Home » Headline » TB Massa: Stop ‘Omon-omon’ NKRI Sudah Genting!!

TB Massa: Stop ‘Omon-omon’ NKRI Sudah Genting!!

ridwan umar 07 Des 2025 558

NasionalPos.com, Bogor – Saat ini kepercayaan rakyat terhadap pemerintah sudah di titik nadir. Rezim Prabowo yang diharapkan mampu memperbaiki kerusakan negeri, ternyata hanya ‘omon-omon’.

Hal itu diutarakan pengamat politik yang juga Ketua Program Doktor Universitas Nasional, Assoc. Prof. Dr. TB Massa Djafar saat ditemui di Bogor, Minggu (7/12/2025).

“Bencana banjir yang melanda Sumatera dan Aceh berdampak jatuhnya ratusan korban jiwa dan lenyapnya harta benda rakyat, kondisi itu menguatkan kesimpulan bahwa kerusakan negeri ini semakin parah. Negeri ini terjangkit penyakit kanker stadium empat karena kerusakan sudah merambah ke semua lini, kita tinggal menunggu lonceng kematian,” papar TB Massa.

Kerusakan negeri semakin parah, lanjut TB Massa, karena pemimpin tak ada lagi yang bisa dipercaya. Penegakan hukum demi keadilan tak kunjung terwujud.

“Di rezim ini, rakyat sangat berharap pada Presiden Prabowo.  Jika, Prabowo hanya ‘omon-omon’, maka tinggal tunggu waktu rakyat bergerak sendiri mencari keadilan seperti di Nepal. Ini bukan provokasi, tapi ini hasil pengamatan kami sebagai insan akademis,” jelas TB Massa.

Faktanya, angka kemiskinan makin tinggi akibat pengelolaan negara yang amburadul khususnya 10 tahun terakhir atau di era rezim Jokowi. Jumlah rakyat miskin pada Maret 2025 ini berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) mencapai 23,85 juta jiwa atau 8,47% , bahkan menurut World Bank mencapai 68,2% atau 194,4 juta jiwa pada 2024.  Saat krisis ekonomi sudah di depan mata, kini perekonomian rakyat dipastikan makin terpuruk akibat banjir besar di Sumut, Sumbar dan Aceh. Belum lagi kerusakan fasilitas umum, seperti jalan dan jembatan yang menopang kehidupan rakyat. Serta hancurnya gedung-gedung sekolah tempat anak-anak rakyat menimba ilmu.

Baca Juga :  Presiden Jokowi Resmikan Sodetan Ciliwung, Pj Gubernur Optimistis Atasi Sebagian Masalah Banjir di Jakarta

Selain banjir, kedaulatan negara pun sudah diinjak-injak dengan keberadaan Bandara milik PT Indonesia Morowali Industrial Pulp (IMIP) di Sulawesi Tengah yang mayoritas sahamnya dikuasai investor China. Di dalam bandara bebas beroperasi tanpa pengawasan Bea Cukai dan Imigrasi, ada negara di dalam negara.

“Selama 10 tahun dipimpin Jokowi, perekonomian negeri rusak. Begitupun sistem hukum ditandai pelemahan KPK dan terbitnya UU Ciptaker yang hanya menguntungkan elit bersama oligarki dan asing. Jadi, elit ini menjadikan kekuasaan atau negara sebagai instrumen kejahatan, ini termasuk state crime (kejahatan negara). Elit tak punya hati dan jadi penyebab utama dekadensi moral, maka keinginan untuk kembali ke UUD 45 asli tampaknya semakin mustahil,” tandasnya.

Fakta lain moral para elit yang berkuasa sudah rusak adalah mengingkari amanah Reformasi khususnya soal desentralisasi. Kekuasaan justru terpusat (sentralisasi), karena para elit bersama oligarki menggandeng asing berkepentingan untuk mengeruk kekayaan daerah.  Rakyat di daerah hanya bisa meratap menyaksikan tanahnya dirampas dan alamnya dirusak para elit bersama oligarki dan asing (state crime). Kondisi ini tak ada bedanya dengan zaman kolonial.

Baca Juga :  Pemilu 2024 Berjalan Sukses Ade Batik:Apresiasi Kepada Semua Pihak

Sementara, jika membaca kerusakan di rezim pasca Jokowi sudah masuk ciri-ciri failed state (negara gagal), maka bagi Presiden Prabowo tidak ada pilihan politik dan kebijakan yang bisa memutar balik haluan, kecuali menempuh jalan atau pendekatan revolusioner, yaitu reshuflle kabinet limbah rezim Jokowi.

Selain itu, segera adili para oligarki yang terlibat kejahatan penghancuran negara. “Ditengah kekecewaan rakyat, institusi politik seperti partai politik, parlemen dan sebagian media massa tidak bekerja atau tidak mampu menangkap pesan moral dan aspirasi rakyat yang berkembang, Secara laten, Dalam dinamika sosial politik, rakyat bergerak menurut logikanya sendiri,” jelasnya.

Bertolak dari kenyataan sentralisasi, lanjut TB Massa, maka ada kemungkinan dua jalan yang ada saat ini, yakni kemerdekaan bagi setiap wilayah atau tetap NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) tapi dengan mengadopsi sistem federal.

“Kalau kondisi sudah parah begini, dimana usia NKRI sudah 80 tahun, namun rakyat tak kunjung sejahtera sebaliknya makin terpuruk, maka ada kemungkinan dua jalan yang tersedia, pertama merdeka menjadi beberapa negara atau tetap pertahankan NKRI dengan mengadopsi bentuk negara federal. Semoga Presiden tak mengabaikan jerit hati rakyatnya, jangan hanya ‘omon-omon’ sebelum semuanya terlambat,” pungkasnya. (*)

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Negara di Era Perang Narasi; Polarisasi Agama: Retak yang Dipelihara (3 – End)

Dhio Justice Law

29 Apr 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia – LAKI) NasionalPos.com, Jakarta – Polarisasi tidak selalu terjadi dengan sendirinya. Sering kali, ia dibentuk—lalu dipelihara. Dalam lanskap politik kontemporer, konflik jarang lahir dari ruang hampa. Ia dirancang melalui narasi, diperkuat oleh repetisi, lalu dilegitimasi oleh emosi kolektif. Di titik inilah agama menjadi variabel yang paling sensitif sekaligus …

Lomba Baca Puisi Tingkat SD dan Talk show Sastra Di Gelar Jaker Kudus

dito

29 Apr 2026

NasionalPos.com, Kudus- Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER) Kabupaten Kudus menggelar diskusi/talkshow sastra bertajuk “Sastra Untuk Negeri” dalam rangka memperingati Bulan Puisi 2026, Sabtu (25/4/2026), di Sidji Coffee, Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus.   Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB ini mengangkat Tema Sastra (Puisi) Untuk Negeri Sub tema “Menemukan Makna Dalam Setiap Karya”   Serta …

Tragedi Little Aresha Yogyakarta, Catatan Penting Bagi Orang Tua, Masyarakat dan Pemerintah

dito

29 Apr 2026

Di tulis dan di sampaikan oleh Waspada,S. Ag, MM Dosen PG PAUD UNUSIA & Wakil Ketua KPAD Kabupaten Bogor. Tragedi memilukan yang dilakukan oleh pengelola Daycare dan pekerjanya seperti di Daycare Little Aresha Yogjakarta, sesungguhnya bukan yang pertama kali. Sebelumnya telah terjadi hal serupa dibeberapa daerah, akan tetapi hal tersebut tidak membuat jera oleh oknum pengelola …

Negara di Era Perang Narasi: Disinformasi: Senjata Tak Kasat Mata Yang Melumpuhkan (2)

Dhio Justice Law

28 Apr 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia – LAKI) NasionalPos.com, Jakarta – Perang modern tidak selalu dimulai dengan serangan fisik. Ia sering kali dimulai dari sesuatu yang tampak sepele: informasi yang dipelintir. Di era digital, peluru pertama bukanlah rudal—melainkan narasi. Dan yang ditembak bukan tubuh, tetapi persepsi. Disinformasi bekerja tanpa suara, tanpa jejak yang kasat …

DPD Partai Hanura Jabar Gelar Musda 2026 di Bandung

Suryana Korwil Jabar

28 Apr 2026

Kota Bandung, NasionalPos – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Provinsi Jawa Barat menggelar Musyawarah Daerah (Musda) tahun 2026 di Hotel Horizon, Jalan Lingkar Selatan No. 121, Kota Bandung, Selasa (28/4/2026). Kegiatan lima tahunan ini di hadiri Wakil Gubernur Jawa Barat H. Erwan Setiawan, S.E., perwakilan pengurus pusat Partai Hanura, Ketua DPD …

Partai Hanura Gelar Musda 2026 di Bandung, Fokus pada Regenerasi Kepemimpinan

Suryana Korwil Jabar

28 Apr 2026

Kota Bandung, NasionalPos – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Provinsi Jawa Barat menggelar Musyawarah Daerah (Musda) tahun 2026. Yang berlangsung di sebuah hotel Horizon, Jalan Lingkar Selatan, no. 121, Kota Bandung, Selasa (28/4/2026). Kegiatan lima tahunan ini di hadiri oleh Wakil Gubernur Jawa Barat H. Erwan Setiawan, S.E., perwakilan pengurus pusat …

x
x