Home » Headline » Diduga Adanya Provokasi dan Asumsi Sebagai Pemicu Terjadinya Tragedy Berdarah 1965 ?

Diduga Adanya Provokasi dan Asumsi Sebagai Pemicu Terjadinya Tragedy Berdarah 1965 ?

dito 24 Jan 2023 145

NasionalPos.com, Jakarta– Penegakan HAM merupakan salah satu agenda demokratisasi yang belum sepenuhnya tercapai. Pelanggaran-pelanggaran HAM berat seperti Tragedi 1965 masih belum jelas sehingga penyelesaian nonlitigasi (pengakuan dan kompensasi), dianggap sebagai solusi yang terbaik. Pengakuan negara melalui pernyataan Presiden Jokowi beberapa waktu lalu, dapat dianggap sebagai bentuk tanggungjawab Negara untuk menghormati HAM dan menjadi batu loncatan untuk mengungkap tragedi HAM lainnya,

Akan tetapi yang lebih dari itu adalah bagaimana negara dapat mengungkap lebih dalam tentang peristiwa berdarah 1965 tersebut secara holistic, komprehensif dan tentunya dalam perspektif filsafat sosial, sehingga dapat merumuskan pengungkapan secara obyektif, ilmiah serta tanpa tendensi politis apapun, demikian disampaikan Setyoko pemerhati Sejarah Independen kepada nasionalpos.com, Selasa, 24/1/2023 di Jakarta.

“Jika mengamati dan menelaah tragedy 1965, tidak bisa di cermati dari satu sisi saja, tapi mesti di lihat dari suatu rangkaian peristiwa sosial dan politik sebelum dan pasca terjadinya tragedy tersebut, ini penting sekali agar tidak terjebak pada perdebatan berkepanjangan serta juga stigma berkepanjangan bagi pihak-pihak yang terlibat di peristiwa kelam tersebut”ucap Setyoko.

Menurut Setyoko, apabila membaca ‘peristiwa 1965’ di Indonesia, maka sudah semestinya  juga dicermati soal keterhubungan antara peristiwa itu dengan faktor dunia internasional. Namun, keterhubungan itu, seperti sering dikemukakan banyak orang, tidak sesederhana ‘konteks perang dingin’, yang terjadi saat itu antara Amerika Serikat VS Uni Sovyet, antara Kapitalisme Vs Komunisme, tentunya kondisi tersebut berimbas pada kondisi politik di Indonesia, nah, dirinya mencermati bahwa Sebelum peristiwa G30S 1965, seperti informasi yang diperolehnya dari berbagai sumber maupun literasi yang menyebutkan adanya dugaan Amerika Serikat melakukan sejumlah aksi untuk membendung laju komunisme, politik luar negeri non-blok, dan rencana-rencana pembangunan di Indonesia. Salah satunya adalah adanya dugaan keterlibatan AS dalam menyokong militer kanan dalam pemberontakan PRRI/Permesta di tahun 1950-an,

Selain itu, kata Setyoko, dalam melakukan aksinya itu, diduga AS juga bekerjasama dengan sejumlah intelektual berorientasi barat di Indonesia, yang kecewa dengan pembubaran Demokrasi Parlementer. Bukan hanya itu, ada indikasi pemerintah AS melalui lembaga-lembaga kemanusiaannya, dan lembaga seperti Bank Dunia mencoba ‘merayu’ Soekarno untuk menerima bantuan militer, ekonomi, dan teknis, dengan harapan bisa membawa Indonesia ke pangkuan barat, namun niat itu ternyata benar-benar pupus, ketika Soekarno melancarkan konfrontasi terhadap Federasi Malaya (federasi bentukan Inggris), sedangkan Di sisi lain, diduga politik luar negeri Indonesia saat itu cenderung ke Cina,

Baca Juga :  Pilkada di Negeri Para Raja

Pada Agustus 1964, dari informasi yang diperolehnya, disebutkan adanya indikasi AS memulai operasi-operasi rahasia untuk menggulingkan Soekarno dan memancing konflik yang tajam antara Angkatan Darat (AD) dan PKI. Saat itu, pihak intelijen AS menyimpulkan bahwa kekusaan Presiden Soekarno mustahil dilawan selama dia masih hidup,

“Dari pengamatan saya, saat itu, pihak Amerika diduga juga mulai melancarkan provokasi kepada Politbiro PKI/Aidit bisa diprovokasi lewat Dok Gilchrist, yang kemudian diprovokasi dan digoreng oleh Soebandrio, Sutarto, Syam, dan ternyata provokasi itu berhasil mendorong tokoh-tokoh PKI untuk membangun kekuatan ” ucap Setyoko.

Ketika itu, Lanjut Setyoko, informasi yang dia peroleh menyebutkan bahwa pada Februari 1965, CIA mengusulkan untuk memperluas cakupan operasinya di Indonesia, termasuk hubungan rahasia dengan kelompok-kelompok anti-komunis, black letter operation, operasi media, termasuk kemungkinan aksi ‘radio hitam’ dan politik hitam di dalam lembaga-lembaga politik di Indonesia, diduga AS dan sekutunya memainkan peran besar dalam memprovokasi situasi di Indonesia.

Dugaan bahwa AS dan sekutunya turut bermain dalam isu “Dewan Jenderal” dan “Dokumen Gillchrist” sangat mungkin terjadi. Provokasi-provokasi itu bermakna dua hal: pertama, memancing pendukung Soekarno, termasuk PKI dan Angkatan Bersenjata, untuk melancarkan operasi kontra-kudeta yang prematur; kedua, mempertajam peruncingan antara sayap kiri (Soekarno, militer progressif dan PKI) melawan sayap kanan (AD, Masyumi, PSI, dll),

Selain itu, dirinya juga mendapatkan informasi bahwa seiring dengan berjalannya operasi provokasi tersebut, Jauh sebelum Peristiwa G-30-S 1965, diduga Soeharto sudah lakukan penetrasi —  “tanam” orang-orangnya di organisasi PKI, baik itu di Comite Central PKI maupun CDB PKI. Makanya diduga Soeharto dengan cepat sekali dapat antisipasi manuver-manuver Pasukan G-30-S 1965 serta Elite G-30-S 1965. Info-info mutakhir terkait dengan rencana Elite Politbiro CC PKI serta Elite G-30-S selalu mengalir ke pihak Soeharto.

“Bung Karno sudah mengetahui adanya provokasi Amerika Serikat, baik ke tubuh PKI maupun di tubuh tentara, namun sayang sekali Bung Karno terlambat dalam mengambil langkah pencegahannya, sehingga situasi yang diciptakan oleh pihak asing, justru menjadi boomerang bagi dirinya”tutur Setyoko.

Baca Juga :  Saat Reses Di Balekambang, Adi Kurnia Sampaikan Bantuan ke Warga

Setyoko juga menjelaskan bahwa Ikhtiar Bung Karno yang sia-sia dengan menerbitkan SP 13 Maret 1966, yang intinya mencabut SP 11 Maret 1966, seharusnya Soeharto dipecat, itu pun jika sampai dipecat Soeharto tak akan tinggal diam, ia pasti melawan. Karena keluarnya SP 11 Maret 1966 itu dilatarbelakangi oleh rencana Bung Karno yang segera copot Soeharto selaku Pangkopkamtib yang rangkap jabatan sebagai Menpangad., hal itu dapat dibuktikan adanya rapat pengondisian keluarnya SP 11 Maret 1966 itu diadakan pada 8 – 9 Maret 1966 dengan melibatkan sejumlah politisi sipil di MBAD, yang Boleh disimplifikasi sebagai adanya dugaan puncak kudeta militer, pasca tahap awal pd Gestok 1965, sedangkan kudeta politisnya di MPRS pd 1967/68. Provokasi dari asing dapat dilihat dari peran media BPI, BCC, dll.

Setyoko mengungkapkan bahwa bung Karno sudah sangat  terlambat copot Soeharto, sehingga saya menduga Soeharto dan klieknya dapat melakukan konsolidasi secepatnya dan lakukan langkah-langkah konkret di lapangan. Kalau menggunakan Bahasa filsafat sosial bahwa pidato/surat Bung Karno itu dilawan dgn kekuatan senjata & ops intel ala Soeharto, ya yang unggul pihak Soeharto, bukan pihak Sukarno,sedangkan bahasa Dialektikanya begini, Pidato/Surat BK adalah ide, sedangkan Kekuatan Senjata/Ops Intel Soeharto adalah materi. “Materi Yang Menentukan Ide.”

Begitulah imbuh Setyoko, jika memakai perspektif filsafat sosial, dan dapat disimpulkan bahwa tragedy berdarah 1965 tersebut, dipemicu oleh provokasi yang kemudian diciptakan sebuah asumsi yang terindikasi fitnah, karena sampai sekarang, tragedy 1965 itu dibuat gelap gulita, Nah peran negaralah untuk membuka tabirnya agar tidak terjadi stigma atau asumsi negative yang diwariskan dari generasi ke generasi bangsa ini, dan juga sebagai pembelajaran bagi kita semua agar tidak mudah terprovokasi kemudian bisa mendorong lahirnya asumsi hingga berakibat munculnya tragedy.

“Kita semua sangat berharap jangan sampai terulang kembali tragedi kemanusiaan seperti yang terjadi tahun 1965 silam, hanya gara-gara provokasi asing, sesama anak bangsa berseteru, berkonflik, hingga mengakibatkan jutaan nyawa mati sia-sia, dan keturunannya harus mengalami stigma kelam, ini harus diakhiri, dan dituntaskan penyelesaiannya”pungkas Setyoko mengakhiri perbincangannya.

 

 

 

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Reshuffle Kabinet: Ujian Otoritas Prabowo Di Tengah Ancaman Delegitimasi

Dhio Justice Law

07 Agu 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia-LAKI)   NasionalPos.com, Jakarta – Setiap pemimpin memiliki momentum untuk menentukan arah sejarahnya. Bagi Presiden Prabowo Subianto, momentum saat ini adalah reshuffle kabinet. Reshuffle bukan sekadar mengganti orang di kursi menteri, tapi sebuah pernyataan politik tentang standar kepemimpinan yang ingin dibangun seorang presiden. Saat itulah publik akan menilai, apakah …

PRAKTISI HUKUM ANDI DARWIN RANRENG, EKSEKUSI LAHAN 6.900 M² TERANCAM MERAMPAS HAK MILIK PIHAK KETIGA SELUAS 4,5 HEKTAR

dito

06 Agu 2026

NasionalPos.com, Makassar- Perkembangan sengketa tanah di kawasan Tallo, Makassar, yang kini digunakan sebagai Asrama Polisi (Aspol) Polda Sulsel, nampak menemukan titik terang benderang untuk membuktikan kebenaran dan keabsahan kliennya sebagai pemilik lahan tersebut, yang tidak di pindah tangan kan ke pihak manapun,demikian di sampaikan Andi Darwin R. Ranreng, Pimpinan DRR Associates Legal Consultants yang bertindak …

Kontribusi Pemikiran Anti Penjajahan Sumitro Djojohadikusumo Dalam Undang-Undang Perekonomian Nasional

dito

04 Agu 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Buku Soemitro Djojohadikusumo Anti Penjajahan: Pergolakan Pemikiran Ekonomi Politik Indonesia karya Agus Rizal dan Dedi Setiadi diluncurkan oleh Nusantara Centre pada tanggal 4 Agustus 2026 di Auditorium Jusuf Ronodipuro, RRI Jakarta.   Acara ini dikemas bersama simposium nasional untuk menggali kedaulatan ekonomi nasional.   Kegiatan ini menjadi momentum untuk mengangkat kembali pemikiran Prof. …

JDIH Kabupaten Pesisir Selatan Hadirkan Inovasi Layanan Hukum Digital untuk Wujudkan Pemerintahan Transparan

Primadoni,SH

04 Agu 2026

Pessel, Nasionalpos.com — Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) melalui Bagian Hukum Sekretariat Daerah terus memperkuat pelayanan informasi hukum kepada masyarakat dengan menghadirkan inovasi Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH). Layanan berbasis digital ini menjadi solusi bagi masyarakat yang membutuhkan akses cepat, akurat, dan terpercaya terhadap berbagai dokumen hukum resmi tanpa dipungut …

Viviannne Vernetta Wangsa Memukau Panggung Awarding Banyuwangi Ethno Carnival, Suara Emas Generasi Muda Gaungkan Pesona Budaya Blambangan

- Banyuwangi

03 Agu 2026

BANYUWANGI, NASIONALPOS.COM  – Penampilan penyanyi muda berbakat Viviannne Vernetta Wangsa menjadi salah satu sajian paling memikat dalam malam Awarding Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026. Dengan membawakan lagu legendaris Banyuwangi “Grajagan Banyuwangi”, Viviannne sukses mencuri perhatian para tamu undangan, pegiat seni, pelaku budaya, serta masyarakat yang memadati lokasi acara. Di bawah sorotan lampu panggung, Viviannne tampil …

A.DARWIN R. RANRENG SH,MH : DUA LEMBAGA NEGARA BERSENGKETA ATAS TANAH YANG BUKAN MILIK MEREKA, TAPI TANAH ITU MILIK WARGA NEGARA YANG TIDAK PERNAH MENJUALNYA

dito

02 Agu 2026

NasionalPos.com, Makassar- Terkait sengketa tanah di Kelurahan Tallo, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, yang sedang diperebutkan antara Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan RI dan Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan tersebut.   Kepada wartawan yang menghubungi, Minggu, 2 Agustus 2026 di Makassar, Andi Darwin R. Ranreng SH, MH, selaku Kuasa Hukum dari Hj. Magdalena Demunic / …

x
x