Bareskrim Mabes Polri Harus Ambil Alih Penanganan Kasus Vina

- Editor

Sabtu, 18 Mei 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

NasionalPos.com, Tangerang Selatan-  Kasus pemerkosaan dan Pembunuhan Vina gadis asal Cirebon kini kembali viral di publik usai peristiwa sadis yang menimpa gadis 16 tahun itu diangkat ke layar lebar dengan judul film “Vina: Sebelum 7 Hari”. Kasus tersebut bukan hanya viral, melainkan juga menjadi bahan perbincangan hangat di berbagai kalangan masyarakat, tanggapan juga disampaikan dari kalangan pemerhati Sosial,

Sebut saja Agus Yohanes Pemerhati Sosial, kepada wartawan yang menghubunginya, ia mengatakan dalam film kasus pemerkosaan dan pembunuhan Vina ini, menyajikan sebuah realitas penanganan suatu kejadian sadis yang sudah terjadi 8 tahun silam, namun masih menyisakan permasalahan, sehingga memunculkan persepsi miring dari publik soal penanganan kasus tersebut.

“ Persepsi publik tersebut tentu saja tidak dapat di pungkiri mengarah pada kinerja aparat hukum, yang menangani perkara tersebut .”ucap Agus Yohanes kepada nasionalpos.com, Sabtu, 18 Mei 2024 di Tangerang Selatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Agus, sebagai institusi hukum yang menangani perkara ini, tentunya menampik persepsi publik tersebut, dengan berkilah mereka telah bekerja keras mengungkap kasus tersebut dengan berhasil menangkap sejumlah nama pelaku pada tahun 2016, usai peristiwa itu terjadi yakni, Rivaldi Aditya Wardhana bin Asep Kusnadi alias Andika, Eko Ramadhani bin Kosim alias Koplak, Hadi Saputra bin Kasana alias Bolang, Eka Sandy bin Muran alias Tiwul, Jaya bin Sabdul alias Kliwon, Supriyanto bin Sutadi alias Kasdul, dan Sudirman bin Suratno.

Baca Juga :   Koalisi Masyarkat Sipil Desak Presiden Hentikan Operasi Tempur, Utamakan Dialog Damai di Papua

Bahkan, kedelapan pelaku diseret ke Pengadilan Negeri (PN) Cirebon, tujuh di antaranya divonis hukuman penjara seumur hidup. Sementara satu pelaku lainnya, dihukum 8 tahun penjara karena masih di bawah umur.

“Namun informasi yang saya peroleh, saat pemeriksaan awal secara terpisah ke delapan orang pelaku tersebut, mereka masing masing, menyebutkan ada tiga orang pelaku, yang disinyalir menurut mereka, satu dari tiga pelaku yang buron itu adalah otak dari perkara pidana tersebut, akan tetapi sayang nya sampai sekarang ketiga pelaku itu belum berhasil ditangkap polisi”tukas Agus Yohanes yang juga mantan anggota pengurus LSM Kontras.

Rupanya menangkap tiga pelaku tersebut, lanjut Agus, tidaklah mudah, karena menurut penyidik Polda Jawa Barat yang menangani kasus tersebut, pada saat penyerahan BAP ke kejaksaan negeri Cirebon, kedelapan tersangka tersebut secara bersamaan mencabut pernyataannya tentang adanya ketiga pelaku lainnya, sehingga akibatnya, penyidik kesulitan untuk mengungkap dan menangkap ketiga pelaku lainnya tersebut,

Alibi penyidik tersebut, tidak serta merta diterima begitu saja oleh masyarakat, pasalnya dirasakan adanya kejanggalan, bahkan menimbulkan kecurigaan dengan berbagai spekulasi issue tentang keberadaan tiga buronan itu, yang di duga adalah anak pejabat lah, atau anak seorang pejabat di lingkungan Polri berpangkat perwira tinggi atau bahkan ada yang menduga ada backing kekuasaan lah dsb, serta diduga ada intervensi pihak lain untuk mencegah dan menghalangi agar ketiga pelaku lainnya tersebut tidak dapat ditangkap.

Baca Juga :   Faisal Saleh: Pemilu Bersih Akan Menghasilkan Penyelenggara Negara Yang Bersih Pula

Spekulasi dugaan itu, tentunya tanpa disadari bakal berdampak pada kepercayaan publik terhadap reputasi institusi kepolisian maupun institusi kejaksaan, baik itu di tingkat wilayah Cirebon, Provinsi Jabar maupun di tingkat Nasional, dan ini harus dicegah, jika tidak di cegah maka akan bisa menimbulkan penurunan kepercayaan masyarakat terhadap institusi Kepolisian, institusi Kejaksaan maupun Lembaga Peradilan.

“Oleh karena itu tidak ada pilihan lain, kasus ini harus di tuntaskan, tiga pelaku yang buron itu harus di tangkap dan dihukum, nah itu tidak bisa hanya dilakukan oleh aparat hukum di Kota Cirebon maupun di Provinsi Jawa Barat, melainkan sudah harus diserahkan ke Bareskrim Mabes Polri untuk menangani kasus ini, dan harus di kawal bukan hanya oleh Kompolnas saja melainkan seluruh komponen masyarakat juga dapat turut mengawal dan mengawasinya sampai tuntas.”pungkas Agus Yohanes.

Loading

Berita Terkait

Penanganan Korban Perdagangan Orang Diperkuat Kementerian PPPA
BEI-Nasdaq Kerja Sama Perkuat Teknologi Pasar Modal
Kepada Ratusan Warga, Peradi Bagikan Daging Kurban
Masjid Al-Azhar Jakarta beri tips berkurban untuk Gen Z dan Milenial
Kapolda: Pelaksanaan shalat Idul Adha di Tanah Papua berlangsung aman
Satgas: Sudah Libatkan POM TNI dan Propam Polri
KemenKopUKM Tingkatkan Layanan Pendampingan Hukum Bagi Pelaku UMK
Dikuti lebih 200 Peserta, Indonesia Gymnaestrada Pertama Sukses Di gelar

Berita Terkait

Senin, 17 Juni 2024 - 21:03 WIB

Penanganan Korban Perdagangan Orang Diperkuat Kementerian PPPA

Senin, 17 Juni 2024 - 20:56 WIB

BEI-Nasdaq Kerja Sama Perkuat Teknologi Pasar Modal

Senin, 17 Juni 2024 - 20:46 WIB

Kepada Ratusan Warga, Peradi Bagikan Daging Kurban

Senin, 17 Juni 2024 - 20:24 WIB

Masjid Al-Azhar Jakarta beri tips berkurban untuk Gen Z dan Milenial

Senin, 17 Juni 2024 - 20:16 WIB

Kapolda: Pelaksanaan shalat Idul Adha di Tanah Papua berlangsung aman

Sabtu, 15 Juni 2024 - 20:41 WIB

KemenKopUKM Tingkatkan Layanan Pendampingan Hukum Bagi Pelaku UMK

Sabtu, 15 Juni 2024 - 20:17 WIB

Dikuti lebih 200 Peserta, Indonesia Gymnaestrada Pertama Sukses Di gelar

Sabtu, 15 Juni 2024 - 20:04 WIB

Rp 5 triliun Hasil Judi “online” Dilarikan ke Thailand-Kamboja Ungkap PPATK

Berita Terbaru

Ekonomi

BEI-Nasdaq Kerja Sama Perkuat Teknologi Pasar Modal

Senin, 17 Jun 2024 - 20:56 WIB

Headline

Kepada Ratusan Warga, Peradi Bagikan Daging Kurban

Senin, 17 Jun 2024 - 20:46 WIB