Home » Headline » Negara, Narasi, dan Ketakutan terhadap Film

Negara, Narasi, dan Ketakutan terhadap Film

Dhio Justice Law 19 Mei 2026 7

Membaca Pembubaran Pesta Babi dari Perspektif Politik Keamanan

Oleh; Ridwan Umar

NasionalPos.Com, Jakarta – Pembubaran pemutaran film dokumenter Pesta Babi di sejumlah daerah bukan sekadar soal film. Ia adalah cermin bagaimana negara membaca ancaman, mengelola ketakutan, dan mempertahankan legitimasi di tengah era perang narasi.

Di zaman modern, negara tidak lagi hanya takut pada senjata. Negara juga takut pada persepsi.

Sebab hari ini, opini publik dapat bergerak lebih cepat daripada operasi keamanan. Satu film, satu potongan video, atau satu diskusi kampus bisa menciptakan resonansi politik yang luas—terutama ketika menyentuh isu sensitif seperti Papua, militer, ketidakadilan sosial, atau relasi kekuasaan.

Karena itu, pembubaran pemutaran film Pesta Babi harus dibaca lebih dalam daripada sekadar tindakan aparat di lapangan. Ia menunjukkan bahwa negara masih melihat ruang diskusi publik sebagai wilayah yang harus diawasi ketat demi menjaga stabilitas politik.

Dalam logika keamanan nasional, langkah seperti ini sering dianggap wajar. Negara memiliki kepentingan menjaga ketertiban dan mencegah potensi konflik horizontal. Apalagi Indonesia memiliki sejarah panjang soal separatisme, konflik identitas, dan polarisasi sosial. Dari sudut pandang aparat, setiap narasi yang berpotensi memicu konsolidasi gerakan sosial sering dipandang sebagai risiko keamanan.

Baca Juga :  Pengamat :Ganjar Pranowo Berpeluang Besar Didampingi Mahfud MD Sebagai Cawapres

Masalahnya, pendekatan semacam ini menyimpan paradoks.

Semakin negara terlihat ingin membatasi diskusi, semakin publik bertanya: apa yang sebenarnya ditakuti?

Di era digital, pembubaran fisik tidak otomatis menghentikan penyebaran gagasan. Justru sebaliknya. Film yang sebelumnya hanya dikenal di lingkaran terbatas berubah menjadi isu nasional setelah dibubarkan. Media memberitakan. Media sosial memperdebatkan. Publik yang awalnya tidak tahu menjadi penasaran.

Negara mungkin menang membubarkan ruangan.
Tetapi belum tentu menang mengendalikan narasi.

Di sinilah tantangan terbesar pemerintahan modern muncul. Keamanan hari ini bukan hanya soal patroli dan kontrol wilayah, melainkan soal kemampuan menjaga legitimasi di ruang persepsi publik.

Baca Juga :  Poros Rawamangun Mencium Adanya Dugaan Memanipulasi Air Minum di pengelolaan RUSUN di Jakarta

Negara yang terlalu represif akan dianggap anti kritik.
Tetapi negara yang membiarkan seluruh narasi berkembang tanpa respons juga berisiko kehilangan otoritas.

Karena itu, kekuatan negara demokratis seharusnya tidak diuji dari seberapa cepat ia membubarkan diskusi, melainkan seberapa percaya diri ia menghadapi kritik secara terbuka.

Film, diskusi, dan kritik publik pada dasarnya adalah bagian dari dinamika demokrasi. Jika setiap narasi kritis selalu dibaca sebagai ancaman keamanan, maka negara perlahan dapat terjebak dalam mentalitas defensif—yaitu kondisi ketika kekuasaan mulai melihat perbedaan pendapat sebagai ancaman, bukan sebagai koreksi.

Padahal legitimasi tidak lahir dari rasa takut.
Ia lahir dari kepercayaan.

Kasus Pesta Babi akhirnya memperlihatkan satu kenyataan penting: negara modern sedang menghadapi perang baru—perang persepsi. Dan dalam perang semacam ini, pendekatan keras sering kali justru memperbesar gema dari hal yang ingin dibungkam. (x) 

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Dugaan Rekayasa AJB SHM 622 Terungkap di Persidangan, Keabsahan Akta Dipertanyakan

- Banyuwangi

18 Mei 2026

Muara Bungo, Jambi  – Nasionalpos.com  Perkara dugaan rekayasa Akta Jual Beli (AJB) atas Sertifikat Hak Milik (SHM) Nomor 622 atas nama almarhum Safran kini memasuki tahap akhir di Pengadilan Negeri Bungo. Setelah melalui rangkaian persidangan panjang, pemeriksaan saksi, pembuktian surat serta penyampaian kesimpulan, masyarakat kini menunggu putusan majelis hakim. Kasus ini menjadi perhatian luas karena …

OBOR Bahas Persoalan Gojek Instant di Stasiun Buaran: Sepakat, Ajukan Tiga Tuntutan Utama ke Pusat

dito

18 Mei 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Paguyuban Ojol Buaran Online Raya (OBOR) mengambil langkah tegas dan solutif dalam menyikapi operasional layanan Gojek Instant di kawasan Stasiun Buaran.   Melalui pertemuan mediasi yang melibatkan perwakilan paguyuban, pihak vendor Gojek Instant, serta perangkat wilayah setempat, persoalan yang selama ini menjadi ganjalan akhirnya ditemukan titik terangnya, demikian di sampaikan Wiro Gondrong kepada …

Dollar Naik, Rezim Runtuh?

Dhio Justice Law

17 Mei 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia – LAKI) NasionalPos.Com, Jakarta – Setiap kali dolar naik dan rupiah melemah, yang bergetar bukan hanya pasar keuangan. Politik pun ikut berguncang. Di Indonesia, nilai tukar bukan sekadar angka ekonomi. Ia adalah indikator psikologis kekuasaan. Ketika rupiah melemah terlalu dalam, publik mulai mempertanyakan satu hal paling mendasar: apakah …

Dugaan Penghalangan Tugas Jurnalistik, Awak Media Diminta Tidak Boleh Masuk Area Proyek Sekolahan Rakyat (SR) di Muncar

- Banyuwangi

14 Mei 2026

Banyuwangi, Nasionalpos.com – Sejumlah awak media mengaku mengalami dugaan penghalangan saat hendak melakukan konfirmasi dan peliputan di lokasi proyek pembangunan Sekolah Rakyat (SR) yang berada di Dusun Mangunreja, Desa Blambangan, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Kamis (14/5/2026). Kedatangan wartawan ke lokasi tersebut bertujuan untuk melakukan investigasi serta meminta keterangan terkait progres pembangunan proyek Sekolah Rakyat (SR) …

Serangan ke Istana di Era Perang Algoritma

Dhio Justice Law

13 Mei 2026

Oleh: Ridwan Umar (DIrektur Lemtera Keadilan Indonesia – LAKI)  NasionalPos.Com, Jakarta – Dalam politik modern, karakter tidak lagi dibunuh dengan peluru. Ia dibunuh dengan persepsi. Isu tentang dugaan penyimpangan seksual yang diarahkan kepada Letkol Teddy sebetulnya tidak bisa dibaca hanya sebagai gosip personal. Terlalu naif jika melihatnya sekadar urusan privat seorang pejabat negara. Dalam lanskap …

Amien Rais Putus Asa

dito

11 Mei 2026

Di tulis dan di sampaikan Oleh: Doni Istyanto Hari Mahdi Ketua Bidang Politik Pimpinan Pusat Pemuda Panca Marga (PP PPM – LVRI) Jagat maya tersengat oleh pernyataan Amien Rais yang merendahkan Mensekab Teddy Indra Wijaya, melalui pernyataan publik yang sangat tidak pantas dan sama sekali tidak mendidik. Rasanya perlu mengingatkan kita semua jika salah satu …

x
x