Home » Headline » Saat Soeharto Siap Jadi Bumper Soekarno

Saat Soeharto Siap Jadi Bumper Soekarno

Dhio Justice Law 30 Sep 2025 413

Oleh:

Ridwan Umar

(Sekjen Garda Bumiputera dan Direktur Lentera Keadilan Indonesia)

 

NasionalPos.com, Jakarta – Setiap tanggal 1 Oktober, Bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Peringatan hari nasional itu merujuk pada Keputusan Presiden (Keppres) nomor 153 tahun 1967. Adapun makna dibalik peringatan itu untuk mempererat tali persatuan dan memperteguh komitmen bangsa terhadap nilai-nilai Pancasila sebai dasar bernegara.

Hari Kesaktian Pancasila seyogyanya jadi momentum refleksi bangsa ini atas peristiwa bersejarah yang melatarinya. Karena itu, kata Soekarno “Jas Merah, jangan sekali-sekali melupakan sejarah”

 

G30S-PKI dan Supersemar

Peristiwa G30S-PKI (Gerakan 30 September oleh Partai Komunis Indonesia) yang bermotif keinginan PKI untuk mengkudeta pemerintahan yang sah, jelas menorehkan luka mendalam disanubari anak bangsa.

Dalam tragedi itu, ada tujuh korban wafat telah disematkan Negara sebagai Pahlawan Revolusi, yakni Jend. Ahmad Yani, Letjen Raden Suprapto, Letjen S. Parman, Mayjen Mas Tirtodarmo Haryono, Mayjen Donald Isaac Panjaitan, Mayjen Sutoyo Siswomiharjo, dan Kapten Pierre Tendean.

Rencana awal para penculik termasuk menargetkan Jend. Abdul Haris Nasution, namun berhasil lolos dan digantikan sang ajudan Kapten Pierre Tendean. Meski puterinya yang jadi korban, yakni Ade Irma Suryani Nasution

Ketujuh pahlawan yang merupakan perwira TNI AD itu pada dini hari 30 September 1965, diculik oleh pasukan pengawal Presiden Cakrabirawa yang dipimpin Letkol Untung yang dianggap bagian dari tokoh PKI. Mereka kemudian disiksa dan dibunuh. Jasadnya dibuang kedalam sumur tua di daerah Lubang Buaya di kawasan Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Pada 1 Oktober 1965 menjelang sore, pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) dikomando Kol. Sarwo Edhie Wibowo berhasil mengamankan daerah Lubang Buaya dan titik-titik vital di Ibukota yang sempat diduduki pemberontak PKI.

Kol. Sarwo Edhie Wibowo bersama pasukannya juga sukses menumpas seluruh gerakan PKI pasca G30S-PKI, seperti di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali.

Pada 4 Oktober 1965, Pangkostrad Mayjen Soeharto memimpin pengangkatan jenazah ketujuh Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya. Operasi pengangkatan dan evakuasi jasad para Pahlawan Revolusi itu, dibantu pasukan Korps Komando Angkatan Laut (KKO) bersama rakyat. Air mata tumpah tak terbendung menyaksikan jasad para pahlawan, Soeharto pun menyampaikan pidato singkat dan ungkapan rasa sakit yang mendalam atas kekejian para pelaku.

Pasca G30S-PKI, rakyat dan mahasiswa meluapkan kemarahan. Aksi massa pun terus tak terbendung memaksa Presiden Soekarno membubarkan PKI yang dianggap dalang dibalik peristiwa keji itu. Kepercayaan rakyat dan mahasiswa terhadap Soekarno menurun dan berdampak pada ketidakstabilan politik.

Pada 12 Januari 1966, rakyat bersama pelajar dan mahasiswa pun menyuarakan tuntutan dikenal dengan Tritura (tiga tuntutan rakyat), yakni bubarkan PKI, rombak kabinet dan stabilkan harga.

Baca Juga :  Karnaval Pawang Nusantara Warnai Peringatan HUT RI ke-79 di Kalipuro

Dalam situasi genting itu, Soekarno mengeluarkan surat perintah kepada Letjen Soeharto pada 11 Maret 1966 yang kemudian dikenal dengan Supesemar. Lalu, pada sidang 20 Juni – 5 Juli 1966, Supersemar dikukuhkan menjadi Tap No.IX/MPRS/1966 oleh MPRS.

Adapun Supersemar berisi perintah kepada Soeharto untuk mengambil tindakan yang dianggap perlu dalam rangka memulihkan keamanan dan kewibawaan pemerintah.

Soeharto pun mengambil langkah tegas dengan membubarkan PKI serta seluruh organisasi yang terkait atau bernaung dibawah PKI dan menangkap 15 menteri yang terlibat PKI.

Terbitnya Supersemar menjadi titik awal peralihan kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru. Puncaknya pada tahun 1967, saat itu MPRS mencabut mandat Soekarno sebagai presiden yang digantikan oleh Soeharto.

 

Kisah Soeharto Bubarkan PKI

Dalam catatan sejarah, Soekarno lah yang melahirkan ide penyatuan tiga ideologi nasionalis, komunis dan agama atau Nasakom. Ide itu dijalankan pada masa demokrasi terpimpin di era pemerintahan Soekarno.

Nasakom yang merupakan proyek rekayasa sosial berskala nasional diterapkan Soekarno setelah menganggap demokrasi parlementer gagal. Tujuannya menyatukan tiga dolongan tersebut menjadi kekuatan bangsa. Nyatanya, ideologi Nasakom menuai kontroversi dan penolakan keras khususnya dari kalangan agama dan militer yang mengendus dominasi PKI sebagai ancaman terhadap Pancasila.

Lantaran itu, Soekarno disebut menolak keras tuntutan rakyat, pelajar dan mahasiswa soal pembubaran PKI. Meski, akhirnya PKI dan underbownya dibubarkan oleh Soeharto bahkan dianggap terlarang.

Namun, Soeharto sendiri sempat mengungkap kisah dibalik pembubaran PKI. Pengakuan Soeharto ini penting, mengingat dia bukan hanya pelaku sejarah tapi tokoh sentral dalam peristiwa tersebut.

Cerita ini dituturkan langsung oleh Soeharto saat menerima pejabat Polri di Tapos, 6 Februari 1994 silam.

Soeharto menuturkan, usai sidang kabinet di Istana Negara yang dikabarkan tidak aman, Soekarno memutuskan meninggalkan Ibukota Jakarta menuju ke Istana Bogor mnggunakan helikopter. Kepergian Soekarno yang ditemani Waperdam (Wakil Perdana Menteri), disaksikan tiga perwira TNI AD, yakni dua pejabat menteri, masing-masing M Jusuf dan Basuki Rahmat serta Panglima Kodam Jaya Amir Mahmud.

Ketiga perwira TNI AD itu berniat menemani Soekarno  di Bogor agar tak merasa dikucilkan TNI AD. Lantas, mereka ke kediaman Soeharto di Jl. KH. Agus Salim, Menteng, Jakarta untuk meminya ijin. Saat itu, Soeharto yang sedang terbaring lemah dikamarnya karena sakit, memberi ijin dan menitipkan pesan kepada Soekarno.

Adapun pesan Soeharto kepada Soekarno, memohon maaf tak bisa hadir dalam sidang kabinet dan jika dipercaya agar diberi mandat oleh Presiden Soekarno untuk memulihkan keadaan.

Baca Juga :  Jakarta Fire Safety Challenge Di Buka Gubernur Pramono Anung

Setibanya M Jusuf, Amir Mahmud dan Basuki Rahmat di Bogor disambut marah oleh Soekarno karena situasi sekitar Istana yang tak aman saat sidang kabinet. Lalu, Soekarno bertanya kepada ketiganya apa solusi mengatasi kekacauan ini?

Ketiganya pun memberi penjelasan dan menyarankan agar memberi kepercayaan kepada Soeharto untuk memulihkan keadaan. Mendengar itu, Soekarno kembali marah, namun akhirnya Soekarno setuju dan memerintahan ketiganya untuk membuat surat perintah.

Surat perintah kemudian dikonsep oleh ketiganya bersama tiga Waperdam. Setelah surat selesai dan ditandatangani Soekarno, ketiga perwira TNI AD itu langsung menuju ke kediaman Soeharto untuk menyerahkan suratnya.

Setelah membaca Supersemar itu, Soeharto langsung memerintahkan mengumpulkan pejabat terkait untuk pembubaran PKI.

Soeharto menuturkan, hanya sekali itulah menggunakan Supersemar untuk membubarkan PKI, meski Supersemar telah menjadi TAP MPRS. Setelah tindakan itu, situasi benar bisa terkendali dan aman.

Namun, langkah Soeharto itu mengundang amarah Soekarno. Kabar itu disampaikan Waperdam Johannes Leimena kepada Soeharto yang meresponnya dengan santai. Sebab, Soeharto yakin sebenarnya Soekarno sudah tahu langkah pembubaran PKI yang akan dilakukannya.

Ternyata, soal pembubaran PKI itu sudah pernah disampaikan Soeharto kepada Soekarno jauh sebelum terbitnya Supersemar. Saat itu. Soekarno menolak dengan alasan konsep Nasakom sudah disampaikan di forum internasional. Jika Soekarno membubarkan PKI, maka tentu akan merasa malu.

Namun, Soeharto terus meyakinkan Soekarno untuk membubarkan PKI dan siap menjadi bumper atau sebagai pihak yang membubarkan PKI. Dengan begitu, Soekarno tak perlu menanggung malu di mata dunia. Tapi, Soekarno tetap berkeras menolak.

Setelah membubarkan PKI, Soeharto pun menemui Soekarno yang baru mendarat di halaman Istana Negara menggunakan helikopter dari Istana Bogor.

Saat itu, Seoharto melaporkan langsung soal situasi yang sudah aman setelah membubarkan PKI dan Soekarno ternyata meresponnya dengan santai tanpa menunjukkan amarah.

Lalu, Soeharto mengatakan “PKI sudah saya bubarkan,  sekarang Bapak (Soekarno) tinggal menggongi,” yang disanggupi Soekarno.

Namun, Soekarno tak kunjung menyampaikan pernyataan resmi dihadapan public bahwa  pembubaran PKI oleh Soeharto itu sepengetahuan dirinya. Jika itu dilakukan, maka kepercayaan dan dukungan rakyat akan kembali diperoleh Soekarno.

Alhasil, Soekarno dilengserkan setelah pidato Nawaksara ditolak MPRS saat Sidang Umum ke-IV MPRS pada 22 Juni 1966. MPRS menolak, karena Soekarno sama sekali tidak menyinggung soal peristiwa G30S-PKI.

Saat itu, Soeharto tak bisa berbuat apa-apa lagi untuk menyelamatkan Soekarno, karena sudah berhadapan langsung dengan MPRS yang merupakan wakil rakyat.

 

Wallahu a’lam bissawab

(Tulisan ini disari dari beragam sumber)

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Dapur MBG beserta Aktivitasnya di Pulogebang Permai, Resah kan Warga, Warga Tuntut Tutup

dito

24 Jun 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Meski dapur MBG di komplek Pulogebang Permai RT 01/RW 12 Kelurahan Pulogebang dalam tahap persiapan operasi namun pada realitas nya di duga justru menimbulkan keresahan masyarakat dilingkungan komplek tersebut .   Adapun keresahan itu muncul antara dari soal Amdal yang dicurigai akan berdampak kepada masyarakat sekitarnya, baik masalah Bau, maupun masalah sanitasi, serta …

Poros Rawamangun Peringatkan Sudin Dishub Jakarta Timur, agar Bijaksana Dalam Lakukan Penertiban

dito

20 Jun 2026

NationalPos.com, Jakarta- Peristiwa pengemudi ojek online (ojol) yang memohon-mohon hingga menangis histeris karena motornya diangkut petugas Suku Dinas Perhubungan (Sudin Dishub) Jakarta Timur terjadi di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur. Kendaraan tersebut ditindak karena kedapatan parkir di atas trotoar yang melanggar aturan dan memicu kemacetan. Setelah video yang menayangkan Kejadian tersebut viral, hingga menuai respon simpatik …

KM Fortune Melimpah Disita, Nasib 1 Nahkoda dan 36 ABK Jadi Sorotan

- Banyuwangi

20 Jun 2026

Jakarta, Nasionalpos.com – Tim Kuasa Hukum PT Fortun Berkah Samudra menyampaikan keprihatinan atas penanganan perkara yang saat ini sedang berlangsung terhadap KM. FORTUNE MELIMPAH 99 GT 258. Perkara tersebut tidak hanya berdampak terhadap perusahaan sebagai pemilik kapal, tetapi juga berdampak langsung terhadap 1 (satu) orang nahkoda dan 36 (tiga puluh enam) Anak Buah Kapal (ABK) …

Klarifikasi Dugaan Pungli, SMAN 3 Painan Tegaskan Dana Orang Tua Merupakan Sumbangan Berdasarkan Kesepakatan Bersama

Primadoni,SH

19 Jun 2026

Pessel, Nasionalpos.com — Mencuatnya dugaan pungutan liar (pungli) di SMA Negeri (SMAN) 3 Painan, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), pihak sekolah bersama Komite Sekolah dan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII Sumatera Barat (Sumbar) memberikan klarifikasi terbuka kepada publik. Mereka menegaskan bahwa dana yang selama ini dibayarkan oleh orang tua siswa bukanlah pungutan liar, melainkan sumbangan yang …

Ketum PP- PPM Paramita: PPM Siap sebagai solusi Ketahanan Nasional di bawah naungan Bacadnas

dito

19 Jun 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Panca Marga (PP-PPM), Patriani Paramita Mulia, SH., LL.M, beserta jajaran dan rombongan diterima dengan sangat baik oleh Kepala Badan Cadangan Nasional (Bacadnas), Letjen TNI Gabriel Lema beserta seluruh pimpinan Bacadnas pada Kamis, 18 Juni 2026 di Markas Besar Badan Cadangan Nasional di Jakarta.   Pada kegiatan ini, Letjen …

PRJ 2026 Tak Berpihak ke Warga Jakarta, Poros Rawamangun Desak Pemprov DKJ Evaluasi PRJ 2026

dito

15 Jun 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Jakarta Fair 2026 atau Pekan Raya Jakarta sudah di buka oleh Gubernur Pramono Anung pada tgl 12 Juni 2026 merupakan Event yang sudah dilaksanakan sejak tahun 1968 silam, dan untuk tahun 2026 ini, merupakan pelaksanaannya ke 57 kalinya.   Adapun untuk tahun ini, harga tiket masuk ajang pameran tahunan ini dibanderol mulai dari …

x
x