Home » Headline » Negara, Narasi, dan Ketakutan terhadap Film

Negara, Narasi, dan Ketakutan terhadap Film

Dhio Justice Law 19 Mei 2026 208

Membaca Pembubaran Pesta Babi dari Perspektif Politik Keamanan

Oleh; Ridwan Umar

NasionalPos.Com, Jakarta – Pembubaran pemutaran film dokumenter Pesta Babi di sejumlah daerah bukan sekadar soal film. Ia adalah cermin bagaimana negara membaca ancaman, mengelola ketakutan, dan mempertahankan legitimasi di tengah era perang narasi.

Di zaman modern, negara tidak lagi hanya takut pada senjata. Negara juga takut pada persepsi.

Sebab hari ini, opini publik dapat bergerak lebih cepat daripada operasi keamanan. Satu film, satu potongan video, atau satu diskusi kampus bisa menciptakan resonansi politik yang luas—terutama ketika menyentuh isu sensitif seperti Papua, militer, ketidakadilan sosial, atau relasi kekuasaan.

Karena itu, pembubaran pemutaran film Pesta Babi harus dibaca lebih dalam daripada sekadar tindakan aparat di lapangan. Ia menunjukkan bahwa negara masih melihat ruang diskusi publik sebagai wilayah yang harus diawasi ketat demi menjaga stabilitas politik.

Dalam logika keamanan nasional, langkah seperti ini sering dianggap wajar. Negara memiliki kepentingan menjaga ketertiban dan mencegah potensi konflik horizontal. Apalagi Indonesia memiliki sejarah panjang soal separatisme, konflik identitas, dan polarisasi sosial. Dari sudut pandang aparat, setiap narasi yang berpotensi memicu konsolidasi gerakan sosial sering dipandang sebagai risiko keamanan.

Baca Juga :  JPU Tolak Pledoi Terdakwa Rafael Alun

Masalahnya, pendekatan semacam ini menyimpan paradoks.

Semakin negara terlihat ingin membatasi diskusi, semakin publik bertanya: apa yang sebenarnya ditakuti?

Di era digital, pembubaran fisik tidak otomatis menghentikan penyebaran gagasan. Justru sebaliknya. Film yang sebelumnya hanya dikenal di lingkaran terbatas berubah menjadi isu nasional setelah dibubarkan. Media memberitakan. Media sosial memperdebatkan. Publik yang awalnya tidak tahu menjadi penasaran.

Negara mungkin menang membubarkan ruangan.
Tetapi belum tentu menang mengendalikan narasi.

Di sinilah tantangan terbesar pemerintahan modern muncul. Keamanan hari ini bukan hanya soal patroli dan kontrol wilayah, melainkan soal kemampuan menjaga legitimasi di ruang persepsi publik.

Baca Juga :  Peresmian Pelayanan Baru RSUD Otista Langkah Maju dalam Peningkatan Kesehatan Anak dan Penanganan Kanker di Jawa Barat

Negara yang terlalu represif akan dianggap anti kritik.
Tetapi negara yang membiarkan seluruh narasi berkembang tanpa respons juga berisiko kehilangan otoritas.

Karena itu, kekuatan negara demokratis seharusnya tidak diuji dari seberapa cepat ia membubarkan diskusi, melainkan seberapa percaya diri ia menghadapi kritik secara terbuka.

Film, diskusi, dan kritik publik pada dasarnya adalah bagian dari dinamika demokrasi. Jika setiap narasi kritis selalu dibaca sebagai ancaman keamanan, maka negara perlahan dapat terjebak dalam mentalitas defensif—yaitu kondisi ketika kekuasaan mulai melihat perbedaan pendapat sebagai ancaman, bukan sebagai koreksi.

Padahal legitimasi tidak lahir dari rasa takut.
Ia lahir dari kepercayaan.

Kasus Pesta Babi akhirnya memperlihatkan satu kenyataan penting: negara modern sedang menghadapi perang baru—perang persepsi. Dan dalam perang semacam ini, pendekatan keras sering kali justru memperbesar gema dari hal yang ingin dibungkam. (x) 

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Transisi Energi Berkeadilan Sosial di Indonesia, Kebutuhan Mendesak Agar Diterapkan Secara Kolaboratif

dito

19 Okt 2026

NasionalPos.com, Jakarta-  Transisi energi menjadi isu global yang mendesak karena meningkatnya kesadaran terhadap dampak negatif perubahan iklim.   Beberapa negara telah mempraktikkan transisi ke energi baru dan terbarukan (EBT) dengan baik, seperti Swedia, Jerman dan Selandia Baru, demikian di ungkapkan oleh narasumber tunggal: Dr Natalis Situmorang pada Webinar bertajuk Bedah Buku Transisi Energi di Indonesia, Sabtu, …

Dugaan Penggelapan hingga Dokumen Tanah Perusahaan, Empat Laporan di Banyuwangi Jadi Perhatian

- Banyuwangi

19 Okt 2026

Banyuwangi, Nasionalis.com – Penanganan empat laporan polisi di Polresta Banyuwangi menjadi perhatian tim kuasa hukum yang mendampingi pelapor berinisial DPS dan IBP. Mereka meminta kejelasan mengenai perkembangan penanganan perkara yang mencakup dugaan tindak pidana terkait urusan keluarga, keuangan, dokumen hak atas tanah perusahaan, hingga penerimaan dana yang dipersoalkan. Sebagai tindak lanjut, tim kuasa hukum menyatakan …

Ahli Waris Tegaskan Lahan Bersejarah Jl. Ince Nurdin dan Jejak Aset Lainnya, Sah Miliknya, Berdasarkan Data Eigendom Verponding yang Diakui UUPA

dito

19 Okt 2026

NasionalPos.com, Makassar- Sengketa lahan di Jalan Ince Nurdin No. 37, Kelurahan Baru, Kota Makassar yang mencuat ke publik menjadi titik awal penelusuran lebih luas atas aset tanah peninggalan Pangeran Cornelis Demunic. Demikian disampaikan oleh Kuasa hukum ahli waris, A. Darwin R. Ranreng, kepada wartawan, Senin, 19/10/2026 di Makassar   “Hari Senin ini, kami tegaskan bahwa …

PUTUSAN MK: PRAJURIT TNI PIDANA UMUM WAJIB DIADILI DI PENGADILAN UMUM,Langkah Bersejarah Menuju Kesetaraan di Hadapan Hukum ,

dito

17 Okt 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Putusan Mahkamah Konstitusi yang mewajibkan revisi UndangUndang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer menjadi sorotan penting dalam peta reformasi hukum nasional.   Putusan yang menyatakan bahwa prajurit TNI yang melakukan tindak pidana umum harus diadili di peradilan umum ini dinilai sebagai tonggak konstitusional yang menegaskan prinsip negara hukum: tidak ada satu pun …

Blunder Politik Gibran Buah Konspirasi Ketum Partai

Dhio Justice Law

15 Okt 2026

NasionalPos. com – Jakarta — Pengamat kebijakan publik Chazali H. Situmorang (CHS) menilai desakan pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka harus diarahkan kepada para ketua umum partai politik, bukan semata-mata kepada fraksi-fraksi di DPR RI. Menurutnya, para ketua umum memiliki pengaruh besar dalam menentukan sikap politik partai sehingga harus bertanggung jawab atas keputusan maupun sikap …

Di Momentum Hari Musium Nasional, H. Waspada SAg MM Wakil Ketua KPAD Kabupaten Bogor, Himbau Musium Bisa Jadi Ajang Edukasi Anak

dito

13 Okt 2026

NasionalPos.com, Bogor- Pada setiap tanggal 12 Oktober, di peringati sebagai peringatan Hari Musium kemarin, oleh karena itu, terkait dengan hal tersebut, kepada wartawan, H. Waspada MK, S.Ag, MM Wakil Ketua KPAD Kabupaten Bogor dan Dosen PG PAUD UNUSIA Jakarta., Selasa, 13/10/2026 di Bogor, ia mengatakan bahwa tentu musium sangat bermanfaat dan sangat penting bagi anak …

x
x