Home » Headline » Loyalitas & Nasionalisme Bursok Diduga Ternodai, Layak Dipecat Sebagai PNS Kemenkeu

Loyalitas & Nasionalisme Bursok Diduga Ternodai, Layak Dipecat Sebagai PNS Kemenkeu

dito 13 Mar 2023 157

NasionalPos.com, Jakarta- Dalam beberapa hari ini, perbincangan di ranah public diramaikan dengan hadirnya sosok Bursok Antony Marlon (BAM) pegawai Pajak  bawahan  Sri Mulyani Indarwati ini membuat heboh media sosial yang berawal dari aktivitasnya ikut bermain investasi di sistem perdagangan forex online, dengan harapan mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dari platform digital tersebut, yang di kelola oleh perusahaan yang berada di luar negeri,

Namun singkat cerita, BAM mengalami masalah dalam salah satu platform forex yang dia gunakan, sehingga situasi itu kemudian memicu  terjadinya awal dari sengkarut protesnya kepada Menkeu.

Terlepas dari itu semua, sebenarnya dari internal Kemenkeu sudah menanggapi Cuitan yang disebarluaskan melalui akun twitter kafiradikalis itu, dengan mengatakan bahwasanya laporan  itu terkait masalah pribadi Bursok bukan Sri Mulyani, sehingga sangat tidak patut, apabila si Bursok menuntut mundur Sri Mulyani sebagai Menkeu, dikarenakan si Bursok masih berstatus PNS dan masih berada di lingkup Kemenkeu,

Sehingga apa yang dilakukan Bursok tersebut terindikasi melanggar kode etik dan penyalahgunaan wewenang, seperti yang diatur dalam dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 2014 Tentang ASN dan juga di Peraturan Pemerintah No. 94 Tahun 2021 tentang Disiplin Pegawai Negeri, demikian disampaikan Robertus Ivan Simanjuntak, SH pengamat Aparatur Negara, kepada awak media, Senin, 13/3/2023 di Jakarta.

Baca Juga :  Polsek Pasrujambe Amankan Karnaval HUT RI ke-79, Ratusan Warga Antusias

“Kalau terkait dengan kepentingan pribadinya, seharusnya Bursok tidak mengkaitkan dengan urusan kedinasan dirinya sebagai PNS di Kemenkeu, jika dikaitkan urusan pribadi dengan urusan kedinasan, maka tindak tersebut, merupakan dugaan pelanggaran kewenangan dan juga kode etik PNS oleh yang bersangkutan” ungkap Robertus Ivan Simanjuntak, SH, yang juga Koordinator Koalisi Rakyat Pemantau Aparatur Negara.

Selain itu, menurut Robertus Ivan Simanjuntak, SH,  dari sisi moralitas, tidak patutlah seorang PNS yang seharusnya memberikan keteladanan kepada masyarakat, agar tidak bermain dalam perdagangan spekulatif yang tinggi resikonya.

Tapi realitasnya si Bursok justru bermain menggunakan trading platform luar negeri, diduga perilaku Bursok ini telah menodai moralitas PNS, yang juga terindikasi menciderai nilai Dasar PNS yang terdapat di pasal 4 Undang-Undang N0. 5 Tahun 2014 Tentang ASN, yakni Setia kepada NKRI.

Akan berbeda masalahnya kalau dia menggunakan dana investasi yang dimiliki untuk membeli surat berharga yang dikeluarkan oleh negara, Itu baru patut diberi acungan jempol karena duitnya bermanfaat untuk kesejahteraan bangsa sendiri.

Baca Juga :  Cegah Banjir dan Longsor, Satgas Yonarmed 1 Kostrad dan Warga Pasang Bronjong di Sungai Waiheru

Dari pengamatan kami tersebut, lanjut Robertus Ivan, maka nasionalisme dan loyalitas Bursok sebagai PNS kepada NKRI, patut diragukan,bahkan ternodai oleh ambisi kepentingan pribadinya, memperkaya diri dengan cara-cara yang jsutru merugikan bangsa, yakni menyedot devisa dalam negeri untuk diberikan perusahaan asing,  dan ini bisa masuk dalam kategori pelanggaran berat pada Peraturan Pemerintah No. 94 Tahun 2021 tentang Disiplin Pegawai Negeri, yang sudah sepantasnya dilakukan pemecatan tidak hormat terhadap yang bersangkutan,

Selain itu, dirinya juga menilai tuntutan yang bersangkutan untuk meminta Sri Mulyani Mundur dari Menteri, bertendensi politis, karena itu harus di usut tuntas, siapa yang berada dibelakang yang bersangkutan tersebut?

“Sedangkan soal dia bermain forex tranding itu pun merupakan tindakan yang melanggar disiplin ASN, karena alasan nasionalismenya sudah ternodai lebih mementingkan keuntungan pribadi daripada kepentingan bangsa sendiri dan loyalitasnya pun  sehingga sudah selayaknya Bursok di pecat dari PNS kemenkeu ”pungkas R. Ivan Simanjuntak

 

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Negara di Era Perang Narasi; Polarisasi Agama: Retak yang Dipelihara (3 – End)

Dhio Justice Law

29 Apr 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia – LAKI) NasionalPos.com, Jakarta – Polarisasi tidak selalu terjadi dengan sendirinya. Sering kali, ia dibentuk—lalu dipelihara. Dalam lanskap politik kontemporer, konflik jarang lahir dari ruang hampa. Ia dirancang melalui narasi, diperkuat oleh repetisi, lalu dilegitimasi oleh emosi kolektif. Di titik inilah agama menjadi variabel yang paling sensitif sekaligus …

Lomba Baca Puisi Tingkat SD dan Talk show Sastra Di Gelar Jaker Kudus

dito

29 Apr 2026

NasionalPos.com, Kudus- Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER) Kabupaten Kudus menggelar diskusi/talkshow sastra bertajuk “Sastra Untuk Negeri” dalam rangka memperingati Bulan Puisi 2026, Sabtu (25/4/2026), di Sidji Coffee, Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus.   Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB ini mengangkat Tema Sastra (Puisi) Untuk Negeri Sub tema “Menemukan Makna Dalam Setiap Karya”   Serta …

Tragedi Little Aresha Yogyakarta, Catatan Penting Bagi Orang Tua, Masyarakat dan Pemerintah

dito

29 Apr 2026

Di tulis dan di sampaikan oleh Waspada,S. Ag, MM Dosen PG PAUD UNUSIA & Wakil Ketua KPAD Kabupaten Bogor. Tragedi memilukan yang dilakukan oleh pengelola Daycare dan pekerjanya seperti di Daycare Little Aresha Yogjakarta, sesungguhnya bukan yang pertama kali. Sebelumnya telah terjadi hal serupa dibeberapa daerah, akan tetapi hal tersebut tidak membuat jera oleh oknum pengelola …

Negara di Era Perang Narasi: Disinformasi: Senjata Tak Kasat Mata Yang Melumpuhkan (2)

Dhio Justice Law

28 Apr 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia – LAKI) NasionalPos.com, Jakarta – Perang modern tidak selalu dimulai dengan serangan fisik. Ia sering kali dimulai dari sesuatu yang tampak sepele: informasi yang dipelintir. Di era digital, peluru pertama bukanlah rudal—melainkan narasi. Dan yang ditembak bukan tubuh, tetapi persepsi. Disinformasi bekerja tanpa suara, tanpa jejak yang kasat …

Negara di Era Perang Narasi: Negara Kalah karena Kehilangan Narasi (1)

Dhio Justice Law

26 Apr 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia- LAKI)   NasionalPos. Com, Jakarta – Negara jarang runtuh karena kekurangan kekuatan. Ia runtuh ketika kehilangan kendali atas makna. Hari ini, kekuasaan tidak lagi semata ditentukan oleh siapa yang menguasai wilayah, sumber daya, atau aparat keamanan. Kekuasaan semakin ditentukan oleh siapa yang mampu mengendalikan persepsi publik—siapa yang dipercaya, …

Unjuk Rasa Terbesar? 5.000 Massa Siap Padati Kantor Bupati Banyuwangi

- Banyuwangi

25 Apr 2026

Banyuwangi, Nasionalpos.com – Sekitar 5000 massa direncanakan akan turun ke jalan dalam sebuah aksi unjuk rasa besar yang dijadwalkan berlangsung pada tanggal 6 Mei 2026 di Depan Kantor Bupati Banyuwangi. Aksi ini digelar sebagai bentuk tuntutan masyarakat yang mendesak agar Bupati dan Wakil Bupati Banyuwangi segera mengundurkan diri dari jabatannya. Koordinator aksi,Mohamad Amrullah,S.H.M.Hum. menyampaikan bahwa …

x
x