Home » Nasional » MBG : Jangan Jadi Karpet Merah Korporasi, Petani Banyuwangi Jangan Jadi Penonton

MBG : Jangan Jadi Karpet Merah Korporasi, Petani Banyuwangi Jangan Jadi Penonton

- Banyuwangi 15 Agu 2026 152

BANYUWANGI, MASIONALPOS.COM –

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar program pemberian makanan, tetapi peluang ekonomi raksasa bagi petani, peternak, pembudidaya ikan dan nelayan Banyuwangi. Namun tanpa kebijakan tegas, peluang tersebut justru berpotensi menjadi karpet merah bagi korporasi dan distributor besar dari luar daerah. Pemkab Banyuwangi jangan sampai hanya menjadi penonton ketika uang program pemerintah mengalir keluar daerah.

Rantai pasok MBG harus dikunci dengan keberpihakan nyata kepada produsen lokal. Beras, sayuran, telur, susu hingga ikan semestinya diprioritaskan dari Gapoktan, koperasi, kelompok peternak dan nelayan Banyuwangi dengan mekanisme yang transparan serta harga yang layak. Pertanyaan kerasnya: apakah Pemkab berani memastikan MBG benar-benar menjadi pasar petani lokal, bukan ladang bisnis distributor besar?

Jangan sampai petani menanam, nelayan melaut dan peternak memproduksi, tetapi keuntungan terbesar justru berhenti di tangan pihak yang hanya menguasai distribusi. Jika rantai pasok tidak diproteksi, MBG berpotensi menjadi ironi: program untuk kesejahteraan rakyat, tetapi rakyat produsen pangan justru hanya menjadi penonton di daerahnya sendiri, Sabtu (15/08/2026).

Program Jagoan Tani juga harus keluar dari jebakan seremoni. Petani muda tidak membutuhkan sekadar panggung kompetisi dan penghargaan, melainkan akses modal, teknologi, pendampingan, kepastian pasar, hingga hilirisasi. Pemkab harus menjawab: apakah alumni Jagoan Tani benar-benar akan diinkubasi sampai menembus pasar modern dan ekspor, atau nasib mereka berhenti setelah kamera dan acara seremoni selesai?

Baca Juga :  Kenang Humanis, Ketegasan dan Loyalitas Sosok AKP Sigit Eka Sahudi.SH

Persoalan biaya produksi juga semakin menekan petani. Ketika harga pestisida dan fungisida non-subsidi melonjak, ditambah ancaman hama seperti tikus, margin petani semakin tergerus. Pemkab tidak boleh hanya berbicara tentang pupuk subsidi. Dinas Pertanian harus berani mencari intervensi konkret, termasuk pengadaan agen hayati atau pestisida organik secara kolektif berbasis desa untuk menekan biaya produksi.

Ancaman berikutnya adalah hilangnya lahan pertanian produktif akibat alih fungsi menjadi perumahan maupun kawasan komersial. LP2B tidak boleh berhenti sebagai aturan di atas kertas. Sebab selama bertani tidak memberikan kesejahteraan yang sebanding, petani akan terus berada dalam tekanan untuk menjual tanahnya. Melarang petani menjual lahan tanpa memperbaiki kesejahteraannya adalah kebijakan yang timpang.

Karena itu, perlindungan LP2B harus disertai insentif nyata. Pemkab perlu mengkaji berbagai stimulus sesuai kewenangannya, termasuk keringanan PBB, bantuan benih, sarana produksi dan dukungan pasar bagi petani yang mempertahankan lahan pangan. Sawah tidak akan bertahan hanya dengan papan bertuliskan LP2B; sawah akan bertahan jika pemiliknya merasa hidup dari sawah jauh lebih menguntungkan daripada menjualnya.

Baca Juga :  Update Data Corona (14/1/2022) Jumlah Pasien Positif 4.269.740 Orang dan Meninggal 144.163 Orang

Ancaman perubahan iklim dan kekeringan juga tidak boleh terus ditangani dengan pola pemadam kebakaran. Banyuwangi membutuhkan infrastruktur air yang terencana: embung, sumur bor, jaringan irigasi dan sistem pemantauan debit air berbasis teknologi. Pertanyaannya, seberapa serius anggaran daerah diarahkan untuk menyelamatkan lahan pertanian dari ancaman kekeringan sebelum petani kembali menjerit?

Seluruh persoalan tersebut menunjukkan bahwa tantangan pertanian Banyuwangi bukan semata produksi, melainkan siapa yang menikmati nilai ekonominya. Jika MBG dikuasai distributor luar, petani muda ditinggalkan setelah kompetisi, biaya produksi dibiarkan tinggi, sawah kehilangan perlindungan ekonomi dan air tidak tersedia, maka slogan ketahanan pangan hanya akan menjadi retorika.

Kini publik menunggu jawaban konkret Pemkab Banyuwangi. Jangan biarkan petani menjadi penonton di atas tanahnya sendiri. MBG harus menjadi pasar bagi produk lokal, Jagoan Tani harus melahirkan pengusaha pertanian berkelanjutan, biaya produksi harus ditekan, LP2B harus benar-benar dilindungi, dan infrastruktur air harus diperkuat. Sebab yang dipertaruhkan bukan sekadar pendapatan petani, tetapi mas

(Tim)

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Blunder Politik Gibran Buah Konspirasi Ketum Partai

Dhio Justice Law

15 Okt 2026

NasionalPos. com – Jakarta — Pengamat kebijakan publik Chazali H. Situmorang (CHS) menilai desakan pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka harus diarahkan kepada para ketua umum partai politik, bukan semata-mata kepada fraksi-fraksi di DPR RI. Menurutnya, para ketua umum memiliki pengaruh besar dalam menentukan sikap politik partai sehingga harus bertanggung jawab atas keputusan maupun sikap …

Pernikahan RINI ANGGRAENI dan AZHAR DZULFIQAR di BANDUNG Berlangsung Megah, Karangan Bunga Tokoh Publik Curi Perhatian

- Banyuwangi

11 Okt 2026

BANDUNG, NASIONALPOS.COM — Suasana penuh kebahagiaan dan kemeriahan menyelimuti pernikahan Rini Anggraeni, S.Tr.Kes., dan Azhar Dzulfiqar, S.T., yang berlangsung pada Minggu (11/10/2026) di Maison Grande, Bandung, Jawa Barat. Perhelatan istimewa ini menjadi momentum bersejarah bagi kedua mempelai untuk memulai perjalanan baru dalam membangun rumah tangga. Pernikahan tersebut berlangsung dengan nuansa elegan, memadukan kesakralan prosesi dengan …

Dugaan Penarikan Kendaraan oleh Debt Collector di Banyuwangi, WOM Finance Diminta Buka Dasar Hukumnya

- Banyuwangi

11 Okt 2026

BANYUWANGI, NASIONALPOS. COM – Penarikan satu unit mobil Toyota Avanza tahun 2009 bernomor polisi DK 1156 IS di wilayah Desa Kedayunan, Kecamatan Kabat, Banyuwangi, tepatnya di depan Masjid Arohman, menuai keberatan dari pemilik kendaraan, (RR). Mobil yang disebut dibeli melalui pembiayaan WOM Finance tersebut diduga telah ditarik paksa oleh pihak ketiga yang disebut sebagai debt …

Karhula TNBBS Pesisir BARAT Disorot : 2 Hektare Terbakar, Kapolres Turun Langsung – Pembakar Hutan Jangan Berharap LOLOS!!!

- Banyuwangi

08 Okt 2026

PESISIR BARAT, NASIONALPOS.COM  — Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Pekon Rata Agung, Kecamatan Lemong, Kabupaten Pesisir Barat, menjadi peringatan keras bahwa ancaman terhadap kawasan hutan tidak boleh dianggap sepele. Sekitar ±2 hektare kawasan hutan terdampak kebakaran, sementara dampak lingkungan masih dalam pendataan. Peristiwa tersebut diketahui pada Rabu, …

3 Hektare TNBBS Terbakar, Kapolres Pesisir Barat Turun Langsung: Jangan Main Api, Pembakar Hutan Bakal Diburu!!!

- Banyuwangi

07 Okt 2026

PESISIR BARAT, NASIONALPOS.COM  — Kebakaran yang melanda kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) di wilayah Pekon Rata Agung, Kecamatan Lemong, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, menjadi perhatian serius aparat penegak hukum. Sedikitnya ±3 hektare kawasan hutan dilaporkan terdampak, sehingga pengawasan dan pencegahan kebakaran susulan terus diperketat. Kapolres Pesisir Barat AKBP Rinto Haivan Simbolon, S.E., S.I.K., …

Team PPI Siap Tegakkan Hukum Dukung Kapolri dan Polri Bersama Masyarakat

dito

07 Okt 2026

NasionalPos.com, Jakarta- Terkait dengan adanya dugaan penyebaran berita hoax cenderung fitnah bahkan terkesan pembunuhan karakter terhadap pribadi Jendral Pol Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri Baru, maka Presidium Pemuda Indonesia telah membentuk team untuk menelusuri nya, demikian di katakan Rudy Darmawanto SH Ketua Presidium Pemuda Indonesia kepada wartawan, Rabu, 7/10/2026 di Jakarta.   “Kami sangat concern …

x
x