Home » Ekonomi » Di Bisnis Transportasi Online, Skema Kemitraan Berprinsip Simbiosis Mutualisme Lebih Tepat Daripada Skema Langganan atau skema Pekerja

Di Bisnis Transportasi Online, Skema Kemitraan Berprinsip Simbiosis Mutualisme Lebih Tepat Daripada Skema Langganan atau skema Pekerja

dito 18 Jun 2025 233

Nasionalpos.com, Jakarta-

Grab Indonesia membuka peluang untuk mengubah skema kemitraan dengan para mitra pengemudi ojek online (ojol), dari sistem pemotongan komisi menjadi sistem langganan aplikasi.

 

Skema tersebut memungkinkan pengemudi membayar biaya tetap harian atau mingguan untuk menggunakan aplikasi, tanpa dikenakan potongan dari setiap tarif perjalanan, demikian di sampaikan kata Neneng dalam diskusi bersama media di Kembang Goela, Jakarta Selatan, Jumat malam (13/6/2025).

 

Menanggapi hal tersebut, Ella Paguyuban Penggunaan Jasa Transportasi Digital kepada wartawan, ia mengatakan bahwa Model langganan ini memang sebelumnya telah diterapkan oleh sejumlah platform ride-hailing di India. Berdasarkan laporan The Economic Times, Uber di India baru-baru ini menghapus sistem komisi bagi pengemudi bajaj (auto rickshaw) dan menggantinya dengan biaya langganan.

 

“Bagi pengemudi transportasi online, skema langganan aplikasi mungkin saja akan terlihat menguntungkan. Apalagi jika aturan terkait potongan komisi hingga 20 persen dihapuskan,” ucap Ella kepada wartawan, Rabu, 18/6/2025 di Jakarta.

 

Tapi, lanjutnya, dengan sistem langganan adanya beberapa risiko struktural terhadap para pengemudi, seluruh risiko pendapatan yang berpotensi sepenuhnya ditanggung oleh pengemudi. Ia mencotohkan, misalnya, ketika kondisi cuaca buruk dan jumlah permintaan pelanggan menurun. Ini akan sangat mungkin membuat pendapatan pengemudi merosot tak peduli mereka mereka sudah membayar biaya langganan dalam jumlah tertentu.

Baca Juga :  Diperlukan Kajian Mendalam Terhadap Perppu Cipta Kerja

 

misalnya, imbuh nya, ketika kondisi cuaca buruk dan jumlah permintaan pelanggan menurun. Ini akan sangat mungkin membuat pendapatan pengemudi merosot tak peduli mereka mereka sudah membayar biaya langganan dalam jumlah tertentu.

 

“Karena sistem kerja tetap dikendalikan algoritma platform, pengemudi tidak bisa betul-betul ‘mandiri’. Mereka tidak tahu bagaimana order dibagikan, bagaimana performa diukur, atau bagaimana sistem penalti bekerja,” papar Ella

 

Ella juga mengungkapkan bahwa Ide model langganan ini adalah bagian dari perusahaan platform untuk mengelak dari tekanan yang semakin kuat.

Agar persentase potongan platform diturunkan menjadi maksimal 15 persen, untuk menciptakan kondisi kerja adil, guna menghindar dari tekanan tersebut, maka ide langganan muncul, skema langganan aplikasi untuk pengemudi transportasi online sebenarnya tak jauh berbeda dengan dengan biaya sewa aplikasi maupun potongan komisi.

 

“Jadi, skema ini hanya akal-akalan dari perusahaan aplikasi untuk menghindari pelanggaran biaya potongan aplikasi,” tukas Ella.

 

Menurut Ella, kalau bicara skema yang tepat bagi ojol adalah bukan skema langganan dan juga bukan skema komisi, tapi tepat adalah skema kemitraan yang di terapkan secara benar, yakni antara driver ojol dengan perusahaan aplikator itu sama sama punya modal.

Baca Juga :  Kebijakan KTP Digital, Sebaiknya DiKaji ulang Agar Tidak Bebani Rakyat

Maka terjalin lah kerjasama untuk mengelola bisnis transportasi online ini, kemudian semua di tanggung bersama, artinya di sini tidak ada sewa aplikasi bagi driver ojol sebagai mitra, tapi beban sewa aplikasi itu di berikan kepada pengguna jasa transportasi dan biaya tarif jasa hantaran barang atau manusia, nah, selanjutnya hasil itulah yang di bagi antara driver ojol dengan perusahaan aplikator.

 

” Ini kan aneh, sebagai mitra kok di kenakan biaya aplikasi, padahal tanpa driver ojol, aplikasi itu tidak bisa di gunakan, begitu pula nggak ada aplikasi, pengendara ojek tidak dapat customer, itulah hubungan kemitraan berprinsip simbiosis mutualisme yang mesti di terapkan, bukan kemitraan yang di manipulasi sebagai alat menindas, jangan pula di manipulasi untuk meraup keuntungan sebesar besarnya tapi merugikan pihak Driver ojek online sebagai mitra nya, sangat wajar kalau kami sebagai pengguna jasa transportasi online membayar sewa aplikasi, karena tanpa aplikasi, kami tidak bisa memanfaatkan transportasi ojek online, yang murah dan cepat “tandas Ella

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Negara di Era Perang Narasi; Polarisasi Agama: Retak yang Dipelihara (3 – End)

Dhio Justice Law

29 Apr 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia – LAKI) NasionalPos.com, Jakarta – Polarisasi tidak selalu terjadi dengan sendirinya. Sering kali, ia dibentuk—lalu dipelihara. Dalam lanskap politik kontemporer, konflik jarang lahir dari ruang hampa. Ia dirancang melalui narasi, diperkuat oleh repetisi, lalu dilegitimasi oleh emosi kolektif. Di titik inilah agama menjadi variabel yang paling sensitif sekaligus …

Lomba Baca Puisi Tingkat SD dan Talk show Sastra Di Gelar Jaker Kudus

dito

29 Apr 2026

NasionalPos.com, Kudus- Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER) Kabupaten Kudus menggelar diskusi/talkshow sastra bertajuk “Sastra Untuk Negeri” dalam rangka memperingati Bulan Puisi 2026, Sabtu (25/4/2026), di Sidji Coffee, Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus.   Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB ini mengangkat Tema Sastra (Puisi) Untuk Negeri Sub tema “Menemukan Makna Dalam Setiap Karya”   Serta …

Tragedi Little Aresha Yogyakarta, Catatan Penting Bagi Orang Tua, Masyarakat dan Pemerintah

dito

29 Apr 2026

Di tulis dan di sampaikan oleh Waspada,S. Ag, MM Dosen PG PAUD UNUSIA & Wakil Ketua KPAD Kabupaten Bogor. Tragedi memilukan yang dilakukan oleh pengelola Daycare dan pekerjanya seperti di Daycare Little Aresha Yogjakarta, sesungguhnya bukan yang pertama kali. Sebelumnya telah terjadi hal serupa dibeberapa daerah, akan tetapi hal tersebut tidak membuat jera oleh oknum pengelola …

Negara di Era Perang Narasi: Disinformasi: Senjata Tak Kasat Mata Yang Melumpuhkan (2)

Dhio Justice Law

28 Apr 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia – LAKI) NasionalPos.com, Jakarta – Perang modern tidak selalu dimulai dengan serangan fisik. Ia sering kali dimulai dari sesuatu yang tampak sepele: informasi yang dipelintir. Di era digital, peluru pertama bukanlah rudal—melainkan narasi. Dan yang ditembak bukan tubuh, tetapi persepsi. Disinformasi bekerja tanpa suara, tanpa jejak yang kasat …

Negara di Era Perang Narasi: Negara Kalah karena Kehilangan Narasi (1)

Dhio Justice Law

26 Apr 2026

Oleh: Ridwan Umar (Direktur Lentera Keadilan Indonesia- LAKI)   NasionalPos. Com, Jakarta – Negara jarang runtuh karena kekurangan kekuatan. Ia runtuh ketika kehilangan kendali atas makna. Hari ini, kekuasaan tidak lagi semata ditentukan oleh siapa yang menguasai wilayah, sumber daya, atau aparat keamanan. Kekuasaan semakin ditentukan oleh siapa yang mampu mengendalikan persepsi publik—siapa yang dipercaya, …

Tantangan Menteri Pertahanan RI ditengah Isu Agama dan Konflik Papua

Dhio Justice Law

22 Apr 2026

Oleh: Ridwan Umar (Sekjen Garda Bumiputera)   NasionalPos.com, Jakarta – Beberapa hari terakhir, negeri tercinta ini dihadapkan pada isu sensitif soal agama dan masalah konflik Papua . Jika pemerintah salah atau abai dalam menangani hal tersebut, maka kedaulatan NKRI taruhannya. Ironisnya, isu agama dan kondisi Papua mencuat di tengah konflik global akibat perang Iran Vs …

x
x