Home » Headline » Mikul Duwur Mendem Jero; Ayah Prabowo Tak Taat Filosofi Jawa?

Mikul Duwur Mendem Jero; Ayah Prabowo Tak Taat Filosofi Jawa?

Dhio Justice Law 08 Nov 2025 560

oleh: Ridwan Umar

(Sekjen Gerakan Daulat Bumiputera dan Direktur Lentera Keadilan Indonesia-LAKI)

 

NasionalPos.com, Jakarta – Dalam peresmian Pabrik Lotte Chemical Indonesia di Cilegon, Banten, Kamis (6/11/2025), Presiden Prabowo Soebianto mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menghormati pemimpin, baik yang masih menjabat maupun yang purna tugas.

Menurutnya, masyarakat Indonesia seharusnya mengedepankan penghormatan terhadap orang yang berjasa.

“Marilah kita punya rasa keadilan di hati kita. Marilah kita menghormati semua yang berjasa. Kita punya budaya dalam Bahasa Jawa itu mikul duwur mendem jero. Hal yang baik kita angkat setinggi-tingginya, kalau ada kekurangan ya kita pendam, kita perbaiki,” katanya.

Prabowo pun menegaskan dirinya tidak pernah dikendailkan oleh mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Meski, dirinya dan Jokowi memiliki hubungan yang baik.

“Saya bukan Prabowo takut sama Jokowi, Prabowo masih dikendalikan sama Jokowi, nggak ada itu. Pak Jokowi nggak pernah nitip apa-apa sama saya. Pak Prabowo takut sama Pak Jokowi? Nggak ada itu. Untuk apa saya takut sama beliau? Aku hopeng (teman baik) sama beliau kok takut?,” imbuhnya.

Pernyataan Prabowo itu tak pelak menuai pro-kontra di kalangan publik, lantaran sebagian publik menilai pernyataan Prabowo itu sebagai bentuk pembelaan ‘pasang badan’ atas kritik dan desakan publik terhadap Jokowi dan keluarganya serta kroninya agar segera diadili terkait dugaan sejumlah skandal korupsi, kolusi, nepotisme. Diantaranya, dugaan mark up kereta cepat Jakarta – Bandung, dugaan skandal ijazah Jokowi dan Gibran hingga dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dalam kasus KM 50 dan lainnya.

 

Ayah Prabowo Melawan Hopeng

Keluarga Prabowo tercatat memiliki andil dalam sejarah bangsa ini. Kakeknya, RM Margono adalah salah satu pendiri Bank Nasional Indonesia (BNI) yang sempat diusulkan jadi pahlawan nasional. Sedangkan ayahnya, Sumitro Djojohadikusumo dikenal sebagai bengawan ekonomi.

Baca Juga :  Haidar Alwi Menilai Tuduhan Kapolri Persekusi Calon Kapolri Pilihan Presiden Hanya Upaya Adu Domba

Di era Presiden Soekarno (Orde lama), Sumitro sempat menjabat Menteri Perdagangan dan Perindustrian (1950-1951) dan Menteri Keuangan (1952-1953). Jabatan terhormat itu diperoleh Sumitro, bukan hanya karena kedekatannya (hopeng) dengan Soekarno. Tapi juga karena kecerdasannya sebagai seorang ilmuwan yang ikut merumuskan kebijakan-kebijakan ekonomi Indonesia saat itu.

Namun, di tengah jalan hubungan baik itu putus saat Sumitro menilai pemerintah sudah kurang mendengar aspirasi rakyat bahkan otoriter. Sikap rezim saat itu dinilai telah mengkhianati cita-cita perjuangan, maka Sumitro memilih jalan ‘perlawanan’ terhadap hopengnya yakni Soekarno.

Diapun menyatakan diri bergabung dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera. Gerakan PRRI yang dideklarasikan oleh Ahmad Husein (Pemimpin militer PRRI) pada 15 Februari 1958 ini sebagai bentuk protes dari Sumatera Barat atas sikap pemerintah pusat yang sangat sentralisasi dan mengabaikan kepentingan daerah.

Sumitro yang merupakan tokoh Partai Sosialis Indonesia (PSI) diangkat menjadi Menteri Perdagangan dan Perhubungan oleh Syafruddin Prawiranegara selaku Perdana Menteri PRRI. Bagi kalangan Partai Komunis Indonesia (PKI) saat itu, PSI dianggap kelompok sosialis kanan.

Mengetahui kelahiran PRRI, rezim Soekarno meradang. Tindakan represif pun dilakukan terhadap gerakan tersebut dengan memerintahkan penangkapan terhadap seluruh anggota Kabinet PRRI, tak terkecuali terhadap Sumitro.

Saat berjuang di PRRI, Sumitro sudah menikah dengan Dora Marie Sigar yang dianugerahi 4 buah hati, yakni: Biantiningsih Miderawati Djiwandono, Marjani Ekowati le Maistre, Prabowo Subianto dan Hasjim Djojohadikusumo.

Demi melanjutkan perjuangannya, maka Sumitro memutuskan memboyong seluruh keluarganya untuk hijrah ke luar negeri. Namun, akhirnya gerakan PRRI gagal dan diredam rezim Soekarno.

Alhasil, Sumitro dan keluarganya tak bisa balik ke Tanah Air sebab jika pulang, maka akan langsung ditangkap dan ditahan oleh Presiden Soekarno.

Baca Juga :  Soal Penyelesaian Kasus HAM Berat, Mahfud MD : Pemerintah Sedang Siapkan Inpresnya

Di tengah pelariannya, Sumitro yang dikenal sebagai intelektual juga sosok pergerakan tak kenal menyerah dalam melakukan perlawanan terhadap hopengnya (Soekarno). Diapun didaulat memimpin Gerakan Pembaruan Indonesia (GPI) yang didirikan pada tahun 1961 oleh mayoritas kader PSI.

Selama pengembaraan di negeri orang, Sumitro dan keluarganya pernah tinggal di Singapura, Hong Kong, Kuala Lumpur, Zurich, London, dan Bangkok. Saat itu, Hasjim masih berusia 3 tahun dan Prabowo sendiri berusia 5 tahun.

Saat itu, penderitaan tak pernah lepas dari kehidupan Sumitro dan keluarganya. Prabowo kerap mendapat bullying lantaran dia orang Indonesia.

Untuk menghidupi keluarganya, Sumitro berbisnis mebel dan properti. Beruntung, anak-anak Sumitro dapat meraih prestasi akademik yang baik.

Bianti lulus kuliah di Universitas Wisconsin di AS. Lalu, Prabowo naik kelas lebih cepat bisa setara dengan sang kakak Marjani.

Hingga akhirnya, pelarian Sumitro dan keluarga berakhir saat pergantian rezim Soekarno kepada Soeharto pada 1967. DIapun memutuskan kembali ke Tanah Air.

Presiden Soeharto lalu mempercayakan Sumitro menjadi Menteri Riset. Sementara Prabowo memulai karir ketentaraan sebagai taruna Akademi Militer (Akmil) tahun 1973.

Jika mencermati perjalanan hidup Sumitro kelahiran Kebumen, Jawa Tengah, muncul pertanyaan di benak publik, apakah filosofi Jawa mikul duwur mendem jero yang diserukan Prabowo kepada rakyatnya itu juga diterapkan dalam kehidupan sang ayah?

Bukankah Sumitro sang tokoh pergerakan justru melakukan perlawanan keras terhadap pemimpin yang tak lain adalah hopengnya sendiri (Soekarno) demi membela rakyat yang dizalimi?

Dan, hingga kini sepak terjang Sumitro sang begawan ekonomi justru menjadi inspirasi bagi sebagian orang bahkan generasi muda dalam melawan segala bentuk ketidakadilan, meski itu dari hopeng sendiri.

 

Wallahu a’lam bishawab

(tulisan ini disari dari beragam sumber)

 

 

 

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Negara di Era Perang Narasi; Polarisasi Agama: Retak yang Dipelihara (3 – End)

Dhio Justice Law

29 Apr 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia – LAKI) NasionalPos.com, Jakarta – Polarisasi tidak selalu terjadi dengan sendirinya. Sering kali, ia dibentuk—lalu dipelihara. Dalam lanskap politik kontemporer, konflik jarang lahir dari ruang hampa. Ia dirancang melalui narasi, diperkuat oleh repetisi, lalu dilegitimasi oleh emosi kolektif. Di titik inilah agama menjadi variabel yang paling sensitif sekaligus …

Lomba Baca Puisi Tingkat SD dan Talk show Sastra Di Gelar Jaker Kudus

dito

29 Apr 2026

NasionalPos.com, Kudus- Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER) Kabupaten Kudus menggelar diskusi/talkshow sastra bertajuk “Sastra Untuk Negeri” dalam rangka memperingati Bulan Puisi 2026, Sabtu (25/4/2026), di Sidji Coffee, Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus.   Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB ini mengangkat Tema Sastra (Puisi) Untuk Negeri Sub tema “Menemukan Makna Dalam Setiap Karya”   Serta …

Tragedi Little Aresha Yogyakarta, Catatan Penting Bagi Orang Tua, Masyarakat dan Pemerintah

dito

29 Apr 2026

Di tulis dan di sampaikan oleh Waspada,S. Ag, MM Dosen PG PAUD UNUSIA & Wakil Ketua KPAD Kabupaten Bogor. Tragedi memilukan yang dilakukan oleh pengelola Daycare dan pekerjanya seperti di Daycare Little Aresha Yogjakarta, sesungguhnya bukan yang pertama kali. Sebelumnya telah terjadi hal serupa dibeberapa daerah, akan tetapi hal tersebut tidak membuat jera oleh oknum pengelola …

Negara di Era Perang Narasi: Disinformasi: Senjata Tak Kasat Mata Yang Melumpuhkan (2)

Dhio Justice Law

28 Apr 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia – LAKI) NasionalPos.com, Jakarta – Perang modern tidak selalu dimulai dengan serangan fisik. Ia sering kali dimulai dari sesuatu yang tampak sepele: informasi yang dipelintir. Di era digital, peluru pertama bukanlah rudal—melainkan narasi. Dan yang ditembak bukan tubuh, tetapi persepsi. Disinformasi bekerja tanpa suara, tanpa jejak yang kasat …

DPD Partai Hanura Jabar Gelar Musda 2026 di Bandung

Suryana Korwil Jabar

28 Apr 2026

Kota Bandung, NasionalPos – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Provinsi Jawa Barat menggelar Musyawarah Daerah (Musda) tahun 2026 di Hotel Horizon, Jalan Lingkar Selatan No. 121, Kota Bandung, Selasa (28/4/2026). Kegiatan lima tahunan ini di hadiri Wakil Gubernur Jawa Barat H. Erwan Setiawan, S.E., perwakilan pengurus pusat Partai Hanura, Ketua DPD …

Partai Hanura Gelar Musda 2026 di Bandung, Fokus pada Regenerasi Kepemimpinan

Suryana Korwil Jabar

28 Apr 2026

Kota Bandung, NasionalPos – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Provinsi Jawa Barat menggelar Musyawarah Daerah (Musda) tahun 2026. Yang berlangsung di sebuah hotel Horizon, Jalan Lingkar Selatan, no. 121, Kota Bandung, Selasa (28/4/2026). Kegiatan lima tahunan ini di hadiri oleh Wakil Gubernur Jawa Barat H. Erwan Setiawan, S.E., perwakilan pengurus pusat …

x
x