Home » Top News » Pererat Harmonisasi Hubungan Rusia-Indonesia, Bisa Berdampak Indonesia Semakin Maju

Pererat Harmonisasi Hubungan Rusia-Indonesia, Bisa Berdampak Indonesia Semakin Maju

dito 24 Jul 2024 172

NasionalPos.com, Jakarta-  Hubungan Rusia-Indonesia tidak pernah retak dan putus. Pada era kepemimpinan Presiden Suharto, Hubungan kedua negara ini hanya menjadi dingin dan tidak aktif karena orientasi Indonesia pada era orde baru sangat dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran dan ideologi barat yang sampai saat ini dipimpin oleh Amerika Serikat. Namun demikian, Indonesia saat itu, tetap tidak ingin kehilangan hubungan dengan Rusia yang dalam berbagai bidang termasuk di Perserikatan Bangsa-Bangsa tetap memberikan dukungan pada Indonesia, demikian disampaikan Laurentius Raymond Jr Pardamean Sihombing kepada Nasionalpos.com, Rabu, 24 Juli 2024 melalui saluran telpon Jakarta-Moskow.

“Rusia dalam konteks hubungan Indonesia-Rusia, menjadi pihak yang lebih aktif untuk kembali menghangatkan hubungan kedua negara dengan pada tahun 1990-an akhir menawarkan skema imbal dagang antara Rusia dan Indonesia.”ungkap Laurentius Raymond Jr Pardamean Sihombing yang juga pakar hukum Luar Angkasa & Diaspora di Rusia.

Pada saat itu, sambung Raymod, Presiden Megawati Soekarnoputri-lah yang kemudian mengunjungi Moskow untuk menandatangani lebih dari 8 MoU kerjasama Indonesia-Rusia dan yang paling terlihat adalah munculnya pesawat tempur Rusia Sukhoi di jajaran alutsista Indonesia,

Sementara itu, perang dingin menurut versi barat, berakhir pada saat bergabungnya Jerman Barat dan Jerman Timur dan kemudian diikuti dengan bubarnya Uni Soviet pada 1991 yg ditandai dengan perjanjian «Beloveshkaya Puscha» di Belarusia. Menurut versi Barat, perang dingin dimenangkan oleh Amerika Serikat.

Sedangkan perang dingin menurut versi Rusia, perang dingin berakhir pada saat Presiden JFKennedy memutuskan untuk berunding dengan Uni Soviet setelah Uni Soviet berhasil melakukan ujicoba pertama Bom Atom Termal di Kazakhstan dan mengirim sampelnya ke Kuba yang membuat Administrasi Presiden AS JFKennedy memutuskan untuk berunding. Saat itu, di Indonesia pengaruh terbesarnya adalah perubahan rezim dari Rezim Sukarno ke Rezim Suharto. Perubahan inilah yang kemudian mempengaruhi kebijakan luar negeri Indonesia yang sebelumnya sangat dekat ke Uni Soviet menjadi menjauh dari Uni Soviet dan Rusia (setelah 1991).

“Rusia sendiri sejak era Suharto tidak pernah mengubah politiknya atau menarik dukungannya terhadap Indonesia baik di forum PBB maupun organisasi Internasional lainnya. Sementara Indonesia karena perubahan rezim tersebut (dari rezim Soekarno ke rezim Soeharto), mulai menjadi dingin dan terkesan memilih-milih dengan Rusia karena ketakutan akan ditinggalkan oleh partner bisnis baru yang saat itu adalah AS dan sekutunya. “tutur Laurentius Raymond Jr Pardamean Sihombing yang juga pengamat militer dan geopolitik Rusia

Baca Juga :  RPJMN Diusulkan Masuk di Pasal 3 Raperda RPJMD 2025-2029

Lebih lanjut Raymod mengatakan bahwa usai terjadinya perang dingin, pada realitasnya hubungan bilateral Rusia-Indonesia masih menghadapi tantangan, adapun tantangan utama yang perlu diatasi untuk semakin mempererat hubungan Rusia — Indonesia ada dua. Pertama, kelesuan dan dinginnya hubungan antara Indonesia dengan Rusia sejak jaman Suharto harus mulai ditinggalkan. Indonesia harus lebih aktif dalam hal ini.

Pihak Indonesia perlu untuk melihat contoh-contoh negara-negara di ASEAN yang tetap aktif membina hubungannya dengan Rusia tanpa takut akan sanksi atau menurunnya hubungan dagang antara negaranya dengan negara-negara sekutu Barat. Misalnya negara Vietnam yang sampai saat ini berhasil tetap dekat secara ekonomi dengan barat dan dengan Rusia. Atau misalnya lagi negara Malaysia yang masuk dalam persemakmuran dengan inggris yang notabene sekutu utama barat (AS).

Malaysia bisa menjaga keseimbangan hubungannya dengan negara-negara barat dan dengan Rusia. Semua negara yang berhasil menjaga keseimbangan hubungan dengan Rusia dan dengan koalisi Barat menurut saya justru menjadi contoh utama yang harus ditiru Indonesia kalau Indonesia masih tetap menganut asas bebas aktif.

Sedangkan tantangan kedua, adalah perbedaan budaya. Dalam banyak hal, khususnya terkait dengan perundingan bisnis dan dagang, terdapat miskomunikasi baik disisi Indonesia maupun Rusia. Indonesia perlu memiliki tim perunding dengan Rusia yang dibekali dengan pengetahuan yang kuat dan mendalam mengenai kultur Rusia yang sama sekali berbeda dengan kultur eropa barat, AS, apalagi Asia.

Kalau melihat beberapa proyek kerjasama strategis Rusia di Indonesia atau sebaliknya, ada beberapa lubang yang seharusnya bisa diatasi dengan pengetahuan mengenai kultur dan karakteristik berbisnis orang Rusia. Begitupula sebaliknya, buat orang Rusia, sulit sekali memahami kultur bisnis dan budaya berbisnis orang-orang Indonesia.

“Misalnya, budaya menolak. Kita di Indonesia terbiasa menolak dengan senyuman atau dengan melambaikan tangan dan melenggang pergi. Sementara di Rusia, senyuman diartikan sebagai tanda persetujuan. Masih banyak lagi contoh seperti ini yang bisa digali dan dijadikan pembelajaran. Di Moskow, ini menjadi salah satu materi perkuliahan yang saya bawakan di beberapa Universitas dan Akademi. Menariknya, justru baru semenjak 2022, makin banyak pendengar Rusia yang tertarik mengikuti materi yg saya bawakan ini.”tukas Laurentius Raymond Jr Pardamean Sihombing yang saat ini menjabat sebagai Presiden Russian-Indonesian business alliance

Baca Juga :  TNI AU: Terbang Napak Tilas, Refleksi Keteguhan Jatidiri Pengawal Dirgantara

Raymond juga menambahkan bahwa langkah solusi yang tepat, konkrit dan nyata untuk semakin mengharmonisasikan hubungan bilateral Indonesia-Rusia di tengah krisis multidimensional ini, satu-satunya yang bisa dilakukan oleh Indonesia dan Rusia adalah dengan memulai langkah pertama yaitu menjajaki potensi kerjasama tanpa rasa takut terkena sanksi dari koalisi barat dan seterusnya.

Langkah menjajaki itu, bisa saja melalui berbagai aktivitas, diantaranya bisa melalui kegiatan Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB) bersama Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Rusia (PPIR) dan Forum Peduli Literasi Masyarakat (FILEM) menyelenggarakan Webinar “Indonesia-Rusia: Mempererat Persahabatan di tengah Krisis Multidimensi” pada tanggal 20 Juli 2024, sebagai ajang diskusi yang patut diapresiasi, yang juga bisa menjadi ajang penjajakan gagasan atau brainstorming untuk melangkah lebih berani menjajaki potensi kerjasama tanpa rasa takut terkena sanksi dari koalisi barat.

Dalam keterangannya, Raymod juga mengungkapkan bahwa setelah Covid -19 melanda Rusia, kemudian dilanjutkan dengan perang di Ukraina dan perang di Timur Tengah (Israel — Palestina), Rusia telah berubah menjadi negara yang sangat kuat baik secara militer maupun secara teknologi dan ekonomi. Rusia telah menjadi negara yang bukan saja berdaulat secara wilayah, namun juga berdaulat secara energi, secara pangan, berdaulat secara teknologi, berdaulat secara militer, berdaulat secara finansial, berdaulat secara sumber daya manusia, kesehatan dan seterusnya.

“Menurut hemat saya, Indonesia perlu mengambil banyak contoh baik dari Rusia agar bisa berdaulat secara teknologi, finansial, ekonomi, energi dll, itu semua bisa di wujudkan oleh Indonesia, salah satunya dengan mempererat hubungan Rusia-Indonesia di berbagai bidang, terutama bidang teknologi, perdagangan maupun investasi, yang mempunyai prinsip saling memberdayakan, saling menguntungkan, dan saling menguatkan, bukan melemahkan, ya, intinya pererat harmonisasi hubungan Rusia-Indonesia, bisa berdampak  Indonesia semakin maju untuk siap menyambut Indonesia Emas 2024 mendatang. “pungkas Raymond

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Pisah Sambut Kepala SMAN 12 Padang, Gusnaldi Serahkan Kepemimpinan kepada Evide

Zulwandi

26 Agu 2026

Padang, Nasionalpos.com — SMAN 12 Padang menggelar acara pisah sambut kepala sekolah, Senin (24/8/2026), sebagai momentum serah terima kepemimpinan dari Pelaksana Tugas (PLT) Kepala SMAN 12 Padang, Gusnaldi, M.Pd., kepada kepala sekolah definitif, Evidel, S.Pd. Acara tersebut dihadiri Kasi SMA Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat, Alit Anugrah Maria, M.Pd., yang mewakili Kepala Cabang Dinas (Kacabdin) …

Ojol jadi UMKM, ganti Istilah bukan Ganti nasib, Perpres no 27 tahun 2026 Rentan Di gugat Di batalkan

dito

23 Agu 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Ojol bakal resmi menyandang status UMKM. Pemerintah bilang ini kabar baik. Tapi coba tanya: apa yang benar-benar berubah buat pengemudi di jalan?     Selama bertahun-tahun, status ojol ada di zona abu-abu, bukan buruh, bukan juga pengusaha. Sekarang lewat Perpres 27/2026, status itu “diselesaikan.” Jutaan pengemudi otomatis jadi pelaku usaha mikro. Tanpa daftar. …

TB Massa: Prabowo Pimpin Revolusi Atau Melanjutkan Pola Rezim Lama?

Dhio Justice Law

23 Agu 2026

NasionalPos.com, Jakarta – Saatnya Presiden Prabowo Subianto memimpin revolusi untuk menjawab keraguan rakyat. Saat ini, ada sebagian masyarakat yang menilai Pemerintahan Prabowo hanya kelanjutan dari rezim Jokowi. Pengamat politik sekaligus Ketua Program Studi Doktor Ilmu Politik Universitas Nasional (Unas) Jakarta, Assoc. Prof. Dr. TB Massa Djafar, mengatakan keresahan masyarakat terhadap berbagai persoalan nasional semakin meningkat. …

Dua Bulan untuk 13.044 SPPG: Mana Roadmap BGN?

dito

23 Agu 2026

Di tulis dan di sampaikan oleh Pius Luistrilanang mantan anggota BPK RI dan mantan kader Partai Gerindra    Pemerintah menyampaikan bahwa penyelesaian sekitar 13 ribu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang masih berada dalam tahap persiapan membutuhkan waktu hingga dua bulan. Berdasarkan data BGN, jumlah tepatnya mencapai 13.044 SPPG Proses Persiapan. Selain itu, terdapat 27.469 …

MAPPI & Dosen Usakti Desak KPK Tangkap Ainun Naim atas Dugaan Keterlibatan Kasus Google Cloud

dito

19 Agu 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Sebanyak ratusan orang dari Masyarakat Aliansi Peduli Pendidikan (MAPPI) menggelar aksi unjuk rasa di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rabu, 19/8/2026   Mengusung tuntutan agar Mendesak KPK agar segera memanggil Ainun Na’im Sekjen Kemendikbudristek 2019-2021, terkait penyidikan dugaan korupsi pengadaan Google Cloud di Kemendikbudristek di bawah kepemimpinan Nadim Makarim     ” Ya, …

Wawako Rustam Effendi Hadiri Apel Tahunan Pondok Pesantren Al Madani

Andi Ledi Lubuk Linggau

18 Agu 2026

Nasional.COM-Lubuk Linggau— Wakil Wali Kota Lubuk Linggau, H Rustam Effendi, menghadiri Apel Tahunan Pondok Pesantren Al Madani Kota Lubuk Linggau, Selasa (18/8/2026). Kegiatan berlangsung di lapangan kompleks Pondok Pesantren Al Madani. Dalam sambutannya, H Rustam Effendi menyampaikan bahwa pondok pesantren memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat …

x
x