Home » Headline » Prabowo Pahamilah Filosofi Siri’ Na Pacce

Prabowo Pahamilah Filosofi Siri’ Na Pacce

Dhio Justice Law 12 Nov 2025 516

Oleh: Ridwan Umar

(Sekjen Gerakan Daulat Bumiputera dan Direktur Lentera Keadilan Indonesia-LAKI)

 

NasionalPos.com, Jakarta – Himbauan Presiden Prabowo Subianto kepada rakyat untuk menghormati pemimpin dan mantan pemimpin dengan cara mengangkat setinggi-tingginya kebaikannya dan memendam kekurangannya, masih menjadi bahan perdebatan di tengah masyarakat.

Bagi publik, pernyataan Prabowo saat peresmian Pabrik Lotte Chemical Indonesia di Cilegon, Banten, Kamis (6/11/2025) tersebut, tentu memiliki makna atau pesan mendalam mengingat posisinya sebagai kepala negara.

Terlebih, himbauan Prabowo itu dibalut dalam kalimat filosofi Jawa, yakni mikul duwur mendem jero atau kurang lebih diartikan memikul (menjunjung) tinggi kehormatan (leluhur, orangtua, guru atau pemimpin) dan mengubur (menyembunyikan atau menutup dalam) aib, kekurangan, kesalahan leluhur, orangtua, guru atau pemimpin. Sampai disitu, tentu publik bisa menerima makna luhur dan mulia dibalik kalimat tersebut.

Namun, kalimat berikutnya yang dilontarkan Prabowo menyinggung kedekatannya dengan mantan Presiden Jokowi yang sedang dikritik keras publik terkait sejumlah dugaan skandal korupsi, kolusi, nepotisme (KKN), tak pelak membuat geram publik.

Prabowo pun menyebut Jokowi sebagai hopeng (dialek hokkian, Tionghoa yang berarti teman baik). Disisi lain, Prabowo juga menyatakan bertanggungjawab penuh atas kisruh pembayaran hutang proyek kereta cepat Woosh yang diduga ada mark-up dan ditengarai menyeret Jokowi, Luhut dan Erick Thohir.

Prabowo menyatakan akan menggunakan uang rakyat melalui pajak untuk melunasi hutang Indonesia kepada China terkait proyek kereta cepat Woosh.

Pernyataan itupun dimaknai publik sebagai upaya Prabowo untuk ‘pasang badan’ melindungi Jokowi, keluarganya dan kroninya yang diduga terseret sejumlah kasus KKN dan dugaan kebohongan publik serta pelanggaran konsitusi terkait ijazah Presiden Jokowi dan sang anak Gibran Rakabuming Raka yang kini menjabat wapres. Kini, kasus ijazah Jokowi telah menjadikan Rismon Cs sebagai tersangka fitnah dan sebelumnya Gus Nur dan Bambang Tri telah dibui.

 

Raja Majapahit Tak Anti Kritik

Baca Juga :  Dari Perspektif Keadilan & Kemanusiaan Setnov Berpeluang Dapat Grasi

Jika kritik rakyat yang dilontarkan kepada pemimpinnya dimaknai sebagai sikap tidak sopan atau tidak menghormati pemimpin dan dianggap bertentangan dengan filosofi mikul duwur mendem jero, maka mari kita coba bercermin pada kisah legendaris Raja Majapahit Hayam Wuruk.

Dikisahkan, seorang pejabat tinggi keagamaan Buddha bernama Mpu Prapanca mengkritik sang Raja Hayam Wuruk penganut agama Hindu Siwa karena diangap tak adil pada rakyatnya.

Raja Hayam Wuruk yang beragama Hindu Siwa lebih mementingkan pembangunan dan pemeliharaan tempat ibadah Umat Hindu Siwa. Lalu, Mpu Prapanca mewakili umat Buddha mengirim surat kepada Raja Hayam Wuruk sebagai bentuk ‘protes’ atau kritik. Menerima kritik dari bawahannya yang mewakili sebagian rakyatnya itu, Raja Hayam Wuruk tidak tersinggung apalagi marah. Dengan bijak, Raja Hayam Wuruk bukan hanya menerima kritik itu, tapi langsung menindaklanjuti dengan bersikap adil soal pembangunan dan pemeliharaan tempat ibadah semua agama yang dianut rakyatnya.

Di sisi lain, dalam budaya Jawa juga dikenal tapa pepe atau ritual mengadu kepada raja. Tradisi tapa pepe di Kraton Yogyakarta Hadiningrat merupakan perwujudan dari sikap jiwa besar dari sang raja yang mau mendengar keluhan rakyatnya.

Rakyat atau abdi dalem berhak menyampaikan keluhan atau aspirasi langsung kepada sang raja dengan menggelar tapa pepe, caranya duduk berjemur di bawah terik matahari di Alun-alun Kraton.

Ritual tapa pepe ini, tampaknya ada kemiripan dengan cara mahasiswa atau masyarakat yang menggelar aksi protes di depan gedung parlemen atau kantor pemerintahan.

Maka sepatutnya, pemimpin negeri ini bisa mencontoh para leluhur yang bijak dalam memimpin. Pemimpin sejati tak boleh marah apalagi represif juga tak boleh sekedar mendengar tapi menindaklanjuti keinginan rakyatnya dengan penuh tanggungjawab.

 

Filosofi Siri’ Na Pacce

Sebenarnya, setiap leluhur suku-suku di negeri tercinta ini telah mewariskan nilai-nilai luhur nan mulia bagi penerusnya. Tak satupun nilai buruk yang diajarkan, bukan hanya untuk kemaslahatan suku atau golongan tapi juga dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Baca Juga :  Kompolnas RI Awasi Langsung Penanganan Kasus Pelecehan Seksual di NTB

Akan halnya suku Bugis – Makassar yang memegang teguh falsafah hidup siri’ na pacce. Dalam lontara La Toa yang berisi petuah-petuah (paseng), makna siri’ adalah harga diri atau kehormatan atau bisa bermakna pernyataan sikap yang tidak serakah terhadap kehidupan duniawi. Sedangkan makna pacce adalah rasa empati atau soliditas terhadap sesama anggota komunitas yang dalam konsep bernegara bisa dimaknai soliditas sesama anak bangsa.

Dalam kehidupan sosial bermasyarakat, suku Bugis- Makassar dituntut memiliki keberanian, pantang menyerah sehingga memiliki orientasi yang sanggup menghadapi semua tantangan hidup.

Karena itu, suku Bugis – Makassar berpedoman pada paseng leluhur yakni senantiasa berkata benar (ada’ tongeng), jujur atau bersikap lurus (lempu), memiliki sikap, keyakinan dan pendirian (getteng), saling menghormati (sipakatuo), pasrah/tawakkal pada kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa (mappesona ri dewata seuwae).

Itulah wujud dari filosofi siri’ na pace yang dipegang teguh suku Bugis – Makassar untuk menjaga kehormatan dan soliditas antarsesama. Seorang keturunan Bugis – Makassar harus berani mengatakan kebenaran dihadapan pemimpin. Sebaliknya, pemimpin harus berani menanggung resiko dari kesalahan yang telah dilakukan, misalnya dengan meminta maaf atau mengundurkan diri dan menanggung dampak hukum atas perbuatannya. Pemimpin tak boleh larut dan haus pujian.

Bercermin dari hal di atas, maka pemimpin sejati itu tidak anti kritik dan pantang berlindung dibalik filosofi mulia leluhur demi mempertahankan kekuasaan. Demi harga diri, seorang pemimpin sejati harus mengutamakan kemaslahatan bangsa diatas kepentingan hopeng, kelompok dan keluarga.

Maka, selayaknya Presiden Prabowo lebih memahami filosofi dari berbagai suku di negeri ini, termasuk siri’ na pacce dari Bugis – Makassar.

 

Wallahu a’lam bishawab

(Tulisan ini disari dari beragam sumber)

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Di HUT ke-81 RI, FSAB Menyerukan Untuk Bersatu dan Berkarya Bagi Kemajuan Bangsa

dito

17 Agu 2026

NasionalPos.com, Jakarta-  Pada Tanggal 17 Agustus 2026 menjadi momen bersejarah bagi seluruh rakyat Indonesia. Pada tahun ini, bangsa Indonesia memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81.   Sebuah perjalanan panjang yang dipenuhi dengan perjuangan, pengorbanan, serta tekad untuk mewujudkan cita-cita bangsa yang adil, makmur, dan sejahtera, demikian di sampaikan oleh Suryo Susilo …

Wali Kota Lubuk Linggau Pimpin Upacara HUT ke-81 RI

Andi Ledi Lubuk Linggau

17 Agu 2026

NASIONALPOS.COM-LUBUK LINGGAU-Wali Kota Lubuk Linggau, H Rachmat Hidayat memimpin Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia Tahun 2026, di Lapangan Juara, Kecamatan Lubuk Linggau Timur I, Senin (17/8/2026). Upacara berlangsung khidmat, diikuti jajaran Pemerintah Kota Lubuk Linggau serta peserta lainnya. Kegiatan ini menjadi momentum untuk mengenang jasa …

MBG : Jangan Jadi Karpet Merah Korporasi, Petani Banyuwangi Jangan Jadi Penonton

- Banyuwangi

15 Agu 2026

BANYUWANGI, MASIONALPOS.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar program pemberian makanan, tetapi peluang ekonomi raksasa bagi petani, peternak, pembudidaya ikan dan nelayan Banyuwangi. Namun tanpa kebijakan tegas, peluang tersebut justru berpotensi menjadi karpet merah bagi korporasi dan distributor besar dari luar daerah. Pemkab Banyuwangi jangan sampai hanya menjadi penonton ketika uang program pemerintah …

Jajaran Pemkot Lubuk Linggau Hadiri dan Ikuti Acara Mendengarkan Pidato Kenegaraan

Andi Ledi Lubuk Linggau

14 Agu 2026

NASIONALPOS.COM-LUBUK LINGGAU – Wali Kota Lubuk Linggau H. Rachmat Hidayat diwakili Sekretaris Daerah (Sekda),  H Trisko Defriyansa menghadiri Rapat Paripurna DPRD Kota Lubuk Linggau dalam rangka mendengarkan Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan RI Tahun 2026, di Ruang Rapat Paripurna DPRD Kota Lubuk Linggau, Jumat (14/8/2026). Baca Juga :  Tingkatkan SDM …

Perkumpulan Konsumen Transportasi online, Usulkan Status Hybrid bagi Ojol dan pembentukan BLU bid Transportasi Online Berbasis Koperasi

dito

12 Agu 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Menanggapi usulan pemerintah agar ojol Berstatus sebagai pelaku UMKM, kepada wartawan, Ign Wibowo ketua umum Perkumpulan Konsumen Transportasi online, Rabu, 12/8/2026 di Jakarta, ia mengatakan bahwa pihaknya sangat tidak setuju jika ojol di masukkan sebagai pelaku UMKM, pasalnya ojol bukan pelaku usaha mandiri seperti pelaku UMKM yang lain, karena tergantung pada penyedia layanan …

Lagi-Lagi Kabupaten Pesisir Selatan Raih Nilai Terbaik, JDIH Diganjar Predikat AA Istimewa

Primadoni,SH

12 Agu 2026

Pesisir Selatan, Nasionalpos.com — Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) kembali menorehkan prestasi membanggakan di bidang pengelolaan dokumentasi dan informasi hukum. Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH) Kabupaten Pesisir Selatan berhasil meraih nilai 94 dengan predikat AA (Istimewa) berdasarkan hasil Evaluasi Penilaian Kinerja Anggota Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Nasional (JDIHN) Tahun …

x
x