Home » Headline » Diplomasi Merah Putih: Warisan Bung Karno dan Misi Prabowo di Forum Dunia

Diplomasi Merah Putih: Warisan Bung Karno dan Misi Prabowo di Forum Dunia

dito 22 Sep 2025 359

Oleh: Teofilus Mian Parluhutan (Sekjend Front Marhaenis Indonesia)

Panggung Perserikatan bangsa-bangsa selalu lebih dari sekadar forum diplomasi. Ia adalah panggung simbolik, tempat di mana sebuah bangsa menegaskan siapa dirinya di mata dunia.

Enam dekade lalu,

Bung Karno berdiri di podium Perserikatan Bangsa-Bangsa, menatap dunia dengan mata penuh keyakinan dan suara yang bergemuruh dengan pidato “To Build the World Anew” (Membangun Dunia Kembali. Ia bukan hanya menyampaikan pidato diplomatik, tetapi menitipkan visi besar tatanan dunia yang adil.

Sukarno hendak menegaskan bahwa Indonesia tidak hanya hadir sebagai bangsa baru, tetapi sebagai suara hati bagi negara-negara yang lama terpinggirkan. Keberanian moral yang telah menggumpal dalam semangat Konferensi Asia Afrika 1955. Sebuah panggilan jiwa agar dunia harus dibangun kembali di atas keadilan, kesetaraan, dan solidaritas.

Bung Karno dengan pidato ikoniknya itu memberikan pembelajaran kepada dunia tentang Pancasila sebagai fondasi etis dan landasan moral yang universal untuk tatanan dunia yang adil.

Bung Karno juga mengajak dunia bahwa diplomasi bukan saja berbasis kepentingan belaka, tetapi berbasis nilai dan prinsip kemanusiaan. Nilai-nilai yang diasuh oleh semangat persaudaraan, kemanusiaan, dan perdamaian. Dalam hal ini Bung Karno pencetus meta diplomasi. Diplomasi berlandaskan nilai-nilai luhur dan visi besar tentang bagaimana seharusnya dunia dibangun.

Baca Juga :  Rencana Kebijakan Kemenaker Tentang Pemberian THR kepada Ojol oleh Perusahaan Aplikator, Rentan Memicu Konflik

Pidato Bung Karno itu pada tahun 2023 ditetapkan PBB melalui UNESCO sebagai ‘Memory of the World’ (Warisan Arsip Dunia). Bung Karno memberikan jejak sejarah dan keteladanan moral dalam pergaulan internasional. Warisan Bung Karno ini menjadikan Indonesia memiliki modal diplomatik untuk memberikan tawaran alternatif untuk dunia yang adil dan setara.

Kini, giliran Prabowo Subianto yang berdiri di forum yang sama, membawa Astacita, delapan cita-cita besar yang menjadi panduan Indonesia dalam menghadapi tantangan global modern seperti krisis supremasi, konflik geopolitik, ketimpangan ekonomi, krisis iklim, dan disrupsi teknologi.

Ia menghadapi ujian yang berbeda, namun benang merahnya tetap sama, bagaimana Indonesia dapat menegaskan suaranya di panggung dunia, tanpa tunduk pada tekanan kekuatan besar.

Warisan Bung Karno mengingatkan kita bahwa diplomasi bukan sekadar urusan meja perundingan. Diplomasi sejati adalah seni memadukan simbol, ide, dan moralitas agar suara sebuah bangsa terdengar dan dihormati.

Konferensi Asia-Afrika 1955 dan Gerakan Non-Blok adalah bukti konkret bagaimana Indonesia mampu menjadi jembatan bagi bangsa-bangsa yang ingin bebas dari dominasi. Kini, Prabowo membawa tongkat estafet itu, menyesuaikan bahasa diplomasi dengan konteks modern, namun tetap berpijak pada prinsip keadilan dan solidaritas global.

Tantangan hari ini memang berbeda. Dunia modern menghadapi konflik baru yang tidak selalu terlihat di peta, dominasi teknologi yang membentuk kekuatan baru, ketimpangan ekonomi yang mengancam stabilitas global, serta krisis supremasi dan ketidakpastian global.

Baca Juga :  Kasus Pengancaman Istri Jurnalis di Murung Raya Dihentikan, Polisi Diduga Tidak Profesional

Di tengah situasi itu, Indonesia harus tetap berdiri sebagai bangsa yang menawarkan narasi alternatif: melalui iplomasi yang mengutamakan kemanusiaan, kerja sama, dan perdamaian, bukan semata kepentingan politik atau ekonomi jangka pendek.

Diplomasi yang menghadirkan win-win solution dan dunia yang adil bukan terjebak dalam zero sum game.

Indonesia memiliki bekal untuk lebih dari sekadar pemain lapisan kedua dalam panggung internasional. Indonesia memiliki modal besar seperti Pancasila, warisan Sukarno, dan posisi strategis sebagai jembatan dunia untuk berkiprah secara siginifikan dalam konstelasi global.

Jika modal ini dikawinkan dengan visi kontemporer seperti Astacita, maka Indonesia bisa menawarkan jalan alternatif di tengah kebuntuan geopolitik. Terlebih Indonesia memiliki legitimasi sejarah untuk mewujudkan tatanan dunia yang berkeadilan.

Dari warisan Bung Karno hingga misi Prabowo dalam dinamika global terkini, ini adalah kesinambungan sejarah sebagai diplomasi merah putih yang berpijak pada nilai-nilai luhur dan universal, yakni keadilan, solidaritas, dan perdamaian abadi.

Diplomasi yang membawa spirit perdamaian dan obor inspirasi yang menerangi di tengah gelapnya krisis global.(*)

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
40 Perusahaan China Jangan Ditutupi Pergantian Menteri

Dhio Justice Law

19 Sep 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia – LAKI) NasionalPos.com, Jakarta – isu 40 perusahaan asal China diduga tidak mematuhii kewajiban pajak tidak boleh berakhir sebagai pernyataan pejabat yang kemudian tenggelam dalam pergantian kekuasaan.Pemerintah tidak boleh diam. Jika dugaan tersebut memiliki dasar pemeriksaan dan data yang dapat dipertanggungjawabkan, maka pemerintah wajib menjelaskan kepada publik. Bukan …

Akademisi dan Aktivis Ajak Bersatu Lawan Impunitas Di Acara Aksi Kamisan ke 925

dito

18 Sep 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Pada aksi massa kamisan ke 925 , di depan istana Negara Jakarta, Kamis, 17 September 2026 kemarin. Selain di hadiri oleh ratusan orang dari kalangan aktivis Hak Azasi Manusia, mahasiswa, akademisi, para pencari keadilan Hak Azasi Manusia, hadir juga seorang dosen senior Paulus Januar, yang menyampaikan kuliah jalanan. Dalam orasinya, Paulus Januar menyampaikan …

Sekda Pimpin Rapat Persiapan HUT ke-25 Kota Lubuk Linggau

Andi Ledi Lubuk Linggau

17 Sep 2026

NASIONALPOS.COM-LUBUK LINGGAU-Wali Kota Lubuk Linggau, H Rachmat Hidayat diwakili Sekretaris Daerah, H Trisko Defriyansa memimpin rapat persiapan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 Kota Lubuk Linggau Tahun 2026, di Op Room Dayang Torek, Pemkot Lubuk Linggau, Kamis (17/9/2026). Rapat tersebut digelar sebagai langkah awal untuk mematangkan berbagai persiapan rangkaian kegiatan HUT ke-25 Kota Lubuk Linggau …

KPK Didesak Klarifikasi Status Hukum Jaksa Syahrul

Dhio Justice Law

15 Sep 2026

NasionalPos.com, Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) didesak untuk terbuka soal status hukum Jaksa Syahrul dalam perkara korupsi yang menjerat Bupati Hulu Sungai Utara (HSU), Abdul Wahid. “Kami baru saja menyerahkan surat perihal Permintaan Klarifikasi dan Tindak Lanjut Hukum dalam Putusan Nomor 17/Pid.Sus-TPK/2022/PN.Bjm. Surat ini juga kami tembuskan kepada Jaksa Agung dan Jaksa Agung Muda …

PERISTIWA POLITIK DAN PENGARUH GEOPOLITIK GLOBAL.

dito

14 Sep 2026

Di tulis dan di sampaikan oleh Dr Kristiya Kartika        Salah satu Pengamat Politik dan Mantan Pejabat Pemerintah Moch. Said Didu menganalisis secara terbuka bahwa dalam gejolak politik akhir-akhir ini, peran tokoh politik dan mantan Penguasa yang didukung Oligarki domestik dan asing cukup strategis.   Jaringan aktivitas pergerakan regional dan domestik menurutnya juga …

Saat Akademisi Tak Berjarak dengan Kekuasaan

Dhio Justice Law

13 Sep 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia – laki)   NasionalPos.com, Jakarta – Dulu, kampus adalah tempat yang paling sering digunakan untuk mempertanyakan kekuasaan. Di ruang dan forum akademik, kebijakan penguasa dibedah, angka diuji, narasi resmi dicurigai, dan keputusan politik diperdebatkan dan ditantang dengan argumen ilmiah Ironis, kini kampus justru semakin sering diminta berjalan searah …

x
x