- HeadlineTransisi Energi Berkeadilan Sosial di Indonesia, Kebutuhan Mendesak Agar Diterapkan Secara Kolaboratif
- NasionalDugaan Penggelapan hingga Dokumen Tanah Perusahaan, Empat Laporan di Banyuwangi Jadi Perhatian
- daerahBeri Motivasi dan Edukasi, Waka Polres Pesisir Barat Pimpin Upacara Bendera di MAN 1 Pesisir Tengah
- daerahAhli Waris Tegaskan Lahan Bersejarah Jl. Ince Nurdin dan Jejak Aset Lainnya, Sah Miliknya, Berdasarkan Data Eigendom Verponding yang Diakui UUPA
- daerahKNPI Kota Padang Sukses Gelar RAPIMPURDA XVI, Matangkan Persiapan Musda

Negara di Era Perang Narasi; Polarisasi Agama: Retak yang Dipelihara (3 – End)
Oleh: Ridwan Umar
(Direktur Lentera Keadilan Indonesia – LAKI)
NasionalPos.com, Jakarta – Polarisasi tidak selalu terjadi dengan sendirinya.
Sering kali, ia dibentuk—lalu dipelihara.
Dalam lanskap politik kontemporer, konflik jarang lahir dari ruang hampa. Ia dirancang melalui narasi, diperkuat oleh repetisi, lalu dilegitimasi oleh emosi kolektif. Di titik inilah agama menjadi variabel yang paling sensitif sekaligus paling strategis.
Isu agama memiliki daya mobilisasi yang tidak dimiliki isu lain. Ia tidak hanya berbicara tentang benar atau salah, tetapi tentang iman, identitas, dan rasa memiliki. Ketika disentuh, responsnya bukan sekadar opini—melainkan reaksi eksistensial. Karena itu, ia sangat efektif: bukan hanya untuk menyatukan, tetapi juga untuk memecah.
Namun masalahnya bukan pada keberagaman itu sendiri. Sejarah bangsa ini justru dibangun di atas keberagaman yang dikelola dengan visi. Masalah muncul ketika keberagaman tidak lagi diposisikan sebagai realitas yang harus dirawat, melainkan sebagai instrumen yang bisa dimanfaatkan.
Di sinilah polarisasi agama menemukan bentuknya yang paling berbahaya: bukan sebagai konflik terbuka, tetapi sebagai retakan sosial yang sengaja dipelihara.
Retakan ini tidak selalu terlihat di permukaan. Ia bekerja perlahan—melalui bahasa, simbol, dan asumsi yang terus diulang. Narasi “kita versus mereka” dibangun secara sistematis, sering kali tanpa disadari oleh publik yang mengonsumsinya.
Dalam teori framing, realitas tidak dihadirkan apa adanya, melainkan dikemas sedemikian rupa agar membentuk persepsi tertentu. Dan ketika framing ini menyentuh agama, ia mendapatkan legitimasi emosional yang sulit ditandingi oleh argumen rasional.
Akibatnya, ruang publik mengalami pergeseran.
Diskusi tidak lagi bertumpu pada data dan kepentingan bersama, tetapi pada identitas dan loyalitas kelompok. Yang berbeda tidak lagi dilihat sebagai alternatif, tetapi sebagai ancaman.
Dalam situasi seperti ini, publik tidak lagi berdialog—mereka saling mengunci dalam keyakinan masing-masing.
Fenomena ini diperkuat oleh apa yang dalam ilmu komunikasi disebut sebagai echo chamber. Informasi yang beredar cenderung menguatkan keyakinan yang sudah ada, bukan menguji atau menantangnya. Algoritma media mempercepat proses ini, menjadikan polarisasi bukan hanya fenomena sosial, tetapi juga produk sistem informasi yang tidak netral.
Yang hilang bukan hanya ruang tengah, tetapi juga kepercayaan.
Dan tanpa kepercayaan, perbedaan bukan lagi kekuatan—melainkan sumber konflik.
Lebih jauh, polarisasi agama yang dipelihara menciptakan ilusi stabilitas. Di permukaan, masyarakat tampak tenang. Namun di bawahnya, tersimpan kecurigaan yang sewaktu-waktu bisa meledak. Ini adalah bentuk latent conflict—konflik yang tidak terlihat, tetapi terus hidup dan menunggu momentum.
Dalam konteks negara, ini adalah risiko serius. Negara tidak hanya dituntut menjaga keamanan fisik, tetapi juga kohesi sosial. Ketika kepercayaan antar kelompok melemah, kapasitas negara untuk membangun konsensus juga ikut tergerus. Kebijakan publik menjadi sulit diterima secara luas, bukan karena substansinya lemah, tetapi karena publik sudah terbelah secara psikologis.
Di titik ini, negara tidak bisa bersikap netral dalam arti pasif. Netralitas bukan berarti membiarkan narasi liar berkembang tanpa arah. Negara justru harus hadir sebagai pengelola ruang publik—menjaga agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.
Namun pengelolaan ini tidak cukup dengan pendekatan keamanan semata. Polarisasi adalah masalah narasi, dan karena itu harus dijawab dengan narasi pula.
Diperlukan apa yang bisa disebut sebagai rekonstruksi narasi kebangsaan—sebuah upaya sistematis untuk mengembalikan agama pada fungsi aslinya sebagai sumber nilai, bukan alat konflik. Narasi ini harus inklusif, konsisten, dan berbasis pada kepentingan bersama, bukan kepentingan jangka pendek.
Selain itu, elite politik memegang peran krusial. Dalam teori elite cueing, sikap dan pernyataan elite sangat memengaruhi arah opini publik. Ketika elite memilih menggunakan agama sebagai alat mobilisasi, publik akan mengikuti.
Sebaliknya, ketika elite menunjukkan kedewasaan dan menahan diri, itu juga akan menjadi rujukan.
Masalahnya, godaan untuk mengeksploitasi isu agama sering kali terlalu besar—terutama dalam kontestasi politik yang ketat. Di sinilah integritas diuji: apakah kekuasaan ingin diraih dengan memperkuat persatuan, atau dengan memanfaatkan perpecahan.
Masyarakat sipil juga tidak bisa absen. Literasi publik terhadap informasi dan narasi menjadi kunci. Tanpa kemampuan memilah, publik akan terus menjadi objek dari permainan yang tidak mereka kendalikan. Kesadaran kritis harus dibangun bukan untuk menciptakan skeptisisme berlebihan, tetapi untuk menjaga rasionalitas tetap hidup.
Pada akhirnya, polarisasi agama bukan sekadar fenomena sosial. Ia adalah cermin dari bagaimana sebuah bangsa mengelola perbedaannya.
Apakah perbedaan akan dijadikan fondasi kekuatan, atau justru bahan bakar konflik—itu bukan ditentukan oleh keberagaman itu sendiri, melainkan oleh cara kita merawatnya.
Jika retakan terus dipelihara, maka ia akan melebar
Namun jika dikelola dengan kesadaran dan tanggung jawab, retakan itu justru bisa menjadi titik temu—tempat di mana dialog dimulai, dan kepercayaan dibangun kembali.
Negara di era perang narasi tidak cukup kuat hanya dengan kekuasaan.
Ia harus kuat dalam makna. Dan makna hanya bisa dijaga ketika publik tidak kehilangan akal sehatnya—bahkan di tengah perbedaan yang paling mendasar sekalipun. (X)
dito
19 Okt 2026
NasionalPos.com, Jakarta- Transisi energi menjadi isu global yang mendesak karena meningkatnya kesadaran terhadap dampak negatif perubahan iklim. Beberapa negara telah mempraktikkan transisi ke energi baru dan terbarukan (EBT) dengan baik, seperti Swedia, Jerman dan Selandia Baru, demikian di ungkapkan oleh narasumber tunggal: Dr Natalis Situmorang pada Webinar bertajuk Bedah Buku Transisi Energi di Indonesia, Sabtu, …
- Banyuwangi
19 Okt 2026
Banyuwangi, Nasionalis.com – Penanganan empat laporan polisi di Polresta Banyuwangi menjadi perhatian tim kuasa hukum yang mendampingi pelapor berinisial DPS dan IBP. Mereka meminta kejelasan mengenai perkembangan penanganan perkara yang mencakup dugaan tindak pidana terkait urusan keluarga, keuangan, dokumen hak atas tanah perusahaan, hingga penerimaan dana yang dipersoalkan. Sebagai tindak lanjut, tim kuasa hukum menyatakan …
dito
19 Okt 2026
NasionalPos.com, Makassar- Sengketa lahan di Jalan Ince Nurdin No. 37, Kelurahan Baru, Kota Makassar yang mencuat ke publik menjadi titik awal penelusuran lebih luas atas aset tanah peninggalan Pangeran Cornelis Demunic. Demikian disampaikan oleh Kuasa hukum ahli waris, A. Darwin R. Ranreng, kepada wartawan, Senin, 19/10/2026 di Makassar “Hari Senin ini, kami tegaskan bahwa …
dito
17 Okt 2026
NasionalPos.com, Jakarta- Putusan Mahkamah Konstitusi yang mewajibkan revisi UndangUndang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer menjadi sorotan penting dalam peta reformasi hukum nasional. Putusan yang menyatakan bahwa prajurit TNI yang melakukan tindak pidana umum harus diadili di peradilan umum ini dinilai sebagai tonggak konstitusional yang menegaskan prinsip negara hukum: tidak ada satu pun …
Dhio Justice Law
15 Okt 2026
NasionalPos. com – Jakarta — Pengamat kebijakan publik Chazali H. Situmorang (CHS) menilai desakan pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka harus diarahkan kepada para ketua umum partai politik, bukan semata-mata kepada fraksi-fraksi di DPR RI. Menurutnya, para ketua umum memiliki pengaruh besar dalam menentukan sikap politik partai sehingga harus bertanggung jawab atas keputusan maupun sikap …
dito
13 Okt 2026
NasionalPos.com, Bogor- Pada setiap tanggal 12 Oktober, di peringati sebagai peringatan Hari Musium kemarin, oleh karena itu, terkait dengan hal tersebut, kepada wartawan, H. Waspada MK, S.Ag, MM Wakil Ketua KPAD Kabupaten Bogor dan Dosen PG PAUD UNUSIA Jakarta., Selasa, 13/10/2026 di Bogor, ia mengatakan bahwa tentu musium sangat bermanfaat dan sangat penting bagi anak …
21 Nov 2024 2.485 views
NASIONALPOS.com II Banyuwangi, 20 November 2024 – Kasus penipuan dan pemerasan yang mengatasnamakan media Tribunnews kembali terjadi. Kali ini, pelaku yang diduga bernama Noviar Arya Putra, bersama dengan kontak bernama Tiara, berhasil menipu korban melalui aplikasi WhatsApp. Modus yang digunakan kali ini mengarah pada ancaman penyebaran video asusila yang direkam secara video call (VC). …
19 Sep 2025 1.908 views
Pesisir Selatan, Nasionalpos.com — Musyawarah Kabupaten (Muskab) Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), sukses digelar di Aula Kantor Camat Lengayang pada Kamis (18/9) siang. Acara tersebut dimulai pukul 13.30 WIB dan berlangsung hingga selesai dengan lancar dan penuh semangat kebersamaan antar sesama insan pencak silat. Muskab kali ini …
28 Jul 2025 1.660 views
NasionalPos.com, Jakarta- Koperasi Merah Putih, sebuah gerakan ekonomi berbasis desa yang diinisiasi oleh pemerintah, mendapatkan sambutan positif dari masyarakat. Koperasi ini sungguh sungguh sebagai solusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama yang bertinggal di wilayah pedesaan, dan bahkan bisa mengurangi ketergantungan pada tengkulak serta rentenir, demikian di sampaikan Faris Galuh Pratama Koordinator Gerakan Masyarakat Berdikari …
17 Mei 2022 1.656 views
NasionalPos.com, Depok– Diperoleh informasi yang menyebutkan bahwa Pangdivif 1 Kostrad yang baru, Brigjen TNI Bobby Rinal Makmun sebelumnya menjabat sebagai Kepala Staf Kodam (Kasdam) Jaya menggantikan Mayjen TNI Dedy Kusmayadi akan masuki masa Pensiun, secara resmi di lantik langsung oleh Panglima Kostrad (Pangkostrad) Letjen TNI Maruli Simanjuntak, M.Sc., dalam suatu upacara serah terima jabatan (Sertijab) …
23 Jul 2025 1.557 views
NasionaPos.com, Jakarta- Diperoleh informasi yang menyebutkan adanya indikasi oknum Kementerian Perhubungan RI yang di duga menciptakan suasana tidak kondusif untuk menyelesaikan permasalahan di kalangan ojol, Sinyalemen itu nampak ketika bakal di gelar nya FGD yang di laksanakan oleh Kementerian Perhubungan RI yang nampak nya mengundang para pihak yang selama ini berkaitan erat dengan permasalahan …
09 Jul 2025 1.515 views
NasionalPos.com, Jakarta- Totok Ketua Forum Mahasiswa Jakarta Peduli Perumahan Rakyat, kepada wartawan, ia mengatakan bahwa dirinya mendapatkan informasi telah terjadi kekerasan itu terjadi bukan hanya sekali, namun berulang kali dialami warga pemilik dan penghuni Rusunami Gading Nias Residence, Kelapa Gading (hanya sekitar 10% warga sesuai klaim dari Pengurus PPPSRS), dan nampaknya kejadian itu sudah berlangsung …
31 Okt 2024 1.331 views
Banyuwangi – Nasionalpos.com ll Gerah terhadap pemberitaan yang menyudutkan Muhammad Murni (35) warga Kelurahan Klatak Kecamatan Kalipuro Kab Banyuwangi dengan judul berita ” Aksi Koboy Warga Todong Menggunakan Senpi Ke Jukir” menggelar jumpa pers dengan beberapa awak media di Banyuwangi . Jumpa pers itu di geber , Kamis (31/10/2024) siang di warung Mbok Judges …



Comments are not available at the moment.