Home » Headline » Mikul Duwur Mendem Jero; Ayah Prabowo Tak Taat Filosofi Jawa?

Mikul Duwur Mendem Jero; Ayah Prabowo Tak Taat Filosofi Jawa?

Dhio Justice Law 08 Nov 2025 632

oleh: Ridwan Umar

(Sekjen Gerakan Daulat Bumiputera dan Direktur Lentera Keadilan Indonesia-LAKI)

 

NasionalPos.com, Jakarta – Dalam peresmian Pabrik Lotte Chemical Indonesia di Cilegon, Banten, Kamis (6/11/2025), Presiden Prabowo Soebianto mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menghormati pemimpin, baik yang masih menjabat maupun yang purna tugas.

Menurutnya, masyarakat Indonesia seharusnya mengedepankan penghormatan terhadap orang yang berjasa.

“Marilah kita punya rasa keadilan di hati kita. Marilah kita menghormati semua yang berjasa. Kita punya budaya dalam Bahasa Jawa itu mikul duwur mendem jero. Hal yang baik kita angkat setinggi-tingginya, kalau ada kekurangan ya kita pendam, kita perbaiki,” katanya.

Prabowo pun menegaskan dirinya tidak pernah dikendailkan oleh mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Meski, dirinya dan Jokowi memiliki hubungan yang baik.

“Saya bukan Prabowo takut sama Jokowi, Prabowo masih dikendalikan sama Jokowi, nggak ada itu. Pak Jokowi nggak pernah nitip apa-apa sama saya. Pak Prabowo takut sama Pak Jokowi? Nggak ada itu. Untuk apa saya takut sama beliau? Aku hopeng (teman baik) sama beliau kok takut?,” imbuhnya.

Pernyataan Prabowo itu tak pelak menuai pro-kontra di kalangan publik, lantaran sebagian publik menilai pernyataan Prabowo itu sebagai bentuk pembelaan ‘pasang badan’ atas kritik dan desakan publik terhadap Jokowi dan keluarganya serta kroninya agar segera diadili terkait dugaan sejumlah skandal korupsi, kolusi, nepotisme. Diantaranya, dugaan mark up kereta cepat Jakarta – Bandung, dugaan skandal ijazah Jokowi dan Gibran hingga dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dalam kasus KM 50 dan lainnya.

 

Ayah Prabowo Melawan Hopeng

Keluarga Prabowo tercatat memiliki andil dalam sejarah bangsa ini. Kakeknya, RM Margono adalah salah satu pendiri Bank Nasional Indonesia (BNI) yang sempat diusulkan jadi pahlawan nasional. Sedangkan ayahnya, Sumitro Djojohadikusumo dikenal sebagai bengawan ekonomi.

Baca Juga :  POLDA NTB Dorong Ketahanan Pangan Melalui Program Unggulan di 1.166 Desa

Di era Presiden Soekarno (Orde lama), Sumitro sempat menjabat Menteri Perdagangan dan Perindustrian (1950-1951) dan Menteri Keuangan (1952-1953). Jabatan terhormat itu diperoleh Sumitro, bukan hanya karena kedekatannya (hopeng) dengan Soekarno. Tapi juga karena kecerdasannya sebagai seorang ilmuwan yang ikut merumuskan kebijakan-kebijakan ekonomi Indonesia saat itu.

Namun, di tengah jalan hubungan baik itu putus saat Sumitro menilai pemerintah sudah kurang mendengar aspirasi rakyat bahkan otoriter. Sikap rezim saat itu dinilai telah mengkhianati cita-cita perjuangan, maka Sumitro memilih jalan ‘perlawanan’ terhadap hopengnya yakni Soekarno.

Diapun menyatakan diri bergabung dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera. Gerakan PRRI yang dideklarasikan oleh Ahmad Husein (Pemimpin militer PRRI) pada 15 Februari 1958 ini sebagai bentuk protes dari Sumatera Barat atas sikap pemerintah pusat yang sangat sentralisasi dan mengabaikan kepentingan daerah.

Sumitro yang merupakan tokoh Partai Sosialis Indonesia (PSI) diangkat menjadi Menteri Perdagangan dan Perhubungan oleh Syafruddin Prawiranegara selaku Perdana Menteri PRRI. Bagi kalangan Partai Komunis Indonesia (PKI) saat itu, PSI dianggap kelompok sosialis kanan.

Mengetahui kelahiran PRRI, rezim Soekarno meradang. Tindakan represif pun dilakukan terhadap gerakan tersebut dengan memerintahkan penangkapan terhadap seluruh anggota Kabinet PRRI, tak terkecuali terhadap Sumitro.

Saat berjuang di PRRI, Sumitro sudah menikah dengan Dora Marie Sigar yang dianugerahi 4 buah hati, yakni: Biantiningsih Miderawati Djiwandono, Marjani Ekowati le Maistre, Prabowo Subianto dan Hasjim Djojohadikusumo.

Demi melanjutkan perjuangannya, maka Sumitro memutuskan memboyong seluruh keluarganya untuk hijrah ke luar negeri. Namun, akhirnya gerakan PRRI gagal dan diredam rezim Soekarno.

Alhasil, Sumitro dan keluarganya tak bisa balik ke Tanah Air sebab jika pulang, maka akan langsung ditangkap dan ditahan oleh Presiden Soekarno.

Baca Juga :  Patroli Malam Polsek Tempeh Sambangi Warga dan aktifkan Penjagaan pos kamling

Di tengah pelariannya, Sumitro yang dikenal sebagai intelektual juga sosok pergerakan tak kenal menyerah dalam melakukan perlawanan terhadap hopengnya (Soekarno). Diapun didaulat memimpin Gerakan Pembaruan Indonesia (GPI) yang didirikan pada tahun 1961 oleh mayoritas kader PSI.

Selama pengembaraan di negeri orang, Sumitro dan keluarganya pernah tinggal di Singapura, Hong Kong, Kuala Lumpur, Zurich, London, dan Bangkok. Saat itu, Hasjim masih berusia 3 tahun dan Prabowo sendiri berusia 5 tahun.

Saat itu, penderitaan tak pernah lepas dari kehidupan Sumitro dan keluarganya. Prabowo kerap mendapat bullying lantaran dia orang Indonesia.

Untuk menghidupi keluarganya, Sumitro berbisnis mebel dan properti. Beruntung, anak-anak Sumitro dapat meraih prestasi akademik yang baik.

Bianti lulus kuliah di Universitas Wisconsin di AS. Lalu, Prabowo naik kelas lebih cepat bisa setara dengan sang kakak Marjani.

Hingga akhirnya, pelarian Sumitro dan keluarga berakhir saat pergantian rezim Soekarno kepada Soeharto pada 1967. DIapun memutuskan kembali ke Tanah Air.

Presiden Soeharto lalu mempercayakan Sumitro menjadi Menteri Riset. Sementara Prabowo memulai karir ketentaraan sebagai taruna Akademi Militer (Akmil) tahun 1973.

Jika mencermati perjalanan hidup Sumitro kelahiran Kebumen, Jawa Tengah, muncul pertanyaan di benak publik, apakah filosofi Jawa mikul duwur mendem jero yang diserukan Prabowo kepada rakyatnya itu juga diterapkan dalam kehidupan sang ayah?

Bukankah Sumitro sang tokoh pergerakan justru melakukan perlawanan keras terhadap pemimpin yang tak lain adalah hopengnya sendiri (Soekarno) demi membela rakyat yang dizalimi?

Dan, hingga kini sepak terjang Sumitro sang begawan ekonomi justru menjadi inspirasi bagi sebagian orang bahkan generasi muda dalam melawan segala bentuk ketidakadilan, meski itu dari hopeng sendiri.

 

Wallahu a’lam bishawab

(tulisan ini disari dari beragam sumber)

 

 

 

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Di Momentum Hari Musium Nasional, H. Waspada SAg MM Wakil Ketua KPAD Kabupaten Bogor, Himbau Musium Bisa Jadi Ajang Edukasi Anak

dito

13 Okt 2026

NasionalPos.com, Bogor- Pada setiap tanggal 12 Oktober, di peringati sebagai peringatan Hari Musium kemarin, oleh karena itu, terkait dengan hal tersebut, kepada wartawan, H. Waspada MK, S.Ag, MM Wakil Ketua KPAD Kabupaten Bogor dan Dosen PG PAUD UNUSIA Jakarta., Selasa, 13/10/2026 di Bogor, ia mengatakan bahwa tentu musium sangat bermanfaat dan sangat penting bagi anak …

Makan Anggaran Rp1,4 Miliar, Proyek Jalan di Pesisir Barat Malah Diduga Caplok Lahan Mantan Bupati

Taufik Hidayat

12 Okt 2026

Pesisir Barat — Pembangunan proyek jalan menuju rumah sakit di Kabupaten Pesisir Barat yang menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2026 senilai Rp1,4 miliar tengah menjadi sorotan publik. Proyek tersebut diduga dibangun di atas lahan pribadi milik mantan Bupati Pesisir Barat, H. Agus Istiqlal, tanpa izin. Protes Langsung di Lokasi Proyek Pemilik lahan, H. …

Pernikahan RINI ANGGRAENI dan AZHAR DZULFIQAR di BANDUNG Berlangsung Megah, Karangan Bunga Tokoh Publik Curi Perhatian

- Banyuwangi

11 Okt 2026

BANDUNG, NASIONALPOS.COM — Suasana penuh kebahagiaan dan kemeriahan menyelimuti pernikahan Rini Anggraeni, S.Tr.Kes., dan Azhar Dzulfiqar, S.T., yang berlangsung pada Minggu (11/10/2026) di Maison Grande, Bandung, Jawa Barat. Perhelatan istimewa ini menjadi momentum bersejarah bagi kedua mempelai untuk memulai perjalanan baru dalam membangun rumah tangga. Pernikahan tersebut berlangsung dengan nuansa elegan, memadukan kesakralan prosesi dengan …

Dugaan Penarikan Kendaraan oleh Debt Collector di Banyuwangi, WOM Finance Diminta Buka Dasar Hukumnya

- Banyuwangi

11 Okt 2026

BANYUWANGI, NASIONALPOS. COM – Penarikan satu unit mobil Toyota Avanza tahun 2009 bernomor polisi DK 1156 IS di wilayah Desa Kedayunan, Kecamatan Kabat, Banyuwangi, tepatnya di depan Masjid Arohman, menuai keberatan dari pemilik kendaraan, (RR). Mobil yang disebut dibeli melalui pembiayaan WOM Finance tersebut diduga telah ditarik paksa oleh pihak ketiga yang disebut sebagai debt …

Karhula TNBBS Pesisir BARAT Disorot : 2 Hektare Terbakar, Kapolres Turun Langsung – Pembakar Hutan Jangan Berharap LOLOS!!!

- Banyuwangi

08 Okt 2026

PESISIR BARAT, NASIONALPOS.COM  — Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Pekon Rata Agung, Kecamatan Lemong, Kabupaten Pesisir Barat, menjadi peringatan keras bahwa ancaman terhadap kawasan hutan tidak boleh dianggap sepele. Sekitar ±2 hektare kawasan hutan terdampak kebakaran, sementara dampak lingkungan masih dalam pendataan. Peristiwa tersebut diketahui pada Rabu, …

3 Hektare TNBBS Terbakar, Kapolres Pesisir Barat Turun Langsung: Jangan Main Api, Pembakar Hutan Bakal Diburu!!!

- Banyuwangi

07 Okt 2026

PESISIR BARAT, NASIONALPOS.COM  — Kebakaran yang melanda kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) di wilayah Pekon Rata Agung, Kecamatan Lemong, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, menjadi perhatian serius aparat penegak hukum. Sedikitnya ±3 hektare kawasan hutan dilaporkan terdampak, sehingga pengawasan dan pencegahan kebakaran susulan terus diperketat. Kapolres Pesisir Barat AKBP Rinto Haivan Simbolon, S.E., S.I.K., …

x
x