Home » Headline » Analisis :Menyingkap Indikasi Keterlibatan Asing Pada Setiap Pergantian Kepemimpinan Nasional

Analisis :Menyingkap Indikasi Keterlibatan Asing Pada Setiap Pergantian Kepemimpinan Nasional

dito 09 Feb 2023 147

NasionalPos.com, Jakarta-Campur tangan asing, memang tidak bisa dilepaskan dalam setiap proses demokratisasi atau pemilihan umum (pemilu) di negara mana pun. Termasuk di Indonesia. Sejak masa-masa awal kemerdekaan RI campur tangan asing (terutama AS) sudah bisa dilihat pada masa Presiden Soekarno berkuasa hingga ia terjungkal dari kekuasaannya. Terjungkalnya Soekarno dari kekuasaan disusul dengan naiknya Soeharto tahun 1960-an disinyalir oleh banyak pengamat politik sebagai agenda yang tidak dapat terlepas dari peran asing, demikian disampaikan Setioko, Pengamat Politik Independen kepada nasionalpos.com, Kamis,  9/2/2023 di Jakarta.

“ Itulah fakta di alami pada proses pergantian kepemimpinan di Indonesia, mengapa pergantian kepemimpinan di Indonesia, terindikasi adanya intervensi asing? Ini yang mestinya dicermati oleh rakyat di sebuah negara yang katanya sudah merdeka dan berdaulat, “ucap Setioko.

Menurut Setioko, Sejak Indonesia Merdeka, Indonesia selalu menjadi bidikan negara asing. Banyak negara maju ingin menanamkan pengaruhnya terhadap Indonesia. Tidak peduli negeri ini sedang limbung atau booming. Terpenting bagi mereka adalah keinginan negara maju itu bisa diwujudkan, sehingga mereka berusaha keras untuk menjadikan Indonesia sebagai negara satelit yang mudah dikendalikan sesuai keinginan mereka, yang tidak dilakukan secara langsung dalam pengertian penjajahan secara fisik, melainkan dilakukan dengan penerapan kebijakan melalui pengendalian atau control terhadap kepemimpinan negara, untuk itulah, mereka berusaha melalui langkah politik, dengan melakukan pendekatan terhadap tokoh-tokoh sipil maupun militer yang terdapat di Indonesia, kemudian mereka membina dan memeliharanya dengan memberikan berbagai fasilitas, sehingga tanpa disadari, telah dijadikan kaki tangan asing untuk merebut kekuasaan atau bahkan membentuk kekuasaan sesuai agenda asing, sinyalemen itu terjadi pada peristiwa 1965 yang ditelusuri secara cermat, ada indikasi kuat merupakan hasil scenario asing untuk membentuk pemerintah yang menghamba kepada kepentingan asing.

Baca Juga :  Rizal Ramli Mantan Menko Kemaritiman Tutup Usia

“Itu terbukti, selama 32 tahun pemerintah di bawah kepemimpinan Soeharto, sangat dikooptasi oleh kepentingan asing, sehingga boleh dikatakan selama 32 tahun kekuasaan Soeharto tidak terlepas dari jeratan asing”ungkap Setyoko.

Bagaimana pergantian kepemimpinan setelah Soeharto lengser, lanjut Setyoko, adanya Gerakan reformasi, nampaknya Indonesia bisa terlepas dari jeratan asing, dan rasanya rakyat dapat menikmati kemerdekaannya, setelah selama 32 tahun dibungkam oleh asing melalui rezim Soeharto, eforia itu pun terus dihembuskan, sehingga tanpa disadari, eforia itu justru membuka peluang menjadikan Indonesia menjadi pasar politik yang sangat potensial bagi masuknya kepentingan asing, apalagi dengan adanya perubahan model pergantian kepemimpinan Nasional, yang selama 32 tahun hanya dilakukan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang bisa dikondisikan dan mudah dikendalikan tersebut, kemudian berubah menjadi Pemilihan Presiden & Wapres secara langsung, maka terjadilah ruang yang semakin terbuka bagi kepentingan asing untuk memilih pasangan capres-cawapres mana yang bisa berpotensi menjadi boneka kepentingan asing, selain itu, untuk melegitimasi pelaksanaan Pilpres secara langsung tersebut beserta agenda lainnya, maka mereka (asing) dibantu dengan kaki tangannya  melakukan agenda amandemen UUD 1945 hingga 4 tahap ( tahun 1999 s/d tahun 2002)

“Dari pengamatan saya, Pilpres 2004 yang merupakan tonggak sejarah demokratisasi di Indonesia, pertama kalinya rakyat Indonesia memilih langsung presiden & wakil presidennya, justru dicemari oleh dugaan intervensi asing,” tukas Setyoko.

Lebih lanjut Setyoko mengatakan indikasi intervensi asing itu terlihat dengan Modus yang dipakai adalah ada pejabat penting asing yang akan datang ke Indonesia, mereka bergerilya melakukan pendekatan kepada para calon yang dianggap dapat menjadi boneka kepentingannya, kemudian mereka juga membuat quick qount yang sangat agresif serta adanya pertemuan-pertemuan  di Indonesia dengan para calon maupun tokoh nasional pada jamuan-jamuan khusus, bukan hanya itu pihak asing inipun mengerahkan para agennya untuk melakukan gerakan intelejen untuk memenangkan calon presiden yang didukungnya.

Baca Juga :  Patroli Polsek Pronojiwo Ciptakan Rasa Aman Masyarakat

“Ya, faktanya pemenang pilpres 2004, dapat kita cermati kebijakan ekonomi, politiknya, cenderung adanya titipan kepentingan asing yang membantunya  memenangkan pilpres, begitu pula pemenang pilpres di tahun 2009, pilpres di tahun 2014 dan terakhir pilpres di tahun 2019 lalu, semua pemenang di arena pilpres tersebut, dapat dicermati adanya kebijakan yang cenderung menguntungkan pihak asing”ucap Setyoko.

Nah bagaimana dengan Pilpres 2024 mendatang, lanjut Setyoko, dirinya telah  memperoleh informasi dari berbagai sumber yang menyebutkan bahwa adanya dugaan intervensi asing, dan bahkan disinyalir telah terjadi “perang intelejen” antar negara yang berebut penaruh, berkompetisi agar dapat membentuk pemerintah boneka di Indonesia, bahkan tidak segan-segan mereka menggelontorkan dana ratusan trilyunan rupiah agar para agennya dapat bekerja efektif memunculkan tokoh yang layak untuk didukung dan dimenangkan, bukan hanya itu, mereka pula berkompetesi menjadikan sosok Presiden Jokowi dan juga para pemimpin partai politik sebagai King maker, yang dapat menentukan siapa sosok pasangan capres-cawapres yang layak didukung dan dimenangkan seperti halnya yang terjadi pada pilpres yang lalu-lalu.

“Nah kalau di pilpres 2024 nanti, Indonesia masih menjadi ladang perebutan kepentingan asing, kemudian rakyat jadi penonton saja, maka makna Proklamasi 17 Agustus 1945 akan dikebiri oleh kepentingan asing yang mengatasnamakan demokrasi, lalu sampai kapan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini merdeka 100% terbebaskan dari kepentingan asing, inilah yang harus diwaspadai, karena diperlukan kesadaran politik dari rakyat untuk tidak mudah menerima apapun atau mudah termakan oleh propaganda yang lakukan oleh mereka menjadi antek asing”pungkas Setyoko.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Negara di Era Perang Narasi; Polarisasi Agama: Retak yang Dipelihara (3 – End)

Dhio Justice Law

29 Apr 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia – LAKI) NasionalPos.com, Jakarta – Polarisasi tidak selalu terjadi dengan sendirinya. Sering kali, ia dibentuk—lalu dipelihara. Dalam lanskap politik kontemporer, konflik jarang lahir dari ruang hampa. Ia dirancang melalui narasi, diperkuat oleh repetisi, lalu dilegitimasi oleh emosi kolektif. Di titik inilah agama menjadi variabel yang paling sensitif sekaligus …

Lomba Baca Puisi Tingkat SD dan Talk show Sastra Di Gelar Jaker Kudus

dito

29 Apr 2026

NasionalPos.com, Kudus- Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER) Kabupaten Kudus menggelar diskusi/talkshow sastra bertajuk “Sastra Untuk Negeri” dalam rangka memperingati Bulan Puisi 2026, Sabtu (25/4/2026), di Sidji Coffee, Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus.   Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB ini mengangkat Tema Sastra (Puisi) Untuk Negeri Sub tema “Menemukan Makna Dalam Setiap Karya”   Serta …

Tragedi Little Aresha Yogyakarta, Catatan Penting Bagi Orang Tua, Masyarakat dan Pemerintah

dito

29 Apr 2026

Di tulis dan di sampaikan oleh Waspada,S. Ag, MM Dosen PG PAUD UNUSIA & Wakil Ketua KPAD Kabupaten Bogor. Tragedi memilukan yang dilakukan oleh pengelola Daycare dan pekerjanya seperti di Daycare Little Aresha Yogjakarta, sesungguhnya bukan yang pertama kali. Sebelumnya telah terjadi hal serupa dibeberapa daerah, akan tetapi hal tersebut tidak membuat jera oleh oknum pengelola …

Negara di Era Perang Narasi: Disinformasi: Senjata Tak Kasat Mata Yang Melumpuhkan (2)

Dhio Justice Law

28 Apr 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia – LAKI) NasionalPos.com, Jakarta – Perang modern tidak selalu dimulai dengan serangan fisik. Ia sering kali dimulai dari sesuatu yang tampak sepele: informasi yang dipelintir. Di era digital, peluru pertama bukanlah rudal—melainkan narasi. Dan yang ditembak bukan tubuh, tetapi persepsi. Disinformasi bekerja tanpa suara, tanpa jejak yang kasat …

DPD Partai Hanura Jabar Gelar Musda 2026 di Bandung

Suryana Korwil Jabar

28 Apr 2026

Kota Bandung, NasionalPos – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Provinsi Jawa Barat menggelar Musyawarah Daerah (Musda) tahun 2026 di Hotel Horizon, Jalan Lingkar Selatan No. 121, Kota Bandung, Selasa (28/4/2026). Kegiatan lima tahunan ini di hadiri Wakil Gubernur Jawa Barat H. Erwan Setiawan, S.E., perwakilan pengurus pusat Partai Hanura, Ketua DPD …

Partai Hanura Gelar Musda 2026 di Bandung, Fokus pada Regenerasi Kepemimpinan

Suryana Korwil Jabar

28 Apr 2026

Kota Bandung, NasionalPos – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Provinsi Jawa Barat menggelar Musyawarah Daerah (Musda) tahun 2026. Yang berlangsung di sebuah hotel Horizon, Jalan Lingkar Selatan, no. 121, Kota Bandung, Selasa (28/4/2026). Kegiatan lima tahunan ini di hadiri oleh Wakil Gubernur Jawa Barat H. Erwan Setiawan, S.E., perwakilan pengurus pusat …

x
x