak lingkungan. Data perusahaan-perusahaan tambang dan perkebunan yang selama ini merampas hak tanah adat dan perusak ekosistem sudah terpampang jelas di mata publik.

Para pengusaha hitam bersama sejumlah pejabat korup berkomplot merusak lingkungan. Hukum dijadikan alat untuk melegalkan perusakan lingkungan.

Allah SWT memberi berkah negeri ini dengan kekayaan alam yang berlimpah untuk dijaga dan dimanfaatkan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, bukan untuk memperkaya segelintir orang dengan merusak ekosistem.

Ingat, hutan itu adalah rumah dan tempat tumbuh kembang jutaan tumbuhan dan hewan. Manusia sebagai Khalifah di muka bumi ini memiliki kewajiban untuk menjaganya, bukan merusak dan merampas hak hidup makhluk lain.

Bencana dan longsor ini adalah peringatan keras dari Allah SWT bagi negeri ini untuk segera sadar dan memperbaiki diri atas kerusakan yang sudah terjadi. Jika bencana ini tak dijadikan peringatan dari Allah Yang Maha Kuasa, maka tunggulah kehancurannya.

Untuk itu, para pejabat khususnya yang punya andil dalam merusak lingkungan penyebab bencana banjir dan longsor di tiga provinsi tersebut agar segera bertaubat. Mohon ampun kepada Allah SWT dengan sungguh-sungguh (Taubatan Nasuha), selanjutnya pemerintah harus mengambil langkah-langkah tegas dan konkrit. Bertobatlah dan benahi negeri sekarang juga atau hancur tak tersisa.

Allah SWT Berfirman:

“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya, dan Allah Maha Megetahui lagi Maha Bijaksana” (QS An-Nisa: 17)

 

Wallahu a’lam bishawab

(Tulisan ini dsari dari beragam sumber)

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Blunder Politik Gibran Buah Konspirasi Ketum Partai

Dhio Justice Law

15 Okt 2026

NasionalPos. com – Jakarta — Pengamat kebijakan publik Chazali H. Situmorang (CHS) menilai desakan pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka harus diarahkan kepada para ketua umum partai politik, bukan semata-mata kepada fraksi-fraksi di DPR RI. Menurutnya, para ketua umum memiliki pengaruh besar dalam menentukan sikap politik partai sehingga harus bertanggung jawab atas keputusan maupun sikap …

Di Momentum Hari Musium Nasional, H. Waspada SAg MM Wakil Ketua KPAD Kabupaten Bogor, Himbau Musium Bisa Jadi Ajang Edukasi Anak

dito

13 Okt 2026

NasionalPos.com, Bogor- Pada setiap tanggal 12 Oktober, di peringati sebagai peringatan Hari Musium kemarin, oleh karena itu, terkait dengan hal tersebut, kepada wartawan, H. Waspada MK, S.Ag, MM Wakil Ketua KPAD Kabupaten Bogor dan Dosen PG PAUD UNUSIA Jakarta., Selasa, 13/10/2026 di Bogor, ia mengatakan bahwa tentu musium sangat bermanfaat dan sangat penting bagi anak …

Makan Anggaran Rp1,4 Miliar, Proyek Jalan di Pesisir Barat Malah Diduga Caplok Lahan Mantan Bupati

Taufik Hidayat

12 Okt 2026

Pesisir Barat — Pembangunan proyek jalan menuju rumah sakit di Kabupaten Pesisir Barat yang menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2026 senilai Rp1,4 miliar tengah menjadi sorotan publik. Proyek tersebut diduga dibangun di atas lahan pribadi milik mantan Bupati Pesisir Barat, H. Agus Istiqlal, tanpa izin. Protes Langsung di Lokasi Proyek Pemilik lahan, H. …

Pernikahan RINI ANGGRAENI dan AZHAR DZULFIQAR di BANDUNG Berlangsung Megah, Karangan Bunga Tokoh Publik Curi Perhatian

- Banyuwangi

11 Okt 2026

BANDUNG, NASIONALPOS.COM — Suasana penuh kebahagiaan dan kemeriahan menyelimuti pernikahan Rini Anggraeni, S.Tr.Kes., dan Azhar Dzulfiqar, S.T., yang berlangsung pada Minggu (11/10/2026) di Maison Grande, Bandung, Jawa Barat. Perhelatan istimewa ini menjadi momentum bersejarah bagi kedua mempelai untuk memulai perjalanan baru dalam membangun rumah tangga. Pernikahan tersebut berlangsung dengan nuansa elegan, memadukan kesakralan prosesi dengan …

Dugaan Penarikan Kendaraan oleh Debt Collector di Banyuwangi, WOM Finance Diminta Buka Dasar Hukumnya

- Banyuwangi

11 Okt 2026

BANYUWANGI, NASIONALPOS. COM – Penarikan satu unit mobil Toyota Avanza tahun 2009 bernomor polisi DK 1156 IS di wilayah Desa Kedayunan, Kecamatan Kabat, Banyuwangi, tepatnya di depan Masjid Arohman, menuai keberatan dari pemilik kendaraan, (RR). Mobil yang disebut dibeli melalui pembiayaan WOM Finance tersebut diduga telah ditarik paksa oleh pihak ketiga yang disebut sebagai debt …

Karhula TNBBS Pesisir BARAT Disorot : 2 Hektare Terbakar, Kapolres Turun Langsung – Pembakar Hutan Jangan Berharap LOLOS!!!

- Banyuwangi

08 Okt 2026

PESISIR BARAT, NASIONALPOS.COM  — Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Pekon Rata Agung, Kecamatan Lemong, Kabupaten Pesisir Barat, menjadi peringatan keras bahwa ancaman terhadap kawasan hutan tidak boleh dianggap sepele. Sekitar ±2 hektare kawasan hutan terdampak kebakaran, sementara dampak lingkungan masih dalam pendataan. Peristiwa tersebut diketahui pada Rabu, …

x
x