Home » Headline » Negara di Era Perang Narasi: Disinformasi: Senjata Tak Kasat Mata Yang Melumpuhkan (2)

Negara di Era Perang Narasi: Disinformasi: Senjata Tak Kasat Mata Yang Melumpuhkan (2)

Dhio Justice Law 28 Apr 2026 80

Oleh: Ridwan Umar

(Direktur Lentera Keadilan Indonesia – LAKI)

NasionalPos.com, Jakarta – Perang modern tidak selalu dimulai dengan serangan fisik.
Ia sering kali dimulai dari sesuatu yang tampak sepele: informasi yang dipelintir.

Di era digital, peluru pertama bukanlah rudal—melainkan narasi.
Dan yang ditembak bukan tubuh, tetapi persepsi.

Disinformasi bekerja tanpa suara, tanpa jejak yang kasat mata, namun dengan daya rusak yang sistematis. Ia tidak merobohkan gedung, tetapi menghancurkan fondasi yang jauh lebih vital: kepercayaan. Ketika kepercayaan runtuh, negara tidak perlu diserang—ia akan melemah dari dalam.

Polanya sederhana, tetapi efektif. Fakta dipotong. Konteks digeser. Emosi disuntikkan.
Hasilnya bukan sekadar kesalahan informasi, melainkan konstruksi realitas baru yang terasa benar bagi mereka yang ingin mempercayainya.

Dalam hitungan jam, sebuah peristiwa bisa kehilangan makna aslinya.
Yang semula informasi berubah menjadi provokasi.
Yang semula fakta menjadi bahan bakar mobilisasi.
Dan yang semula perbedaan pendapat menjelma konflik terbuka.

Disinformasi tidak membutuhkan kebenaran untuk bekerja.
Ia hanya membutuhkan kredibilitas semu dan momentum psikologis.

Baca Juga :  Implikasi Putusan MK No.60, PDI-P Berpeluang Usung Ahok Rebut Kemenangan di Pilkada Jakarta 2024

Lebih jauh lagi, ia memanfaatkan kelemahan paling manusiawi: kecenderungan untuk mempercayai apa yang selaras dengan keyakinan sendiri. Di titik ini, disinformasi tidak lagi sekadar alat eksternal, tetapi menjadi bagian dari mekanisme internal masyarakat itu sendiri. Orang tidak hanya menerima informasi yang salah—mereka ikut menyebarkannya dengan keyakinan penuh.

Inilah yang membuat disinformasi jauh lebih berbahaya dibanding propaganda konvensional. Ia tidak terasa sebagai ancaman, karena sering kali datang dalam bentuk yang familiar: unggahan teman, potongan video, atau narasi yang “terasa benar”.

Dalam masyarakat yang terpolarisasi, dampaknya berlipat ganda.
Kebenaran tidak lagi diuji melalui fakta, tetapi melalui afiliasi.
Apa yang benar ditentukan oleh siapa yang berbicara, bukan oleh apa yang disampaikan.

Di titik ini, ruang publik berubah fungsi.
Ia bukan lagi tempat pertukaran gagasan, tetapi arena pertarungan persepsi.

Dan ketika persepsi menjadi medan perang, batas antara kebenaran dan kebohongan menjadi kabur. Negara yang gagal menjaga kejernihan ruang informasi akan menghadapi ancaman yang tidak bisa dihadapi dengan kekuatan militer semata.

Baca Juga :  Kawal Investasi Pabrik Baterai Senilai Rp135 Triliun, Bahlil Didukung DPR RI

Lebih berbahaya lagi, disinformasi menciptakan ilusi partisipasi.
Masyarakat merasa sedang terlibat dalam proses demokrasi, padahal yang terjadi adalah manipulasi opini secara massal. Diskursus publik tampak hidup, tetapi sesungguhnya digerakkan oleh arus yang tidak terlihat.

Di sinilah letak paradoksnya: semakin terbuka sebuah masyarakat, semakin rentan ia terhadap infiltrasi narasi. Keterbukaan tanpa ketahanan informasi hanya akan mempercepat penyebaran distorsi.

Negara yang tidak menganggap disinformasi sebagai ancaman strategis akan selalu tertinggal.
Bukan karena kekurangan sumber daya, tetapi karena salah membaca medan tempur.

Sebab ini bukan lagi soal siapa yang memiliki senjata paling kuat,
melainkan siapa yang mampu mengendalikan makna.

Dan dalam perang seperti ini, waktu menjadi faktor yang menentukan.
Satu narasi yang dibiarkan tanpa koreksi selama beberapa jam bisa berkembang menjadi keyakinan kolektif.
Satu langkah keterlambatan bisa berubah menjadi kehilangan kendali.

Pada akhirnya, disinformasi bukan sekadar masalah komunikasi.
Ia adalah persoalan kedaulatan.

Negara yang kehilangan kendali atas narasi, pada dasarnya telah kehilangan sebagian dari dirinya sendiri. (X)

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
PRJ 2026 Tak Berpihak ke Warga Jakarta, Poros Rawamangun Desak Pemprov DKJ Evaluasi PRJ 2026

dito

15 Jun 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Jakarta Fair 2026 atau Pekan Raya Jakarta sudah di buka oleh Gubernur Pramono Anung pada tgl 12 Juni 2026 merupakan Event yang sudah dilaksanakan sejak tahun 1968 silam, dan untuk tahun 2026 ini, merupakan pelaksanaannya ke 57 kalinya.   Adapun untuk tahun ini, harga tiket masuk ajang pameran tahunan ini dibanderol mulai dari …

PPM – LVRI Gandeng Pemerintah Turki Jalin Kerjasama Bidang Pendidikan, Kebudayaan dan Dunia Usaha

dito

14 Jun 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Pimpinan Pusat Pemuda Panca Marga (PP PPM – LVRI) menggandeng pemerintah Turki dalam rangka menjalin kerjasama di bidang Pendidikan dan kebudayaan antar kedua negara sebagai bagian dari upaya PPM – LVRI menjawab peluang dan kebutuhan dalam masyarakat.   Jalinan kerjasama tersebut ditandai dengan pertemuan silaturahmi yang dihadiri oleh Ketua Umum PP PPM – …

Jelang Muktamar NU: Sebaiknya Cak Imin Fokus Besarkan PKB, Daripada Bertarung di NU

dito

12 Jun 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Di tengah semakin semarak nya situasi menjelang penyelenggaraan Muktamar NU yang rencananya di laksanakan pada tahun 2026 ini,   Tersiar info, mengenai para kandidat calon Ketum PBNU, salah satunya, dikabarkan Gus Imin ketua umum PKB akan maju di muktamar NU, demikian di sampaikan Damuri Fikri pengamat politik kepada wartawan, Jumat, 12/6/2026 di Jakarta. …

‘Mas Bahlil Ganteng’ dan Transformasi Politik Golkar

Dhio Justice Law

12 Jun 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia-LAKI) NasionalPos.com, Jakarta – Indonesia saat ini, seorang politikus tidak harus terlihat negarawan untuk menjadi populer. Cukup viral. Fenomena lagu “Mas Bahlil Ganteng” memperlihatkan bagaimana politik perlahan bergeser dari arena gagasan menuju arena hiburan digital. Yang bekerja bukan lagi kedalaman visi, melainkan kekuatan algoritma. Bukan seberapa kuat argumentasi seorang …

MBG dan Pesta Babi Kekuasaan

Dhio Justice Law

11 Jun 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia – LAKI)  NasionalPos.com, Jakarta – Program makan bergizi gratis (MBG) awalnya dijual sebagai wajah belas kasih negara. Sebuah janji tentang kepedulian terhadap rakyat kecil, tentang anak-anak yang harus diselamatkan dari lapar dan ketimpangan. Tetapi di tengah munculnya dugaan keterlibatan keluarga sejumlah pejabat tinggi dalam pusaran proyek MBG, publik …

H. Bagus Machdiantoro Kembali Terpilih Secara Aklamasi sebagai Ketua Umum BBC Periode 2026-2031

Suryana Korwil Jabar

07 Jun 2026

Bandung, NasionalPos.com – H. Bagus Machdiantoro kembali dipercaya memimpin organisasi BBC untuk periode 2026-2031. Ia terpilih secara aklamasi dalam forum pertanggungjawaban dan pemilihan kepengurusan yang digelar di Hotel Horison, Jalan Pelajar Pejuang, Kota Bandung, Minggu (7/6/2026). Terpilihnya kembali H. Bagus menjadi momentum penting bagi organisasi yang telah berdiri sejak tahun 1956 tersebut. Dalam wawancara usai …

x
x